Sinergitas Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas – FGD1 Pengendalian Sampah Organik

PemProv. Jawa Barat – Badan Koordinasi Pemerintahan
dan Pembangunan Wilayah I – Bogor

Topik: SOLUSI PENGENDALIAN SAMPAH ORGANIK YANG TERINTEGRASI DENGAN PERTAMANAN DAN PENGHIJAU, PDF File Click di Sini

Nara Sumber: Prof. Dr Hadi Susilo ARIFIN

Tanggal: 16 February 2017

Waktu: 08.30 – 11.00

Tempat: Aula Atas, Gedung BKP2 Wilayah I Jawa Barat – JL Ir. H. Juanda No.4 Bogor

20170216_093232 CIMG2283 CIMG2296 CIMG2301 CIMG2304 CIMG2307 CIMG2312

 

20170407_135703a 20170407_135712

FGD Pengelolaan Pohon di Perkotaan – PEMKOT MEDAN 07 April 2017

MANAJEMEN POHON DAN JALUR PEDESTRIAN DI PERKOTAAN

Speaker/Source Person: Prof. Dr Hadi Susilo ARIFIN

Day/Date: Friday/07 April 2017

Date: 13.30 – 17.00

Venue: ASTON – CITY HALL D’HERITAGE, Medan

Host: Mayor of Medan City

Participants: Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pariwisata, BAPPEDA Kota Medan, Faculty of Forestry USU, Pancabudi University Medan, IALI Medan, Companies, NGO’s, Media reporters

PPT Material in PDF Version, CLICK HERE, Please.

20170416_112710 IMG-20170407-WA0032 IMG-20170407-WA0047

CIMG3390a CIMG3397a

20170407_090625

CIMG3299

20170408_065339

STUDIUM GENERALE – URBIO Urban Biodiversity in UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (USU) MEDAN

Speaker: Prof. Dr Hadi Susilo Arifin

Topic: URBIO -Urban Biodiversity

Day/Date: Friday/07 April 2017

Time: 09.00 – 11.00

Host: Faculty of Forestry – University of Sumatera Utara (USU) Medan

Participants: Students and Faculty Members of Forestry Faculty – USU

PPT of URBIO Material in PDF Version could be downloaded here, please.

CIMG3311 CIMG3347 CIMG3352

CIMG3371

 

CIMG4733small

20170509_065015 20170509_074544

The 11th Week
FIELD EXCURSION OF INTRODUCTION TO LANDSCAPE ECOLOGY
(PENGANTAR EKOLOGI LANSKAP)

Department of Landscape Architecture – Faculty of Agriculture – IPB

Coordinator: Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin

Teaching Staffs: Dr. Sayratinilia & Dr Kaswanto

Assistants: Suci Adrina Fitriani Harahap, Angga Prasetyo, Fariz Harindra Syam

GUIDELINE OF EXCURSION – PDF File CLICK HERE, PLEASE

  • Day    : Tuesday
  • Date  : 09 May 2017
  • Time : 06:30-09:30
  • Students will be divided in to three groups: One Group @ 22-23 students
  • Instructors:   Dr Syartinilia Wijaya (No. 1-22); Dr Regan Leonardus Kaswanto (No. 23-44); Prof. Dr Hadi Susilo Arifin (No. 45-67).

STUDY SITES

  • Meeting point: plaza of Andi Hakim Nasoetion (AHN) Building – front of IPB Rector Building, Dramaga Campus.
  • The First Site: The 6th Floor of AHN Building
  • The Second Site: Rubber Plantation and Bamboo Arboretum
  • The Third Site: “Balong” Blue Open Space and “Pekarangan Rumah Kayu”

INTERPRETATION TASKS

  1. Landscape interpretation from the 6th Floor of AHN Building; Bamboo Arboretum; Arboretum of Landscape Architecture; Academic Event Plaza in IPB Campus, Dramaga, Bogor
  • Take a picture in each interpretation object
  • Interpretation and delineation of  landscape structure objects (identify kind of patches and corridors)
  • Define the MATRIX
  1. Observation on Rubber Plantation and Bamboo Arboretum
  2. Observation on “Balong” as a water pond, and “Pekarangan Rumah Kayu”

REPORT

  • Synopsis of the excursion should be reported through writing comment (between 300-400 words, whether in English or in Bahasa Indonesia) in this page: http://hsarifin.staff.ipb.ac.id/2017/05/07/ipb-campus-field-excursion-of-introduction-to-landscape-ecology/
  • REPORT SUBMISSION (Comments Uploading) by Tuesday 16 May 2017 at 8AM.
  • Good Luck!!!

EXCURSION PIC – could be accessed by the Link, as follows:

https://www.facebook.com/media/set/?set=a.10208869292144663.1073741880.1085304607&type=1&l=0d7540ea44

20170509_064747

20170509_071110

20170509_074833

 

KULIAH PEMBEKALAN KKNT Kuliah Kerja Nyata Terpadu FAPERTA IPB 2017

KULIAH PEMBEKALAN KKNT IPB 2017 – FAKULTAS PERTANIAN

MATERI DEPARTEMEN  ARSITEKTUR LANSKAP

Untuk Mahasiswa  ITSL, AGH, PTN, ARL

Oleh :  TIM PENGAJAR  ARL

(Dr. AFRA  D.N. MAKALEW,  M.Sc.; Ir.  QODARIAN PRAMUKANTO, M.Si; Dr. NIZAR NASRULLAH,  M.Agr; Dr. TATI BUDIARTI, MS; Prof. Dr.  HADI SUSILO ARIFIN

PARTICIPANTS: AGH-2 STUDENTS

INSTRUCTOR: Prof. Dr. Hadi Susilo ARIFIN

DAY/DATE: SATURDAY/06 MAY 2017

TIME: 08:00 – 10:00

VENUE: B-OFAC2

IPB THEME : “PENGINTEGRASIAN PENDIDIKAN DAN PENGABDIAN KEPADA  MASYARAKAT DALAM PENGARUS UTAMAAN PERTANIAN”

FACULTY OF AGRICULTURE SUB-THEME: PEMBERDAYAAN  POTENSI WILAYAH  SESUAI  KEARIFAN LOKAL

PDF Revision Version Material – Click here, Please

 

20170429_165642

Excursion Pic could be accessed by CLICK Here, Please.

GRADUATE SCHOOL STUDENTS EXCURSION

Cultural & Natural Landscape of Cirebon & Kuningan

29-30 April 2017

Hadi Susilo Arifin FINAL FIELD TRIP GUIDELINE PLUS MAPS in PDF File

PANDUAN FIELD TRIP: M.K. PENGELOLAAN LANSKAP BERKELANJUTAN; M.K. EKOLOGI LANSKAP; M.K. KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN EKOWISATA – PS ARSITEKTUR LANSKAP, SEKOLAH PASCASARJANA – IPB, SEMESTER GENAP – TAHUN AKADEMIK 2016/2017

Dosen Pembimbing Lapang: Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin dan Dr. Regan Leonardus Kaswanto

Asisten Lapang: Fariz Harindra Syam

Jumlah Peserta: 9 Mahasiswa MK Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan; 19 Mahasiswa MK Ekologi Lanskap, dan 5 Mahasiswa Kebijakan & Manajemen Ekowisata (Total Mahasiswa 25 karena ada 8 mahasiswa sebagai peserta di 2 MK), 2 Dosen, 1 Asisten, dan 1 Lainnya.

Nama Peserta Mahasiswa/Program Studi, Dosen, Asisten dan Lainnya:

PS ARL: S2 – Dewi, Isnaeni, Dina, Safia, Sunardi, Annisah, Aisyah Sabilla, Tika, Anggi

PS PSL: S3/S2 – Nurfaida, Prihanto, Mita, Darkono, Rina, Rifki, Diana, Herna

PS ENT: S3 – Lindung, Rawati Panjaitan, Septiantina, Azru Azhar, Tazkiyatul Syahidah

PS PHT: S2 – Fathan

PS SVK: S3 – Hasyyati Shabrina, Fitri Indriana

Dosen: Hadi Susilo Arifin dan Kaswanto

Asisten: Fariz Harindra Syam

Lainnya: Dwi Yuliantoro

Lokasi Kajian: Bogor (Kampus Darmaga s.d. Tugu Kujang dan Lawang Selapan), Lanskap Tol (Jagorawi,Cikunir, Cikampek, Cipali) – Kota Cirebon (Astana Gunung Jati, City Tour on the way ke Keraton Kasepuhan melewati Pelabuhan, Pantai Taman Ade Irma Suryani & Kota Tua di Sekitar Jalan Merdeka, Kampung Batik Trusmi, Gua Sunyaragi) – Kabupate Kuningan (Kampung Adat Cigugur/Situs Purbakala Megalitikum Cipari, Curug Putri Taman Nasional G. Ciremai/Taman Wisata Alam Linggarjati, Hot Spring Resort Sangkanurip)

Hari/Tanggal: Sabtu-Minggu/ 29 – 30 April 2017

Wkt Berangkat: 29 April 2017 pk.02:00-02.30 dari ATM Center Kampus Dramaga – Bogor;

pk 03.00 dari depan Gedung Alumni Kampus Baranangsiang Bogor

Wkt Tiba: 30 April 2017 pk. 22.00 di Kampus IPB Dramaga – Bogor

Alat dan Bahan: GPS, DBH meter, Peta Rupa Bumi skala 1:25.000/Image dari Google Map/Google Earth, Kamera Digital, personal equipment (alat tulis, sepatu lapang, topi, payung, jas hujan, obat-obatan pribadi, pakaian ganti, sun-block dan sun glasses).

Kendaraan: Bus Kapasitas 30 kursi

METODA PELAKSANAAN FIELDTRIP

  1. Window Survey: observasi dari dalam mobil sesuai petunjuk pembimbing dalam panduan dan saat berada dalam bus.
  2. Observasi Lapang: pengamatan di lapang, diskusi dengan pembimbing, wawancara dengan masyarakat/pengguna/pengelola, dan pengukuran langsung, dokumentasi gambar.
  3. Studi Pustaka: menghimpun data terkait dari laporan penelitian, data buku statistik, dan sumber referensi lainnya termasuk dari links internet.

METODE PADA SETIAP OBYEK PENGAMATAN DAN PERKIRAAN JADWAL PERJALANAN

Travel Agent: NAGIGATOUR Mohon mensinkronkan jadwal berikut dan perubahan-perubahannya saat di lapang.

Lokasi Kajian: Bogor (Kampus Darmaga s.d. Tugu Kujang dan Lawang Selapan), Lanskap Tol (Jagorawi,Cikunir, Cikampek, Cipali) – Kota Cirebon (Astana Gunung Jati, City Tour on the way ke Keraton Kasepuhan melewati Pelabuhan, Pantai Taman Ade Irma Suryani & Kota Tua di Sekitar Jalan Merdeka, Kampung Batik Trusmi, Gua Sunyaragi) – Kabupaten Kuningan (Kampung Adat Cigugur/Situs Purbakala Megalitikum Cipari, Curug Putri- Palutungan Taman Nasional G. Ciremai, Waduk Darma dan Hot Spring Resort Sangkanurip).

Hari/Tanggal: Sabtu-Minggu/ 29 – 30 April 2017

Waktu Berangkat: 29 April 2017 pk.02:00-02.30 dari ATM Center Kampus Dramaga – Bogor; pk 03.00 dari depan Gedung Alumni Kampus Baranangsiang Bogor

Waktu Tiba: 30 April 2017 pk. 22.00 di Kampus IPB Dramaga – Bogor

Alat dan Bahan: GPS, DBH meter, Peta Rupa Bumi skala 1:25.000/Image atau dari Google Map/Google Earth, Kamera Digital, personal equipment (alat tulis, sepatu lapang, topi, payung, jas hujan, obat-obatan pribadi, pakaian ganti, sun-block dan sun glasses).

Kendaraan: Bus Kapasitas 30 kursi

METODA PELAKSANAAN FIELDTRIP

  1. Window Survey: observasi dari dalam mobil sesuai petunjuk pembimbing dalam panduan dan saat berada dalam bus.
  2. Observasi Lapang: pengamatan di lapang, diskusi dengan pembimbing, wawancara dengan masyarakat/pengguna/pengelola, dan pengukuran langsung, dokumentasi gambar.
  3. Studi Pustaka: menghimpun data terkait dari laporan penelitian, data buku statistik, dan sumber referensi lainnya termasuk dari links internet.

METODE PADA SETIAP OBYEK PENGAMATAN DAN PERKIRAAN JADWAL PERJALANAN

Travel Agent: NAGIGATOUR Mohon mensinkronkan jadwal berikut dan perubahan- perubahannya saat di lapang.

HARI I – 29 APRIL 2017

  1. 02.00-02.30: Kumpul di ATM Center Kampus IPB Darmaga, final check, dan doa keberangkatan.
  1. 02.30-03.00: Perjalanan ke penjemputan peserta di depan Gedung Alumni Kampus IPB Baranangsiang
  1. Window survey: Mulai wilayah Sub-Urban Dramaga/ Laladon/Jembatan Merah, Lanskap Tugu Kujang/Lawang Selapan, Pertigaan Jl Raya Pajajaran, Area Terminal Baranangsiang sampai dengan Pintu Tol – Bogor (dini hari, jadi bisa dilaksanakan di hari lainnya)
  1. Window survey: Lanskap Jalan Bebas Hambatan Segmen Jagorawi, Cikunir, Cikampek, dan Cipali; (Jalur Hijau dan Median Jalan, Lanskap di luar Jalan Tol) à Struktur vegetasi, konspep jalur bebas hambatan, toll gate, lanskap rest area khususnya saat berhenti sholat Subuh. Jika Subuh sudah di Cirebon maka sholat di Masjid Attaqwa dan sarapan di Nasi Jamblang Mang Doel)
  1. 07.00-07.30: Window survey: Dalam Perjalanan antara Tempat Sarapan Pagi (nasi jamblang) ke Astana Gunung Jati Jl. Kartini, Masjid Ataqwa, Pendopo ex Kabupaten, Alun-alun Cirebon, Jl Siliwangi, Balai Kota Cirebon, Station Kereta Api, Taman Kota Krucuk Cirebon, Ex Karsidenan à Karakter arsitektur tradisional Candi Bentar dari bata merah kaitannya dengan kebijakan pemerintah – kota pemerintahan, perdagangan, kota transit, destinasi wisata, kota budaya dan wisata
  1. 07.30 – 09.00: Observasi lapang di Lanskap Astana Gunung Jati & Gunung Sembung Cirebon à Cultural & Historical Landscape pada abad XVII, yang dijadikan kawasan wisata ziarah
  1. 09.00-10.30 (dengan spot pengamatan di titik tertentu): Window survey: Dalam Perjalanan antara Astana Gunung Jati ke Keraton Kasepuhan. Jl. Kesenden/atau Jl Kali Baru, Sisingamangaraja, Pelabuhan dan Pergudangan, Kota Tua Jl. Merdeka, BAT, Kelenteng, Bangunan colonial bagi perkantoran dan bank. WISATA BAHARI TAMAN ADE IRMA SURYANI (Sebagai lanskap alternative yang perlu dikaji jika waktunya memungkinkan: tanah timbul, reklamasi pada resort wisata pantai)

 

  1. 10.30 – 11.30: Observasi lapang: Lanskap Keraton Kasunanan Kasepuhan sebagai situs sejarah dan budaya (sebenarnya ada 3 keraton lainnya yang terletak secara terpisah yaitu Keraton Kasunanan Kanoman, Keraton Kasunanan Kacerbonan, dan Keraton Kasunanan Kaprabon). Peninggalan Abad XVII dengan lanskap sejarahnya sebagai obyek wisata budaya.
  1. 11.30-13.30: Window Survey dan ISHOMA: Perjalanan antara Keraton Kasepuhan ke lokasi makan siang hingga ke Kampung Batik Trusmi. Urban landscape/urban zoning Jl Pasuketan, Pasar Balong, Stasiun Parujakan, Gunung Sari, Plered à Land use-land cover changing, urbanisasi, dan pengembangan kota. Makan siang di Resto Empal Gentong H. Apud/Resto Empal Gentong Amarta (empal gentong, empal asem, sate kambing muda, tahu gejrot, mungkin tersedia juga nasi lengko dan mie koclok tapi bukan sebagai menu utama)
  1. 13.30-15.00: Observasi lapang (sambil jedah refreshing bagi yang berwisata belanja): Lanskap Kampung Batik Trusmi adalah pusat industri batik di Cirebon. Kampung ini terletak di Plered. Pengrajin batik di desa Trusmi dan sekitarnya, seperti desa Gamel, Kaliwulu, Wotgali, dan Kalitengah, berjumlah lebih dari 3000 Rumah Tangga yang berkarya di sector batik ini. à manajemen tata ruang Kampung Batik, lanskap pusat perdagangan serta sejarah masyarakat Trusmi, Ki Gede Trusmi dan Masjid Trusmi (karena keterbatasan waktu kita tidak akan sampai ke lanskap Masjidnya), dan budaya membatik dari Keraton ke Rakyat, dan wisata batik terkait dengan wisata belanja dan wisata kuliner.
  1. 15.00-15.30: Istirahat dalam bus dari Trusmi menuju ke Gua Sunyaragi.
  1. 15.30-16.30: Observasi lapang: Lanskap Gua Sunyaragi, Cagar budaya ini berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 1,5 Ha. Bangunan ini didirikan oleh Pangeran Kararangen atau Pangeran Arya Carbon sekitar tahun 1703. Adapun filosofi nama cagar budaya ini adalah Sunya artinya sepi, Ragi artinya raga, atau tempat untuk bermeditasi (menyepi) à hubungan lanskap dan manusia, manusia dan lanskap di mana dinding bangunan dari batu karang (saya jumpai struktur dan desain yang sama pada salah satu sudut taman saat saya berkunjung ke Beihai Park di Beijing).
  1. 16.30-18.00 & 18.00-19.30: Cirebon ke Kuningan: dalam perjalanan ini akan singgah makan malam dan shalat Maghrib di dalam Kota Cirebon (alternative di Resto Sea Food H. Moel di tengah kota, Jl Kalibaru Selatan No. 39 ATAU di Resto Kelapa Manis di Gronggong, tapal batas Cirebon-Kuningan); Interpretasi Lanskap Kota Cirebon dari Gronggong. Evaluasi singkat dilakasanakan dalam Bus perjalanan Kota Cirebon ke Kota Kuningan secara singkat, dan peserta istirahat dalam Bus.

 

  1. 19.30: Tiba di Hotel Grand Purnama Kota Kuningan, check in, istirahat.

 HARI I – 29 APRIL 2017

  1. 07.30-10.00: Berkunjung ke Kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan; Observasi Lapang: Kampung Adat Cigugur dan Situs Purbakala Megalitikum Cipari (3500 SM) letak berdekatan à lanskap sejarah dan budaya yang masih dikelola dengan baik dan manjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan wisata budaya. Masih ada komunitas yang mempertahanan adat leluhur hingga sampai saat ini dengan pola lanskap kampunya. Juga Terdapat museum.

 

  1. 10.00-12.00: Observasi Lapang: Palutungan-Curug Putri Taman Nasional Gunung Ciremai obyek lanskap alami merupakan sebuah kawasan hutan pinus dan air terjun yang terletak di kaki gunung Ceremai, Kecamatan Cigugur, berjarak ±10 km dari pusat kota Kuningan. Rangkaian obyek Kampung Adat Cigugur, Situs Purbakala Cipari dan Palutungan ini berpotensi sebagai obyek-obyek ekowisata.
  1. 12.00-13.00: ISHOMA di Resto Agrowisata Strawberry terletak di luar gate Taman Nasional G. Ciremai
  1. 13.00-14.00: Perjalanan dari Resto Agrowisata ke Waduk Darma
  1. 14.00 – 15.00: Observasi Lapang Waduk Darma. Tahun 1800-an waduk ini sebagai ruang terbuka biru (RTB) sudah terbentuk, dan pada zaman Jepang pembangunan waduk rampung dilaksanakan. Pembangunan waduk itu menenggelamkan lahan di sembilan desa. Saat air waduk surut di musim kemarau, suka timbul jalan aspal dan pondasi rumah penduduk yang ditenggelamkan dan juga lahan pertanian. Sembilan desa yang masuk area pembangunan Waduk Darma: Desa Darma, Jagara, Kawahmanuk, Cikupa, Parung, Cipasung, Sakerta Barat, Sakerta Timur, dan Paninggaran. Di dasar waduk ada rel kereta lori pengangkut tebu dari Ciledug menuju Ciamis. Waduk ini menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Kabupaten Kuningan. Selain air dari waduk ini mampu mengairi area ribuan hektare persawahan, air waduk ini juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan air baku. Waduk Darma juga sebagai sumber kegiatan perikanan, serta wisata air à Keberdaan waduk sebagai bagian dari stream corridor yang membesar membentuk patch dalam mosaik lanskap kawasan Kabupaten Kuningan dan sekitarnya.
  1. 15.00-16.00: Perjalanan Waduk Darma ke Sangkanurup
  1. 16.00-17.30: Relax di Lanskap Resort Wisata Air Panas Sangkan Indah, Sangkaurip, sebuah lokasi wisata yang berada di daerah Cilimus dan lokasinya berada tidak jauh dari Taman Wisata Alam Linggarjati. Daya tariknya antar lain adalah tempat pemandian air panas yang masih asri, yang berasal dari sumber air berbelerang Gunung Ciremai. Sangkaurip dikelilingi lanskap pertanian. à Destinasi terakhir untuk Rekreasi peserta Field Trip.
  2. 17.30-18.30: Istirahat makan malam di Resto LAKSANA atau Resto ALINDA di sekitar Sangkan Urip. Sekaligus mampir di Toko Oleh2 Teh Diyah atau Toko Ibu Sepuh antara Sangkanurip dan Cilimus.
  1. 18.30-19.30: Perjalanan menuju Pintu Tol Ciperna
  1. 19.30-23.00: Perjalanan Cirebon-Bogor.

25. 23.00: Tiba Darmaga di Bogor

Tugas Pengamatan & Diskusi di Lapang bagi Mahasiswa PENGELOLAAN LANSKAP BERKLANJUTAN

  1. Elemen lanskap (hard & soft) dan kondisi saat ini.
  2. Intensitas pemeliharaan saat ini; organisasi dan system pengelola
  3. Tataguna lahan dan penutupan lahannya.
  4. Masalah sosial, budaya, fisik-biologis dan lingkungan pada setiap obyek pengamatan.
  5. Besar perubahan yang sedang berjalan dan dampak yang diperkirakan.
  6. Pengendalian dan pengelolaan yang sedang berjalan.
  7. Alternatif rencana pengelolaan.

Tugas Pengamatan & Diskusi di Lapang bagi Mahasiswa EKOLOGI LANSKAP

  1. Struktur, fungsi dan dinamika lanskap baik secara spatial maupun temporal.
  2. Mosaic lanskap pada setiap obyek pengamatan.
  3. Bentuk dan ukuran patch dikaitankan dengan aliran biotik serta abiotik.
  4. Aliran energi/material pada lanskap koridor jalan Tol, jalan perkotaan, jalan setapak di pegunungan, sungai dan badan air.
  5. Kajian ekologis pada setiap ekosistem obyek pengamatan; gangguan yang terjadi
  6. Kondisi bio-fisik-sosial-ekonomi-budaya, kaitannya dengan kondisi bio-climatically zone.

Tugas Pengamatan & Diskusi di Lapang bagi Mahasiswa KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN EKOWISATA

  1. Jenis objek wisata: massal, tujuan khusus, bertema
  2. Inventarisasi prasarana dan sarana wisata, infrastruktur, dan manajemen
  3. Kajian daya dukung wisata: identifikasi supply dan demand wisata
  4. Kajian prinsip dan pedoman manajemen dalam ekowisata: Education, Advocacy,  Monitoring, Community Involvement, dan Conservation
  5. Interview Jejaring wisata dan promosi
  6. Kajian jasa lanskap bagi praktek ekowisata

LAPORAN FIELD TRIP

  1. Bagi Mahasiswa peserta 2 mata kuliah sekaligus (PLB & EKOLAN), Laporan dibuat dalam satu set dengan aspek pembahasan terdiri dari dua bagian. Bedakan pembahasan Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan; dan pembahasan Ekolgi Lanskap.
  2. Format ilmiah: Kata Pengantar, Daftar Isi, Pendahuluan (Latar Belakang, Tujuan), Metoda, Hasil dan Pembahasan, Daftar Pustaka, Lampiran (data penunjang, gambar penunjang/ peta/foto, dll.)
  3. Setiap data dalam bentuk Tabel, Gambar serta Foto yang diambil dari sumber lain WAJIB dituliskan sumbernya dalam laporan yang Saudara susun.
  4. Dibuat dalam dua versi soft file: WORDS file dan PDF File.
  5. Laporan dikumpulkan dengan cara dikirim dengan email paling lambat pada tanggal 10 Mei 2017 (RABU, pk. 24.00) ke alamat: hadisusiloarifin@gmail.com (PLB, EKOLAN, dan EKOWISATA)

Cc. kepada: anto_leonardus@yahoo.com (PLB) dan alzazra@gmail.com (PLB); wahjuqamara@kecubung6.com (EKOLAN dan METOPEN); syartinilia@yahoo.com (EKOLAN), fariz.harindrasyam@gmail.com (EKOLAN) dan harinimuntasib@yahoo.com (EKOWISATA).

  1. Setiap mahasiswa peserta MK Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan dan/atau Ekologi Lanskap, dan MK Kebijakan dan Manajemen Ekowisata wajib membuat 1 sinopsis “Objek yang Paling Menarik” bagi Saudara. Sinopsis tersebut WAJIB diupload dalam COMMENT Box Laman posting di Blog ini: hsarifin.staff.ipb.ac.id

SELAMAT BER-EKSURSI & SELAMAT BEKERJA

kabupaten kuningan Peta Jalan Cirebon petawisatacirebon1

THE WORLD WATER DAY – HARI AIR SEDUNIA DI IPB, BOGOR

Hari Air Sedunia (HAS) yang jatuh pada 22 Maret 2017 telah diperingati oleh IPB dengan mengundang wartawan dari berbagai Media Massa Cetak dan Elektronik. Acara tersebut diselenggarakan oleh Komisi B Dewan Guru Besar IPB pada hari Senin, 20 Maret 2017. Acara temu media yang biasa disebut sebagai acara Coffee Morning dilaksanakan di EXECUTIVE LOUNGE IPB, Kampus Baranangsiang mulai pukul 10 sampai dengan pukul 12. Pada Acara ini diusung gagasan dan hasil riset dari 3 Guru Besar, yaitu Prof. Hidayat Pawitan (Materi versi PDF silakan Click di sini), Prof. Budi Indra Setiawan (Materi versi PDF silakan Click di sini), dan Prof Hadi Susilo Arifin (Materi versi PDF silakan Click di sini).

Temu Media & Dewan Guru Besar IPB dalam Memperingati Hari Air Sedunia – Executive Lounge IPB, Senin – 20 Maret 2017

SINERGI PENTA-HELIX DALAM MENGUSUNG KOTA RAMAH AIR “WATER SENSITIVE CITIES”

SINOPSIS DALAM BENTUK PDF FILE, Silakan Click di sini

Oleh Prof. Dr. Hadi Susilo ARIFIN

Contact Address: hadisusiloarifin@gmail.com

Ketua Komisi B Dewan Guru Besar IPB; Professor di Bidang Ekologi dan Manajemen Lanskap; Cluster Leads of Urban Water Research Cluster-IPB/the Australia Indonesia Centre (AIC)

Hari Air Sedunia (World Water Day) yang jatuh pada tanggal 22 Maret, adalah hari yang diperingati atau dirayakan sebagai usaha untuk menarik perhatian masyarakat sedunia mengenai pentingnya air bersih bagi kehidupan dan usaha advokasi untuk melindungi sumber daya air bersih secara berkelanjutan. Ini adalah hari untuk membuat perbedaan bagi anggota populasi global yang mengalami masalah terkait air, dan merupakan hari untuk mempersiapkan bagaimana kita mengelola air secara ramah di masa depan. Konteks ini sangat tepat kita beri perhatian di Indonesia. Karena baik di perdesaan, bahkan terutama di perkotaan kita masih banyak memiliki permasalahan dengan air seperti kekeringan di Musim Kemarau, dan sebaliknya kebanjiran saat Musim Penghujan. Padahal, air adalah sumber segala kehidupan. Oleh karena itu kita sangat perlu memandang air sebagai sahabat, bukan sebagai musuh, dan kemudian kita wajib mengelolanya secara bijak.

SINERGI PENTA-HELIX

Air sebagai “public good”, adalah milik kita bersama yang dibutuhkan dan dimanfaatkan oleh kita semua. Di muka bumi ini ada siklus hidrologi, di mana jumlah air akan selalu tetap dalam keseimbangannya. Jika ada satu wilayah yang kekeringan, berarti ada wilayah lainnya yang kelebihan air. Begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu pengelolaan air adalah tanggung jawab kita semua dari beragam pemangku kepentingan, yaitu Akademisi, Bisnis, Pemerintah, Komunitas, dan Media Massa.

Akademisi perlu mendiseminasikan hasil-hasil risetnya yang terkait dengan manajemen air. Tidak bisa tidak implementasi praktek dalam pemanfaatan air sebagai jasa lingkungan harus melibatkan pihak pengusaha dan investasi infrastruktur dan utilitasnya. Dalam hal ini Pemerintah perlu mendukung terhadap kebijakan-kebijakan dengan membuat peruturan yang tegas, selain menyediakan anggaran yang memadai. Untuk menciptakan “sense of belonging”, masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan air dengan pendekatan dari bawah, “bottom-up”. Perencanaan yang berbasis partisipasi masyarakat umumnya lebih berkelanjutan dari pada perencanaan yang didasari oleh kegiatan proyek jangka pendek. Kegiatan-kegiatan positif sekecil apa pun yang dilakukan oleh sinergitas A-B-G-C (akademisi, bisnis, pemerintah dan masyarakat) perlu dikontrol dan disebar-luaskan oleh media massa. Masyarakat kita paling senang meniru keberhasilan pihak lain. Secara positif, kesuksesan satu wilayah dalam mengelola air diharapkan menularkan spirit mengelola air lebih baik di wilayahnya.

PARTISPASI MASYARAKAT DALAM KONSEP RAMAH AIR

Dengan mengambil kasus di Bogor, di mana wilayah pertanian banyak mengalami perubahan penggunaan dan penutupan lahannya. Maka transformasi perlu dilakukan yang semula untuk kepentingan irigasi, maka dengan menurunnya luasan sawah maka air perlu dimanfaatkan sebagai air perkotaan salah satunya untuk lketersediaan air minum. Sebagaimana dalam FGD “Urban Water Research Cluster-IPB/AIC” di Balikota Bogor 17 Maret 2017 (Arifjaya 2017), beberapa saluran irigasi yang sudah tidak berfungsi seperti  pintu saluran irigasi Ciereng bisa difungsikan menjadi jalan atau saluran air bersih untuk pemenuhan kebutuhan air bersih PDAM; memanfaatkan dan mengendalikan air permukaan, dan menjadikan air yang tersedia menjadi air untuk pemenuhan kebutuhan domestik kota Bogor, Cibinong, Depok dan Jakarta. Pengelolaan air baku sebagai sumber air minum bisa didesain pada skala kelurahan yang dilintasi saluran irigasi. Instalasi PAM pada skala kecil memanfaat sumber air dikelola untuk pemenuhan kebutuhan air minum skala kelurahan. Investasi yang diperlukan tidak akan sebesar pada penambahan instalasi skala kota. Tentu ini sangat diperlukan adanya good will & political will dari pemerintah, dukungan investasi para pengusaha, serta partisipasi masyarakat.

Partisipasi masyarakat lainnya yang perlu diusung adalah menerapkan sistem bio-filtering pada skala kawasan. Air limbah rumah tangga (grey water) dan air limpasan (storm water) perlu diberi perlakuan dengan bio-filter sebelum masuk ke dalam selokan. Air selokan perkotaan yang lebih baik kualitasnya ini, bisa berfungsi sebagai lanskap produktif. Sebagai media untuk praktek pertanian perkotaan seperti perikanan maupun sayuran tanaman air seperti kangkung, genjer dan lain-lainnya. Penerapan bio-filter bisa dilakukan dengan kombinasi penerapan “water front landscape” dan “productive landscape” bisa dimulai pada skala wilayah paling kecil, yaitu tingkat kampong atau RT/RW/Kelurahan. Melalui pendidikan masyarakat, kita orientasikan perhatian utama dengan mengahadap ke air. Mengubah halaman rumah kita mengahadap ke aliran sungai, ke arah saluran irigasi, bahkan kea rah selokan sekali pun. Bukan membelakanginya. Hal yang pertama, hal ini menjadikan perilaku masyarakat tidak lagi membuang sampah ke badan air, karena kita akan risih melihat perairan yang kotor. Kedua, saluran air ini bisa dimanfaatkan secara produktif untuk memelihara ikan, atau mengkonservasi keanekaragaman hayati flora dan fauna dengan cara membendung sedikit beberapa segmen badan air dari selakan sebagai “water cascade”. Hal ini sudah mulai dilaksanakan di Desa Bendung, Ciawi Bogor. Dan success story ini semoga menyebar cepat bagai virus jika ditularkan oleh kawan-kawan dari media massa.

Bagaimana mengetahui hubungan kedekatan masyarakat terhadap spirit dalam mengelola air, telah banyak dilakukan penelitian bersama mahasiswa untuk menelusuri konsep TIRTA BUDAYA SITU (TBS). Konsep Tirta Budaya Situ berasal dari “Tirta” yang berarti air dalam bahasa Sansekerta, “Budaya” berarti budaya Indonesia, dan “Situ” berarti sebuah danau kecil. Tirta Budaya Situ adalah sebuah pendekatan baru, untuk menjaga situ/waduk di mana hanya sedikit perhatian pemerintah pusat dalam menangani dan Pemerintah Daerah tidak memiliki wewenang untuk mengelola, sehingga peran masyarakat diperjelas dan ditingkatkan. Manajemen air pada TBS dilihat dari prespektif alam (lingkungan), kualitas air, keanekaragaman hayati, budaya, dan sejarahnya. Dari parameter tersebut kita tahu bagaimana kedekatan masyarakat dengan sumberdaya air. Sehingga sertifikasi dapat diberikan oleh pemerintah sebagai penghargaan bagi masyarakat yang dapat mengelola air situ dengan baik. Apresiasi masyarakat akan meningkat jika ada kegiatan regular yang menyangkut Festival Situ, atau hal serupa “ngubek situ”, atau meningkatkan fungsi badan air sebagai salah satu obyek wisata air.

Laladon, 20 Maret 2017

 

TIM BIMBINGAN KONSELING-Penyerahan Transkrip Semester Ganjil 2016-2017

Prof. Dr Hadi Susilo ARIFIN, sebagai konselor bagi mahasiswa PPKU IPB-Angkatan 53 kelas P04 telah melaksanakan pertemuan pada hari Selasa, 21 Maret 2017 pk 08.30-10.00 bertempat di Ruang 2.08 CCR, IPB.

Pertemuan Konselor dan Konseli ini berlangsung akrab dan suasana kekeluargaan. Ada 100 konseli yang hadir dari total jumlah mahasiswa 120. Satu per satu nama mahasiswa dipanggil ke depan untuk menerima trnaskrip, dan langsung menandatangani daftar hadir. Hadi memberi penghargaan bagi 3 mahasiwa terbaik. Ada 2 mahasiswa yang mendapatkan IPK 4,0 dan 1 mahasiswa ber IPK 3.96. Ketiganya mendapatkan predikat Cum-Laude. Mahasiswa lainnya yang memperoleh IPK di atas 3.75 juga diberi apresiasi dengan sebuah gantungan kunci oleh-oleh dari Bali.

Setelah dilakukan diskusi, acar diakhir dengan Group Foto di depan kelas. Selamat belajar, semoga semua mahasiswa jauh lebih siap mengahadpi Ujian Tengah Semester (UTS) yang akan dimulai awal April 2017 yang akan datang. Good Luck….

CIMG2889 CIMG2895  CIMG2898 CIMG2900

CIMG2904 CIMG2907  CIMG2910 CIMG2912

CIMG2917

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DSC_0715small DSC_0726small DSC_0736small

The 1st FGD – Urban Water Research Cluster IPB/UI/Monash University-AIC

Links Berita Terkait:

1. Berita KOMPAS

2. Berita ANTARA

3. Berita BogorOnline

4. Berita Kota Bogor

Focus Group Discussion (FGD) Pengelolaan Sumberdaya Air di Kota Bogor

Tema:Transformasi Kota Bogor dari Kota Hujan Menuju Bogor Kota Ramah Air (Bogor Water Sensitive City)

Topik Utama: Penyebab dan Solusi  Banjir SMAN 2 dan Longsor di Kota Bogor

  1. Latar Belakang

Kota Bogor yang dianugerahi curah hujan yang banyak rata-rata 3000-3500 mm /tahun, merupakan kota dengan sebutan “Kota Hujan.” Baru baru ini pada tanggal 27 Februari 2017 telah terjadi longsor di Paledang dan banjir di SMAN 2. Hal ini menyadarkan semua pihak, bahwa potensi dan ancaman banjir dan longsor telah terjadi di sekitar kita. Bahaya tersebut telah menimbulkan kerugian harta dan jiwa, secara materiil dan imateriil bagi warga kota Bogor.

Dinamika sosial ekonomi kota Bogor telah berkembang dari ibukota Pajajaran sejak abad ke 13, dengan memanfaatkan hulu Sungai Ciliwung, Cisadane dan Cipakancilan. Pada jaman Belanda di bangun beberapa infrastruktur bangunan air dan pengatur sumberdaya air di antaranya Bendung Empang untuk mengairi 4000 ha dan Bendung Katulampa, untuk irigasi di daerah Bogor, Cibinong, Depok dan Jakarta. Dari kota Bogor juga pertama kali dilakukan pipanisasi mata air dari Ciburial Ciomas ke Jakarta untuk air minum, pada tahun 1924.

Perkembangan penduduk dan perubahan penggunaan lahan di sekitar Bogor telah menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan dari lahan pertanian ke lahan terbangun berupa perumahan, jalan, dan infrtruktur lainnya. Perubahan ini tanpa disadari juga telah mengubah bangunan dan sarana pengairan yang ada dari sarana irigasi dan penyediaan air baku pengairan menjadi peruntukan sarana sumberdaya air, perubahan pola pikir masyarakat, kelembagaan dan sistem pengelolaan sumberdaya air di kota Bogor.  Perubahan dari hanya sekedar sebutan kota hujan yang bersifat pasif menjadi kota yang ramah terhadap sumberdaya air (Bogor water sensitive city). Pemangku kepentingan kota Bogor perlu berbenah menuju kota yang ramah air, Tanpa disadari perubahan penggunaan lahan, perubahan iklim di kota Bogor dan sekitarnya akan berdampak terhadap kehidupan sosial ekonomi dan potensi bencana yang akan mengancam keselamatan jiwa masyarakat kota Bogor.

Untuk lebih memahami apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi serta untuk mengantisipasi dinamika yang ada maka perlu diselenggarakan Focus Group Discussion (FGD). FGD ini bertujuan untuk mencapai sinergi antara para peneliti/akademisi, Pemerintah Kota Bogor, pelaku ekonomi (perusahaan), dan masyarakat serta insan media dalam melihat permasalahan yang dihadapi. FGD ini juga diharapkan dapat memberi masukan bagi Bappeda dan Pemerintah Kota Bogor dalam menyelenggrakan pembagunan yang berkelanjutan berbasis sumberdaya air. Mampu mendayagunakan semua potensi yang dimilikinya, baik potensinya sebagai kota dengan curah hujan yang tinggi, banyak air, dikelilingi banyak sungai dan diapit

Gunung Salak dan Gunung Pangrango. Terlebih posisi Kota Bogor yang sangat strategis sebagai daerah penyangga Ibukota Jakarta dalam penyediaan air bersih, dan juga mencegah dari bahaya banjir. Kota Bogor juga berpotensi dalam menyediakan air bersih untuk Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok dan DKI Jakarta.

Focus Group Discussion (FGD) ini merupakan kolaborasi dari para peneliti yang tergabung dalam Urban Water Research Cluster (UWRC), Australia Indonesia Centre (AIC), dan bekerja sama dengan pemerintah kota Bogor. AIC sendiri didirikan oleh Pemerintah Australia dan Indonesia sebagai bentuk kerjasama Government to Government (G to G) dengan fokus pada pengembangan multi-stakeholders network antara Australia dan Indonesia dengan melakukan berbagai kegiatan yang komprehensif. Salah satu kerjasama University to University (U to U) yang diselenggarakan dibawah AIC adalah kerjasama antara Monash University, Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Indonesia (UI) dalam Urban Water Research Cluster (UWRC) untuk melakukan penelitian berkualitas tinggi, aplikatif, dan memiliki dampak besar bagi Kota Bogor pada khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Dalam fokus penelitian Urban Water Research Cluster – AIC, Kota Bogor terpilih sebagai pusat lokasi studi air wilayah perkotaan yang terbagi dalam 6 sub tema: 1) Benchmarking tools, 2) Socio-institutional pathways, 3) Infrastructure adaptation pathways, 4) Green Technology pathways, 5) Urban Design and Demonstration, dan 6) Learning Alliances. Kolaborasi penelitian ini akan berlangsung sampai dengan Agustus 2019 dengan kemungkinan perpanjangan.

  1. Tujuan:

Tujuan penyelenggraan FGD ini: 1) Untuk mengetahui perkembangan sistem pengelolaan sumberdaya air; menghimpun dan mendokumentasikan pengetahun, data dan informasi yang terkait di kota Bogor; 2) Untuk mengetahui mitigasi, adaptasi, sistem peringatan dini dan cara mengantisapasi problem banjir dan tanah longsor yang mungkin akan terjadi di masa yang akan dating; 3) Untuk menghimpun semua aspek tekonologi, kelembagaan, sistem pengelolaan, kapasitas pendanaan dan kewenangan dalam pengelolaan sumberdaya air di Kota Bogor.

  1. Waktu dan Tempat

FGD ini akan diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal: Jumat, 17 Maret 2017

Tempat:  Paseban Sri Bima Balai Kota Bogor, Jl. Ir. H. Djuanda No. 10, Bogor Tengah 16121

Jam: 08.00 – 11.00 WIB

Peserta: 50 Orang (daftar undangan di bagian D)

Topik: Penyebab dan Solusi Banjir SMAN 2 dan Longsor di Kota Bogor

IMG_4037a IMG_4029a

Susunan Acara

Topik:  Penyebab dan Solusi  Banjir SMAN2 dan Longsor di  Kota  Bogor

No Waktu Topik PIC
1. 08.00 – 08.15 Registrasi Sekertariat
2. 08.15 – 08.30 Pembukaan

1.      Kordinator: Prof. Hadi Susilo Arifin

INTRODUCTION – Urban Water Research – PDF File CLICK Di Sini

2.      Kepala Bappeda Kota Bogor

 

LO AIC

2. 08.30 – 09.00 Dr Nana M Arifjaya: Pemaparan Fakta Banjir SMAN 2 dan Longsor di Kota Bogor- PDF File CLICK Di Sini Prof. Hadi Susilo Arifin
3. 09.00 – 09.20 Insights dari Tim Peneliti Urban Water Research Cluster, AIC:

1.      Prof. Hidayat Pawitan – Macro Approach – PDF File CLICK Di Sini

2.      Dr. Yuli Suharnoto – TRRM Data Analysis – PDF File CLICK Di Sini

Prof. Hadi Susilo Arifin
4. 09.20 – 10.30 Tanggapan dan diskusi dari stakeholders:

1.      Walikota Bogor

2.      Ka.Dinas PUPR

3.      Ka. BPBD Bogor

4.      Diskusi Terarah

Prof. Hadi Susilo Arifin
5. 10.30 – 10.55 Perumusan hasil oleh tim perumus:

–          Prof. Yusman Syaukat

–          Prof. Handoko

–          Dr. Nurmala Katrina

–          Dr. Nora Panjaitan (Ketua)

–          Dr. Surya Tarigan

–          Dr. Yanuar

–          Dr. Kaswanto (Sekretaris)

Tanggapan terhadap Rumusan

Prof. Hadi Susilo Arifin
6. 10.55 – 11.00 Penutupan Prof. Hadi Susilo Arifin

 

 Daftar Undangan dan Peserta

  1. Walikota Bogor (AIC Advisory Board Member)
  2. President Sentul City Tbk. (AIC Advisory Board Member)
  3. Senior Vice President PT. Asabi, Agricon (AIC Advisory Board Member)
  4. Ketua DPRD c.q. Komisi C Kota Bogor
  5. Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerjasama (WRRK) IPB
  6. Kepala Bappeda Kota Bogor
  7. Kepala Dinas PUPR Kota Bogor
  8. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor
  9. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor
  10. Direktur Utama PDAM Tirta Pakuan, Kota Bogor
  11. Ketua Tim Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan (TP4) Kota Bogor
  12. Kepala Kantor SDA Cisadane
  13. Kepala Balai BPDAS Ciliwung Cisadane
  14. Kepala BKP2 Wilayah I Jawa Barat
  15. Camat Tanah Sareal
  16. Camat Bogor Tengah
  17. Lurah Sukadamai
  18. IUWASH Kota Bogor
  19. Ketua Komunitas Peduli Ciliwung (KPC)
  20. Perwakilan Komunitas Bogor Sahabats (Bobats)
  21. Direktur Riset dan Inovasi (DRI) IPB
  22. Peneliti UWRC Monash University Australia (Prof. Richard Price, Dr Christian Urich, Mr. Keven Stevens)
  23. Peneliti UWRC Universitas Indonesia (Dr Komara)
  24. Peneliti UWRC Institut Pertanian Bogor (12 Orang)
  25. Mahasiswa S3/GRIP UWRC Monash University, Australia (Behzad & Adam)
  26. Mahasiswa S3/S2 UWRC IPB (11 orang)
  27. Media massa (Radar Bogor, Kompas, Media Indonesia, Tempo, Republika, Jakarta Post, Pariwara IPB, RRI, dll)

17359441_10209065142240793_2431721692940333939_o

IPB Dukung Wujudkan Bogor Water Sensitive City

Kota Bogor dianugerahi curah hujan yang banyak, dengan rata-rata 3000-3500 mm/tahun, sehingga Bogor dikenal sebagai Kota Hujan. Curah hujan yang tinggi ini membuat para pemangku kepentingan Kota Bogor perlu berbenah menuju kota yang ramah air. Tanpa disadari, adanya perubahan penggunaan lahan dan perubahan iklim di Kota Bogor dan sekitarnya, akan berdampak terhadap kehidupan sosial ekonomi dan potensi bencana yang akan mengancam keselamatan jiwa masyarakat kota Bogor. Demikian disampaikan Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin dalam acara Focus Group Discussion (FGD) di Balaikota Bogor, belum lama ini.

Prof. Hadi menambahkan, perubahan Bogor dari hanya sekadar sebutan Kota Hujan yang bersifat pasif harus bisa menjadi kota yang ramah terhadap sumberdaya air (Bogor water sensitive city).  ”Baru-baru ini terjadi longsor di Paledang dan banjir di SMAN 2 Bogor. Hal ini menyadarkan semua pihak, bahwa potensi serta ancaman banjir dan longsor telah terjadi di sekitar kita. Bahaya tersebut telah menimbulkan kerugian harta dan jiwa, secara materil dan imateril bagi warga Kota Bogor,” ujarnya.

Wali Kota Bogor, Dr. Bima Arya menyampaikan terimakasih kepada IPB, seraya mengatakan  bahwa kata kunci  dalam FGD saat itu adalah science  yang  akan membawa solusi. “Strategi  mikro yang  harus dicoba terkait masalah sumberdaya air adalah meningkatkan kapasitas air. Kapasitas saluran air ditingkatkan kembali. Mencoba strategi normalisasi drainase,” terangnya.

Diakui Wali Kota, persoalan bencana banjir baru-baru ini merupakan persoalan yang sistemik. Untuk itu, Pemerintah Kota Bogor sedang melakukan proses penyusunan ulang tata kota.

FGD ini merupakan kolaborasi dari para peneliti yang tergabung dalam Urban Water Research Cluster (UWRC), Australia Indonesia Centre (AIC) bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bogor. AIC didirikan oleh pemerintah Australia dan Indonesia sebagai bentuk kerjasama Government to Government (G to G) dengan fokus pada pengembangan multi-stakeholders network antara Australia dan Indonesia dengan melakukan berbagai kegiatan yang komprehensif. Salah satu kerjasama University to University (U to U) yang diselenggarakan di bawah AIC adalah kerjasama antara Monash University, IPB dan Universitas Indonesia (UI) dalam Urban Water Research Cluster (UWRC) untuk melakukan penelitian berkualitas tinggi, aplikatif dan memiliki dampak besar bagi Kota Bogor pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

FGD ini bertujuan untuk mencapai sinergi antara para peneliti/akademisi, Pemerintah Kota Bogor, pelaku ekonomi (perusahaan) dan masyarakat serta insan media dalam melihat permasalahan yang dihadapi. FGD ini juga diharapkan dapat memberi masukan bagi Bappeda dan Pemerintah Kota Bogor dalam menyelenggarakan pembangunan yang berkelanjutan berbasis sumberdaya air; mampu mendayagunakan semua potensi yang dimilikinya, baik potensinya sebagai kota dengan curah hujan yang tinggi, banyak air, dikelilingi banyak sungai dan diapit Gunung Salak dan Gunung Pangrango. Terlebih posisi Kota Bogor yang sangat strategis sebagai daerah penyangga Ibu Kota Jakarta dalam penyediaan air bersih, dan juga mencegah dari bahaya banjir. Kota Bogor juga berpotensi dalam menyediakan air bersih untuk Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok dan DKI Jakarta.(dh)

THE 1st FIELD EXCURSION OF LANDSCAPE ECOLOGY COURSE FOR GRADUATE STUDENTS

TOPIC: LANDSCAPE STRUCTURE, LANDSCAPE FUNCTION, LANDSCAPE CHANGE, AND CULTURE

Department of Landscape Architecture, Faculty of Agriculture – IPB

 

Participants: Graduate Student of Landscape Architecture (ARL), Entomology (ENT), Integrated Pest Control (PHT), Natural Resources and Environmental Management (PSL), and Tropical Silviculture (SVK).

Day/Date/Time    : Wednesday/ 15 March 2017/ 06:15-07:45 AM

Instructor: Prof.  Dr. Hadi Susilo Arifin

Meeting point: Plaza of Andi Hakim Nasoetion (AHN) Building – front of IPB Rector Building, Darmaga Campus.

Interpretation Sites: The 6th Floor of AHN Building (three corners)

Ground Check: Rubber Plantation, Bamboo Arboretum, Ponds, and “Pekarangan” of wooden house.

Tool & Material: Digital camera, map, and aerial photograph.

FIELDS INTERPRETATION TASK:

  1. Take landscape interpretation from the 6th Floor of AHN Building: Bamboo Arboretum; Arboretum of Landscape Architecture; Academic Event Plaza in IPB Campus, Dramaga, Bogor and its vicinity.
  2. Take a picture in each interpretation object.
  3. Take interpretation and delineation of  landscape structure objects: define type and number of patch and corridor. Please state the MATRIX.

PERSONAL STUDENT REPORT:

1. Report should be written personally

2. Every student has to give a deepest attention in one the most impressive object “VISTA”: please explain the mosaic landscape, and define the landscape structure (type and number of patches and corridors) – landscape function – landscape dynamic.

3. Report Synopsis of the excursion should be uploaded through comment box (maximum 500 words, whether in English or in Bahasa Indonesia) in this page by Thursday 23 March 2017 at 2PM.

4. Good Luck!!!

20160303_070619small

Landscape mosaic of IPB Darmaga Campus from the 6th F of AHN Building (Source: Hadi Susilo Arifin, 3 March 2016)

« Previous PageNext Page »