Workshop


Press Release: PDF File, Silakan Klik di Sini

EXPOSE KARYA MAHASISWA S1 dan S2 DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP-FAKULTAS PERTANIAN-IPB

CIBINONG WATER FRONT CITY & SENTUL CITY MENUJU KOTA RAMAH AIR

Air, sebagai sumber kehidupan selalu menarik untuk dibahas. Air yang selayaknya sebagai sahabat karena memberikan jasa bagi seluruh mahluk hidup terutama manusia, sering kali menjadi ancaman baik di musim kemarau karena kekeringan, dan di musim hujan yang menyebabkan kebanjiran. Sehingga ke depan diperlukan manajemen yang bijak dalam memperlakukan air. Kabupaten Bogor sebagai wilayah yang dikarunai air hujan yang berlimpah, sudah sepatutnya bisa memanen air hujan ini selain untuk kebutuhan air baku, tetapi juga untuk keseimbangan lingkungan, ameliorasi iklim, konservasi keragaman sumberdaya hayati, serta keindahan lingkungan.

Seperti semester-semester sebelumnya, mahasiswa S1 mata kuliah Pengelolaan Lanskap dan S2 mata kuliah Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan selalu menyajikan hasil kerja praktiknya melalui program EXPOSE. Kali ini expose disampaikan di hadapan berbagai stakeholders dalam strategi pentahelix ABGCM, yaitu forum akademisi (A), pengusaha/swasta (B), pemerintah (G), masyarakat (C) dan wartawan (M) di Ruang Serba Guna 1 Setda Kabupaten Bogor di Cibinong, Senin 10 Juli 2017, pukul 9-11. Kedua mata kuliah yang diampu oleh Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin dan Tim kali ini mengusung “Manajemen Lanskap Cibinong Situ Water Front City” yang disampaikan oleh mahasiswa S1 Semester 6, dan “Sentul City Menuju Kota Ramah Air” dipaparkan oleh mahasiswa S2 Semester 3 PS Arsitektur Lanskap, Sekolah Pascasarjana, IPB.

EXPOSE dihadiri oleh Bupati Kabupaten Bogor, Hj. Nurhayanti dan jajaran pimpinan Bappeda dan SKPD terkait di Kabupaten Bogor. Para akademisi hadir dari IPB, Dekan Fakultas Pertanian Dr. Agus Purwito,  Ketua Departemen Arsitektur Lanskap Dr Bambang Sulistyantara, dan para dosen, peneliti “urban water cluster” Australia-Indonesia Centre (AIC). Juga dihadiri oleh beragam pengusaha swasta dari PT Sentul City Tbk (diwakili oleh Vice President Sentul City, Bapak Ricky Kinanto Teh), PT Olympic Sentul, PT Asabi – AGRICON. Komunitas yang hadir pada acara ini ada Bogor Sahabats, Komunitas Peduli Ciliwung dan beberapa LSM Lainnya. Para stakeholders ini diharapkan bisa saling bersinergi untuk merepson saran dan rekomendasi yang disampaikan mahasiswa. Cibinong Situ Front City yang sudah dicanangkan oleh Bupati Bogor sejak akhir 2015 ditindak lanjuti dengan alternatif manajemen lanskapnya dengan penerapan konsep pemanenan air hujan melalui usulan pembangunan“rain gardens”, dan pengembangan pintu air untuk memproteksi tanah dan air. Dari segi penyedia jasa lanskap diusulkan adanya jembatan penyebrangan satwa, taman konservasi bambu, taman filtrasi air, dan menara observasi ekologi. Juga diusulkan agar ada komunitas sensitif air. Mahasiswa merespon apa yang diinginkan oleh Pemda Kabupaten Bogor dalam mewujudkan Cibinong Situ Front City melalui Situ Sehat, yaitu mengelola dan menjaga keberlajutan situ dengan mengadakan festival situ, dan kegiatan lomba terkait misalnya triathlon (bersepeda, berenan dan marathon). Juga pengembangan konsep Green Controller dengan memberdayakan partisipasi masyarakat untuk mengontrol kondisi lingkungan situ dan sekitarnya.

Rekomendasi bagi “Sentul City menuju Kota Ramah Air”, para mahasiswa S2 Arsitektur Lanskap menyampaikan tahapan pengembangan kota mulai dari water supply city, sewered city, drained city, waterways city, water cycle city hingga water sensitive city. Beberapa usulan dilakukan pada masing-masing fase tersebut, sampai dengan konsep kelembagaannya. Pada dasarnya beragam potensi yang ada di Sentul City, yaitu jumlah air dari curah hujan yang tinggi dapat dimanfaatkan melalui berbagai rekayasa teknik seperti memanen air hujan melalui “rain gardens” dengan cara merevitalisasi V-Drain yang sudah diterapkan di sepanjang jalan Silinwangi di Sentul City. Juga pembuatan embung atau water retention pond, atau situ di tapak-tapak yang berada di lembah yang “not saleable”. Diharapkan dengan munculnya ruang terbuka biru (RTB) sebagai bagian lanskap kota, justru akan menambah daya tarik kota di masa yang akan datang. Kota Sentul maupung Cibinong Raya dapat menjadi iconic bukan hanya di Jawa Barat tetapi di Indonesia sebagai kota yang peduli air, kota yang ramah air, kota yang memiliki resilient terhadap air. Sekali lagi air sebagai sumber kehidupan, mari kita bersahabat dengan air, jaga air selalu bersama kita. Kita ramah terhadap air dan air pun akan selalu baik terhadap kita dan segala mahluk hidup lainnya.

Bogor, 10 Juli 2017

Kordinator Mata Kuliah,

Prof. Dr. Hadi Susilo ARIFIN

No. Kontak WA/LINE: 0811-11-7720

Email: hadisusiloarifin@gmail.com & www.hsarifin.staff.ipb.ac.id

 

BAHAN PRESENTASI MAHASISWA:

  1. Pengelolaan Lanskap Cibinong Situ Front City – PDF MAKALAH S1 File Silakan Klik di Sini
  2. Sentul City Menuju Kota Ramah Air – PDF MAKALAH S2 File Silakan Klik di Sini
  3. Pengelolaan Lanskap Cibinong Situ Front City – PDF PPT S1 File Silakan Klik di Sini
  4. Sentul City Menuju Kota Ramah Air – PDF PPT S2 File Silakan Klik di Sini

 

Workshop of the 2nd Year BOGORKU BERSIH COMPETITION

Speaker: Prof. Dr. Hadi Susilo ARIFIN

Topik: LANSKAP PRODUKTIF PADA RUANG TERBUKA DI KOTA BOGOR-PDF Version Click Here, Please

IMG-20170608-WA0061 IMG-20170609-WA0082

2017-06-11 Radar Bogor BOGORKU BERSIH

CIMG5077.MOV_snapshot_00.00_[2017.06.01_16.57.24]

 

CIMG5077.MOV_snapshot_01.13_[2017.06.01_17.01.09]

 

CIMG5077.MOV_snapshot_03.02_[2017.06.01_17.03.40]

 

CIMG5077.MOV_snapshot_13.29_[2017.06.01_17.11.29]

 

CIMG5082.MOV_snapshot_00.05_[2017.06.01_17.17.07]

The 1st  Week MINI Workshop – Week XIV – 30 May 2017

MINI WORKSHOP OF INTRODUCTION TO LANDSCAPE ECOLOGY COURSE (PART 1)

Participants: the 4th Semester Students of Landscape Architecture Study Program – Even Semester 2016-2017

INSTRUCTOR: Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin, Dr. Syartinilia and Dr. Kaswanto

Assistant:  Suci, Amira, Angga, and Fariz

INTRODUCTION

The field of Landscape Ecology focuses on structure, function, dynamic and culture through the pattern of patches, corridors, mosaic, and matrix of landscape in various scales. Therefore, an architect should learn how to implement those basics idea of Landscape Ecology in the real word through a small workshop at Danau Situ Leutik of IPB Campus Dramaga.

OBJECTIVES

1.To define the possibilities/opportunities and problems from Landscape Ecology perspectives

2.To analyze and synthesize of ecological aspects

3. To find out the ecological landscape solution

TIME & VENUE

The 1st Week Workshop

  • Day & Date : Tuesday, May 30, 2017
  • Time : 6.30AM up to 9.00AM
  • Venue : Lanskap Sistem Satu Arah (SSA), Lingkar Kebun Raya Bogor (Jl. Jalak Harupat, Jl. Raya Pajajaran, Jl. Oto Iskandar Dinata, Jl. Ir. H. Juanda)

MAP OF SPOT FOR 17 GROUPS, as follows:

pengkolan mini workshop

STUDENT GROUPS CLICK HERE, PLEASE

 Student Task during site visit in each spot:

1. Take an inventory of bio-physic  condition in the angle of labdscape ecology.

2. Figure the socio-sulture-economic condition

3. Landscape oportunities and problems of SSA for vihicles, pedestrians and cycling bikers.

4. Identify patches and corridors in the spot and its vicinity, how their networks and connectivity.

5. Identify the interesting landscape structure, function and dymanic.

6. How the influences of Bogor Botanical Garden to patches and corridors of SSA?

7. Interprate of mass, human and wildlife flow in the spot area.

8. Draw the roughly sketch of spot landscape and its vicinity.

9. Analyze all landscape problems and give some better recommendation for their solution.

STUDENT GROUP TASK FOR REPORT of the 1st Mini Workshop

  1. Each Group has to write 200-400 words of Synopsis Field Observation Report.
  2. The Synopsis should be uploaded in this page comment box by Tuesday, 6 June 2017 at 6AM.
  3. Each Group has to draw landscape sketching of the most interesting object of field observation on POSTER PAPER – A1 Size. Please use the suitable media, e.g. magic marker, color pencils, water paints, color inks, crayon, etc.
  4. Bring the product to the 2nd Mini Workshop Venue on Tuesday, 6 June 2017 at 6.30.

CIMG5127

CIMG5106

CIMG5096 small

CIMG5098 small

CIMG5100 small

CIMG5107 small

CIMG5108 small

———

The 2nd  Week MINI Workshop – Week XV – 06 June 2017

INTRODUCTION OF LANDSCAPE ECOLOGY MINI WORKSHOP

@ Lanskap Sistem Satu Arah (SSA)-Lingkar Kebun Raya Bogor

Hadi Susilo Arifin, Syartinilia and Kaswanto

Bogor, Tuesday June 06, 2017

  • INTRODUCTION

The field of Landscape Ecology focuses on structure, function, dynamic and culture through the pattern of patches, corridors, mosaic, and matrix of landscape in various scales. Therefore, an architect should learn how to implement those basics idea of Landscape Ecology in the real word through a small workshop at “Lanskap Sistem Satu Arah (SSA), Lingkar Kebun Raya Bogor (Jl. Jalak Harupat, Jl. Raya Pajajaran, Jl. Oto Iskandar Dinata, Jl. Ir. H. Juanda)

  • OBJECTIVES
  • To define the possibilities/opportunities and problems from Landscape Ecology perspectives
  • To analyze and synthesize of ecological aspect
  • To find out the ecological landscape solution
  • TIME & VENUE
  • Day & Date : Tuesday, June 06, 2017
  • Time : 6.30AM up to 9.00AM
  • Venue : PEDESTRIAN LINE-IPB-BS FRONT SPOT

TOOLS & MATERIALS

  • A2 Poster
  • Megaphone
  • Camera

PRESENTATION

  • Presenting the result by sketching the ecological concept or drawing your idea into poster (A2 size paper)
  • The presentation should be performed by presenter from each group together with all member step forward to the stage.
  • Presenting the results on duration 7’ for each group, consist of 5 ’ presentation, 2’ discussion.
  • The supervisors will review the group presentations in the end of mini workshop.

See You on Tuesday June 06, 2017 @ IPB-BS FRONT SPOT

 

Poster small

KEBAYA, KOPI, dan BUKU
Ruang Bebagi dan Peduli – FX Sudirman 19 May 2017 at 6-9PM

URBAN’S small PEKARANGANPDF File klik di sini

By: “Deddy” HADI SUSILO ARIFIN

Ruang Juragan – Eat & Eat, FX Sudirman – Jakarta, 19 Mei 2017

Milestone: Jumlah penduduk Indonesia 257,9 juta (2016) dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1.49% (2015). Diprediksi tahun 2045 jumlah penduduk Indonesia sekitar 450 juta jiwa.

 Tantangan: Kita dihadapkan pada permasalahan pangan: Ketahanan Pangan, Kedaulatan Pangan dan Keamanan Pangan. Di satu sisi pembangunan dan pengembangan kota baru dan infrastrukturnya mengakibatkan  alih fungsi lahan pertanian perdesaan. Di lain pihak hal itu meningkatkan jumlah unit rumah ‘landed housing’  dan pekarangannya. Diketahui total luas perangan seluruh Indonesia sekitar 5,132,000 ha (2000), di antaranya 1,736,000 ha berada di P. Jawa. Sepuluh tahun kemudian jumlah total luas pekarangan di Inonesia meningkat dua kali lipat, menjadi 10.3 juta ha (2010).

Info Pekarangan Dapat Diakses melalui Link, sebagai berikut:

  1. Presentasi Power Point: http://www.hsarifin.staff.ipb.ac.id
  2. Video Bincang Bintang Pekarangan untuk Ketahanan Pangan: http://www.youtube.com/watch?v=HeBocD4M1v4
  3. Video Kuliah Pekarangan di NUS Singapore: http://hsarifin.staff.ipb.ac.id/2013/04/26/video-of-pekarangan-lecture-in-national-university-of-singapore/
  4. Video Riset Pekarangan: http://hsarifin.staff.ipb.ac.id/photo-albums/
  5. Buku Saku Pekarangan: http://hsarifin.staff.ipb.ac.id/publications/books/
  6. Buku Orasi Pekarangan: http://hsarifin.staff.ipb.ac.id/?s=orasi+hadi+susilo+arifin
  7. Leaflet Pekarangan: http://hsarifin.staff.ipb.ac.id/2013/05/01/pekarangan-introduction-for-ipb-kkp-students-2013/
  8. Publikasi Majalah Burung Indonesia: Profesor Pekarangan Sejati https://facebook.com/photo.php?fbid=10200929563616412&l=2bfaa5f10c
  9. Publikasi Mongabay Indonesia http://www.mongabay.co.id/2015/04/24/dari-pekarangan-hadi-susilo-arifin-tebar-jurus-cinta-lingkungan/

 Tujuan Pemanfaatan Pekarangan Perkotaan

  1. Meningkatkan pemanfaatan pekarangan sebagai lanskap produktif bagi praktek urban farming.
  2. Memasok pangan & gizi keluarga yang aman, serta pemenuhan gaya hidup sehat.
  3. Mengkonservasi keanekaragaman hayati pekarangan perkotaan (urban biodiversity).
  4. Mengembangkan kegiatan ekonomi produktif keluarga.
  5. Menjaga keindahan lanskap perkotaan.

 Filosofi, Struktur dan Fungsi  Pekarangan

Tata ruang pekarangan : Halaman depan (buruan): lumbung, tanaman hias, pohon buah, tempat bermain anak, bangku taman, tempat menjemur hasil pertanian. Halaman samping (pipir): tempat jemur pakaian, pohon penghasil kayu bakar, bedeng tanaman pangan, tanaman obat, kolam ikan, sumur dan kamar mandi. Halaman belakang (kebon): bedeng tanaman sayuran, tanaman bumbu, kandang ternak, tanaman industri. Bagi masyarakat Hindu Bali, dalam pola tata ruang Pulau sebagai macro-cosmos hingga pekarangan dan struktur badan manusia sebagi micro-cosmos terbagi dalam tiga hal dalam filosofi Tri Mandala dan Tri Hita Karana. Pola ruang Utama sebagai Parahyangan, wialyah pekarangan yang mengahadap ke G. Agung akan diletakkan Mrajan dengan tanaman hias bunga-bungaan sebagai ekspresi hubungan man-God. Ruang Madya sebagai Pawongan adalah bagian tengah di mana kehidupan manusia berada, bagian pekarangan ini terdiri dari tanaman buah-buahan dan obat-obatan serta tanaman pangan lainnya merupakan ekspresi man-man. Bagian pekarangan belakang disebut teba, merupakan bagian yang dianggap Nista, atau Palemahan merupakan bagian kandang ternak, pengolahan sampah dan tanaman umbi-umbian sebagi cerminan hubungan man-environment.

Ukuran pekarangan: Cukup beragam dari satu tempat ke tempat lainnya. Tetapi klasifikasi dilakukan dengan ukuran sebagai berikut: 1. Pekarangan Sempit < 120 m2, Pekarangan Sedang 120-400 m2, Pekarangan Luas 400–1000 m2, Pekarangan Sangat Luas  > 1000 m2.

Keragaman vertical: Keragaman elemen pekarangan dapat dilihat dari stuktur tinggi tanamannya. Strata V > 10 m (pohon); Strata IV 5-10 m (pohon kecil); Strata III: 2-5 m (perdu), Strata II 1-2 m (semak); Strata I <1m (herba dan rumput)

Keragaman horizontal : merupakan keragaman elemen yang terdiri dari tanaman – ternak – ikan. Ketiga mahluk hidup tersebut secara harmoni ada dalam pekarangan. Dapat menjadi sumber bahan pangan keluarga. Tanaman dalam pekarngan dapat dikelopmokkan dalam: tanaman hias, tanaman buah, tanaman sayuran, tanaman bumbu, tanaman obat, tanaman penghasil pati, tanaman industry, tanaman lain: penghasil pakan, kayu bakar, bahan kerajinan tangan, peneduh Penyediaan Pangan Beragam, Bergizi, Berimbang dan  AMAN

Potensi Pengembang Agribisnis Pekarangan

  1. Tanaman pangan & hortikultura: umbi-umbian, kacang-kacangan, sayuran, buah, bumbu, obat
  2. Tanaman yang bernilai ekonomi tinggi: buah, sayuran, hias (bunga potong, tanaman pot, tanaman taman)
  3. Ternak: unggas hias, petelor, daging
  4. Ikan: hias, produksi daging, dll.

Fasilitas Pekarangan: Luas dn sempitnya pekarangan, posisi pekarangan dekat atau jauh dari perkotaam, dan lain-lain mempengaruhi jumlah dan ragama fasilitas dalam pekarngan. Umumnya fasilitas dalam pekarangan terdiri dari Lahan pertanaman, Kandang ternak, Kolam ikan, Lumbung atau gudang, Tempat menjemur hasil pertanian, tempat menjemur pakaian, halaman tempat  bermain anak-anak, bangku, sumur, kamar mandi, tiang bendera, tiang lampu, garasi,lubang sampah, jalan setapak, pagar,pintu gerbang, dan lain-lain.

Pentingnya Pendampingan dan Penyuluhan Pekarangan:  Pendampingan yang berkompeten melalui penyuluhan mampu mengembangkan usaha pertanian yang lebih baik (better farming). Berusaha tani lebih menguntungkan (better bussines), hidup lebih sejahtera  dan lingkungan lebih sehat(better living).

Penutup 

Pekarangan dapat melakukan pengelolaan PRODUKSI sepanjang tahun: tanaman tahunan & semusim. Perlunya pendampingan yang cukup memadai (kuantitas dan kualitas) agar masyarakat paham pentingnya hidup sehat dengan pekarangan yang baik. Ketika setiap unit keluarga tahan terhadap pangan, maka 1 RT akan tahan. Setiap RT tahan pangan maka 1 RW akan tahan. Jika setiap RW tahan maka 1 kelurahan akan tahan. Manakala tiap kelurahan tahan maka 1 kecamatan akan tahan, selanjutnya 1 kota/kabupaten, 1 provinsi dan 1 negara akan tahan pangan.  FEED the NATION…. FEED the WORLD …..

Bogor, 18 Mei 2017

Hadi Susilo Arifin,

Mobile: +62-811117720; email: hadisusiloarifin@gmail.com ; BLOG www.hsarifin.staff.ipb.ac.id

IMG-20170520-WA0013

IMG-20170520-WA0010

IMG-20170520-WA0002

IMG-20170520-WA0008

IMG-20170520-WA0006

DIALOG PELAKU HORTIKULTURA DENGAN PERHIMPUNAN HOTEL DAN RESTORAN INDONESIA

TALK-SHOW AGRINEX 2017, JCC JAKARTA, 01 APRIL 2017

under construction

PEMANFAATAN PEKARANGAN – KRPL DI KABUPATEN DAN KOTA, PROVINSI BANTEN

SERANG, 10 MARET 2017

under construction

DIALOG BUDAYA Strategi Pembangunan Berbasis Budaya di Kota Bogor

Di Nu Kiwari Ngancik Nu Bihari, Seja Ayeuna Sampeureun Jaga

Bogor, 28 Desember 2016

Narasumber: Prof. Dr. Ganjar Kurnia

 

Saresehan Kawasan & Bangunan Cagar Budaya

MANAJEMEN LANSKAP KOTA PUSAKA

Hadi Susilo ARIFIN

 

2016-12-22 Leaflet Saresehan

 

Kerangka Acuan – Diskusi Pilkada DKI Jakarta
“Memahami Jakarta, Menata Jakarta”
Harian Kompas, 9 Desember 2016


Jakarta kini adalah kota yang tengah berbenah. Di satu sisi ada kemajuan yang tak bisa dibantah. Ada sudut-sudut kota yang kini terasa semakin menyenangkan bagi warganya, ruang-ruang publik bertambah dan terjangkau bagi siapa pun, transportasi publik membaik ditandai dengan jaringan transjakarta yang nyaris menjangkau seluruh Ibu Kota, juga penataan sungai yang mulai terealisasi. Penataan birokrasi terjadi di semua lini, pelayanan publik membaik, termasuk di bidang kesehatan dan pendidikan.
Namun, ada sebagian warga Jakarta yang harus kehilangan kehangatan kampungnya, kedekatan dengan para tetangga, juga menjauh bahkan kehilangan mata pencaharian serta tiba-tiba harus beradaptasi tinggal di tempat yang sama sekali asing. Semua atas nama pembangunan Jakarta.
Melihat secara lebih luas, Jakarta kini tetap mengidap penyakit yang belum bisa disembuhkan. Pertumbuhan kawasan sekitarnya tak terkendali dan justru makin membebani induknya, yaitu Jakarta sendiri. Hal ini akibat kota-kota satelit tak independen dan lebih berfungsi sebagai kawasan perumahan bagi para pekerja di Jakarta. Belum terealisasi ide penyebaran merata sentra-sentra industri yang diikuti dengan pembangunan pemukiman dan fasilitas transportasi publik sehingga pertumbuhan masing-masing kota tak seimbang.
Setiap hari Jakarta dipadati oleh 10 juta jiwa penduduknya ditambah lebih dari 3 juta warga lain dari kota sekitarnya. Masalah air bersih, sampah, udara kotor, kemacetan, banjir, dan lainnya makin berkembang. Sementara pertumbuhan ekonomi di Jakarta dan sekitarnya tetap tertinggi dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia menyebabkan arus migrasi daerah lain menuju Jabodetabek tetap tinggi.
Berbagai program kini digenjot pelaksanaannya oleh Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat untuk mengatasi berbagai masalah tersebut. Beberapa program tersebut adalah membangun MRT, LRT, dan terus membenahi jaringan BRT transjakarta. Juga poyek revitalisasi sungai yang disebut normalisasi pun terus dilakukan. Demi mengurangi beban pemerintah, dana pihak swasta dirangkul untuk membiayai sebagian program seperti rusunawa, tanggul laut di pesisir utara Jakarta, RPTRA, dan beberapa proyek lainnya.
Namun, apakah proyek mega besar berdana triliunan rupiah itu mampu mengatasi semua masalah di Ibu Kota dalam jangka panjang? Sudahkah penataan Jakarta berpihak pada warganya? Apakah pembangunan saat ini sudah berada di jalur yang benar?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, Harian Kompas mengadakan diskusi panel terbatas tentang tata ruang bertema “Memahami Jakarta, Menata Jakarta”. Para nara sumber diskusi diharapkan berbagi pemikiran, data, dan solusi dalam melihat Jakarta secara utuh, ada segudang masalah tetapi juga terdapat timbunan potensi yang bisa digali dan ditata ulang. Warga kota membutuhkan ide-ide kreatif menata Jakarta dengan melihat potensi diri kota ini.
Diskusi ini juga dimaksudkan memberi masukan bagi kepala daerah yang akan memimpin Jakarta pada tahun 2017, seiring dengan berakhirnya masa kerja Gubernur DKI Jakarta saat ini. Hasil diskusi akan menjadi masukan dalam penulisan laporan akhir tahun mengenai bagaimana menjadikan Jakarta sebagai kota yang nyaman dan memanusiakan warganya tanpa kehilangan daya untuk terus membereskan berbagai persoalan pembangunan kota.


Waktu penyelenggaraan diskusi:
Hari/tanggal : Jumat, 9 Desember 2016
Waktu : 12.00 – 17.00 WIB
Tempat : Ruang Rapat Depan, Redaksi Kompas
Gd. Kompas Gramedia, Unit 2 Lantai 3
Jl. Palmerah Selatan 26-28, Jakarta 10270
(depan Bentara Budaya Jakarta)


Narasumber :
1. Prof Dr Ir Hadi Susilo Arifin, pengajar manajemen lanskap Institut Pertanian Bogor
Tema: Pengendalian Banjir di Jakarta.
 Membahas tata ruang Jakarta salah urus dari awal memicu masalah lingkungan akut, termasuk banjir, air bersih, kekeringan dan lainnya; penelitian/pemikiran/data terkini masalah mendasar tata ruang di Jakarta
 Apakah masih memungkinkan menata Jakarta sehingga menjadi kota yang lebih aman dan nyaman bagi warganya? Bagaimana caranya dan harus dimulai dari mana, melihat kompleksitas masalah yang ada?
 Dari sisi perencana kota, potensi-potensi apakah yang dimiliki Jakarta yang pantas dipertahankan dan dikembangkan? Pembangunan seperti apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan terhadap Jakarta? Perencana kota dan ahli lansekap kota dengan kualifikasi apa yang dapat menjawab persoalan Jakarta? Sekarang ini perencana kota banyak ‘disetir’ oleh politisi dan bisnis atau sekedar meniru produk daerah/negara lain.
 Bagaimana bentuk dan realisasi perencanaan kota yang melibatkan masyarakat itu?

2. Haryono, Antropolog Universitas Indonesia
Tema: Memahami masyarakat kota
 Membahas karakteristik warga Jakarta (sikap, sifat, perilaku), terdiri dari manusia-manusia seperti apakah kota ini. Benarkah terjadi fenomena kota tanpa warga, dalam arti pembangunan kota tak memperhitungkan kebutuhan warga dan di sisi lain warga pun tidak lagi peduli atas kotanya karena sibuk dengan pekerjaannya, merasa di Jakarta hanya merantau, atau alasan lainnya? Nara sumber diharapkan menyajikan hasil penelitian/data terkini soal masyarakat perkotaan.
 Agar warga mau aktif berpartisipasi, paling tidak menyalurkan aspirasi/pikiran/uneg-uneg soal masalah kota dan mungkin solusinya, pemerintah harus bagaimana? Apakah cukup dengan Qlue? Atau justru fasilitas Qlue makin memanjakan warga Jakarta, tinggal foto and lapor, dan orang lain yang menyelesaikan masalah. Bagaiman peran komunitas dalam dinamika kota
 Bagaimana mempersiapkan masyarakat Jakarta menjadi manusia yang berkarakter dan tidak sekedar ikut-ikutan. Seperti fenomena sekarang yang sedikit-sedikit ramai di medsos, ribut dengan yang tidak pasti, tapi sebagian masih enggan berkontribusi riil untuk pembangunan kotanya
 Perumahan rakyat yang seperti apa yang tepat bagi warga miskin-menengah, terutama bagi mereka penghuni lahan yang bukan miliknya?

3. Prof. Ir. Johan Silas, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITS 10 November Surabaya
Tema: Penataan kampung dan perumahan bagi kelas menengah ke bawah
 Masihkah kampung menjadi ciri khas Jakarta?
 Mungkin berbeda dengan di Surabaya, saat ini sebagian kampung di Jakarta sudah ditinggalkan penduduk asli/lama dan berganti dengan orang-orang baru yang mungkin tidak tahu sejarah kampung itu. Kampung akhirnya identik menjadi bagian dari kekumuhan yang dianggap sebagai penyakit kota. Bagaimana memilah persoalan ini dan mengembalikan fungsi kampung sebagai hunian yang nyaman bagi semua kelas masyarakat?
 Kebijakan-kebijakan pemerintah seperti apa yang dibutuhkan untuk melestarikan kampung
 Bagaimana kampung-kampung di Surabaya tetap bertahan dan kini justru disebut kampung berstandar internasional?
 Bagaimana menjadikan keberadaan kampung sebagai salah satu indikator keberhasilan menata Jakarta?

4. Dr. Sawidji Widoatmodjo – Dekan FE Untar
Tema: Ekonomi kota
 Seberapa besar potensi ekonomi Jakarta ke depan, terutama dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya dengan jumlah penduduk dan potensi ekonomi yang sama?
 Bagaimana meratakan pertumbuhan ekonomi Jakarta ke kawasan di sekitarnya sehingga beban jakarta juga dapat dibagi ke Jabodetabek. Dalam kondisi saat ini, apakah pemerataan itu mungkin dilakukan?
 Dapatkah pembangunan Jakarta diupayakan sendiri melalui pendapatan asli daerah serta APBN? Mungkinkah pengalokasian pendapatan dari pajak disesuaikan dengan bidangnya? Misalnya, pajak kendaraan bermotor hanya untuk membangun transportasi publik .
 Apakah pembiayaan proyek berskala besar, seperti tanggul laut tipe A harus tergantung swasta?
 Apa solusi pendanaan terbaik bagi Jakarta yang membutuhkan banyak infrastruktur tetapi terbatas APBD/APBN-nya?
 Dalam membangun Jakarta, muncul kesan yang berperan paling besar adalah bisnis berskala besar mengingat proyek pembangunan di Jakarta berskala besar pula. Bagaimana dengan pekerja kerah biru di sektor formal dan mereka dari sektor informal, bagaimana sumbangan mereka untuk pertumbuhan Jakarta? Bila mereka memang dibutuhkan untuk bergeraknya roda kota, mengapa mereka selalu menjadi yang pertama-tama digusur dari tempat tinggal dan tempat mencari nafkah?
 Apakah Jakarta ke depan hanya akan terbuka bagi mereka yang berpendidikan menengah dan atas atau mereka yang memiliki kompetensi tinggi? Apakah sektor informal suatu saat hilang dari Jakarta? Bagaimana mengelola ekonomi kota yang adil merata dan beradab?

5. Ir Ellen SW Tangkudung, MSc, Kepala Dewan Transportasi Kota Jakarta
Tema: TRANSPORTASI & KEMACETAN
 Catatan rencana pembangunan dan realisasi pembangunan transportasi publik dan massal di Jakarta setelah kemerdekaan hingga sekarang
 Apa penyebab selalu bermasalah pembangunan transportasi massal di Jakarta? MRT masih menyisakan PR mulai dari pembebasan lahan, titik-titik stasiun masih berubah-ubah sampai sekarang (dirasa belum secara jelas menerapkan TOD), jalur layang BRT apakah efektif, integrasi antarmoda juga belum jelas benar
 Saat ini, jaringan bus transjakarta sudah cukup bagus dan luas cakupan layanannya hampir ke seluruh Jakarta. Namun, belum mampu secara signifikan menarik pengguna kendaraan pribadi beralih ke angkutan publik. Bagaimana tanggapannya atas hal ini dan bagaimana strategi menarik lebih banyak pengguna transjakarta?
 Untuk di DKI dan sekitarnya yang sudah kacau balau, apakah perlu strategi baru penataan dan pembangunan angkutan massal atau cukup meneruskan yang saat ini?

6. Dr YAYAT SUPRIYATNA, MSP, Ketua Bidang Kajian dan Perencanaan IAP Indonesia, pengajar teknik planologi Fakultas Teknik Universitas Trisakti
Tema: Reformasi Birokrasi
 Saat ini pembenahan birokrasi tengah berjalan dengan tujuan mengukur sistem layanan publik, pemegang jabatan, hingga kinerja PNS. Namun, apakah ini sudah tepat? Masih adakah celah kebobrokan yang dapat berkembang menjadi penyakit birokrasi baru di DKI? Sistem lelang jabatan dan tunjangan tinggi bagi PNS apakah paling mujarab menghentikan KKN? Perlu waktu/proses berapa lama agar kinerja baik ini terus bertahan dan menjadi standar?
Catatan bagi setiap narasumber :
Pembahasan dapat kiranya tetap dengan memperhatikan pertanyaan, gubernur seperti apa yang cocok untuk Jakarta dengan segala persoalannya? Adakah latar belakang pendidikan/pengetahuan yang harus dimiliki Gubernur Jakarta? Gubernur terpilih harus bersikap dan menentukan kebijakan seperti apa agar pembangunan dapat membentuk Jakarta sebagai kota yang melayani berbagai lapisan warganya dan menjadikan Jakarta kota yang manusiawi?
*/NEL/DHF/NMP

AIC Graduate Research Interdisciplinary Network

AIC Graduate Research Interdisciplinary Network

A program to support greater connectivity and build international and collaborative leadership potential for Research Students and Early Career Researchers engaged in the AIC Research Clusters

Pilot Program: 26 November – 2 December 2016

BACKGROUND

The AIC’s research program aims to deliver impact through shared solutions to shared challenges for Australia and Indonesia.

Within the research program, the development of research student and early career researcher contributions is a key component for establishing a sustainable and engaged network of expertise at the regional level which has potential for global reach.

In addition to supporting capacity demands to address long-term challenges through innovation, the national innovation systems in both countries will continue to demand research graduates with capabilities to support future strategic leadership through effective international collaboration and the ability to translate research outputs into economic, environmental and societal benefit.

The Graduate Research Interdisciplinary Network will establish informal connections across the AIC’s Research Program through ECRs, research students, their supervisors and others working across the AIC research group where knowledge sharing on research training and development, options and opportunities for research development and further collaborative linkages can be established.

2016 PILOT PROGRAM

The Australia-Indonesia Centre’s pilot program follows from partner consultations and sessions held at the AIC-RISTEK-DIKTI 3rd Research Summit in Surabaya in August 2016. In association with DFAT’s Knowledge Sector Initiative team and the Joint Academies of Sciences, the AIC pilot program will align with the first Joint Science Symposium of The Indonesian Academy of Science and the Australian Academy of Science to be held in Canberra between 28 November and 1 December 2016. The Program will also align with the Asia-Pacific Solar Research Conference hosted by the ANU.

The purpose of the pilot program is to

  • Introduce the research group – to include students and other participants – to the research training and development initiatives of the Australian partner institutions
  • Enable the research students from Australia and Indonesia to contribute to the Joint Science Symposium forum– in particular to contribute to the discussion session on research career pathways
  • Provide exposure to experts and live project opportunities relevant to skills and knowledge in areas of demand by research students as identified at the Indonesia-Australia Research Summit
  • To offer an opportunity to grow understanding of the Australian research environment in relation to government policy, corporate and community research requirements

 

PIILOT PROGRAM ITINERARY:

DATE LOCATION ACTIVITY LEAD CONTRIBUTOR / Contact
Thursday 24 November arrive Melbourne Arrive Hotel  
Friday 25

 

Monash Big Data & managing complexity (Monash) tbc
Saturday 26

 

Melbourne Cultural / laneways tour Dr Megan Power

Ms Katrina Reid

Sunday 27

 

Melb-Canberra Travel to Canberra by coach Dr Megan Power
Monday 28

 

Shine Dome / ANU University House Science Symposium opening session

ANU Career Pathways and Leadership in Research

A/Prof Inger Mewburn

Dir of Research Training ANU

Evening National Portrait Gallery Canberra Dinner Victoria Firth-Smith
Snr Program & Events Coordinator Research Skills ANU
Tuesday 29 Nov:

am

DFAT Innovation Exchange Innovation in policy: development to implementation Jeff Roach
Assistant Secretary InnovationXChange DFAT
pm ANU University House Developing a research team Dr Sebastian Thomas UoM tbc
A/Prof Ross Coleman UoS tbc

Prof Peter Kanowski

pm Shine Dome Science Symposium Mentors Dinner Nancy Pritchard – Confirmed
Wednesday 30 Nov ANU Asia-Pacific Solar Research Conference ANU (tbc) – Brian Schmidt keynote Dr Igor Skryabin

Professor Ken Baldwin ANU

Evening ANU Solar Oration / Dinner  
Thursday 1 Dec am / lunch Shine Dome, Canberra Science Symposium. Careers in Science Forum Nancy Pritchard Director International Programs and Awards Australian Academy of Sciences
pm Canberra-Melb Return Melbourne
(by air)
Overnight Melbourne
Friday 2 Dec University of Melbourne Research, International Collaboration and Entrepreneurship Dr Sebastian Thomas (to confirm)
Saturday 3 Dec   Depart Melbourne or own program to follow  
Tuesday 6 Dec Hobart Infrastructure Workshop Rebecca Hateley

 

Next Page »