Newspaper


2017-06-05 Radar Bogor small 2017-06-06 HSA Radar Bogor small

BERHUBUNGAN DENGAN ALAM “Connecting People to Nature“                

MULAILAH DARI PEKARANGAN – PDF File, Silakan Klik di Sini

Temu Media dalam Rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2017 – Kerjasama Dewan Guru Besar IPB dan HUMAS IPB. Venue: Executive Lounge IPB, Kampus Baranangsiang pada 4 Juni 2017, pk.16.00-18.00

Oleh: Hadi Susilo ARIFIN

Guru Besar di Bidang Ekologi dan Manajemen Lanskap, Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, IPB

Ketua Komisi B “Pengembangan Keilmuan & Pemikiran Strategis” – Dewan Guru Besar IPB

Alamat Kontak:

Email: hadisusiloarifin@gmail.com; www.hsarifin.staff.ipb.ac.id; Mobile phone: +62-811117720 (WA & LINE)

Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2017

Situs United Nations Environment Programme (UNEP) http://www.worldenvironmentday.global, sebagai badan PBB telah menetapkan tema “Connecting People to Nature” sebagai tema peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2017. Saya kira ini sangat baik, karena kita diingatkan untuk “berhubungan dengan alam”. Dalam konteks agama Islam, kita mengetahui adanya hablum minallah, hablum minannas, hablum minal ‘alam. Begitu juga masyarakat Hindu Bali dengan filosofi “Tri Hita Karana”, meliputi parahyangan, pawongan, palemahan. Pada hablum minal ‘alam, juga palemahan, merupakan hal yang menyatakan manusia memiliki hubungan dengan alam. Hubungan dalam hal memperhatikan, melindungi, menjaga dan mengelola serta memanfaatkannya secara bijak. Harmonisasi hubungan manusia dengan alam dapat menciptakan keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup pada ekosistem tanah, air dan udara.Tema ‘Berhubungan dengan Alam’ benar-benar mengingatkan kita semua, karena dengan kelalaian manusia dalam mengekploitasi alam secara berlebihan, telah mengakibatkan bencana dan kerusakan lingkungan di muka bumi.

Alam di Sekitar Kita

Keseimbangan hubungan manusia dengan alam sekitarnya bisa dilakukan mulai dari lingkungan terdekat kita, yaitu pekarangan. Pada skala ruang perdesaan ada kebun campuran, talun, sawah, tegalan, lanskap perkebunan, hutan tanaman. Begitu pula pada skala perkotaan ada taman lingkungan, taman kota, hutan kota, bantaran sungai, sempadan pantai; sedang pada skala wilayah ada daerah aliran sungai, badan air sungai, situ, danau, juga ada hutan, kawasan lindung, kawasan konservasi, suaka margasatwa hingga taman nasional. Manusia baik secara individu maupu berkelompok bisa berperan dalam menjaga, melindungi, mengelola dan memanfaatkannya sebagai jasa lanskap (jasa lingkungan, atau jasa ekosistem). Sebagai lanskap produktif, alam bisa memberikan jasa sebagai sumber daya air yang merupakan sumber kehidupan bagi semua mahluk hidup, terutama manusia; penyerap karbon yang dapat menyetimbangkan kenyamanan lingkungan udara juga memberi jasa produksi pangan-sandang-papan; mengkonservasi keaneragaman hayati; serta memberi keindahan lingkungan yang bermanfaat bagi kenyamanan (amenity) sehingga bisa diberdayakan sebagai lanskap wisata.

Kenapa Pekarangan?

Jasa lanskap yang disebutkan di atas dapat diwujudkan di lingkungan/lanskap terkecil dan terdekat dengan dengan kita, yaitu pekarangan. Sesempit apa pun, pekarangan kita bisa bermanfaat dalam mendekatkan hubungan manusia dengan alam. Dalam pekarangan sempit di perkotaan, kita bisa menata dengan tanaman dalam pot (tabulampot, container gardens, planter box garden), mendesain dengan taman gantung (hanging garden), taman dinding (wall garden), taman balkon (balcony garden), taman depan atau belakang jendela (window garden), taman atap (roof garden) yang dilakukan secara vertikal ke atas yang disebut dengan desai vertical gardens baik dengan media tanah, atau media air (hydroponic) atau media udara (aeroponic).

Pada lahan pekarangan yang lebih besar baik di perkotaan maupun di perdesaan, kreasi untuk menciptakan hubungan dengan alam memiliki peluang yang lebih besar. Karena strata tanaman bisa lebih beragam mulai rerumputan yng berfungsi sebgai penutup tanah (grasses), tanaman herba tidak berkayu (herbaceous), tanaman semak (bushes), tanaman perdu (shrubs), sampai pohon tinggi (trees). Secara horizontal di pekarangan bisa dihadirkan tumbuhan dan tanaman, hewan ternak dan piaraan, serta kolam ikan jika jumlah air berlimpah di lingkungan kita. Tanaman pun bisa beragam mulai dari tanaman hias, tanaman buah, sayuran, obat-obatan, bumbu, penghasil karbohidrat, tanaman bahan baku industri dan tanaman lainnya semisal penghasil kayu bakar, bahan baku kerajinan tangan, penghasil bahan bangunan dan furnitur.

Dengan keragaman hayati yang ada di pekarangan tersebut, bukan hanya bisa menghasilkan pangan bagi pemilik pekarangan, tetapi bisa mengundang datangnya satwa liar (wild life) seperti burung, aneka serangga, kupu-kupu, kadal, bunglon, tupai, musang, dan lain-lain. Lanskap pekarangan bisa menjadi tempat bersarang, kawin, mencari makan dan minum, tempat bermain, atau bahkan hanya sekedar tempat singgah bagi satwa liar tersebut. Kehidupan alam pekarangan bisa memberikan manfaat fungsional yang berguna, dan manfaat esetika yang indah bagi manusia dan segala mahluk hidup penghuni pekarangan lainnya. Di sinilah kita memulai dari diri kita sendiri untuk mencapai keseimbangan dengan alam. Hal tersebut akan menjadi lebih baik, apabila kita juga melakukan kegiatan, sebagai berikut: tidak membuang sampah sembarangan, tidak membakarnya, tetapi mencoba mengolahnya di dalam pekarangan; menanam pohon dan tanaman di pekarangan; menggunakan air secara bijak, dan sebisa mungkin mendaur ulangnya semisal digunakan untuk penyiraman, membuat sumur resapan atau lubang biopori, mengusahakan zero run-off; membuat rain-garden; tidak memburu satwa liar, tetapi malah harus bisa menghadirkannya di pekarangan dan membiarkan mereka hidup bebas, berkicau memberi keramaian alami dan memberi warna-warni alami.

Etika Lingkungan sebagi Penutup

Manusia, kita… diberi banyak pilihan. Dalam mengelola dan memanfaatkan lingkungan, alam semesta, kita memiliki etika lingkungan. Etika lingkungan yang dikembangkan oleh manusia adalah pendekatan-pendekatan, yaitu antroposentrisme (kepentingan manusia sebagai hal utama), biosentrisme (manusia melihat hubungannya dengan mahluk hidup lainnya di alam), dan ekosentrisme (manusia melihat hubungannya dengan habitatnya, dengan lingkungannya). Setiap konsep dan teori tersebut memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam menilai kebergantungan antara manusia dengan lingkungannya. Antroposentrisme, konsep ini sering dianggap menyebabkan kerusakan pada lingkungan. Sedangkan, dalam konsep biosentrisme dan ekosentrisme, manusia menyadari bahwa kita berhubungan dengan mahluk hidup lainnya secara bersama-sama di bentang lanskap yang sama. Sehingga di mana pun kita perlu menjaga tata air-tanah-udara dengan baik. MULAILAH DARI PEKARANGAN.

Bogor, 4 Juni 2017

20170604_163455small 20170604_163903small 20170604_170746small 20170604_170916small 20170604_174039small 20170604_174233small

Radar Bogor Minggu, 15 Januari 2017

Halaman 1 dan lanjut ke hal 4.

GAGASAN: LANGKAH BIJAK MENGELOLA POHON KOTA

Oleh: Hadi Susilo Arifin

IMG-20170115-WA0087

IMG-20170115-WA0086

13 Januari 2017

LINGKUNGAN

Proyek Lancar, Pohon Pun Selamat


 

Dalam membangun jalan baru, khususnya tol, harus tetap peduli terhadap lingkungan hidup. Dengan demikian, proyek pembangunan itu tidak membuat malu pemerintah, rugi investor, dan resah masyarakat.

Demikian dapat disimpulkan dalam pertemuan para pemangku kepentingan pembangunan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) seksi II dengan jurnalis berbagai media di Balai Kota Bogor, Rabu (11/1). Di lokasi proyek pembangunan tol itu di Kedung Badak, Tanah Sareal, sekitar 20 orang dari lembaga peduli lingkungan Budiasi dan Koramil Tanah Sareal mulai melaksanakan penyelamatan pohon yang terkena proyek tersebut.

“Peristiwa beberapa pohon keras yang telanjur ditebang sebelumnya menjadi pelajaran berharga bagi kita. Peraturan yang ada belum merinci mekanisme pelaksanaan penggantian pohon yang ditebang. Baru ada kepastian PT MSJ akan mengganti satu pohon dengan 10 bibit pohon,” kata Wali Kota Bogor Bima Arya.

PT Marga Sarana Jabar (MSJ), pemilik dan pengelola Tol BORR, mengizinkan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, kontraktor pembangun Tol BORR seksi II, untuk menebang sekitar 580 pohon keras di jalur hijau di Jalan Soleh Iskandar yang melintasi Kecamatan Tanah Sareal. Jalur hijau itu akan menjadi tempat tiang-tiang konstruksi jalan tol layang dari Kedung Badak sampai Salabenda.

Ratusan pohon ditanam di jalur hijau itu oleh Dinas Kebersihan dan Pertanaman serta Kodim 0606/Kota Bogor pada 2011. Kini rata-rata batang utama pohon berdiameter di atas 30 sentimeter.

Penebangan pohon membuat resah dan menimbulkan protes masyarakat, khususnya komunitas pegiat pelestarian lingkungan hidup dan pemerhati Kota Bogor, seperti Bogor Bersahabat dan Budiasi. Pihak kepolisian juga protes karena pengerjaan dimulai tanpa kesiapan prasarana di lokasi proyek dan berpotensi mengancam keselamatan pengguna jalan.

Direktur Utama PT MSJ Hendro Atmodjo mengatakan, begitu ada protes, sejak Kamis pekan lalu pihaknya memerintahkan Wika menghentikan penebangan pohon. “Mengganti satu pohon yang ditebang dengan 10 bibit pohon minimal tinggi 2 m, sepenuhnya inisiatif dan komitmen kami. Sebab, aturannya memang tidak ada,” kata Hendro.

Namun, hendaknya pemerintah daerah segera membuat aturan rinci dan rasional. “Dengan keharusan menyelamatkan pohon, skedul pengerjaan konstruksi mundur lagi. Kalau harus mengganti pohon dengan besar sama, selama bisa dilakukan akan kami kerjakan,” katanya.

Project Manager PT Wika Ali Afandi menuturkan, untuk membangun konstruksi tiang tol, di sejumlah titik lahan memang harus bersih dari pohon. Ali mengaku mendapat rekomendasi dari Kodim untuk mengganti satu pohon yang ditebang dengan lima pohon pengganti. Dinas Pertanaman menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakannya. “Jadi, kami tidak serta-merta menebang pohon,” katanya.

Kepala Bidang Pertanaman Kota Bogor Yadi Cahyadi memastikan kantor dinasnya dan Wali Kota Bogor tidak pernah memberikan atau mengeluarkan surat persetujuan penebangan pohon kepada kontraktor BORR. “Tapi, sekarang sudah clear, MSJ akan mengganti satu pohon yang ditebang dengan 10 pohon, yang belum ditebang diselamatkan,” katanya.

Mengenai penebangan pohon, Pemkot Bogor mengaturnya dalam Perda Nomor 8 Tahun 2006 tentang Ketertiban Umum. Pasal 6 Huruf g menyebutkan, setiap orang dan atau badan dilarang menebang, memotong, mencabut pohon, tanaman, dan tumbuhan di sepanjang jalur hijau, taman rekreasi umum, kecuali seizin wali kota. Pasal 30 menyebutkan, pelanggar diancam pidana maksimal 3 bulan kurungan atau denda maksimal Rp 50 juta. Tidak dijelaskan perbedaan sanksi penebangan satu atau lebih pohon.

Menurut Kepala Dinas Pengawasan Permukiman Kota Bogor Boris Derurasman, Pemkot dan DPRD segera membahas raperda pengawasan permukiman dan bangunan.

Teknik bowling (maksudnya “balling”/HSA)

Hadi Susilo Arifin dari Bogor Bersahabat yang juga guru besar di IPB mengingatkan, kebijakan mengganti satu pohon yang ditebang dengan lima atau 10 bibit pohon tidak tepat. Juga mengganti pohon dengan umur, diameter, dan jenis yang sama.

Lebih adil, menurut Hadi, dengan mempertimbangkan aspek fungsi ekologi, ekonomi, dan sejarah pohon, atau menghitung dengan sistem ISTEM (maksudnya Internasional Shading Trees Evaluation Method/HSA). Dengan demikian, nilai pohon dapat dikonversikan ke dalam rupiah. “Dengan nilai rupiah itu, kita dapat membelanjakan pohon atau bibit pohon sejenis atau lainnya sesuai lokasi baru tempat bibit atau pohon itu akan ditanam. Juga biaya pemeliharaannya,” katanya.

I Wayan Budi Sutomo dari Budiasi membenarkan, yang paling penting dan sulit adalah memelihara pohon. Ketika pohon sudah besar dan berumur lama dapat diselamatkan dan dipindahkan dengan teknik bowling.

“Peralatan yang digunakan cuma golok, pacul, dan linggis, serta karung untuk membungkus bagian akarnya setelah di-bowling. Bowling 1 pohon berdiameter 30 cm dan setinggi 7 m-10 m hanya butuh sekitar satu jam. Pohon langsung bisa dipindahkan. Jadi tidak akan menghambat pembangunan,” kata Wayan Budi.

(RATIH P SUDARSONO)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Januari 2017, di halaman 27 dengan judul “Proyek Lancar, Pohon Pun Selamat”.

2015-02-18 Kompas metropolitan

Prof Pekarangan Sejati Majalah Burung 2VI2012_Page_1

Prof Pekarangan Sejati Majalah Burung 2VI2012_Page_2

Undang Burung ke Pekarangan, Kenapa Tidak?

BOGOR, BURUNG INDONESIA-Mengundang burung ke pekarangan bukanlah pekara sulit. Asalkan segala kebutuhannya seperti makan dan minum tersedia, dengan sukarela sang burung akan datang.

Yang harus digarisbawahi disini adalah menyediakan makan dan minum bukan berarti kita harus membeli pakan dan meletakkannya di kandang. Namun, lebih difokuskan pada menyediakan makanan di pekarangan melalui tanaman. Sementara, untuk minumnya dapat bersumber dari tempayan tanaman air, kolam ikan, atau cekungan daun yang menampung sisa air hujan.

Simak penuturan Hadi Susilo Arifin, Guru Besar Manajemen Lanskap Institut Pertanian Bogor (IPB). Menurut Hadi, dari tanaman burung dapat mengambil madu, bunga, buah, hingga serangga atau ulat. Hal penting lain adalah pekarangan tidak semata dijadikan tempat mencari makan, tetapi juga untuk bermain, kawin, dan bersarang.

Reviewer jurnal ilmiah International Journal of Landscape and Urban Planning-Elsevier ini pun tak sungkan berbagi pengalaman. Kala pohon salam di pekarangan rumahnya berbunga, beberapa ekor tekukur rajin mengunjungi pohon tersebut. Begitu juga dengan burung-madu sriganti (Nectarinia jugularis) yang suka menyedot madu tanaman heliconia sembari terbang di pagi hari.

Hal menarik lain papar Hadi adalah perpaduan antara tanaman harendong (Melastoma malabatrichum) dengan mangkokan. Biasanya, setelah memakan bunga melastoma yang ungu, burung akan menuju ke daun mangkokan yang menyimpan air karena berpermukaan cekung. “Pemandangan ini sangat indah,” terangnya.

Desain pekarangan

Apa yang dijelaskan Hadi tentu saja berdasarkan pengalaman dan hasil penelitiannya. Di area pekarangan rumahnya seluas 800 meter persegi, aneka tanaman tampak segar berseri. Tanaman hias, obat, buah, bumbu, sayur, bahan baku industri, hingga penghasil pati seperti sukun dan ganyong saling berbagi sinar mentari.

Bersama Nurhayati Arifin, sang istri, Hadi mendesain ruang terbuka hijau di rumahnya itu sejak 1998. Menurutnya, sebanyak 170 jenis tanaman yang ada telah disesuaikan peruntukkannya. Secara detil, Hadi memperhatikan tata ruang pekarangan (depan, samping, belakang) terlebih dahulu sebelum menanam jenis tumbuhan yang sesuai.

Begitu pula dengan pencahayaan mentari. Untuk jenis bunga yang tidak tahan panas, ditanam di tempat teduh. Sehingga, penataan pekarangan yang dibangun tidak hanya mengutamakan estetika, tetapi juga sisi fungsional.

Berdasarkan penelitiannya, penulis buku “Pemeliharaan Taman” ini membagi konsep pekarangan menjadi tiga bagian yaitu struktur pekarangan (vertikal dan horisontal), ukuran pekarangan, serta zonasi.

Sebagai gambaran, pekarangan dengan struktur vertikal berisi tanaman dengan strata berlapis: dari yang rendah (rumput, herba, dan semak), sedang (perdu dan pohon kecil), hingga yang tinggi (pohon sedang-pohon tinggi seperti rambutan, kelapa, dan petai). Sementara, dari sisi horisontal, keragaman jenis tanaman dilihat dari fungsinya seperti tanaman hias, sayuran, obat, buah, penghasil bumbu, umbi-umbian dan penghasil pati, bahan baku industri, maupun tanaman lainnya seperti tanaman peneduh dan penghasil kayu bakar.

Bagi Hadi, desain pekarangan rumah yang dibuatnya, tidak sekadar untuk keindahan dan kebutuhan manusia tetapi juga untuk kehidupan semua makhluk di dalamnya. Sebut saja burung, kadal, katak, tupai, musang, hingga ular. “Semua makhluk hidup itu akan harmonis selama keseimbangan tercipta,” lanjutnya.

Jadi, jangan heran, bila pekarangan rumah Hadi akan ramai kicauan burung kala pagi. Ada merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier), cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), cinenen jawa (Orthotomus sepium), cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps), cinenen pisang (Orthotomus sutorius), burung-gereja erasia (Passer montanus), kacamata biasa (Zosterops palpebrosus), perenjak jawa (Prinia familiaris), juga bondol peking (Lonchura punctulata). Berminat?*

(Rahmadi/Burung Indonesia)

Hadi Susilo Arifin di Pekarangan Belakang Rumahnya (BI/Aip Abas)

Hadi Susilo Arifin di Pekarangan Belakang Rumahnya (BI/Aip Abas)

Pekarangan Belakang Rumah Hadi Susilo Arifin (BI/Aip Abbas)

Pekarangan Belakang Rumah Hadi Susilo Arifin (BI/Aip Abbas)

DSC09288 DSC09248 DSC09261

Indonesian Youth Conference (IYC) – 2013

Day/Date: Saturday/ July 06, 2013

Time: 11.00 – 13.00

Theme: Click this to download PPT Material JADILAH SAHABAT BUMI

Speaker: Click this to download the CV  Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin

Venue: Annex 6 – Nusantara Building, Jakarta

Jakarta, 22 February 2013

Yth. Bapak Prof. Hadi Susilo Arifin

di Tempat

Dengan hormat,

               Perkenalkan Pak nama saya Mutia Ulfah, Staff  Seminar dari Indonesian Youth Conference 2013 (IYC). IYC Festival adalah sebuah acara tahunan non-profit yang berisi rangkaian seminar dan talkshow inspirasional yang mengangkat berbagai isu bangsa bagi generasi muda di Indonesia, yang saat ini cenderung menjadi pemuda yang kurang perduli terhadap permasalahan yang ada. Dengan diadakannya IYC Festival, kami berharap para pembicara dapat menginspirasi dan membangkitkan semangat para pemuda untuk lebih aktif dalam menyelesaikan berbagai masalah bangsa.

        Tahun ini kami akan mengadakan kembali kegiatan IYC Festival yang keempat kalinya, menyusul dengan respon positif atas acara kami di tahun 2010, 2011 dan 2012. Di tahun 2013 ini, kami berencana untuk mengadakan IYC Festival pada tanggal 6 Juli 2013 yang bertempat di Upper Room, Wisma Nusantara, Jakarta.

             Padakesempatan kali ini kami ingin mengundang Prof. Hadi Susilo Arifin sebagai salah satu pembicara di IYC Festival 2013 yaitu dalam Sesi Lingkungan. Berkenaan dengan kiprah bapak di bidang lingkungan, menjadi sebuah pilihan bagi kami dengan mengajak Bapak untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada pemuda Indonesia yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa.

               Dengan ini kami lampirkan Proposal IYC Festival 2013 agar Bapak memiliki gambaran singkat mengenai kegiatanini. Kami sangat berharap, sekiranya Bapak dapat memberikan kabar atas undangan ini secepatnya. Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi saya di 085xxxxx5065.

              Atasperhatiannya kami ucapkan terimakasih

Hormat Saya,

MutiaUlfah-Staff Seminar

Sumber: http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/06/01/6/158337/Ruang-Terbuka-Biru-di-Bogor-Terancam

Metrotvnews.com: Bogor: Keberadaan Ruang Terbuka Biru (RTB) atau danau/situ di wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, terancam.

Hal itu terungkap dalam kegiatan ekspose yang bertajuk “Penguatan Ekonomi Kecamatan Cibinong Berbasis Pengelolaan Situ Secara Berkelanjutan” di Ruang Sidang Lanskap Kampus IPB, Darmaga, Bogor, beberapa waktu lalu.

Selain mahasiswa IPB, ekspose tersebut dihadiri sejumlah pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dan beberapa orang perwakilan NGO.

Dalam kesempatan itu, mahasiswa pascasarjana mata kuliah Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan IPB, memaparkan bahwa kondisi dan keberadaan RTB di Kabupaten Bogor, tepatnya di wilayah Cibinong terancam.

“Sewaktu masih dijajah Belanda, pentingnya RTB sudah dipikirkan dengan dibangunnya 800 waduk. Saat ini yang tersisa hanya 400 waduk. Ini akibat dari pengembangan perumahan dan properti,”ungkap Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, selaku Dosen Pembimbing saat memberikan arahan awal dalam ekpose tersebut.

Harusnya lanjut Hadi, RTB (berupa danau, situ) bisa menjadi lanskap yang memiliki kualitas lebih baik dan menjadi bagian dari pengembangan properti seperti di Negara Jepang, Thailand, Vietnam (seperti di Hanoi Kota Seribu Danau), Singapura Amerika, dan lain-lain.

Kecamatan Cibinong memiliki 18 situ yang tersebar di beberapa desa. Situ, lanjutnya, sebagai kesatuan siklus hidrolis memegang peranan penting sebagai area tangkapan air sekaligus sebagai bentuk lain kawasan lindung.

Sementara itu, dari tahun 1998 hingga 2010, terjadi kenaikan 35,93% lahan tak terbangun menjadi lahan terbangun.

“Dikhawatirkan peningkatan ini akan semakin mengancam keberadaan RTB di kawasan ini,” katanya.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap 3 situ yakni situ Cikaret, situ Pemda, dan situ Kebantenan, potensi RTB ini dapat dioptimalkan karena memiliki lokasi yang strategis (situ Pemda dan situ Kabantenan), kualitas pemandangan yang cukup baik dan area yang luas (situ Cikaret). Sehingga keberadaan situ ini perlu dipertahankan dan dioptimalkan fungsinya.

“Ketiga situ ini merupakan kawasan yang potensial untuk dikembangkan, terutama untuk kegiatan pariwisata karena secara letak dan aspek biofisik sangat mendukung untuk keberlanjutan situ sebagia sarana publik yang representatif,” ujar salah satu mahasiswa.

Berdasarkan pemantuan Media Indonesia, saat ini memang daerah Cibinong mengalami kemajuan pembangunan yang cukup pesat. Pusat-pusat perdagangan, komplek perumahan berdiri di mana-mana. Tidak terkecuali di sekitar Danau/Situ Cikaret.

Sementara itu, untuk mengoptimalkan RTB sebagai penguat ekonomi Kecamatan Cibinong, ada beberapa strategi yang direkomendasikan yakni memanfaatkan situ sebagai kawasan wisata berbasis kearifan lokal, membuat rencana pengelolaan oleh pemda dan memberikan sistem reward dan punishment bagi masyarakat, menyusun perda yang mengatur pemanfaatan lahan di kawasan situ dan sekitarnya.

Adapun cara lainnya yakni mengoptimalkan pemanfaatan situ oleh masyarakat lokal melalui bantuan pemerintah untuk mendukung kegiatan rekreasi dan wisata, menyediakan infrastruktur dan fasilitas untuk mencegah pendangkalan situ dan eutrofikasi.

Selain itu juga menyusun peraturan legal yang menekan migrasi pendatang dan adanya peran serta pemerintah dan masyarakat terkait pelaksanaan dan pengawasan peraturan tersebut, serta membuat media interpretasi.(DD)
Editor: Deni Fauzan

BERITA TERKAIT:

BISNIS.COM Lingkungan Hidup: Ruang Terbuka Biru Kian Terancam

Hadi Susilo Arifin. 2013. TAK PERLU DIKOTOMI ALUN-ALUN DAN TAMAN KOTA. Wacana – Radar Cirebon, Rabu Wage-10 April 2013/29 Jumadil Awal 1434H – Hal 4.  Click here for reading this article in another link.

Yusuf Saebudin. 2013. PRO KONTRA ALUN-ALUN KEJAKSAN JADI TAMAN KOTA. Radar Cirebon, 9 April 2013

Coki Lubis. 2010. MENUJU KOTA YANG BERKELANJUTAN. Depoklik. 27 Oktober 2010.

Suyanto Sy(ed.). 2008. Hadi Susilo Arifin: SAYA SIAPKAN MEMIKIRKAN CIREBON. Tabloid Transaksi. Edisi 16/23 – 5 Februari 2008.