FGD


Sinergitas Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas – FGD1 Pengendalian Sampah Organik

PemProv. Jawa Barat – Badan Koordinasi Pemerintahan
dan Pembangunan Wilayah I – Bogor

Topik: SOLUSI PENGENDALIAN SAMPAH ORGANIK YANG TERINTEGRASI DENGAN PERTAMANAN DAN PENGHIJAU, PDF File Click di Sini

Nara Sumber: Prof. Dr Hadi Susilo ARIFIN

Tanggal: 16 February 2017

Waktu: 08.30 – 11.00

Tempat: Aula Atas, Gedung BKP2 Wilayah I Jawa Barat – JL Ir. H. Juanda No.4 Bogor

20170216_093232 CIMG2283 CIMG2296 CIMG2301 CIMG2304 CIMG2307 CIMG2312

 

20170407_135703a 20170407_135712

FGD Pengelolaan Pohon di Perkotaan – PEMKOT MEDAN 07 April 2017

MANAJEMEN POHON DAN JALUR PEDESTRIAN DI PERKOTAAN

Speaker/Source Person: Prof. Dr Hadi Susilo ARIFIN

Day/Date: Friday/07 April 2017

Date: 13.30 – 17.00

Venue: ASTON – CITY HALL D’HERITAGE, Medan

Host: Mayor of Medan City

Participants: Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pariwisata, BAPPEDA Kota Medan, Faculty of Forestry USU, Pancabudi University Medan, IALI Medan, Companies, NGO’s, Media reporters

PPT Material in PDF Version, CLICK HERE, Please.

20170416_112710 IMG-20170407-WA0032 IMG-20170407-WA0047

CIMG3390a CIMG3397a

DSC_0715small DSC_0726small DSC_0736small

The 1st FGD – Urban Water Research Cluster IPB/UI/Monash University-AIC

Links Berita Terkait:

1. Berita KOMPAS

2. Berita ANTARA

3. Berita BogorOnline

4. Berita Kota Bogor

Focus Group Discussion (FGD) Pengelolaan Sumberdaya Air di Kota Bogor

Tema:Transformasi Kota Bogor dari Kota Hujan Menuju Bogor Kota Ramah Air (Bogor Water Sensitive City)

Topik Utama: Penyebab dan Solusi  Banjir SMAN 2 dan Longsor di Kota Bogor

  1. Latar Belakang

Kota Bogor yang dianugerahi curah hujan yang banyak rata-rata 3000-3500 mm /tahun, merupakan kota dengan sebutan “Kota Hujan.” Baru baru ini pada tanggal 27 Februari 2017 telah terjadi longsor di Paledang dan banjir di SMAN 2. Hal ini menyadarkan semua pihak, bahwa potensi dan ancaman banjir dan longsor telah terjadi di sekitar kita. Bahaya tersebut telah menimbulkan kerugian harta dan jiwa, secara materiil dan imateriil bagi warga kota Bogor.

Dinamika sosial ekonomi kota Bogor telah berkembang dari ibukota Pajajaran sejak abad ke 13, dengan memanfaatkan hulu Sungai Ciliwung, Cisadane dan Cipakancilan. Pada jaman Belanda di bangun beberapa infrastruktur bangunan air dan pengatur sumberdaya air di antaranya Bendung Empang untuk mengairi 4000 ha dan Bendung Katulampa, untuk irigasi di daerah Bogor, Cibinong, Depok dan Jakarta. Dari kota Bogor juga pertama kali dilakukan pipanisasi mata air dari Ciburial Ciomas ke Jakarta untuk air minum, pada tahun 1924.

Perkembangan penduduk dan perubahan penggunaan lahan di sekitar Bogor telah menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan dari lahan pertanian ke lahan terbangun berupa perumahan, jalan, dan infrtruktur lainnya. Perubahan ini tanpa disadari juga telah mengubah bangunan dan sarana pengairan yang ada dari sarana irigasi dan penyediaan air baku pengairan menjadi peruntukan sarana sumberdaya air, perubahan pola pikir masyarakat, kelembagaan dan sistem pengelolaan sumberdaya air di kota Bogor.  Perubahan dari hanya sekedar sebutan kota hujan yang bersifat pasif menjadi kota yang ramah terhadap sumberdaya air (Bogor water sensitive city). Pemangku kepentingan kota Bogor perlu berbenah menuju kota yang ramah air, Tanpa disadari perubahan penggunaan lahan, perubahan iklim di kota Bogor dan sekitarnya akan berdampak terhadap kehidupan sosial ekonomi dan potensi bencana yang akan mengancam keselamatan jiwa masyarakat kota Bogor.

Untuk lebih memahami apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi serta untuk mengantisipasi dinamika yang ada maka perlu diselenggarakan Focus Group Discussion (FGD). FGD ini bertujuan untuk mencapai sinergi antara para peneliti/akademisi, Pemerintah Kota Bogor, pelaku ekonomi (perusahaan), dan masyarakat serta insan media dalam melihat permasalahan yang dihadapi. FGD ini juga diharapkan dapat memberi masukan bagi Bappeda dan Pemerintah Kota Bogor dalam menyelenggrakan pembagunan yang berkelanjutan berbasis sumberdaya air. Mampu mendayagunakan semua potensi yang dimilikinya, baik potensinya sebagai kota dengan curah hujan yang tinggi, banyak air, dikelilingi banyak sungai dan diapit

Gunung Salak dan Gunung Pangrango. Terlebih posisi Kota Bogor yang sangat strategis sebagai daerah penyangga Ibukota Jakarta dalam penyediaan air bersih, dan juga mencegah dari bahaya banjir. Kota Bogor juga berpotensi dalam menyediakan air bersih untuk Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok dan DKI Jakarta.

Focus Group Discussion (FGD) ini merupakan kolaborasi dari para peneliti yang tergabung dalam Urban Water Research Cluster (UWRC), Australia Indonesia Centre (AIC), dan bekerja sama dengan pemerintah kota Bogor. AIC sendiri didirikan oleh Pemerintah Australia dan Indonesia sebagai bentuk kerjasama Government to Government (G to G) dengan fokus pada pengembangan multi-stakeholders network antara Australia dan Indonesia dengan melakukan berbagai kegiatan yang komprehensif. Salah satu kerjasama University to University (U to U) yang diselenggarakan dibawah AIC adalah kerjasama antara Monash University, Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Indonesia (UI) dalam Urban Water Research Cluster (UWRC) untuk melakukan penelitian berkualitas tinggi, aplikatif, dan memiliki dampak besar bagi Kota Bogor pada khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Dalam fokus penelitian Urban Water Research Cluster – AIC, Kota Bogor terpilih sebagai pusat lokasi studi air wilayah perkotaan yang terbagi dalam 6 sub tema: 1) Benchmarking tools, 2) Socio-institutional pathways, 3) Infrastructure adaptation pathways, 4) Green Technology pathways, 5) Urban Design and Demonstration, dan 6) Learning Alliances. Kolaborasi penelitian ini akan berlangsung sampai dengan Agustus 2019 dengan kemungkinan perpanjangan.

  1. Tujuan:

Tujuan penyelenggraan FGD ini: 1) Untuk mengetahui perkembangan sistem pengelolaan sumberdaya air; menghimpun dan mendokumentasikan pengetahun, data dan informasi yang terkait di kota Bogor; 2) Untuk mengetahui mitigasi, adaptasi, sistem peringatan dini dan cara mengantisapasi problem banjir dan tanah longsor yang mungkin akan terjadi di masa yang akan dating; 3) Untuk menghimpun semua aspek tekonologi, kelembagaan, sistem pengelolaan, kapasitas pendanaan dan kewenangan dalam pengelolaan sumberdaya air di Kota Bogor.

  1. Waktu dan Tempat

FGD ini akan diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal: Jumat, 17 Maret 2017

Tempat:  Paseban Sri Bima Balai Kota Bogor, Jl. Ir. H. Djuanda No. 10, Bogor Tengah 16121

Jam: 08.00 – 11.00 WIB

Peserta: 50 Orang (daftar undangan di bagian D)

Topik: Penyebab dan Solusi Banjir SMAN 2 dan Longsor di Kota Bogor

IMG_4037a IMG_4029a

Susunan Acara

Topik:  Penyebab dan Solusi  Banjir SMAN2 dan Longsor di  Kota  Bogor

No Waktu Topik PIC
1. 08.00 – 08.15 Registrasi Sekertariat
2. 08.15 – 08.30 Pembukaan

1.      Kordinator: Prof. Hadi Susilo Arifin

INTRODUCTION – Urban Water Research – PDF File CLICK Di Sini

2.      Kepala Bappeda Kota Bogor

 

LO AIC

2. 08.30 – 09.00 Dr Nana M Arifjaya: Pemaparan Fakta Banjir SMAN 2 dan Longsor di Kota Bogor- PDF File CLICK Di Sini Prof. Hadi Susilo Arifin
3. 09.00 – 09.20 Insights dari Tim Peneliti Urban Water Research Cluster, AIC:

1.      Prof. Hidayat Pawitan – Macro Approach – PDF File CLICK Di Sini

2.      Dr. Yuli Suharnoto – TRRM Data Analysis – PDF File CLICK Di Sini

Prof. Hadi Susilo Arifin
4. 09.20 – 10.30 Tanggapan dan diskusi dari stakeholders:

1.      Walikota Bogor

2.      Ka.Dinas PUPR

3.      Ka. BPBD Bogor

4.      Diskusi Terarah

Prof. Hadi Susilo Arifin
5. 10.30 – 10.55 Perumusan hasil oleh tim perumus:

–          Prof. Yusman Syaukat

–          Prof. Handoko

–          Dr. Nurmala Katrina

–          Dr. Nora Panjaitan (Ketua)

–          Dr. Surya Tarigan

–          Dr. Yanuar

–          Dr. Kaswanto (Sekretaris)

Tanggapan terhadap Rumusan

Prof. Hadi Susilo Arifin
6. 10.55 – 11.00 Penutupan Prof. Hadi Susilo Arifin

 

 Daftar Undangan dan Peserta

  1. Walikota Bogor (AIC Advisory Board Member)
  2. President Sentul City Tbk. (AIC Advisory Board Member)
  3. Senior Vice President PT. Asabi, Agricon (AIC Advisory Board Member)
  4. Ketua DPRD c.q. Komisi C Kota Bogor
  5. Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerjasama (WRRK) IPB
  6. Kepala Bappeda Kota Bogor
  7. Kepala Dinas PUPR Kota Bogor
  8. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor
  9. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor
  10. Direktur Utama PDAM Tirta Pakuan, Kota Bogor
  11. Ketua Tim Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan (TP4) Kota Bogor
  12. Kepala Kantor SDA Cisadane
  13. Kepala Balai BPDAS Ciliwung Cisadane
  14. Kepala BKP2 Wilayah I Jawa Barat
  15. Camat Tanah Sareal
  16. Camat Bogor Tengah
  17. Lurah Sukadamai
  18. IUWASH Kota Bogor
  19. Ketua Komunitas Peduli Ciliwung (KPC)
  20. Perwakilan Komunitas Bogor Sahabats (Bobats)
  21. Direktur Riset dan Inovasi (DRI) IPB
  22. Peneliti UWRC Monash University Australia (Prof. Richard Price, Dr Christian Urich, Mr. Keven Stevens)
  23. Peneliti UWRC Universitas Indonesia (Dr Komara)
  24. Peneliti UWRC Institut Pertanian Bogor (12 Orang)
  25. Mahasiswa S3/GRIP UWRC Monash University, Australia (Behzad & Adam)
  26. Mahasiswa S3/S2 UWRC IPB (11 orang)
  27. Media massa (Radar Bogor, Kompas, Media Indonesia, Tempo, Republika, Jakarta Post, Pariwara IPB, RRI, dll)

17359441_10209065142240793_2431721692940333939_o

IPB Dukung Wujudkan Bogor Water Sensitive City

Kota Bogor dianugerahi curah hujan yang banyak, dengan rata-rata 3000-3500 mm/tahun, sehingga Bogor dikenal sebagai Kota Hujan. Curah hujan yang tinggi ini membuat para pemangku kepentingan Kota Bogor perlu berbenah menuju kota yang ramah air. Tanpa disadari, adanya perubahan penggunaan lahan dan perubahan iklim di Kota Bogor dan sekitarnya, akan berdampak terhadap kehidupan sosial ekonomi dan potensi bencana yang akan mengancam keselamatan jiwa masyarakat kota Bogor. Demikian disampaikan Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin dalam acara Focus Group Discussion (FGD) di Balaikota Bogor, belum lama ini.

Prof. Hadi menambahkan, perubahan Bogor dari hanya sekadar sebutan Kota Hujan yang bersifat pasif harus bisa menjadi kota yang ramah terhadap sumberdaya air (Bogor water sensitive city).  ”Baru-baru ini terjadi longsor di Paledang dan banjir di SMAN 2 Bogor. Hal ini menyadarkan semua pihak, bahwa potensi serta ancaman banjir dan longsor telah terjadi di sekitar kita. Bahaya tersebut telah menimbulkan kerugian harta dan jiwa, secara materil dan imateril bagi warga Kota Bogor,” ujarnya.

Wali Kota Bogor, Dr. Bima Arya menyampaikan terimakasih kepada IPB, seraya mengatakan  bahwa kata kunci  dalam FGD saat itu adalah science  yang  akan membawa solusi. “Strategi  mikro yang  harus dicoba terkait masalah sumberdaya air adalah meningkatkan kapasitas air. Kapasitas saluran air ditingkatkan kembali. Mencoba strategi normalisasi drainase,” terangnya.

Diakui Wali Kota, persoalan bencana banjir baru-baru ini merupakan persoalan yang sistemik. Untuk itu, Pemerintah Kota Bogor sedang melakukan proses penyusunan ulang tata kota.

FGD ini merupakan kolaborasi dari para peneliti yang tergabung dalam Urban Water Research Cluster (UWRC), Australia Indonesia Centre (AIC) bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bogor. AIC didirikan oleh pemerintah Australia dan Indonesia sebagai bentuk kerjasama Government to Government (G to G) dengan fokus pada pengembangan multi-stakeholders network antara Australia dan Indonesia dengan melakukan berbagai kegiatan yang komprehensif. Salah satu kerjasama University to University (U to U) yang diselenggarakan di bawah AIC adalah kerjasama antara Monash University, IPB dan Universitas Indonesia (UI) dalam Urban Water Research Cluster (UWRC) untuk melakukan penelitian berkualitas tinggi, aplikatif dan memiliki dampak besar bagi Kota Bogor pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

FGD ini bertujuan untuk mencapai sinergi antara para peneliti/akademisi, Pemerintah Kota Bogor, pelaku ekonomi (perusahaan) dan masyarakat serta insan media dalam melihat permasalahan yang dihadapi. FGD ini juga diharapkan dapat memberi masukan bagi Bappeda dan Pemerintah Kota Bogor dalam menyelenggarakan pembangunan yang berkelanjutan berbasis sumberdaya air; mampu mendayagunakan semua potensi yang dimilikinya, baik potensinya sebagai kota dengan curah hujan yang tinggi, banyak air, dikelilingi banyak sungai dan diapit Gunung Salak dan Gunung Pangrango. Terlebih posisi Kota Bogor yang sangat strategis sebagai daerah penyangga Ibu Kota Jakarta dalam penyediaan air bersih, dan juga mencegah dari bahaya banjir. Kota Bogor juga berpotensi dalam menyediakan air bersih untuk Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok dan DKI Jakarta.(dh)