FGD


Water Sensitive Cities Training – FGD of WSC Benchmarking and Visioning in Sentul City

WSC – FGD and TRAINING of Water Sensitive Cities ALBUM – Click Here, Please.

Bogor, 4 Januari 2018

Surat: 01/AIC-UWC/I/2018

Lampiran: 1 dokumen

Perihal: Surat Undangan FGD Sentul City

Kepada Yth Bapak/Ibu

(daftar terlampir)

The Australia Indonesia Centre bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Indonesia (UI) akan mengadakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) mengenai penerapan konsep Kota Ramah Air (Water Sensititive City – WSC). Kegiatan ini akan diselenggarakan pada:

Hari/tanggal     : Selasa, 9 Januari 2018

Pukul               : 09.00 s.d. 15. 00 WIB

Lokasi              : Taman Budaya Sentul City

Agenda            : FGD Sentul City (detil terlampir)

Kami sangat berharap kehadiran Bapak/Ibu untuk memberikan kontribusi yang positif kepada pengembangan Kota Ramah Air di Kabupaten Bogor, khususnya di kawasan Sentul City. Mohon konfirmasi kehadiran Bapak/Ibu disampaikan paling lambat pada hari Senin tanggal 8 Januari 2018 kepada Dr Dwi Yuliantoro (HP/WA: 0812 2654 2209; dwi.yuliantoro@ australiaindonesiacentre.org.

Hormat kami,

Prof. Diego Ramirez Urban Water Cluster Leader Monash University Prof. Hadi Susilo Arifin Urban Water Cluster Leader Institut Pertanian Bogor Dr. Dwinanti Marthanty Urban Water Cluster co-Leader Universitas Indonesia

 Lampiran surat no: 2/AIC-UWC/XI/2017

  1. Sentul City Tbk
  2. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian Pengembangan (BAPPEDALITBANG) Kabupaten Bogor (Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian Pengembangan Kabupaten Bogor; Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Wilayah; Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan; Kepala Bidang Ekonomi).
  1. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Bogor (Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Bogor; Kepala Bidang Bidang Irigasi dan Sumber Daya Air; Kepala Bidang Bidang Penataan Ruang; Kepala Bidang Bidang  Penyehatan Lingkungan).
  2. Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor (Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Bogor; Kepala Bidang Perumahan;   Kepala Bidang Kawasan Permukiman; Kepala Bidang Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum).
  3. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor (Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor;  Kepala Bidang Kebersihan; Kepala Bidang Sanitasi)
  4. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor (Kepala Bidang Pariwisata; Kepala Bidang Kemitraan, SDM dan Ekonomi kreatif
  5. Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
  6. Camat Babakan Madang
  7. Kepala Desa Sentul
  8. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor atau yang mewakili
  9. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bogor atau yang mewakili
  10. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor atau yang mewakili
  11. Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) atau yang mewakili
  12. Kepala Satker Penataan Bangunan Lingkungan Provinsi Jawa Barat
  13. Kepala Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Jawa Barat
  14. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWS CILICIS)
  15. Kepala Balai Pengelola Sumber Daya Air (BPSDA) atau yang mewakili
  16. Kepala Pusat Penelitian Limnologi LIPI atau yang mewakili
  17. Kepala Pusat Perencanaan dan Pembangunan Wilayah (P4W) IPB
  18. Kepala Pusat Studi Bencana (PSB) IPB
  19. Kepala Pusat Studi CCROM IPB
  20. Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup (PPLH) IPB
  21. Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Perdesaan (PSP3) IPB
  22. Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan
  23. PDAM Kabupaten Bogor
  24. PT. Sayaga Wisata
  25. PT. Olympic
  26. PT. Indocement Tbk
  27. Bank Jawa Barat dan Banten (BJB)
  28. Komunitas Peduli Ciliwung (KPC)
  29. PMI
  30. Yayasan Bambu Indonesia
  31. Relawan Cibinong
  32. My Darling
  33. Pewarta Foto Indonesia
  34. Bogor100
  35. Kampung Bogor
  36. KOMPAS
  37. Radar Bogor
  38. Republika
  39. Koran Sindo
  40. Jakarta Post
  41. Para Stakeholders lainnya.

 

Lampiran Surat Nomor : 2/AIC-UWC/XI/2017

AGENDA KEGIATAN FGD SENTUL CITY

Waktu Kegiatan Narasumber/Fasilitator
08.00 – 09.00 Registrasi Panitia
09.00 – 09.20 Pembukaan dan Pengantar FGD Urban Water Cluster Leader

Prof. Hadi Susilo Arifin (IPB)

09.20 – 09.30 Pembukaan dan Pengenalan Umum  Sentul City Recky Kinato Teh (Sentul City, Tbk)

 

Parallel session:

Social benchmarking:

Dr. Yuli Suharnoto (IPB)

Biophysical Benchmarking:

Prof. Hadi Susilo Arifin (IPB)

Dr. Surya Tarigan (IPB)

09.30 – 10.00 Benchmarking FGD Sentul City
10.00 – 10.15 Coffee break
10.15 – 11.45 Benchmarking FGD Sentul City (lanjutan)
11.45 – 12.00 Kesimpulan Sesi FGD Prof. Hadi Susilo Arifin (IPB)

 

12.00 – 13.00 ISHOMA
13.00 – 13.20 Pengantar Pelaksanaan Visioning dan Pembagian Kelompok Dr. Kaswanto (IPB)
13.20 – 14.10 Pemetaan Sentul City (Sentul City issues mapping) Dr. Kaswanto (IPB)

Dr. Dwinanti (UI)

14.10 – 14.30 Diskusi Hasil Pemetaan
14.30 – 14.50 Coffee Break
14.50 – 15.20 Sentul City Envisioning FGD
15.20 – 15.30 Review, WSC Champions dan Penutupan Prof. Hadi Susilo Arifin (IPB)

Lampiran Surat Nomor : 2/AIC-UWC/XI/2017

FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) SENTUL CITY

Tujuan FGD  untuk menilai Sentul City berdasarkan beragam indikator Kota Ramah Air. Diskusi ini akan menghasilkan gambaran kondisi aktual (baseline condition) dari Sentul City dan titik awal untuk mengembangkan rencana strategi lanjut (leapfrogging) menuju Kota Ramah Air.

Keluaran FGD mencakup 1) Pemahaman detail mengenai kekuatan, tantangan dan prioritas Sentul City menuju Kota Ramah Air. 2) Pemahaman bersama mengenai tujuan Kota Ramah Air sebagai basis dalam kolaborasi di masa depan dan inisiasi untuk strategi lompatan/akselerasi (leapfrogging).

Metode FGD dengan melibatkan peserta dari berbagai jenis kelompok pemangku kepentingan ABGCM (Akademisi, bisnis, pemerintah, komunitas dan mass media) di mana setiap peserta dapat menyampaikan pendapatnya mengenai pengelolaan air perkotaan baik dari segi fisik maupun sosial yang dipandu oleh fasilitator.  Diskusi ini diarahkan berdasarkan kepada 7 (tujuh) tujuan yang ada di dalam konsep Kota Ramah Air (Water Sensitive City), yang masing-masing didalamnya terdiri dari indikator sosial dan indikator fisik/teknis. Peserta akan diminta menilai setiap indikator melalui polling dan diskusi.

Peserta FGD mencakup pemerintah daerah, perusahaan swasta dan pengembang, komunitas dan lembaga penelitian serta jurnalistik.

26195824_10211269105578499_557819053793110560_n 26195860_10211269104738478_6166642958197729943_n 26196305_10211269026536523_37263722200538412_n 26219715_10211269021496397_8426276786770889607_n 26219742_10211269167020035_5693767056282019843_n 26219832_10211269020816380_3616224938454931076_n 26219951_10211269069497597_5534323399860317478_n 26220228_10211269078657826_5832504832674495410_n 26220272_10211269066857531_8212106601662247042_n 26229435_10211269028776579_3732679380251424090_n 26230113_10211269078097812_7429004842314370263_n 26230474_10211269027216540_8507534527150835202_n 26230791_10211269026176514_7801195652713019934_n 26231113_10211269072337668_314026050253388867_n 26231559_10211269111938658_1269459722157638140_n 26231807_10211269168460071_4673926360624974215_n 26239008_10211269167580049_5181007439887308801_n 26239161_10211269112938683_7314467633289969237_n 26239816_10211269173140188_249083992387320779_n

BOGOR, 24 – 30 NOVEMBER 2017

CONTENT – UNDER CONSTRUCTION

MELBOURNE 25 – 31 OCTOBER 2017

CONTENT – UNDER CONSTRUCTION

Sinergitas Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas – FGD1 Pengendalian Sampah Organik

PemProv. Jawa Barat – Badan Koordinasi Pemerintahan
dan Pembangunan Wilayah I – Bogor

Topik: SOLUSI PENGENDALIAN SAMPAH ORGANIK YANG TERINTEGRASI DENGAN PERTAMANAN DAN PENGHIJAU, PDF File Click di Sini

Nara Sumber: Prof. Dr Hadi Susilo ARIFIN

Tanggal: 16 February 2017

Waktu: 08.30 – 11.00

Tempat: Aula Atas, Gedung BKP2 Wilayah I Jawa Barat – JL Ir. H. Juanda No.4 Bogor

20170216_093232 CIMG2283 CIMG2296 CIMG2301 CIMG2304 CIMG2307 CIMG2312

 

20170407_135703a 20170407_135712

FGD Pengelolaan Pohon di Perkotaan – PEMKOT MEDAN 07 April 2017

MANAJEMEN POHON DAN JALUR PEDESTRIAN DI PERKOTAAN

Speaker/Source Person: Prof. Dr Hadi Susilo ARIFIN

Day/Date: Friday/07 April 2017

Date: 13.30 – 17.00

Venue: ASTON – CITY HALL D’HERITAGE, Medan

Host: Mayor of Medan City

Participants: Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pariwisata, BAPPEDA Kota Medan, Faculty of Forestry USU, Pancabudi University Medan, IALI Medan, Companies, NGO’s, Media reporters

PPT Material in PDF Version, CLICK HERE, Please.

20170416_112710 IMG-20170407-WA0032 IMG-20170407-WA0047

CIMG3390a CIMG3397a

DSC_0715small DSC_0726small DSC_0736small

The 1st FGD – Urban Water Research Cluster IPB/UI/Monash University-AIC

Links Berita Terkait:

1. Berita KOMPAS

2. Berita ANTARA

3. Berita BogorOnline

4. Berita Kota Bogor

Focus Group Discussion (FGD) Pengelolaan Sumberdaya Air di Kota Bogor

Tema:Transformasi Kota Bogor dari Kota Hujan Menuju Bogor Kota Ramah Air (Bogor Water Sensitive City)

Topik Utama: Penyebab dan Solusi  Banjir SMAN 2 dan Longsor di Kota Bogor

  1. Latar Belakang

Kota Bogor yang dianugerahi curah hujan yang banyak rata-rata 3000-3500 mm /tahun, merupakan kota dengan sebutan “Kota Hujan.” Baru baru ini pada tanggal 27 Februari 2017 telah terjadi longsor di Paledang dan banjir di SMAN 2. Hal ini menyadarkan semua pihak, bahwa potensi dan ancaman banjir dan longsor telah terjadi di sekitar kita. Bahaya tersebut telah menimbulkan kerugian harta dan jiwa, secara materiil dan imateriil bagi warga kota Bogor.

Dinamika sosial ekonomi kota Bogor telah berkembang dari ibukota Pajajaran sejak abad ke 13, dengan memanfaatkan hulu Sungai Ciliwung, Cisadane dan Cipakancilan. Pada jaman Belanda di bangun beberapa infrastruktur bangunan air dan pengatur sumberdaya air di antaranya Bendung Empang untuk mengairi 4000 ha dan Bendung Katulampa, untuk irigasi di daerah Bogor, Cibinong, Depok dan Jakarta. Dari kota Bogor juga pertama kali dilakukan pipanisasi mata air dari Ciburial Ciomas ke Jakarta untuk air minum, pada tahun 1924.

Perkembangan penduduk dan perubahan penggunaan lahan di sekitar Bogor telah menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan dari lahan pertanian ke lahan terbangun berupa perumahan, jalan, dan infrtruktur lainnya. Perubahan ini tanpa disadari juga telah mengubah bangunan dan sarana pengairan yang ada dari sarana irigasi dan penyediaan air baku pengairan menjadi peruntukan sarana sumberdaya air, perubahan pola pikir masyarakat, kelembagaan dan sistem pengelolaan sumberdaya air di kota Bogor.  Perubahan dari hanya sekedar sebutan kota hujan yang bersifat pasif menjadi kota yang ramah terhadap sumberdaya air (Bogor water sensitive city). Pemangku kepentingan kota Bogor perlu berbenah menuju kota yang ramah air, Tanpa disadari perubahan penggunaan lahan, perubahan iklim di kota Bogor dan sekitarnya akan berdampak terhadap kehidupan sosial ekonomi dan potensi bencana yang akan mengancam keselamatan jiwa masyarakat kota Bogor.

Untuk lebih memahami apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi serta untuk mengantisipasi dinamika yang ada maka perlu diselenggarakan Focus Group Discussion (FGD). FGD ini bertujuan untuk mencapai sinergi antara para peneliti/akademisi, Pemerintah Kota Bogor, pelaku ekonomi (perusahaan), dan masyarakat serta insan media dalam melihat permasalahan yang dihadapi. FGD ini juga diharapkan dapat memberi masukan bagi Bappeda dan Pemerintah Kota Bogor dalam menyelenggrakan pembagunan yang berkelanjutan berbasis sumberdaya air. Mampu mendayagunakan semua potensi yang dimilikinya, baik potensinya sebagai kota dengan curah hujan yang tinggi, banyak air, dikelilingi banyak sungai dan diapit

Gunung Salak dan Gunung Pangrango. Terlebih posisi Kota Bogor yang sangat strategis sebagai daerah penyangga Ibukota Jakarta dalam penyediaan air bersih, dan juga mencegah dari bahaya banjir. Kota Bogor juga berpotensi dalam menyediakan air bersih untuk Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok dan DKI Jakarta.

Focus Group Discussion (FGD) ini merupakan kolaborasi dari para peneliti yang tergabung dalam Urban Water Research Cluster (UWRC), Australia Indonesia Centre (AIC), dan bekerja sama dengan pemerintah kota Bogor. AIC sendiri didirikan oleh Pemerintah Australia dan Indonesia sebagai bentuk kerjasama Government to Government (G to G) dengan fokus pada pengembangan multi-stakeholders network antara Australia dan Indonesia dengan melakukan berbagai kegiatan yang komprehensif. Salah satu kerjasama University to University (U to U) yang diselenggarakan dibawah AIC adalah kerjasama antara Monash University, Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Indonesia (UI) dalam Urban Water Research Cluster (UWRC) untuk melakukan penelitian berkualitas tinggi, aplikatif, dan memiliki dampak besar bagi Kota Bogor pada khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Dalam fokus penelitian Urban Water Research Cluster – AIC, Kota Bogor terpilih sebagai pusat lokasi studi air wilayah perkotaan yang terbagi dalam 6 sub tema: 1) Benchmarking tools, 2) Socio-institutional pathways, 3) Infrastructure adaptation pathways, 4) Green Technology pathways, 5) Urban Design and Demonstration, dan 6) Learning Alliances. Kolaborasi penelitian ini akan berlangsung sampai dengan Agustus 2019 dengan kemungkinan perpanjangan.

  1. Tujuan:

Tujuan penyelenggraan FGD ini: 1) Untuk mengetahui perkembangan sistem pengelolaan sumberdaya air; menghimpun dan mendokumentasikan pengetahun, data dan informasi yang terkait di kota Bogor; 2) Untuk mengetahui mitigasi, adaptasi, sistem peringatan dini dan cara mengantisapasi problem banjir dan tanah longsor yang mungkin akan terjadi di masa yang akan dating; 3) Untuk menghimpun semua aspek tekonologi, kelembagaan, sistem pengelolaan, kapasitas pendanaan dan kewenangan dalam pengelolaan sumberdaya air di Kota Bogor.

  1. Waktu dan Tempat

FGD ini akan diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal: Jumat, 17 Maret 2017

Tempat:  Paseban Sri Bima Balai Kota Bogor, Jl. Ir. H. Djuanda No. 10, Bogor Tengah 16121

Jam: 08.00 – 11.00 WIB

Peserta: 50 Orang (daftar undangan di bagian D)

Topik: Penyebab dan Solusi Banjir SMAN 2 dan Longsor di Kota Bogor

IMG_4037a IMG_4029a

Susunan Acara

Topik:  Penyebab dan Solusi  Banjir SMAN2 dan Longsor di  Kota  Bogor

No Waktu Topik PIC
1. 08.00 – 08.15 Registrasi Sekertariat
2. 08.15 – 08.30 Pembukaan

1.      Kordinator: Prof. Hadi Susilo Arifin

INTRODUCTION – Urban Water Research – PDF File CLICK Di Sini

2.      Kepala Bappeda Kota Bogor

 

LO AIC

2. 08.30 – 09.00 Dr Nana M Arifjaya: Pemaparan Fakta Banjir SMAN 2 dan Longsor di Kota Bogor- PDF File CLICK Di Sini Prof. Hadi Susilo Arifin
3. 09.00 – 09.20 Insights dari Tim Peneliti Urban Water Research Cluster, AIC:

1.      Prof. Hidayat Pawitan – Macro Approach – PDF File CLICK Di Sini

2.      Dr. Yuli Suharnoto – TRRM Data Analysis – PDF File CLICK Di Sini

Prof. Hadi Susilo Arifin
4. 09.20 – 10.30 Tanggapan dan diskusi dari stakeholders:

1.      Walikota Bogor

2.      Ka.Dinas PUPR

3.      Ka. BPBD Bogor

4.      Diskusi Terarah

Prof. Hadi Susilo Arifin
5. 10.30 – 10.55 Perumusan hasil oleh tim perumus:

–          Prof. Yusman Syaukat

–          Prof. Handoko

–          Dr. Nurmala Katrina

–          Dr. Nora Panjaitan (Ketua)

–          Dr. Surya Tarigan

–          Dr. Yanuar

–          Dr. Kaswanto (Sekretaris)

Tanggapan terhadap Rumusan

Prof. Hadi Susilo Arifin
6. 10.55 – 11.00 Penutupan Prof. Hadi Susilo Arifin

 

 Daftar Undangan dan Peserta

  1. Walikota Bogor (AIC Advisory Board Member)
  2. President Sentul City Tbk. (AIC Advisory Board Member)
  3. Senior Vice President PT. Asabi, Agricon (AIC Advisory Board Member)
  4. Ketua DPRD c.q. Komisi C Kota Bogor
  5. Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerjasama (WRRK) IPB
  6. Kepala Bappeda Kota Bogor
  7. Kepala Dinas PUPR Kota Bogor
  8. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor
  9. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor
  10. Direktur Utama PDAM Tirta Pakuan, Kota Bogor
  11. Ketua Tim Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan (TP4) Kota Bogor
  12. Kepala Kantor SDA Cisadane
  13. Kepala Balai BPDAS Ciliwung Cisadane
  14. Kepala BKP2 Wilayah I Jawa Barat
  15. Camat Tanah Sareal
  16. Camat Bogor Tengah
  17. Lurah Sukadamai
  18. IUWASH Kota Bogor
  19. Ketua Komunitas Peduli Ciliwung (KPC)
  20. Perwakilan Komunitas Bogor Sahabats (Bobats)
  21. Direktur Riset dan Inovasi (DRI) IPB
  22. Peneliti UWRC Monash University Australia (Prof. Richard Price, Dr Christian Urich, Mr. Keven Stevens)
  23. Peneliti UWRC Universitas Indonesia (Dr Komara)
  24. Peneliti UWRC Institut Pertanian Bogor (12 Orang)
  25. Mahasiswa S3/GRIP UWRC Monash University, Australia (Behzad & Adam)
  26. Mahasiswa S3/S2 UWRC IPB (11 orang)
  27. Media massa (Radar Bogor, Kompas, Media Indonesia, Tempo, Republika, Jakarta Post, Pariwara IPB, RRI, dll)

17359441_10209065142240793_2431721692940333939_o

IPB Dukung Wujudkan Bogor Water Sensitive City

Kota Bogor dianugerahi curah hujan yang banyak, dengan rata-rata 3000-3500 mm/tahun, sehingga Bogor dikenal sebagai Kota Hujan. Curah hujan yang tinggi ini membuat para pemangku kepentingan Kota Bogor perlu berbenah menuju kota yang ramah air. Tanpa disadari, adanya perubahan penggunaan lahan dan perubahan iklim di Kota Bogor dan sekitarnya, akan berdampak terhadap kehidupan sosial ekonomi dan potensi bencana yang akan mengancam keselamatan jiwa masyarakat kota Bogor. Demikian disampaikan Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin dalam acara Focus Group Discussion (FGD) di Balaikota Bogor, belum lama ini.

Prof. Hadi menambahkan, perubahan Bogor dari hanya sekadar sebutan Kota Hujan yang bersifat pasif harus bisa menjadi kota yang ramah terhadap sumberdaya air (Bogor water sensitive city).  ”Baru-baru ini terjadi longsor di Paledang dan banjir di SMAN 2 Bogor. Hal ini menyadarkan semua pihak, bahwa potensi serta ancaman banjir dan longsor telah terjadi di sekitar kita. Bahaya tersebut telah menimbulkan kerugian harta dan jiwa, secara materil dan imateril bagi warga Kota Bogor,” ujarnya.

Wali Kota Bogor, Dr. Bima Arya menyampaikan terimakasih kepada IPB, seraya mengatakan  bahwa kata kunci  dalam FGD saat itu adalah science  yang  akan membawa solusi. “Strategi  mikro yang  harus dicoba terkait masalah sumberdaya air adalah meningkatkan kapasitas air. Kapasitas saluran air ditingkatkan kembali. Mencoba strategi normalisasi drainase,” terangnya.

Diakui Wali Kota, persoalan bencana banjir baru-baru ini merupakan persoalan yang sistemik. Untuk itu, Pemerintah Kota Bogor sedang melakukan proses penyusunan ulang tata kota.

FGD ini merupakan kolaborasi dari para peneliti yang tergabung dalam Urban Water Research Cluster (UWRC), Australia Indonesia Centre (AIC) bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bogor. AIC didirikan oleh pemerintah Australia dan Indonesia sebagai bentuk kerjasama Government to Government (G to G) dengan fokus pada pengembangan multi-stakeholders network antara Australia dan Indonesia dengan melakukan berbagai kegiatan yang komprehensif. Salah satu kerjasama University to University (U to U) yang diselenggarakan di bawah AIC adalah kerjasama antara Monash University, IPB dan Universitas Indonesia (UI) dalam Urban Water Research Cluster (UWRC) untuk melakukan penelitian berkualitas tinggi, aplikatif dan memiliki dampak besar bagi Kota Bogor pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

FGD ini bertujuan untuk mencapai sinergi antara para peneliti/akademisi, Pemerintah Kota Bogor, pelaku ekonomi (perusahaan) dan masyarakat serta insan media dalam melihat permasalahan yang dihadapi. FGD ini juga diharapkan dapat memberi masukan bagi Bappeda dan Pemerintah Kota Bogor dalam menyelenggarakan pembangunan yang berkelanjutan berbasis sumberdaya air; mampu mendayagunakan semua potensi yang dimilikinya, baik potensinya sebagai kota dengan curah hujan yang tinggi, banyak air, dikelilingi banyak sungai dan diapit Gunung Salak dan Gunung Pangrango. Terlebih posisi Kota Bogor yang sangat strategis sebagai daerah penyangga Ibu Kota Jakarta dalam penyediaan air bersih, dan juga mencegah dari bahaya banjir. Kota Bogor juga berpotensi dalam menyediakan air bersih untuk Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok dan DKI Jakarta.(dh)