THE WORLD WATER DAY – HARI AIR SEDUNIA DI IPB, BOGOR

Hari Air Sedunia (HAS) yang jatuh pada 22 Maret 2017 telah diperingati oleh IPB dengan mengundang wartawan dari berbagai Media Massa Cetak dan Elektronik. Acara tersebut diselenggarakan oleh Komisi B Dewan Guru Besar IPB pada hari Senin, 20 Maret 2017. Acara temu media yang biasa disebut sebagai acara Coffee Morning dilaksanakan di EXECUTIVE LOUNGE IPB, Kampus Baranangsiang mulai pukul 10 sampai dengan pukul 12. Pada Acara ini diusung gagasan dan hasil riset dari 3 Guru Besar, yaitu Prof. Hidayat Pawitan (Materi versi PDF silakan Click di sini), Prof. Budi Indra Setiawan (Materi versi PDF silakan Click di sini), dan Prof Hadi Susilo Arifin (Materi versi PDF silakan Click di sini).

Temu Media & Dewan Guru Besar IPB dalam Memperingati Hari Air Sedunia – Executive Lounge IPB, Senin – 20 Maret 2017

SINERGI PENTA-HELIX DALAM MENGUSUNG KOTA RAMAH AIR “WATER SENSITIVE CITIES”

SINOPSIS DALAM BENTUK PDF FILE, Silakan Click di sini

Oleh Prof. Dr. Hadi Susilo ARIFIN

Contact Address: hadisusiloarifin@gmail.com

Ketua Komisi B Dewan Guru Besar IPB; Professor di Bidang Ekologi dan Manajemen Lanskap; Cluster Leads of Urban Water Research Cluster-IPB/the Australia Indonesia Centre (AIC)

Hari Air Sedunia (World Water Day) yang jatuh pada tanggal 22 Maret, adalah hari yang diperingati atau dirayakan sebagai usaha untuk menarik perhatian masyarakat sedunia mengenai pentingnya air bersih bagi kehidupan dan usaha advokasi untuk melindungi sumber daya air bersih secara berkelanjutan. Ini adalah hari untuk membuat perbedaan bagi anggota populasi global yang mengalami masalah terkait air, dan merupakan hari untuk mempersiapkan bagaimana kita mengelola air secara ramah di masa depan. Konteks ini sangat tepat kita beri perhatian di Indonesia. Karena baik di perdesaan, bahkan terutama di perkotaan kita masih banyak memiliki permasalahan dengan air seperti kekeringan di Musim Kemarau, dan sebaliknya kebanjiran saat Musim Penghujan. Padahal, air adalah sumber segala kehidupan. Oleh karena itu kita sangat perlu memandang air sebagai sahabat, bukan sebagai musuh, dan kemudian kita wajib mengelolanya secara bijak.

SINERGI PENTA-HELIX

Air sebagai “public good”, adalah milik kita bersama yang dibutuhkan dan dimanfaatkan oleh kita semua. Di muka bumi ini ada siklus hidrologi, di mana jumlah air akan selalu tetap dalam keseimbangannya. Jika ada satu wilayah yang kekeringan, berarti ada wilayah lainnya yang kelebihan air. Begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu pengelolaan air adalah tanggung jawab kita semua dari beragam pemangku kepentingan, yaitu Akademisi, Bisnis, Pemerintah, Komunitas, dan Media Massa.

Akademisi perlu mendiseminasikan hasil-hasil risetnya yang terkait dengan manajemen air. Tidak bisa tidak implementasi praktek dalam pemanfaatan air sebagai jasa lingkungan harus melibatkan pihak pengusaha dan investasi infrastruktur dan utilitasnya. Dalam hal ini Pemerintah perlu mendukung terhadap kebijakan-kebijakan dengan membuat peruturan yang tegas, selain menyediakan anggaran yang memadai. Untuk menciptakan “sense of belonging”, masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan air dengan pendekatan dari bawah, “bottom-up”. Perencanaan yang berbasis partisipasi masyarakat umumnya lebih berkelanjutan dari pada perencanaan yang didasari oleh kegiatan proyek jangka pendek. Kegiatan-kegiatan positif sekecil apa pun yang dilakukan oleh sinergitas A-B-G-C (akademisi, bisnis, pemerintah dan masyarakat) perlu dikontrol dan disebar-luaskan oleh media massa. Masyarakat kita paling senang meniru keberhasilan pihak lain. Secara positif, kesuksesan satu wilayah dalam mengelola air diharapkan menularkan spirit mengelola air lebih baik di wilayahnya.

PARTISPASI MASYARAKAT DALAM KONSEP RAMAH AIR

Dengan mengambil kasus di Bogor, di mana wilayah pertanian banyak mengalami perubahan penggunaan dan penutupan lahannya. Maka transformasi perlu dilakukan yang semula untuk kepentingan irigasi, maka dengan menurunnya luasan sawah maka air perlu dimanfaatkan sebagai air perkotaan salah satunya untuk lketersediaan air minum. Sebagaimana dalam FGD “Urban Water Research Cluster-IPB/AIC” di Balikota Bogor 17 Maret 2017 (Arifjaya 2017), beberapa saluran irigasi yang sudah tidak berfungsi seperti  pintu saluran irigasi Ciereng bisa difungsikan menjadi jalan atau saluran air bersih untuk pemenuhan kebutuhan air bersih PDAM; memanfaatkan dan mengendalikan air permukaan, dan menjadikan air yang tersedia menjadi air untuk pemenuhan kebutuhan domestik kota Bogor, Cibinong, Depok dan Jakarta. Pengelolaan air baku sebagai sumber air minum bisa didesain pada skala kelurahan yang dilintasi saluran irigasi. Instalasi PAM pada skala kecil memanfaat sumber air dikelola untuk pemenuhan kebutuhan air minum skala kelurahan. Investasi yang diperlukan tidak akan sebesar pada penambahan instalasi skala kota. Tentu ini sangat diperlukan adanya good will & political will dari pemerintah, dukungan investasi para pengusaha, serta partisipasi masyarakat.

Partisipasi masyarakat lainnya yang perlu diusung adalah menerapkan sistem bio-filtering pada skala kawasan. Air limbah rumah tangga (grey water) dan air limpasan (storm water) perlu diberi perlakuan dengan bio-filter sebelum masuk ke dalam selokan. Air selokan perkotaan yang lebih baik kualitasnya ini, bisa berfungsi sebagai lanskap produktif. Sebagai media untuk praktek pertanian perkotaan seperti perikanan maupun sayuran tanaman air seperti kangkung, genjer dan lain-lainnya. Penerapan bio-filter bisa dilakukan dengan kombinasi penerapan “water front landscape” dan “productive landscape” bisa dimulai pada skala wilayah paling kecil, yaitu tingkat kampong atau RT/RW/Kelurahan. Melalui pendidikan masyarakat, kita orientasikan perhatian utama dengan mengahadap ke air. Mengubah halaman rumah kita mengahadap ke aliran sungai, ke arah saluran irigasi, bahkan kea rah selokan sekali pun. Bukan membelakanginya. Hal yang pertama, hal ini menjadikan perilaku masyarakat tidak lagi membuang sampah ke badan air, karena kita akan risih melihat perairan yang kotor. Kedua, saluran air ini bisa dimanfaatkan secara produktif untuk memelihara ikan, atau mengkonservasi keanekaragaman hayati flora dan fauna dengan cara membendung sedikit beberapa segmen badan air dari selakan sebagai “water cascade”. Hal ini sudah mulai dilaksanakan di Desa Bendung, Ciawi Bogor. Dan success story ini semoga menyebar cepat bagai virus jika ditularkan oleh kawan-kawan dari media massa.

Bagaimana mengetahui hubungan kedekatan masyarakat terhadap spirit dalam mengelola air, telah banyak dilakukan penelitian bersama mahasiswa untuk menelusuri konsep TIRTA BUDAYA SITU (TBS). Konsep Tirta Budaya Situ berasal dari “Tirta” yang berarti air dalam bahasa Sansekerta, “Budaya” berarti budaya Indonesia, dan “Situ” berarti sebuah danau kecil. Tirta Budaya Situ adalah sebuah pendekatan baru, untuk menjaga situ/waduk di mana hanya sedikit perhatian pemerintah pusat dalam menangani dan Pemerintah Daerah tidak memiliki wewenang untuk mengelola, sehingga peran masyarakat diperjelas dan ditingkatkan. Manajemen air pada TBS dilihat dari prespektif alam (lingkungan), kualitas air, keanekaragaman hayati, budaya, dan sejarahnya. Dari parameter tersebut kita tahu bagaimana kedekatan masyarakat dengan sumberdaya air. Sehingga sertifikasi dapat diberikan oleh pemerintah sebagai penghargaan bagi masyarakat yang dapat mengelola air situ dengan baik. Apresiasi masyarakat akan meningkat jika ada kegiatan regular yang menyangkut Festival Situ, atau hal serupa “ngubek situ”, atau meningkatkan fungsi badan air sebagai salah satu obyek wisata air.

Laladon, 20 Maret 2017