Degree Master & Doctor Program
Credit 3 (2-3)
Semester Odd
University Bogor Agricultural University

This subject discusses a rural landscape structure in Indonesia and their relation to the land uses and agropolitan concepts, i.e. covering agricultural landscape and non-agricultural landscape, which is influenced by physical environmental factor, geographical factor, socio-economy-cultural factor; Agroforestry system as a sustainable agriculture, which is included pekarangan (home gardens), mixed gardens, forest gardens in rural landscape structure would be discussed in order to reach the human welfare, food security and food safety based on the concept of ecological function, productivity, and the aesthetic in supporting for the model availability of rural landscape management; some approaches of participatory rural appraisal (PRA), low external-input-and sustainable agriculture (LEISA), and community sustainability assessment (CSA) are considered.

<< back to subject list

24 Responses to “Rural Landscape”

  1. webagentur wuppertal Says:

    i think your blog is very good! I found it on google

  2. Deadra Behen Says:

    Only wanna comment on few general things, The website style is perfect, the articles is very excellent. “If a man does his best, what else is there” by George Smith Patton, Jr..

    [WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us ‘911724736 which is not a hashcash value.

  3. Anggi Mardiyanto Says:

    Deforestasi
    Deforestasi adalah perubahan tata guna lahan dari hutan menjadi penggunaan bukan hutan. Perubahan tersebut dapat didorong baik secara biofisik seperti kebakaran, kekeringan, banjir, dan ledakan hama/penyakit dan faktor pencetus sosial, seperti revolusi, social disorder dan goncangan ekonomi serta faktor tak langsung seperti karakteristik lahan, termasuk kualitas kesuburan tanah dan topografi yang stabil). Menurut Geist dan Lambin (2002)aktivitas manusia pada tingkat lokal yang meliputi: 1) Perluasan infrstruktut, 2) perluasan kawasan pertanian, dan 3) ekstraksi kayu. Kasus faktor penyebab deforestasi yang terjadi di Asia berdasarkan Arifin dkk (2009) pertama faktor kelembagaan, kedua faktor teknologi, ketiga faktor sosial budaya dan politik, keempat faktor ekonomi, dan kelima faktor demografis. Contoh penyebab deforestasi adalah akibat dapat berbentuk pemukiman, lahan pertanian, atau pertambangan. Deforestasi menyebabkan hutan menjadi rusak fungsinya secara ekologis. Contoh deforestasi, yaitu rusaknya fungsi hutan, yaitu maraknya penebangan liar atau illegal logging yang menyebabkan hutan menjadi lahan terbuka yang mengakibatkan fungsi sebagai penahan erosi, menyimpan air dan pengendali banjir terganggu. Contoh lain dari deforestasi yaitu maraknya pembukaan hunian atau rumah singgah (villa), contoh tersebut banyak kita temui pada daerah bodor, yaitu puncak dan bandung, yaitu daerah lembang. Contoh kasus lain akibat deforestasi akibat penggunaan sebagai area pertanian, yaitu pada di daerah wonosobo, yaitu pertanian kentang. Pertanian kentang tersebut menyebabkan erosi tanah karena pola tanam yang tegak lurus dengan kontur. Kasus lain dari deforestasi adalah di daerah-daerah pertambangan seperti di Kalimantan, Belitung dan Papua.

    Afforestasi atau Reforestasi
    Aforestasi, yaitu perubahan area dari bukan hutan menjadi hutan. Contoh dari kegiatan tersebut adalah pembangunan huitan kota sebagai manifestasi dari undang-undang no. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang, dimana setiap daerah harus meluangkan areanya sekitar 30% untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH). Suatu contoh yang dekat dengan kita adalah usaha pemerintah DKI Jakarta dalam membangun Hutan Kota dengan mengurangi SPBU dan mengkonversinya menjadi RTH. Kegiatan aforestasi tersebut juga dilakukan oleh kota-kota lain di Indonesia. Contoh lain dari reforestasi dapat berupa pengembangan konsep agroforestry pada lahan pertanian dan pekarangan.

    Contoh faktor penyebab reforestrasi yang dilakukan oleh Arifin dkk (2008) di Sub DAS Mendalam, DAS Kapuas Hulu, Kalimantan Barat terdapat 5 faktor, yaitu:
    1. Faktor Demografi
    yaitu adanya kepadatan populasi yang merupakan potensi agroforestri.
    2. Faktor Lingkungan
    yaitu karakteristik sumber daya alam mendukung kesesuaian lahan untuk diptocarpaceae dan karet dalam bentuk hutan campuran dan untuk komoditas ketahanan pangan, seperti sagu.
    3. Faktor Aksesibitas
    yaitu tersedianya jalur transporrtasi yang dapat diakses melalui sungai dan melalui jalan darat pada sebagian wilayah sangat menunjang dalam mendukung tata niaga
    4. Faktor Sosial-Ekonomi
    yaitu pola kehidupan masyarakat Mendalam umumnya bermata pencaharian berupa ladang berpindah, budi daya ternak, berburu di hutan dan sungai, menyadap karet, serta sedikit yang bermata pencaharian hanya sebagai pedagang. Kemudahan akses ke ibu kota kecamatan mendukung aktifitas masyarakat ke kota, atau pedagang kota untuk ke desa, menunjang dalam pemasaran produk pertanian (karet, ternak dan perikanan)
    5. Faktor Sumber Daya Air
    yaitu ketersediaan sumber daya air, serta permintaan ikan konsumsi, merupakan potensi untuk pengembangan budidaya perikanan
    6. Faktor Kebijakan
    yaitu posisi geografi DAS Mendalam yang berbatasan dengan kawasan konservasi Taman Nasional Betung Kerihun dan Hutan Lindung memerlukan kebijakan berupa peraturan dan insentif yang mempromosikan sistem agroforesti.

    Demikian

    Anggi Mardiyanto

    A451110101

  4. Roosna MO Adjam Says:

    1. WATERSHED atau daerah aliran sungai
    Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disebut DAS adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.

    Pembagian Daerah Aliran Sungai berdasarkan fungsi Hulu, Tengah dan Hilir yaitu:
    • bagian hulu didasarkan pada fungsi konservasi yang dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS agar tidak terdegradasi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kondisi tutupan vegetasi lahan DAS, kualitas air, kemampuan menyimpan air (debit), dan curah hujan.
    • bagian tengah didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kuantitas air, kualitas air, kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait pada prasarana pengairan seperti pengelolaan sungai, waduk, dan danau.
    • bagian hilir didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan menyalurkan air, ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan pertanian, air bersih, serta pengelolaan air limbah.(5)
    Pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu akan berpengaruh sampai pada hilir. Oleh karenanya DAS bagian hulu merupakan bagian yang penting karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS, jadi apabila terjadi pengelolan yang tidak benar terhadap bagian hulu maka dampak yang ditimbulkan akan dirasakan juga pada bagian hilir.

    2. Agroforestry landscape atau lanskap Agroforestry adalah
    suatu lanskap yang menyajikan suatu sistem penggunaan lahan dengan perpaduan tegakan pohon hutan yang berumur panjang dengan tanaman pangan dan juga pakan ternak berumur pendek yang diusahakan pada suatu kawasan lahan yang sama dalam suatu pengaturan ruang dan waktu. Sistem pemanfaatan lahan pada skala lanskap ini menggunakan batas –batas ekologis yang dapat berupa batas daerah aliran sungai. pada sistem lanskap agroforestri terjadi interaksi ekologi dan ekonomi.

    Lanskap Agroforestri juga berarti lanskap yang mengusahakan pengelolaan sumber daya ekologi dengan memanen energi matahari untuk menghasilkan suatu produk pertanian dalam arti luas (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan hingga peternakan dan perikanan) dan produk hasil dari tegakan pohon hutan.

    3. Deforestasi adalah berubahnya land use kawasan hutan menjadi tapak hutan yang lebih terpisah atau merupakan kombinasi tapak hutan dengan bukan hutan.

    Faktor pendorong yang menyebabkan terjadinya deforestasi yang mengacu pada aktifitas manusia di tingkat lokal yaitu 1. Perluasan infrastruktur (jalan raya, pasar, perumahan, 2. Perluasan kawasan pertanian, dan 3)perluasan ekstraksi kayu (kayu bakar, kayu komersil). Faktor yang berpengaruh tidak langsung seperti karakteristik lahan, kualitas kesuburan tanah dan topografi yang stabil turut mendorong terjadinya pengrusakan hutan.

    Deforestasi dapat juga mengacu pada kehilangan atau kerusakan hutan yang terjadi secara alami, dan buatan terutama akibat aktivitas manusia seperti penebangan untuk bahan bakar, tebang-dan-bakar pertanian, pembukaan lahan untuk penggembalaan ternak, operasi pertambangan, ekstraksi minyak, pembangunan bendungan, dan perkotaan dari ekspansi pembangunan dan populasi.
    Tidak semua deforestasi disengaja. Deforestasi Beberapa didorong oleh kombinasi proses-proses alamiah dan kepentingan manusia. pembakaran hutan pada bagian besar hutan setiap tahun, pembukaan hutan untuk penggembalaan ternak atau satwa liar, yang dapat mencegah pertumbuhan pohon muda di hutan.

    4. Afforestasi adalah perubahan lanskap dari open field agriculture menjadi hutan atau hutan terpisah. Afforestasi dapat terjadi misalnya pada program penghijauan, reklamasi atau restorasi kawasan alami.
    Faktor pendorong yang menyebabkan terjadinya aforestasi adalah
    1). Faktor kepadatan penduduk yang rendah yang mengarah pada pertanian agroforestri,
    2) faktor ekologi lingkungan yang mendukung kesesuaian lahan misalnya tanaman jati dan karet dalam bentuk hutan campuran,
    3) tersedianya transportasi sungai, sehingga tidak dibutuhkan pembangunan jalan besar
    4)faktor sosial ekonomi masyarakat yang mendukung / melakukan kegiatan budidaya agroforestri, serta
    5) faktor ketersediaan sumber daya air untuk melakukan penanaman kembali hutan dan
    6) faktor kebijakan dari pemerintah daerah atau persatuan komunitas lokal.

  5. Femy (A451110141) Says:

    1. WATERSHED atau daerah aliran sungai adalah : (bagusrama.wordpress.com/…/definisi-definisi-daerah-aliran-sungai-d… )Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disebut DAS adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. (PP No 37 tentang Pengelolaan DAS, Pasal 1)
    Pembagian Daerah Aliran Sungai berdasarkan fungsi Hulu, Tengah dan Hilir yaitu:
    1. bagian hulu didasarkan pada fungsi konservasi yang dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS agar tidak terdegradasi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kondisi tutupan vegetasi lahan DAS, kualitas air, kemampuan menyimpan air (debit), dan curah hujan.
    2. bagian tengah didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kuantitas air, kualitas air, kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait pada prasarana pengairan seperti pengelolaan sungai, waduk, dan danau.
    3. bagian hilir didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan menyalurkan air, ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan pertanian, air bersih, serta pengelolaan air limbah.
    2. a. Agroforestry landscape adalah : Suatu ilmu yang mengkaji sistem agroforestri pada skala lanskap. Yang berhubungan dengan konsep-konsep yang terbangun dalam hubungannya dengan bidang studi sistem usahatani, sistem agroforestri, agroekosistem, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), arsitektur lanskap dan ekologi lanskap.
    b. Lanskap Agrofrorestri adalah merupakan objek bentang alam yang dalam penggunaannya dimanfaatkan untuk kegiatan yang berpola agroforestri . Sistem pemanfaatan lahan pada skala lanskap tersebut menggunakan batas-batas ekologis (ecological boundaries) berupa batas daerah aliran sungai.
    3. Deforestasi adalah : kegiatan penebangan hutan atau tegakan pohon (stand of trees) sehingga lahannya dapat dialihgunakan untuk penggunaan (non-forest use), yakni pertanian, peternakan atau kawasan perkotaan.
    Penyebabnya:
    • Menurut Wikimedia (http://www.artikata.com/arti-324588-deforestasi.html), Penyelewengan kuasa pemerintah dikalangan lembaga pemerintah, ketidakadilan dalam pembagian kekayaan dan kekuasaaan, pertumbuhan penduduk dan ledakan penduduk maupun perkotaan, kesenjangan sosial seringkali dipandang sebagai akar penyebab lain yang mengakibatkan deforestasi

    • Temuan Geist dan Lambin (2002) dalam buku Analisis Lanskap Agroforestri bahwa faktor pendorong terjadinya deforestasi berkaitan dengan proses sosial fundamental, seperti dinamika populasi atau kebijakan pertanian yang menyokong terjadinya penyebab utama pada tingkat local atau menjadi penyebab langsung yang terjadi pada tingkat lokal, seperti kebijakan lokal atau global. Dari studi kasus yang dilakukan ada lima faktor dasar/tidak langsung yang teridentifikasi, yaitu : 1). Demografi, 2). Ekonomi, 3). Teknologi, 4) Kebijakan dan kelembagaan, dan 5). Budaya.

    • Faktor mendasar / tidak langsung yang mendorong pengrusakan hutan sangat kompleks, dalam kajian tersebut Arifin et al., (2008), melaporkan bukti penyebab pengrusakan hutan yang terkait pertanian kopi, sebagai berikut :
    1. Faktor pasar. Peningkatan harga kopi pada harga beberapa tahun sebelumnya berkorelasi langsung dengan tingkat pengrusakan hutan di Indonesia,.
    2. Faktor Demografi dan Migrasi. Pertambahan penduduk tidak menyebabkan pengrusakan hutan, akan tetapi migrasi yang dapat menyebabkan. Contohnya di Toraja (dengan hambatan budaya yang kuat untuk penduduk masuk) menurunkan tingkat pengrusakan hutan di Toraja, sebaliknya migrasi menjadi pemicu pengrusakan hutan di Aceh dan Lampung.
    3. Faktor Kebijakan Pemerintah. Departemen Pertanian terus menfasilitas perluasan tanaman kopi dengan program ‘ perluasan areal ‘, memberikan dukungan langsung terhadap ekspansi lahan.
    4. Faktor Kelembagaan. Di ketiga wilayah studi (Lampung,Aceh dan Toraja) batasan batasan konservasi sering dilanggar oleh petani dan kepemilikan lahan yang tidak jelas. Ditiga wilayah studi proses untuk mengubah hutan menjadi lahan pertanian memiliki pola yang sama, dimulai dari proses relative informal berupa permohonan isin dari pemimpin adat kemudian kepala desa atau kepada camat. Proses perubahan lahan biasanya melibatkan konversi oleh anggota masyrakat lokal baru, Sedikit insentif bagi petani untuk mengubah surat tanahnya menjadi sertifikat dari Badan Pertyanahan Nasional (BPN) disebabkan aturan perpajakan. Tingginya tingkat ketidakpastian status hukum kepemilikan tanah dan peranan besar dari staf lokal di perbatasan, Kebijakan baru tentang manajemen hutan kemasyarakatan (HKm) memberikan kesempatan menogosiasikan penyelesaian yang menguntungkan bagi kepentingan pemerintah dan masyarakat untuk mengembangkan sistim pertanian hutan (agroforestri) didalam hutan lindung dengan hak dengan tanggung jawab yang jelas (colcester et al., 2005, dalam Arifin et al.,2008)
    4. Aforestasi / reforestasi adalah : merupakan kegiatan konversi kawasan non-hutan menjadi kawasan hutan yang melibatkan manusia secara langsung, melalui kegiatan penanaman. Dua istilah tersebut dibedakan berdasarkan atas beberapa lama kondisi kawasan non-hutan diberlakukan, aforestasi merupakan kegiatan penghutanan kembali pada lahan yang selama 50 tahun tidak berhutan, sedangkan reforestasi penghutanan kembali pada lahan sejak 31 Desember 1989 bukan hutan (Murdiyarso, 2003).
    Dalam kajian Arifin, Suhardi, Wulandari dan Pramukanto (2008) di Sub DAS Mendalam, DAS Kapuas Hulu, Kalimantan Barat dilaporkan bahwa berdasarkan beberapa faktor pendorong dari reforestasi diuraikan sebagai berikut :
    1. Faktor Demografi. Adanya kepadatan populasi yang rendah merupakan potensi agroforestri.
    2. Faktor Lingkungan. Karakteristik sumber daya alam kesesuaian lahan untuk dipterocarpaceae dan karet dan bentuk hutan campuran dan untuk komoditas ketahanan pangan, seperti sagu.
    3. Faktor Aksesibilitas. Tersedianya jalur tranmsportasi yang dapat diakses melalui sungai dan melalui jalan darat pada sebagian wilayah sangat menunjang dalam mendukung tata niaga.
    4. Faktor sosial/ekonomi. Pola kehidupan masyarakat Mendalam pada umumnya bermata pencaharian berupa ladang berpindah, budidaya ternak, berburu dihutan dan sungai, penyadap karet, serta sedikit yang bermata pencaharian hanya sebagai pedagang. Kemudahan akses ke Ibukota kecamatan mendukung aktivitas masyarakat ke kota, atau pedagang kota untuk ke desa, menunjang dalam pemasaran produk pertanian (karet, ternak dan perikanan)
    5. Faktor Sumber Daya Air. Ketersediaan sumber daya air, serta permintaan ikan konsumsi, merupakan potensi untuk pengembangan budidaya perikanan.
    6. Faktor Kebijakan. Posisi geografi DAS Mendalam yang berbatasan dengan kawasan konservasi Taman Nasional Betung Krihun dan Hutan Lindung memerlukan kebijakan berupa peraturan dan insentif yang mempromosikan sistem agroforestri

  6. Femy (A451110141) Says:

    Femy (A451110141)
    Pertanyaan
    Bagaimana peranan GIS dan Remote Sensing bagi Rapid Hydrological Appraisal (RHA) dan Rapid Carbon Stock Assessment (RaCSA).

    Jawaban

    Kegiatan analisis Lanskap Agroforestri dilakukan beberapa pendekatan yang sifatnya cepat (rapid) , akurat dan holistic, yang sangat dibutuhkan dalam analisis yang berbasiskan daerah aliran sungai kombinasi pendekatan RHA (Rapid Hydrological Appraisal) dan RaCSA (Rapid Carbon Stock Assessment).

    (I). Analisis RHA
    Peranan metode RHA adalah dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai criteria dan indicator dari fungsi hidrologis suatu daerah aliran sungai (DAS), (Jeanes et al.,2006) :
    1. Apa saja fungsi-fungsi dari Hydrologis DAS yang ada
    2. Siapa yang memberikan/menjaga/memperbaiki fungsi hidrologis DAS
    3. Bagaimana kondisi fungsi hidrologis DAS saat ini, dan
    4. Melalui mekanisme apakah pembayaran jasa lingkungan dapat diberikan secara efektif agar dapat mempertahankan fungsi hidrologis DAS.

    (2). Analisis RaCSA
    Proses analisis RaCSA dirancang untuk menyediakan pengetahuan tingkat pada level dasar yang relevan secara lokal sehingga dapat membantu dalam diskusi-diskusi dari berbagai pihak yang terkait. Tujuan analisis RaCSA adalah untuk menyediakan penilaian yang hemat biaya dan waktu, namun memiliki kemampuan dalam :
    1. Menyediakan data tentang karbon tersimpan dalam suatu lanskap, sejarah perubahannya dan dampak perubahan lahan yang sedang berjalan terhadap prakiraan emisi, dengan atau tanpa intervensi spesifik untuk mempertahankan karbon tersimpan.
    2. Menyediakan isu-isu utama yang dapat memberikan solusi kepada masyarakat lokal berupa karbon tersimpan dan kehidupan masyarakat serta terbukanya kesempatan untuk menuju pembangunan berkelanjutan dan;
    3. Meningkatkan pemahaman bersama diantara para pihak sebagai langkah menuju lingkungan yang berkelanjutan untuk meningkatkan atau mempertahankan karbon tersimpan.

  7. Janiarto Paradise Pawa Says:

    Watershed
    A watershed can be defined as the area of land that drains to a particular point along a stream. Each stream has its own watershed. Topography is the key element affecting this area of land. The boundary of a watershed is defined by the highest elevations surrounding the stream. A drop of water falling outside of the boundary will drain to another watershed.
    O’keefe et all (________) said that Watershed is an area of land that drains water, sediment and dissolved materials to a common receiving body or outlet. The term is not restricted to surface water runoff and includes interactions with subsurface water. Watersheds vary from the largest river basins to just acres or less in size.
    The term “watershed” describes an area of land in which waters drain downslope, along a drainage to a common lowest point or basin Watersheds can vary in size, and every stream, tributary, or river has an associated watershed. Watershed boundaries can easily be delineated using a topographical map that shows the ridges associated with the various drainages and the mouth of the stream or river where water flows out of the watershed. The water drains via a network of surface and underground drainage pathways, and generally these pathways merge into a stream or river system that becomes progressively larger as the water moves downstream. Ground and surface waters may also merge or separate at various points along the pathway to the recipient water body that collects drainage from the watershed. Because the water naturally moves downstream in a watershed, any activity affecting the water quality, quantity, infiltration, or rate of drainage at one location in the watershed can change the physical, chemical, and biological characteristics at downstream locations (Watershed Definitions and Fundamentals)

    Agroforestry landscape
    Agroforestry landscape is a landscape with the presence of agroforestry systems (e.g., shaded tree crops, fallow areas, or crop and pasture areas with trees) influences ecological processes and characteristics such as the presence and dispersal of fauna and flora, water and nutrient flows, microclimate, and disease and pest dynamics within the landscape. Agroforestry landscapes reflecting the common view in landscape ecology, conservation biology, and agroforestry that certain important effects of agroforestry on biodiversity conservation, water and nutrient cycling, and soil conservation cannot be fully appreciated by merely looking at the individual plot or system because their most significant impacts may occur at the landscape scale. Furthermore, a given agroforestry system does not exist in isolation in that farmers may manage forest gardens or shaded tree crop plantations together with shifting cultivation plots, irrigated rice fields, or pastures, which therefore occur together in the same landscape and jointly determine its properties.
    Arifin et all (2009) said that, landscape agroforestry build from three main principal:
    1). Development and spacial dynamic in heterogenity;
    2). Interaction and heterogenity change in present landscape;
    3). Present of spatial heterogenity effect to biotic and abiotic processes; and
    4). Spatial heterogenity management.

    Deforestation
    Deforestation is defined as the destruction of forested land. Most tropical deforestation results from clearing of space for agricultural land (Postnote 2009). The term ‘deforestation’, for example, has been used to describe complete loss of forest cover; reduction of forest to below a given (but varying across authors) proportion of land cover; and loss of primary forest alone. Plantations and other managed forests may or may not be included in the definition of forest. The term is sometimes used only for permanent loss, and sometimes includes temporary loss as well. Definitions of deforestation that focus on loss of natural forest cover will inevitably assign a larger role to logging than definitions which focus on loss of tree cover. Clear-cutting an area of natural forest would always be considered deforestation under the narrower definition, but it would not be considered deforestation under the broader definition if the logged area regenerated as secondary forest or was replanted as a forest plantation. Conversely, smallholder agriculture will get a larger share of the blame for deforestation under a definition that focused on loss of tree cover than under a definition that focused on loss of natural forest alone. The two primary causes that have been identified for deforestation in the region are logging and conversion to agriculture (Gervet 2007).
    According to FAO, deforestation is the conversion of forest to another land use or the long-term reduction of tree canopy cover below the 10% threshold. Deforestation can result from deliberate removal of forest cover for agriculture or urban development, or it can be an unintentional consequence of uncontrolled grazing (which can prevent the natural regeneration of young trees). The combined effect of grazing and fires can be a major cause of deforestation in dry areas. Deforestation implies the long-term (>10 years) or permanent loss of forest cover. “deforestation is such a complex process, involving physical, climatic, political, and socio-economic forces which are themselves very complex, that simple generalized models of forest change have so far not been developed (Gervet 2007).

    Afforestation is the establishment of forest plantations in areas not previously in forest, and denotes a change from non-forest to forest. It differs from reforestation, which is the establishment of forests (through planting, seeding or other means) after a temporary loss of the forest cover. Areas under reforestation are classified as forest since the forest is actively regenerating (Gervet 2007).
    Afforestation was defined as replanting with trees areas that had been without forest for at least 50 years. reforestation was defined as replanting with trees areas that had been without forest since at least 31 December 1989 (ITTO 2006).
    The establishment of a tree crop on an area from which it has always been absent. Where such establishment fails and is repeated, the latter may properly be termed reafforestation.

    Bibliography

    Arifin HS, Wulandari C, Pramukanto Q, Kaswanto RL. 2009. Analisis Lanskap Agroforestry. Bogor: IPB Press.
    Gervet B. 2007. Deforestation Contributes to Global Warming Lulea: Luleå University of Technology.
    [ITTO] International Tropical Timber Organization. 2006. Guide book: For the formulation of afforestation and reforestation projects under The clean development mechanism. International Tropical Timber Organization.
    O’Keefe TCO, Eliot SR, Naiman RJ, _________Introduction to Watershed Ecology. Environmental Protection Agency.
    Pagiola S. 2001 Deforestation and land use changes induced by the east asian economic crisis. Environment and Social Development Unit (EASES)
    Schuck A, Risto Paivinen, Hytonen T, Pajari B. 2002. Compilation of Forestry Term and Definitions. European Forest Institute.
    Watershed Definitions and Fundamentals.
    http: //www.projectcleanwater.org/pdf/car/Chap2_L.pdf

  8. Roosna MO Adjam A451110021) Says:

    Jawaban Quis 5
    How the roles of Geographical Information System and Remote Sensing for Rapid Hydrological appraisal and Rapid Carbon stock Assessment ?

    Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya akan mendefinisikan dulu satu persatu.
    Geographic Information System atau sistem informasi geografis adalah suatu sistem informasi berbasis komputer, yang digunakan untuk memproses data spasial (berupa titik lintang dan bujur peta) yang disimpan dalam suatu basis data dan berhubungan dengan persoalan serta keadaan nyata (real world). Manfaat SIG secara umum memberikan informasi yang mendekati kondisi sebenarnya, menganalisis, merekayasa serta memprediksi suatu hasil dan perencanaan strategis pada skala peta.
    SIG bekerja berdasarkan integrasi 5 Komponen, yaitu: peralatan komputer khusus, alat bantu software, data, pikiran manusia dan metode. Melalui SIG dilakukan eksplorasi data dan merubahnya menjadi informasi bahkan menjadi pengetahuan, dimanapun analisis spasial dilakukan.
    Remote sensing/ RS atau penginderaan jarak jauh adalah salah satu metode pengamatan atau pengukuran unsur-unsur spasial permukaan bumi. Metode yang sangat efektif & efisien ini banyak memiliki variasi/ jenis dalam menyediakan rekaman data spasialnya. Selanjutnya, untuk meningkatkan kualitas dan menyempurnakan data rekaman sensor-sensor terkait hingga produksi akhir data spasialnya, dilakukan pula proses-proses pengolahan citra dijital di komputer.

    Analisis Rapid Hydrological Appraisal/RHA adalah suatu analisis cepat yang digunakan untuk mendapat gambaran tentang apa fungsi hidrologis Daerah aliran Sungai yang ada, siapa saja yang berperan dalam perbaikan fungsi hidrologis DAS, bagaimana kondisi fungsi hidrologis DAS saat ini, dan melalui mekanisme apa pembayaran jasa lingkungan dapat diberikan agar dapat mempertahankan fungsi hidrologis itu. RHA dapat melihat pada skala global/luas.

    Analisis Rapid Carbon Stock Assessment/ RaCSA adalah suatu analisis cepat yang digunakan untuk mendapat gambaran tentang carbon tersimpan dalam suatu lanskap, sejarah perubahan dan dampak perubahan lahan yang terjadi terhadap keberadaan carbon. RCSA biasanya dipakai untuk pengamatan skala tapak/ sempit.
    Maka peranan GIS dan RS sangat berguna sekali pada kedua metoda ini. Pada saat penggunaanya, GIS dan RS membutuhkan tersedianya berbagai informasi spasial yang berhubungan dengan kondisi fisik bentang lahan seperti tutupan lahan (land cover), dinamika land cover, elevasi, drainase, cakupan daerah aliran sungai (DAS) dan biofisik tanah. Keterpaduan dari metode RHA dan RaCSA didekati dengan empat (4) cara analisis dalam pengelolaan Sumber Daya Alam oleh GIS dan RS yaitu:
    1. Peningkatan integrasi penggunaan penggunaan alat (GIS dan RS) dari metode yang sudah ada
    2. Peningkatan kapasitas institusi dalam pemakaian alat GIS dan RS
    3. Uji coba alat (GIS dan RS ) dilapangan dengan masyarakat lokal dan umpan baliknya
    4. Melakukan sintesis data

    • Proses analisis spasial dalam RHA dengan menggunakan GIS
    Proses pengklasifikasian penutupan lahan dilakukan dengan tujuh tahap, yaitu
    (1) persiapan citra satelit/peta citra
    (2) koreksi geometrik
    (3) klasifikasi citra satelit sementara
    (4) overlay dengan peta tutupan lahan
    (5) pendugaan ketepatan akurasi
    (6) penerimaan pendugaan / prediksi
    (7) menghasilkan peta klasifikasi lahan

    • Proses analisis spasial untuk RaCSA
    Analisis spasial untuk RaCSA dimulai dengan menyusun tiga proses dibawah ini;
    1. Mengintegrasi dtaa pengukuran plot dengan data hasil analisis
    2. Menghitung perubahan tutupan lahan
    3. Menghitung dinamika perubahan cadangan karbon
    Ketiga proses diatas merupakan tahapan membuat skala dalam perspektif ekologi lanskap. Artinya dengan mengetahui kandungan karbon pada skala tapak/ pohon, maka kita dapat mengestimasi kandungan karbon pada skala yang lebih luas, mulai dari skala tapak atau tata guna lahan hingga skala kawasan dalam satu DAS. Proses ini diawali dengan menyatukan atau mengintegrasikan data perhitungan karbon pada setiap plot dari setiap tata guna lahan dengan data hasil analisis.

  9. Arkham HS, A451110111, S2 ARL Says:

    1. Watershed/Riverbasin/Waterdrainage/Daerah Aliran Sungai (DAS)
    Secara definitif Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, dengan batas di darat sebagai pemisah topografisdan batas di laut yang masih terpengaruh aktivitas daratan (UU No 7 tahun 2004tentang Sumberdaya Air).
    Daerah Aliran Sungai (DAS) juga dapat diartikan sebagai suatu wilayah daratan yang secara topografik dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung dan menyimpan air hujan dan kemudian mengalirkan ke laut melalui sungai utama. Dalam sudut pandang peruntukan lahan, setiap ekosistem DAS biasanya dibedakan menjadi bagian atas (hulu), tengah dan bagian bawah (hilir).
    Asdak (2002)menyatakan bahwa, ekosistem DAS biasanya dibagi menjadi daerah hulu, tengah, dan hilir. Secara biogeofisik, daerah hulu merupakan daerah konservasi, mempunyai kerapatan drainase lebih tinggi, dengan kemiringan lereng lebih besar dari 15%, bukan daerah banjir, pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola drainase, dan jenis vegetasi umumnya tegakan hutan. Sementara daerah hilir DAS merupakan daerah pemanfaatan dengan kemiringan lereng kecil (kurang dari 8%), pada beberapa tempat merupakan daerah banjir, pengaturan pemakaian air dicirikan oleh bangunan irigasi, dan jenis vegetasi didominasi oleh tanaman pertanian kecuali daerah estuaria yang didominsi hutan gambut/bakau. Sementara DAS bagian tengah merupakan daerah transisi dari kedua karakteristik biogeofisik DAS yang berbeda yang didasarkan pada fungsi pemanfaatan sungai yang dikelola untuk pemanfaatan nilai sosial-ekonomi yang dapat diindikasikan dari kualitas dan kuantitas air, kemampuan meresapkan dan mengalirkan air dan ketinggian air tanah, serta kecenderungan terkait pada penyediaan prasarana drainase seperti waduk, danau dan situ.
    Perubahan tataguna lahan dibagian hulu DAS seperti reboisasi, pembalakan hutan, deforestasi, budidaya yang mengabaikan kaidah-kaidah konservasi akan berdampak pada bagian hilirnya, sehingga DAS bagian hulu mempunyai fungsi perlindungan dari segi tata air. karena itu yang menjadi fokus perencanaan pengelolaan DAS sering kali DAS bagian hulu, mengingat adanya keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi.
    2. Lanskap Argoforestri (Agroforestry Landscape)
    Lanskap  Area lahan heterogen yang tersusun dari suatu kelompok ekosistem yang saling berinteraksi berulang dalam bentuk yang serupa.
    Agroforestri  Arifin (2009) mendefinisikan Agroforestri sebagai penggabungan ilmu pertanian dan kehutanan, serta memadukan usaha-usaha pertanian dan kehutanan dalam suatu unit lahan. Agroforestri dapat pula dikatakan sebagai sistem penggunaan lahan terpadu yang mengkombinasikan tegakan pohon dengan tanaman pertanian dan atau hewan ternak secara bersama-sama guna menghasilkan produk terpadu.
    Lanskap Agroforestri merupakan objek (unit) bentang alam yang dalam penggunaannya dimanfaatkan oleh manusia untuk kegiatan sistem agroforestri.
    Contoh:
    Kebun Kopi Naungan
    Pada sistem pertanaman ini, kopi ditanam sebagai tanaman pokok, dengan kolaborasi tanaman penaung misalnya Gamal (Gliricidia sp.). secara ekologi ini akan saling menguntungkan. Ditinjau dari sudut pandang kehutanan, sistem ini dianggap sebagai pertanian murni, tetapi bila ditinjau dari sudut pandang pertanian, sistem ini menurutnya sebagai sistem perkebunan. Namun jika melihat dari sudut pandang agroforestri, sistem ini merupakan salah satu sebsistem agrisilvikultur (agrosilvopastura) yang merupakan salah satu bentuk sistem agroforestri sederhana.

    Bahan Bacaan:

    Arifin HS, Wulandari C, Pramukanto Q, Kaswanto RL. 2009. Analisis Lanskap Agroforestry. Bogor: IPB Press.
    Asdak C. 2007. Hidrologi dan pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
    Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P.14/Menhut-II/2012 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Rehabilitasi Hutan Dan Lahan Tahun 2012 Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Menteri Kehutanan Republik Indonesia,
    Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Presiden Republik Indonesia

  10. Femy (A451110141) Says:

    Penambahan jawaban
    Bagaimana peranan GIS dan Remote Sensing bagi Rapid Hydrological Appraisal (RHA) dan Rapid Carbon Stock Assessment (RaCSA).

    Menurut Arifin, H.S dkk, 2010, Analisis Lanskap Agroforestri, bahwa :
    Peranan Sistem informasi Geografis (Geographical Information System – GIS), dan penginderaan jauh (Remote Sensing – RS) untuk RHA dan RACSA, sebelum menspasialkan kondisi tapak dibutuhkan tersedianya berbagai informasi spasial yang berkaitan dengan kondisi fisik bentang lahan, yaitu :
    – Tutupan/penggunaan lahan
    – Dinamika tutupan lahan
    – Elevasi
    – Drainase (jaringan sungai)
    – Cakupan daerah aliran sungai (DAS)
    – Biofisik tanah,
    Dan Komponen data yang menjadi Pola Analisis Spasial memerlukan data : Komponen Biophysical Feature, dan Socio-Economic-Cultural Phenomenon.
    Dikarenakan adanya Perbedaan kebutuhan data dimana RHA melihat secara holistic sedangkan RaCSA melihat dari skala tapaknya saja, untuk mengintegrasikan kedua metode ini diperlukan 4 (empat) paket analisis (work packages – WP) dalam pengelolaan sumber daya, yakni :
    WP1. Peningkatan integrasi toolbox dari tools dan metode yang sudah ada,
    WP2. Capacity Building (institusi).
    WP3. Ujicoba tools dilapangan dengan masyarakat lokal dan feedback
    WP4. Sintesa
    Proses Klasifikasi Penutupan Penutupan Lahan dalam RHA, melalui digital elevation model (DEM), ada 7 tahap, yaitu :
    (1).Persiapan citra satelit, (2). Koreksi Geometrik, (3). Klasifikasi citra satelit sementara, (4). Peta tutupan lahan, (5). Pendugaan ketetapan akurasi, (6). Penerimaan pendugaan dan (7). Peta hasil klasifikasi (out print).
    Sedangkan untuk Analisis Spasial untul RaCSA, pendekatannya dimulai dengan menyusun tiga proses, yaitu : (1). Mengintegrasikan data pengukuran plot dengan data hasil analisis, (2).Menghitung perubahan tutupan lahan, (3). Menghitung dinamika perubahan cadangan karbon.
    Ketiga proses diatas merupakan tahapan membuat skala dalam perspektif ekologi lanskap. Artinya dengan mengetahui kandungan karbon pada skala tapak/ pohon, maka kita dapat mengestimasi kandungan karbon pada skala yang lebih luas, mulai dari skala tapak atau tata guna lahan hingga skala kawasan dalam satu DAS. Proses ini diawali dengan menyatukan atau mengintegrasikan data perhitungan karbon pada setiap plot dari setiap tata guna lahan dengan data hasil analisis.

  11. Arkham HS, A451110111, S2 ARL Says:

    3. Deforestasi
    FAO dan World Bank secara tersirat menyatakan bahwa hilangnya tutupan hutan secara permanen ataupun sementara merupakan deforestasi. Dengan demikian, namun jika dikaji lebih jauh artinya mereka menganggap kawasan perladangan berpindah yang akan kembali menjadi hutan sekunder juga merupakan deforestasi.
    Seiring dengan berjalannya waktu dan tingkat kebutuhan akan kayu semakin meningkat, mendorong masyarakat baik secara individu maupun kelompok melakukan eksploitasi hasil hutan dengan tidak memperhatikan kelestariannya. Eksploitasi hasil hutan tersebut biasanya dilakukan secara ilegal seperti melakukan pembalakan liar, perambahan, pencurian yang mengakibatkan kerusakan hutan. Akibatnya, kerusakan hutan atau lingkungan tak terkendali tersebut mengakibatkan luas hutan semakin menurun, lahan kritis semakin bertambah, dan sering terjadi bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan lain sebagainya. Jadi Deforestasi atau kerusakan hutan secara umum didefinisikan sebagai perubahan secara permanen dari areal hutan menjadi non hutan yang diakibatkan oleh aktifitas manusia.

    Geist dan Lambin (2002) dalam Buku Analisis Lanskap Agroforestri menyatakan bahwa ada 2 faktor pendorong terjadinya deforestasi, Pertama yaitu, Faktor langsung (proximate cause): (1) Perluasan infrastruktur, seperti pembangunan pasar, transportasi, perumahan, dll, (2) Perluasan pertanian, yaitu dengan adanya kegiatan budidaya pertanian yang memicu terjadinya alih fungsi lahan, dan (3) Perluasan pemanenan kayu yang tentunya berorientasi bisnis. Kedua, Faktor tidak langsung (Underlying causes) yang disebabkan oleh Faktor demografis, ekonomi, teknologi, kebijakan dan kelembagaan, dan faktor budaya.
    Selain kedua faktor diatas, Geist dan Lambin (2002) dalam buku Analisis Lanskap Agroforestri menambahkan faktor lain sebagai foktor yang berpengaruh terjadinya deforestasi, faktor tersebut mencakup faktor tidak langsung terhadap lingkungan (karakteristik lahan, topografi dan kualitas kesuburan tanah yang dapat mendorong terkjadinya kerusakan). selain itu juga faktor biofisik (kebakaran, banjir, longsor, dan ledakan hama) dan faktor pemicu sosial (revolusi, sosial disorder, dsb).

    4. Afforestasi
    Dalam Permen Kehutanan No. P.14, dijaelaskan bahwa Aforestasi adalah penghutanan pada lahan yang selama 50 tahun atau lebih bukan merupakan hutan. Secara fungsional, perubahan lanskap tidak selalu perubahan itu dari hutan menjadi daerah budidaya atau nonhutan, tetapi terkadang perubahan dari area nonhutan berubah menjadi hutan dan ini sering terjadi pada program- program seperti penghijauan, reklamasi, atau restorasi kawasan-kawasan alami yang sering disebut dengan aforestasi atau pengembalian fungsi hutan.
    Arifin et al. 2009 mengemukakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi faktor pendorong (potensi) sehingga dalam suatu area dapat dilakukan aforestasi, antara lain:
    (1) Faktor demografi, (2) Faktor lingkungan, (3) Faktor aksesibilitas, (4) Faktor Sos-ekonomi, (5) Faktor Sumberdaya air, dan (6) Faktor Kebijakan.
    Dengan adanya inisiatif global seperti Protokol Kyoto, dimana muncul paradigma bahwa Hutan bukan sekedar tumpukan kayu yang dapat mendatangkan devisa sesaat yang sering juga menimbulkan bencana jika dimanfaatkan tanpa kendali tetapi merupakan komoditi global yang memiliki potensi selain kayu semisal potensi jasa. Berkaitan dengan kemampuan hutan dalam menyerap karbon, perdagangan emisi atau perdagangan karbon merupakan sebuah paradigma baru dalam sektor kehutanan dan dapat menjadi peluang bagi Indonesia yang notabene merupakan negara berkembang untuk mendapatkan devisa melalui sektor ini. Dalam sektor kehutanan, kegiatan yang tergolong dalam mekanisme ini adalah Aforestasi dan Reforestasi.

    5. Bagaimana peran Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh untuk penilaian Hidrologi Cepat dan Penilaian Karbon saham Cepat?
    Bahan Bacaan:
    Sistem informasi geografis adalah kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer (hardware), perangkat lunak komputer (software), data geografi dan pengguna yang didesain untuk memperoleh, menyimpan, memperbaiki, memanipulasi, menganalisa, menyajikan dan menjelaskan semua bentuk dan data informasi yang bereferensi geografis (ESRI, 1990 dalam Tahir, 2003).
    Data yang diperlukan dalam sistem informasi geografis merupakan data yang mengacu pada lokasi geografis terdiri atas data grafis dan data atribut. Data grafis tersusun dalam bentuk titik, garis, dan poligon. Data atribut berupa data kualitatif atau kuantitatif yang merupakan hubungan satu-satu dengan data grafisnya. SIG pada dasarnya terdiri dari masukan, pengolahan, dan pengelolaan, serta penyajian yang dikembangkan untuk dapat memenuhi kebutuhan penggguna (Tahir, 2003).
    Sementara Remote Sensing (penginderaan jauh) adalah Ilmu, teknik dan seni untuk mendapatkan informasi tentang obyek, wilayah atau gejala dengan cara menganalisis data yang diperoleh dari suatu alat (citra satelit) tanpa berhubungan langsung dengan obyek, wilayah atau gejala yang sedang dikaji.

    Menurut Jeanes et al. (2006), metode Rapid Hydrologi Appraisal (RHA) merupakan cara cepat dalam penilaian hidrologis suatu DAS. RHA merupakan pendekatan yang dikembangkan sebagai alat untuk menjembatani komunikasi yang mungkin terhalang karena adanya kesenjangan diantara ketiga jenis pengetahuan atau pemahaman mengenai fungsi DAS.
    Tujuan utama RHA adalah:
    1. Untuk memahami kondisi dan pola penggunaan lahan dalam kawasan DAS dan manfaat tata-guna lahan yang bisa dinikmati oleh berbagai pihak, mengidentifikasi alternative pola tata-guna lahan yang bermanfaat, dan memahami faktor-faktor yang dapat mengendalikan perubahan.
    2. Memahami dampak perubahan tata-guna lahan terhadap manfaat/jasa lingkungan sehingga bisa mengidentifikasi para pihak yang berpotensi penjadi pembeli jasa tersebut dan bersedia memberi insentif bagi pihak lain yang bisa mempertahankan dan bahkan meningkatkan manfaat tertentu.
    Sasaran utama RHA adalah melakukan tahapan pelingkupan (scoping), sebagai bagian dari proses mempertemukan pihak penjual dan pembeli pada posisi yang setara dalam sebuah perundingan.

    Metode RACSA, merupakan sebuah metode penghitungan karbon yang banyak digunakan di berbagai tempat. Perangkat penilaian RaCSA dirancang untuk menyediakan pengetahuan tingkat dasar yang relevan secara lokal sehingga dapat membantu dalam diskusi-diskusi antara berbagai pihak terkait. RaCSA mengantarkan kepada kerangka kerja metodologi yang ilmiah dalam penghitungan penyerapan karbon, juga terfokus pada kegiatan yang bisa meningkatkan kehidupan masyarakat lokal dan mengurangi kemiskinan di pedesaan.
    Tujuan RaCSA adalah menyediakan penilaian yang hemat biaya dan waktu, namun mampu:
    1. Menyediakan data tentang karbon tersimpan dalam suatu lanskap, sejarah peubahan dan dampak perubahan lahan yang sedang berjalan dengan prakiraan emisi, dengan atau tanpa intervensi spesifik untuk mempertahankan karbon tersimpan.
    2. mengidentifikasi isu-isu utama yang dapat memberikan solusi kepada masyarakat lokal berupa karbon tersimpan dan kehidupan masyarkat serta terbukanya kesempatan menuju pembangunan berkelanjutan.
    3. Meningkatkan pemahaman bersama diantara para pihak sebagai langkah menuju lingkungan yang berkelanjutan untuk mempertahankan atau meningkatkan karbon tersimpan.

    Integrasi GIS dan RS dengan RHA dan RaCSA: GIS merupakan suatu tools yang dapat digunakan untuk menspasialkan apa-apa yang telah dianalis dengan menggunakan metode RHA (hidrologi) dan RaCSA (karbon stock) tentunya dengan menggunakan peubah-peubah dan kebutuhan data yang mempengaruhi hidrologi dan karbon stock. Sementara Remote Sensing biasanya digunakan dalam mengintrepetasi citra satelit dalam rangka membuat klasifikasi lahan.
    • Analisis Spasial Untuk RHA :
    Analisis Penutupan lahan, proses ini berbasis GIS dan RS, dimana tahapannya adalaha: (1) Persiapan citra satelit, (2) Koreksi geomtrik, (3) Klasifikasi citra satelit sementara, (4) peta tutupan lahan, (5) Pendugaan akurasi, (6) penerimaan pendugaan, (7) Peta klasifikasi.
    • Analisis spasial untuk RaCSA:
    Ada 3 proses dalam memulai analisis spasial dalam pendekatan RaCSA, antara lain: (1) Mengintegrasikan data pengukuran plot dengan data hasil analisis, (2) menghitung perubahan tutupan lahan, dan (3) menghitung dinamika perubahan tutupan carbon.

    Arifin HS, Wulandari C, Pramukanto Q, Kaswanto RL. 2009. Analisis Lanskap Agroforestry. Bogor: IPB Press.
    Asdak C. 2007. Hidrologi dan pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
    http://noerdblog.wordpress.com/2012/06/17/faktor-penyebab-utama-deforestasi-dan-degradasi-hutan/
    http://sahabatairsmanesa.wordpress.com/2012/07/18/apa-arti-deforestasi/
    Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P.14/Menhut-II/2012 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Rehabilitasi Hutan Dan Lahan Tahun 2012 Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Menteri Kehutanan Republik Indonesia,
    Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Presiden Republik Indonesia

  12. Roosna MO Adjam A451110021) Says:

    Quis 6
    • 1.Apakah Jasa Lanskap/ lingkungan? Jelaskan.
    Adalah jasa-jasa berharga yang diberikan lingkungan alam (secara biologi, fisik, dan ekologi) untuk menjamin keberlanjutan suatu kawasan yang ditinggali oleh manusia ataupun keberlangsungan kawasan secara keseluruhan. Banyak jasa lingkungan berharga yang disediakan oleh hutan sebagai lingkungan alami. Contohnya seperti, stabilisasi iklim, penangkapan dan penyimpanan karbon, perlindungan fungsi hidrologi, dan konservasi keanekaragaman hayati yang selama ini tidak pernah disadari oleh komponen masyarakat dan negara, akhirnya mendapatkan perhatian yang sangat berarti pada dekade terakhir karena terjadinya degradasi kualitas lingkungan.
    Kesadaran atas jasa lingkungan ini sangat penting untuk menghasilkan keuntungan ekonomi dengan adanya ekosistem yang sehat _hal yang semakin berkurang pada saat ini. Ketika permintaan kebutuhan manusia akan daya dukung lingkungan kawasan semakin meningkat, dan sumber daya alam semakin berkurang, maka kita harus mencari peluang untuk mengurangi resiko dan biaya, dengan menganggarkan biaya untuk konservasi hutan. Pada saat yang sama, beberapa pengelola dan pemilik hutan, misalnya kelompok petani gunung atau kelompok masyarakat lokal menginginkan kompensasi untuk biaya menjaga dan melestarikan hutan tersebut. Kelompok-kelompok seperti itu yang harus didukung untuk tetap dapat melakukan jasa lingkungan dengan cara membebaskan pajak dan memberikan imbalan atas jasa lingkungan yang telah dilakukan.

    • 2.Apakah pekarangan? Jelaskan.
    Adalah kebun rumah yang dimiliki secara pribadi, dengan suatu sistem yang terpadu, dengan hubungan yang sangat erat antara manusia, hewan dan tanaman.

    Taman/ kebun rumah ini (pekarangan) memiliki fungsi yang sangat banyak seperti sebagai konservasi sumber daya genetik, konservasi air dan tanah, konservasi biodiversitas, menghasilkan produksi tanaman pangan dan memiliki hubungan sosial budaya dalam area pedesaan.
    Pekarangan juga dapat berarti suatu penggunaan lahan yang optimal dan berkelanjutan dengan produktifitas tinggi pada wilayah/ kawasan tropis.
    Desain dan struktur pekarangan bergantung pada pengetahuan lokal dan ekologi penduduk dan masyarakat sekitarnya.
    Ukuran pekarangan adalah; Pekarangan kecil : 1000m.

    sekian dan terimakasih.

  13. Anggi Mardiyanto Says:

    Quiz
    Apa itu Agroforestri Lanskap?
    Agroforestri Lanskap adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang lanskap agroforestri. Agroforestri menurut Arifin et al (2009) merupakan bentuk sistem kegiatan atau praktik dalam mengelola sumber daya biologi dengan memanen energi matahari untuk menghasilkan suatu produk pertanian dalam arti luas (tanaman pangan, tanaman hortikultur, tanaman perkebunan, hingga peternakan, dan perikanan) dan produk yang dihasilakan dari tegakan pohon (termasuk produks kehutanan). Manfaat dan peluang agroforestry (Arnold, 1983) antara lain: (1) memelihara atau meningkatkan produktivitas tapak atau lahan melalui perbaikan siklus hara dan perlindungan tanah (erosi) dengan biaya yang relatif rendah, (2) meningkatkan nilai output/produk dari lahan melalui tumpangsari atau intercropping pohon dan tanaman pertanian dan makanan ternak dan sebagainya, (3) menganekaragamkan output/produk guna meningkatkan swasembada (pangan dan kayu), menekan resiko turunnya pendapatan karena pengaruh iklim, biologis dan pasar, (4) menyebarkan secara merata kebutuhan buruh/tenaga kerja sepanjang musim, (5) memproduktifkan lahan-lahan yang tidur/tidak terpakai, buruh dan modal, (6) menciptakan tabungan dan modal (capital stock).
    Arifin et al (2009) menjelaskan Agroforestri Lanskap (Landscape Agroforestry) merupakan hal keilmuan yang berkaitan dengan konsep dasar dan filosofi penting untuk memahami praktik kegiatan dalam lanskap agroforestri. Selanjutnya Arifin et al (2009) menyebut agroforestri lanskap sebagai suatu ilmu yang mengkaji sistem agroforestri lanskap. Agroforestri lanskap berbeda dengan kajian agroforestri seperti yang umum. Dalam hal ini agroforestri lanskap merupakan kajian praktik agroforestri pada skala lanskap. Arifin et al (2009) menerangkan kajian tersebut berkaitan dengan konsep-konsep yang terbangun dalam hubungannya dengan bidang studi sistem usaha tani, sistem agroforestri, agroekosistem, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), arsitektur lanskap, dan ekologi lanskap. Agroforestri lanskap berkaitan dengan analisis lanskap agroforestri yang dapat ditinjau dari skala, interaksi, dan polanya. Skala mulai dari skala mikro, meso, dan makro. Akan tetapi jika dianalisis dari segi objek dalam praktik agroforestri, maka skalanya dapat dimulai dari jasad renik dalam bentk mikroba, kemudian skala pada sistem perakaran tanaman, skala pada sistem objek dalam satu tanaman (pohon),objek tapak (site), petak lahan (plot), skala lahan (land), hingga skala bentang lahan (landscape). Skala tersebut yang membedakan dalam analisis adalah tingkat pengelolaanya. Semakin besar skala, semakin rumit pengelolaannya.
    Interaksi yang dikaji dalam analisis lanskap agroforestri dapat dianalisis dari bio-climatical zone, yaitu pada setiap kondisi biofisik tapak akan dipengaruhi oleh kondisi iklim setempat, yang pada akhirnya menentukan kesesuaian jenis vegetasi yang tumbuh pada kondisi iklim dan tapak tersebut. Pola-pola yang dikaji merupakan pola-pola suatu sistem yang diulang baik pada skala ruang (spatial) maupun waktu (temporal). Pola-pola yang dapat diulang dapat disebut sebagai pengetahuan. Dalam pengetahuan tersebut dapat dilihat kajian kaitan antar kegiatan. Agroforestri lanskap dapat dijadikan model untuk digunakan sebagai bentuk/pola pengelolaan ekosistem yang seimbang dan berkelanjutan.

    Apa itu Lanskap Agroforestri?
    Lanskap agroforestri merupakan suatu lanskap dimana terdapat tata guna lahan untuk agroforestri. Arifin et al (2009) menjelaskan lanskap agroforestri merupakan skala bentang alam (bisa menggunakan unit ekologis, yaitu DAS) yang digunakan untuk praktik agroforestri. Selanjutnya Arifin et al (2009) menjelaskan agroforestri pada skala lanskap merupakan praktik sistem kombinasi berbagai macam kegiatan dan penggunaannya secara kompleks untuk pertanian, kehutanan, peternakan, perikanan, permukiman hingga kegiatan jasa wisata, seperti agro wisata dan ekowisata pada unit ekologis daerah aliran sungai. Lanskap groforestri merupakan objek bentang alam yang dalam penggunaannya dimanfaatkan untuk kegiatan berpola agroforestri.
    Lanskap agroforestri berbasis DAS menurut Arifin et al (2009) bila direncanakan dengan seksama, maka sistem dan pola ini diharapkan akan memberi kontribusi dalam “mengatasi masalah pembangunan” dengan memberi manfaat sebagai berikut: (1) mengurangi laju perubahan tata guna lahan, (2) mengurangi degradasi lingkungan, (3) memelihara dan meningkatkan diversitas spesies, (4) mengurangi ketergantungan terhadap input produksi dari luar dalam memproduksi hasil pertanian (penerapan agroforestri di eco-village), (6) penerapan agrowisata membangun lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Lanskap agroforestri dapat menjadi media jasa lingkungan/lanskap (environmental/landscape services). Lanskap agroforestri dengan batas-batas unit daerah aliran sungai (DAS) merupakan kajian yang berbasis pada ekologi lanskap.
    Lanskap agroforestri juga dapat disebut sebagai suatu lanskap yang mempunyai dua atau lebih ekosistem. Terdapat dua praktik agroforestri, yaitu agrosilvopastura dan agrosilvofishery. Agrosilvopastura yaitu praktik agroforesti dengan mengkombinasikan praktik kehutanan, pertanian, dan peternakan. Sedangakan Agrosilvofishery adalah praktik agroforestri yang mengkombinasikan praktik pertanian, kehutanan, dan perikanan. Pada sistem agroforestri dikenal dua sistem agroforestri, yaitu sistem agroforestri sederhana (simple agroforestry) dan sistem agroforestri kompleks (complex agroforestry). Arifin et al (2009) menjelaskan kedua istilah tersebut sebagai berikut:
    1. Sistem Agroforestri Sederhana
    Sistem agroforestri sederhana merupakan perpaduan konvensional yang terdiri atas sejumlah kecil unsur (skema agroforestri klasik). Antara lain dengan menggunakan unsur pohon dengan peran ekonomi penting (kelapa, cengkeh, jati); unsur pohon dengan peran ekologi (dadap dan petai cina); unsur tanaman semusim (padi, jagung, sayur-mayur, empon-empon, rerumputan); tanaman lain dengan nilai ekonomi (pisang, kopi, cokelat, dll). Tumpangsari merupakan bentuk agroforestri sederhana yang paling sering dibahas. Tumpangsari merupakan sistem taungnya versi Indonesia. Sistem ini dikembangkan dalam program perhutanan sosial PT Perhutani.
    2. Sistem Agroforestri Kompleks
    Sistem agroforestri kompleks merupakan sistem-sistem yang terdiri dari sejumlah besar unsur pepohonan, perdu, liana, herba, tanaman semusim, dan juga rumput. Oleh karena itu penampilan fisik dan dinamika di dalamnya mirip dengan ekosistem hutan alam primer maupun sekunder. Keunggulan sistem ini adalah kemampuan perlindungan dan pemanfaatan sumber daya air dan tanah; serta mempertahankan keragaman bilologi. Contoh praktik agroforestri kompleks adalah pekarangan (home garden), kebun campuran (mixed garden) dan kebun talun (forest gardens).

    Apa itu DAS?
    Daerah aliran sungai (DAS) mempunyai beberapa istilah, yaitu watershed, river basin, water drainage, dan water catchment. Menurut Arifin et al. (2009) DAS disebut juga sebagai daerah tangkapan air, yaitu:
    a. Bagian dari muka bumi, yang airnya mengalir ke dalam sungai bersangkutan, apabila jatuh hujan;
    b. Rangkaian punggung gunung atau bagian-bagian yang tertinggi saja dari drainage area tersebut;
    c. Sebuah pulau selamanya terbagi habis ke dalam daerah-daerah aliran sungai.
    DAS merupakan suatu batas ekologis suatu wilayah (ecological boundaries). Suatu wilayah atau region akan habis dibagi oleh DAS. DAS merupakan suatu wilayah yang dapat disebut sebagai ecological regional atau bio-regional, yaitu wilayah yang dilihat dari faktor edaphic dan climatic. Edaphic merupakan faktor biofisik (vegetasi, satwa, tanah, air, dan udara). Climatic merupakan faktor iklim (suhu, kelembaban, intensitas cahaya). DAS biasanya terbagi ke dalam tiga zona berdasarkan agroklimat, yaitu: daerah hulu (the upper stream), dearah tengah (the middle stream), dan daerah hilir (the down stream). Pada ketiga zona tersebut terdapat perbedaan karakater dari lanskapnya. Perbedaan tersebut tampak jelas pada vegetasi dan satwa yang hidup di masing-masing zona tersebut. Pada bagian hulu, dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat tradisional yang relatif homogen serta relatif jauh dari pengaruh urbanisasi, akan ditemui karakter lanskap perkampungan/perdesaan. Semakin ke hilir pada umunya semakin kuat pengaruh urbanisasi.
    Berikut contoh kondisi DAS Serayu di Jawa Tengah menurut Munir (2009) adalah sebagai berikut:
    Sungai Serayu merupakan salah satu sungai terbesar di Pulau Jawa terletak di bagian tengah pulau. Sungai Serayu melintasi beberapa kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang melalui Kabupaten Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap. Sungai Serayu dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada wilayah Kabupaten Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap. Daerah Aliran Sungai Serayu pada saat ini telah mengalami kerusakan dan pencemaran lingkungan yang mengakibatkan menurunnya kualitas Air Sungai Serayu.
    Daerah tangkapan sungai tersebut sebesar 4375 km2 dan sungai utama memiliki panjang 180 km dengan 11 anak sungainya. Sungai berasal dari lereng barat laut Gunung Prahu dan mengalir keluar ke Samudera Hindia. Sedangkan kompleks Gunung Slamet terletak di tengah-tengah daearh aliran sungai. Beberapa pegunungan, termasuk Sumbing dan Sundoro di sebelah timur, Walirang di utara, dan serangkaian perbukitan rendah di sepanjang bagian selatan mengelilingi daerah aliran sungai serayu yang merupakan rangkaian pegunungan selatan.
    DAS Serayu dibagi ke dalam 16 segmen menurut Pemerintah Priopinsi Jawa Tengah. Dengan pembagian tiga segmen berdasarkan hulu, tengah, dan hilir dengan hulu mempunyai ketinggian di atas 1000 mdpl, tengah 500-1000 mdpl, dan hilir 0-500 mdpl.
    Bagian hulu merupakan daerah pegunungan dengan relief bergelombang dan curam, bagian ini meliputi kecamatan, yaitu: Kalibening, Pandanarum, Wanayasa, Karangkobar, Pagentan, Pejawaran, Batur, Madukara dan Banjarmangu. Lebih dari 30% dari daerah ini pada kemiringan 40 derajat atau lebih dan hujan 2,000-3,000 mm per tahun. Dengan lereng-lereng curam tanah ini terkunci kabupaten Wonosobo dapat dianggap sebagai lingkungan area kritis untuk erosi dan tanah longsor. Bagian tengah merupakan daerah yang relatif datar, merupakan lembah sungai Serayu yang subur, bagian wilayah ini meliputi kecamatan: Banjarnegara (sebagian) dan Purbalingga. Bagian hilir meliputi daerah Banyumas dan Cilacap.

    Bagaimana Peran dari Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Penginderaan Jauh (Remote Sensing) untuk Rapid Hydrological Apraisal (RHA) dan Rapid Carbon Stock Assessment (RaCSA) pada AFLA?
    Sistem informasi geografis merupakan seperangkat sistem komputer yang berfungsi untuk mengumpulkan, menyimpan, memanggil, menganilisis, dan menampilkan data geografis (Chang, 2002). Sistem ini dipadukan dengan analisis secara statistika dan penginderaan jauh sangat powerfull dalam analisis spasial. RHA merupakan metode yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan gambaran mengenai kesenjangan pemahaman yang mungkin ada diantara para pemangku kepentingan daerah aliran sungai (DAS), yakni komunitas lokal, pembuat kebijakan dan kalangan peneliti atau ilmuwan, sebelum kita melakukan kegiatan pengembangan mekanisme jasa lingkungan (Arifin et al, 2009). Kegunaan praktis RHA adalah dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai kriteria dan indikator dari fungsi hidrologis suatu DAS. Tujuan analasis RaCSA adalah untuk menyediakan penilaian yang hemat biaya dan waktu, namun memiliki kemampuan:
    1. menyediakan data tentang karbon terseimpan dalam suatu lanskap, sejarah perubahannya dan dampak perubahan lahan yang sedang berjalan terhdap prakiraan emisi, dengan atau tanpa intervensi spesifik untuk mempertahankan karbon tersimpan,
    2. mengidentifikasi isu-isu utama yang dapat memberikan solusi kepada masyarakat lokal berupa karbon tersimpan dan kehidupan masyarakat serta terbukanya kesempatan untuk menuju pembangunan berkelanjutan, dan
    3. meningkatkan pemahaman bersama diantara para pihak sebagai langkah menuju lingkungan yang berkelanjutan untuk meningkatkan atau mempertahankan karbon tersimpan.
    SIG dan Remote Sensing (RS) menyediakan data dan informasi spasial yang akan digunakan untuk RHA dan RaCSA berupa data yang berkaitan dengan kondisi fisik bentang lahan. Kebutuhan data pada RHA dan RaCSA berbeda karena RHA melihat secara holistik sedangkan RaCSA melihat dari skala tapak saja. Jenis data spasial yang didapat dari SIG dan RS adalah sebagai berikut:
    1. RHA
    Tutupan/penggunaan lahan, elevasi, drainase (jaringan sungai), cakupan DAS, dan biofisik tanah.
    2. RaCSA
    Tutupan/penggunaan lahan dan dinamika tutupan lahan

    A. Analisis Spasial untuk RHA
    Data RHA yang telah diolah dengan GenRiver perlu diolah lebih lanjut secara spasial dengan menggunakan ILWISS atau perangkat analisis citra lainnya untuk mengkonfirmasi proses spasial yang telah terjadi selama beberapa periode yang lalu. Proses analisis spasial dalam RHA dilakukan untuk beberpa hal sebagai berikut:
    1. Memahami konfigurasi DAS
    a. Data jaringan sungai
    b. Batas DAS utama
    c. Batas subcatchment dari DAS utama
    2. Mengintegrasikan data penutupan lahan dengan DAS
    a. Komposisi tutupan lahan di dalam DAS
    b. Perubahan lahan di dalam DAS

    Analisis Penutupan Lahan dalam RHA
    Analisis penutupan lahan dilakukan secara bertahap mulai dari menentukan peta hasil klasifikasi hingga penggunaan metode hidrologi dengan model GenRiver Stella. Proses pengklasifikasian penutupan lahan dilakukan dengan tujuh tahapan, yakni (1) Persiapan citra satelit, (2) koreksi geometrik, (3) kalsifikasi citra satelit sementara, (4) peta tutupan lahan, (5) pendugaan ketepatan akurasi, (6) penerimaan pendugaan dan (7) peta hasil klasifikasi (output akhir). Pada tahapan kelima, pendugaan ketepatan akurasi perlu dilakukan berulang kali untuk mendapatkan hasil yang persis sesuai kondisi riil di lapangan dengan ketepatan yang tinggi. Akurasi dengan ketepatan tinggi ini dapat diperoleh melalui pengambilan contoh di lapangan dipadukan dengan informasi spektral yang dimiliki citra tersebut.

    Dilineasi Batas DAS dan sub-DAS
    Delineasi DAS utama dan sub-DAS diperoleh melalui analisis spasial dari digital elevation model (DEM) dengan menyamkan arah aliran dari setiap sungai. Proses ini dilakukan secara bertahap dan bertingkat.

    B. Analisis Spasial untuk RaCSA
    Analisis spasial dalam pendekatan RaCSA dimulai dengan menyusun tiga proses di bawah ini:
    1. Mengintegrasikan data pengukuran plot dengan data hasil analisis
    2. Menghitung perubahan tutupan lahan
    3. Menghitung dinamika perubahan cadangan karbon.
    Ketiga proses di atas merupakan tahapan scaling up dalam perspektif ekologi lanskap. Artinya, dengan mengetahui kandungan karbon pada skala plot atau skala pohon maka kita dapat mengestimasi kandungan karbon pada skala yang lebih luas, mulai dari skala tapak atau tata guna lahan hingga skala kawasan dalam satu daerah aliran sungai. Proses ini diawali dengan menyatukan atau mengintegrasikan data perhitungan karbon pada setiap plot dari setiap tata guna lahan dengan data hasil analisis.
    Pada pengukuran jumlah karbon tersimpan di tingkat global ataupun kawasan dibutuhkan beberapa informasi karbon tersimpan di tingkat lahan (plot), yaitu:
    (1) Banyaknya karbon tersimpan (kuantitatif) yang ada saat ini, baik di atas maupun di dalam tanah, yang dapat mewakili salah satu sistem penutupan lahan sebagai bagian dari suatu sistem penggunaan lahan.
    (2) Banyaknya karbon tersimpan rata-rata per siklus tanam (time-averaged C stock) dari setiap sistem penggunaan lahan.
    Dari kedua macam data pengukuran tersebut, maka dapat dilakukan ekstrapolasi besarnya C tersimpan di tingkat kawasan ataupun global (Hairiah dan Rahayu, 2007).

    Analisis Penutupan Lahan dalam RaCSA
    Semua data biomassa dan nekromasa per satuan penggunaan lahan dimasukan ke dalam tabel yang merupakan estimasi akhir jumlah C tersimpan per lahan. Konsentrasi C dalam bahan organik biasanya sekitar 46%, oleh karena itu estimasi jumlah C tersimpan per komponen dapat dihitung dengan mengalikan total berat masanya dengan konsentrasi C, sebagai berikut:
    Perhitungan Cadangan Karbon Tersimpan
    Perhitungan cadangan karbon tersimpan (Hairiah dan Rahayu, 2007), dapat dilakukan dengan vegetasi yang ada di hutan alami berbeda dari satu tempat dengan tempat yang lain. Besarnya penyimpanan C berkisar antara 20 hingga 400Mg ha-1 tergantung pada jenis dan komposisi ekosistem hutan, letak geografis, tanah, dan iklimnya. Pengelolaan hutan juga menentukan penyimpanan C dan perubahannya dari waktu ke waktu yang disebabkan oleh pertumbuhan dan gangguan termasuk hama penyakit dan kebakaran. Besarnya rata-rata penyimpanan C pada suatu sistem penggunaan lahan tergantung pada tingkat akumulasi C pada berbagai fase dalam satu siklus, dan juga tergantung pada waktu yang dibutuhkan per fase.

    Apa Yang Dimaksud Jasa Lanskap?
    Jasa lanskap identik dengan jasa lingkungan dan jasa ekosistem, yaitu layanan yang diberikan oleh suatu lanskap. Menurut ESCAP (2009), jasa lingkungan/lanskap ialah manfaat yang diperoleh masyarakat dari hubungan timbal-balik yang dinamis yang terjadi di dalam lingkungan hidup, antara tumbuhan, binatang, dan jasa renik dan lingkungan non-hayati. Jasa lingkungan menurut ESCAP (2009), meliputi:
    1. Jasa penyediaan: pangan, air tawar, bahan bakar, dan serat;
    2. Jasa pengaturan: pengaturan iklim, pengaturan banjir, penjernihan air, dan pengaturan penyakit;
    3. Jasa penunjang: pendauran hara, pembentukan tanah, dan produksi primer;
    4. Jasa budaya: keindahan, rohani, pendidikan, dan hiburan.
    Arifin et al. (2009) menerangkan bahwa jasa lingkungan/lanskap terdiri dari empat macam, antara lain:
    1. Konservasi keragaman jenis biologi (Biodiversity Conservation);
    2. Penurunan Carbon (Carbon Sequestration);
    3. Pengelolaan sumber daya air (Water Resources Management);
    4. Keindahan lanskap (Landscape Beauty) yang dapat dimanfaatkan bagi ecotourism.
    Jasa lanskap dapat pula dijelaskan melalui pendekatan spatio-temporal. Aspek spatio-temporal menurut Arifin et al. (2009), meliputi:
    1. Ruang: elemen tanah, distribusi tanaman dan pohon;
    2. Waktu: musiman, seri waktu (perubahan tata guna lahan);
    3. Aliran: pergerakan tanah dan deposit, aliran air permukaan dan di bawah tanah, informasi dan penyuluhan, berbagai pengetahuan;
    4. Keputusan: pengambilan keputusan.
    Pembayaran (payment) jasa lanskap menurut ESCAPE (2009) adalah transaksi sukarela untuk jasa lingkungan/lanskap yang telah didefinisikan secara jelas (atau penggunaan lahan yang dapat menjamin jasa tersebut), dibeli oleh sedikit-dikitnya seorang pembeli jasa lingkungan dari sedikit-dikitnya seorang penyedia jasa lingkungan, jika dan hanya jika penyedia jasa lingkungan tersebut memenuhi persyaratan dalam perjanjian dan menjamin penyediaan jasa lingkungan”.
    Emil Salim dalam ICRAF dalam laporan lokarya nasional ICRAF tahun 2005 menggambarkan bahwa mekanisme ini merupakan bertemunya ekuilibrium atau keseimbangan antara ‘kesediaan menerima imbalan – willingness to accept’ penyedia jasa lingkungan dengan ‘kemampuan membayar imbalan– willingness to pay’ pemanfaat jasa lingkungan.

    Apa Yang Dimaksud dengan Pekarangan?
    Pekarangan merupakan Indonesian Home Garden. Pekarangan merupakan salah satu bentuk praktik agroforestri kompleks yang biasanya terdapat lebih dari 5 jenis spesies. Di dalam pekarangan terdapat interaksi antara manusia, hewan, dan tanaman.. Vegetasi yang terdapat di pekarangan warga bermacam-macam, yaitu tanaman buah-buahan, tanaman hias, sayur-sayuran, tanaman kayu-kayuan, tanaman obat, tanaman bumbu, starchy, tanaman industi, dan sebagainya. Pekarangan merupakan halaman rumah baik samping, depan, ataupun belakang rumah.
    Pekarangan memberikan jasa berupa ruang sosial, yaitu tempat bermain anak dan bercengkrama antar sesama warga, penangkapan karbon, penangkapan energi, suplai oksigen dan pangan serta beberapa yang lain. Pada masyarakat pedesaan pekarangan juga dimanfaatkan sebagai sarana untuk menjemur hasil panen, seperti kacang tanah, kedelai, kacang hijau, dan padi. Dengan vertival diversity yaitu keragaman vertikal yang bervariasi maka pekarangan memberikan jasa penangkapan karbon dan penangkapan energi yang baik. Arifin (1998) dalam Arifin et al (2012) memberikan definisi pekarangan sebagai suatu sistem agroforestri yang kompleks yang kaya akan spesies. Pada pekarangan juga terdapat sistem perpaduan usaha tani, kehutanan, perikanan, dan peternakan. Di dalam pekarangan sering dijumpai adanya kolam ikan (agrosilvofishery) dan kandang ternak (agrosilvopastural) (Arifin et al, 2012). Arifin et al (2012) menyebutkan pekarangan sebagai suatu fenomena penggunaan lahan yang mempunyai konsep dinamis. Selanjutnya Arifin et al (2012) menerangkan pekarangan dan rumah secara struktur dan fungsi merefleksikan dinamika populasi, pengembangan teknologi, memumnculkan kebijakan lahan, fungsi institusional, budaya, dan sistem pewarisan lahan.
    Penelitian yang dilakukan Mardiyanto (2009) di Dusun Teluk Waru, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat menyebutkan vegetasi yang ditemui pada pekarangan warga diantanya adalah tanaman hias, sayur-sayuran, musiman, bumbu-bumbuan, industri, dan kayu-kayuan. Berikut merupakan jenis tanaman di pekarangan warga Dusun Teluk Waru
    A. Tanaman Buah-Buahan
    No. Nama Lokal Nama Latin
    1 Alpukat Persea americana
    2 Aren Arenga pinnata
    3 Belimbing Averrhoa carambola
    4 Cengkeh Eugenia aromatica
    5 Duku Lansium domesticum
    6 Durian Durio zibethinus
    7 Jambu air Syzygium semarangens
    8 Jambu biji Psidium pumilum
    9 Jengkol Pithecelobium jiringa
    10 Jeruk Citrus sp.
    11 Jeruk nipis Citrus lemon
    12 Kakao Thebroma cacao
    13 Kedondong Spondia spinnota
    14 Kelapa Cocos nucifera
    15 Kopi Coffea robusta
    16 Mangga Mangifera indica
    17 Manggis Garcinia mangostama
    18 Markisa Passiflora edulis
    19 Melinjo Gnetum gnemon
    20 Nanas Ananas comosus
    21 Nangka Artocarpus heterophyllus
    22 Pepaya Carica papaya
    23 Petai Parkia speciosa
    24 Pinang Areca catechu
    25 Pisang Musa spp.
    26 Rambutan Nephelium lappaceum
    27 Salak Salacca edulis
    28 Sirsak Annona muricata
    B. Tanaman Bumbu-Bumbuan
    No. Nama Lokal Nama Latin
    1 Kemangi Ocimum basilicum
    2 Lada Piper nigrum
    3 Lengkuas Languas galanga
    4 Pandan wangi Pandanus amaryllfolium
    5 Serai wangi Cymbopogon citratus
    C. Tanaman Hias
    No. Nama Lokal Nama Latin
    1 Adam hawa Rhoeo discolor
    2 Aglonema Aglonema sp.
    3 Bambu pagar Bambusa multiplex
    4 Bayam-bayaman Coleus sp. Salmon Lace
    5 Beras tumpah Aglonema sp.
    6 Beringin Ficus benjamina
    7 Bunga kertas Zinia elegan
    8 Bunga matahari Helianthus anuus
    9 Bunga pukul empat Zypherantus rosea
    10 Bunga sepatu Hibiscus rosa sinensis
    11 Cemara kipas Casuarina equisetifolia
    12 Daun beludru Episcia cupreata
    13 Drasaena hijau Dracaena fragrans
    14 Drasena Dracaena reflexa Variegata
    15 Enceng gondok Eichornia crassipes
    16 Euphorbia Eiphorbia milii
    17 Hanjuang hijau Dracaena fragrans
    18 Hanjuang merah Cordyline terminalis
    19 Kacapiring Gardenia jasminoides
    20 Kaki laba-laba Osmoxylum lineare
    21 Kaktus Opuntia spp.
    22 Kana Canna sp.
    23 Kastuba Euphorbia pulcherrima
    24 Kecapi Sandoricum kcetjapie
    25 Keladi-keladian Caladium bicolor
    26 Krokot Althernantera ficoides
    27 Kucai Carex marrowi
    28 Kuping gajah Anthurium crystallinum
    29 Lidah buaya Aloe vera
    30 Lidah mertua Sansevieria trifasciata
    31 Lili paris Chlorophytum comosum
    32 Lolipop Pachystachys lutea
    33 Marantha Marantha leuconeura Kerchoviana
    34 Melati costa Brunfelsia calycina Benth.
    35 Mona lavender Salvia splendens
    36 Paku sarang burung Asplenium nidus
    37 Paku tanduk rusa Platycerium bifurcatum
    38 Palem raja Roystonea regia
    39 Palem weregu Rhapis excelsa
    40 Palisota Palisota barteri
    41 Pandan pohon Pandanus tectorius
    42 Pandanus amaryllifolius Roxh. Pandanus amaryllifolius Roxh.
    43 Pangkas kuning Duranta sp.
    44 Peace lily Spathiphyllum wallisii
    45 Puring Codiaeum sp. Golden finger
    46 Puring Codiaeum variegatum
    47 Sambang colok Aerva sanguinolenta
    48 Serunai rambat Widelia biflora
    49 Simbang darah Iresine herbstii Aureoreticulata
    50 Sutra bombay Portulaca grandiflora
    51 Teh-tehan Acalypha macrophylla
    52 Walisongo Schlefflera arboricola Samoa snow
    53 Yellow walking Neomarica longifolia
    D. Tanaman Industri
    No. Nama Lokal Nama Latin
    1 Bambu Gigantochloa verticillata
    2 Pandanus amaryllifolius Roxh. Pandanus amaryllifolius Roxh.
    E. Tanaman Kayu-kayuan
    No. Nama Lokal Nama Latin
    1 Afrika Maesopsis eminii Engl.
    2 Jati Tectona grandis
    3 Mahoni Swietenia mahagoni
    4 Meranti Shorea sp.
    5 Mindi Melia azedarach
    6 Sengon Paraserianthes falcateria L. Nielsen
    F. Tanaman Obat-Obat
    No. Nama Lokal Nama Latin
    1 Jahe Zingiber officinale
    2 Kunyit Curcuma domestica
    G. Tanaman Palawija
    No. Nama Lokal Nama Latin
    1 Jagung Zea mays
    2 Kacang Merah Vigna umbellata
    3 Kacang Tanah Arachis hypogaea
    4 Singkong Manihot utilissima Pohl.
    5 Talas Colocasia esculenta
    6 Tebu Saccharum officinale
    7 Ubi jalar Ipomoea batatas
    H. Tanaman Sayur-Sayuran
    No. Nama Lokal Nama Latin
    1 Cabai merah Capsicum annum
    2 Cabe rawit Capsicum frutescens
    3 Kacang panjang Vigna sinensis
    4 Katuk Sauropus androginus
    5 Labu siam Sechium edule
    6 Suji Pleomele angustifolia
    7 Terong Solanum melongenae
    8 Tomat Lycopersicon esculentum
    Selain vegetasi tersebut ditemukan juga satwa satwa peliharaan di pekarangan warga Dusun Teluk Waru berupa hewan ternak yang berfungsi untuk konsumsi ataupun produksi, meliputi ayam ras, ayam buras, itik, kambing, kerbau, ikan nila, ikan lele, ikan mas, dan ikan gurami. Satwa lain yang ditemukan sebagai ornamental adalah burung beo, burung pented, dan anjing.

    Terima Kasih

  14. F e m y (A451110141) Says:

    a. Apa Yang Dimaksud Jasa Lanskap?

    Menurut, Arifin,H.S. dkk. (2009) dalam Analisis Lanskap Agroforestri

    Secara ekologis agroforestri dapat berperan dalam jasa ekosistem (jasa lingkungan) yang meliputi konservasi keragaman jenis hayati, manajemen sumber daya air, penurunan karbon diudara, serta menjaga keindahan lanskap.

    1. Keragaman jenis pada komoditi pertanian, komoditas tegakan pohon hutan (tanaman keras), perdu, semak, herba, liana hingga rerumputan, hal ini berarti dapat mengkonservasi keragaman hayati bukan hanya flora tetapi juga faunanya.

    2. Dengan adanya keragaman jenis tumbuhan secara horizontal (spesies) dan keragaman secara vertical (stratifikasi tinggi tanaman) dalam sistem agroforesti dapat menjamin pengelolaan sumber daya air yang lebih baik dari hulu ke hilir. Sehingga dapat mengatasi kekeringan dimusim kemarau dan tidak banjir pada saat hujan, tetapi bukan itu saja terjadi pengelolaan secara harmonis antara wilayah hulu dan hilir maka jaminan ketersediaan air minum di wilayah hilir dapat dijamin dari keberlanjutan agroforestri diwilayah atasnya.

    3. Sehingga secara umum makin luas ruang terbuka hijau, semakin berpotensi untuk menurunkan jumlah carbon diudara dan menyimpannya dalam masa tumbuhan (daun, bunga, buah , cabang, hingga akar) termasuk disimpam dalam tanah. Dengan demikian praktek agroforesti dapat berkontribusi dalam mengatasi isu global warming karena RTH berperan dalam amelorasi suhu udara.

    4. Tidak kalah penting keindahan agroforestri dapat berpotensi untuk dijadikan objek wisata agrowisata maupun ekowisata.

    b. Apa Yang Dimaksud dengan Pekarangan?

    Yaitu : tanah sekitar rumah, atau halaman rumah.

    Menurut Soemarwoto (1975) yang melihatnya suatu ekosistem :
    Pekarangan adalah sebidang tanah darat yang terletak langsung disekitar rumah tinggal dan jelas batas-batasnya,ditanami dengan satu atau berbagai jenis tanaman dan masih mempunyai hubungan pemilikan dan/atau fungsional dengan rumah yang bersangkutan. Hubungan fungsional yang dimaksud meliputi hubungan sosial budaya, ekonomi dan hubungan biofisika.

    1. Fungsi hubungan sosial budaya
    Pada masyarakat perkotaan pekarangan hanya digunakan untuk tanaman hias dan diberi tembok pagar atau besi. Sebaliknya di desa pekarangan tidak berpagar sama sekali atau kalaupun berpagar masih ada bagian yang terbuka atau diberi pintu agar dapat dibuka oleh siapapun untuk leluasa bagi masyarakat keluar masuk pekarannya. Ataupun mempunyai fungsi sebagai jalan umum antar tetangga, antar kampung.
    Kalau di Jawa pekarangan disebut pelataran atau “buruan” (sunda) yang dapat dipergunakan sebagai tempat bermain anak-anak sekampung.
    2. Hubungan Ekonomi
    Ada 4 fungsi pokok dari pekarangan :
    1. Sebagai sumber bahan makanan
    – Tanaman karbohidrat (ubi kayu, ganyong, uwi, gembolo tales, garut,dll
    – Tanaman sayuran ( mlinjo, koro, nangka pete, dll)
    – Buah-buahan (pepaya, salak, mangga, jeruk, duku, jambu, dll)
    2. Sebagai penghasil tanaman perdagangan
    – Kelapa, cengkeh, rambutan, dll
    3. Sebagai penghasil tanaman rempah-rempah atau obat-obatan
    -Jahe, laos, kunir, kencur ,dll
    4. Sebagai sumber berbagai macam kayu-kayuan
    – Kayu bakar (munggur, Mahoni, lamtoro
    – Bahan bangunan (Jati, sono, bamboo, wadang)
    – Bahan kerajinan (bamboo, pandan, dll)
    Jadi kesimpulannya pekarangan dapat dipandang sebagai “lumbung hidup” yang diperlukan untuk mengatasi paceklik, dan sekaligus merupakan pangkalan induk apabila usahatani disawah atau tegalan mengalami kegalalan panen akibat serangan hama atau penyakit, banjir, kekeringan dan bencana alam.

    3. Fungsi hubungan Biofisika

    Dalam teori adat Jawa, disebutkan bahwa sesuatu yang ada dan yang hidup pada pokoknya satu dan tunggal. Justru pola pengusahaan pekarangan seperti itulah ternyata yang secara alamiah diakui sebagai persyaratan demi berlangsungnya proses daur ulang secara natural yang paling efektif dan efisien, sehingga pada kehidupan masyarakat desa tidak mengenal zat buangan, yang merupana sumberdaya yang dipergunakan dalam proses berikutnya.
    Contoh : segala macam sampah dan kotoran ternak dikumpulkan menjadi kompos untuk pupuk tanaman. Sisa-sisa makanan dan kotoran ternak dibuang ke kolam untuk makanan ikan. Ikan dan hasil tanaman (daun, bunga ataupun buahnya) dimakan manusia. Begitu seterusnya tanpa berhenti dan berulang ulang

  15. Janiarto Paradise Pawa Says:

    Rapid Hydrological Appraisal (RHA) is a tool that aims to provide such clarity, providing answer on
    (i) how the watershed function is provided,
    (ii) who could be responsible for providing this service,
    (iii) how watershed function is being impacted upon at present, and (iv) how rewards can be channeled to effectively enhance or at least maintain the function. RHA can help to bridge the gaps of knowledge that may exist between the various watershed stakeholders. This approach hopefully lead to a situation where all knowledge systems are integrated and linked.

    The approach is based on the following activities that can be carried out in less than 6 months:
    (1) land cover/land use change analysis,
    (2) exploration of stakeholders’ local knowledge (LEK) and expectations on hydrological functions, water movement and consequences of land use options on the landscape,
    (3) exploration of public and policymakers local knowledge (PEK) and expectations on hydrological functions, water movement and consequences of land use options on the landscape,
    (4) compilation and analysis of existing hydrological data and modeling (e.g. using GenRiver) the water balance for the watershed including scenario analysis of plausible land cover change and its likely
    impact on watershed functions.

    The first step of the activities is land cover/ land use analysis, this step in where we can use GIS approach to do RHA. Land cover/ land use analysis have some sub-steps like following activities:

    Step 1 – Geospatial extent and definition:Using inhouse topographic maps (photocopies and originals), the spatial framework analysis and administrative framework analysis of figure 11 are the first steps in the rapid scoping assessment of the work area. Spatial framework assessment analysis first targets the river-basin and lake-basin boundaries (at 1:250 000 scale) to define the level-2 RHA macro-study area, then analyses the specific target subcatchment boundaries (at 1:50 000 scale), to define the level-1 sub-catchment detailed focus of the RHA study. This then allows the definition of the map scales and sheet coverage for follow-up base map and thematic map acquisition these are the best available topographic base maps for the sub-catchment (ideally 1:50 000) and the most practical scale available for field use for the river basin (ideally 1:250 000).

    Step 2 – Geospatial data collection / map acquisition
    Acquisition and purchase (from various agencies and institutions) of targeted spatial data (maps and digital), and analysis of these data is conducted concurrently with the survey work of other members of RHAteam in the field:
    • topographic maps (for focus sub-catchment and total river basin);
    • relevant boundaries (primarily administrative, soils, geology; secondarily land systems, land-development zones);
    • Digital elevation model and the features derived from it;
    • land cover / land use (primarily current; secondarily past);
    • satellite image coverage (2-year-old Landsat 7, preferred because they are cheaper than more recent images).

    Step 3- Geospatial data processing and outputs:
    focuses on four streams of data processing: Map digitizing (administrative boundaries, soils and geology). Map finalization and GIS development (base map, catchment and river-basin boundaries, administrative boundaries, soils and geology).
    Digital Elevation Model processing (DEM-SRTM): Acquisition and processing (DEM editing and reliability check); hydrological feature extraction (sub-catchment boundaries and drainage lines and features); river routing distance extraction (measuring total length of rivers and tributaries) via GIS processing for GenRiver model data inputs (that is, sub-catchment derivation, distance to outlets, etc.). Land-use / land-cover mapping: Satellite-image acquisition (Landsat 7, two scenes); image pre-processing and geometric correction; land-cover map production (image classification), as necessary if up-todate land-cover maps are unavailable and maps have to be produced from raw image; fieldwork preparation; ground-truthing field survey; accuracy assessment of image classification; land-cover information extraction for input to GenRiver water-balance model.

    RaCSA goal is to provide cost-effective assessment and time (within 6 months), but is able to:
    • Provide reliable data on carbon stocks in a landscape defined,
    • historical changes and the impact of ongoing land use change on emissions forecasts, the or without specific interventions to maintain the carbon stored.
    • Identify key issues that can provide a middle ground to local communities in the form of carbon stored and community life as well as opening up opportunities for sustainable development
    • Increasing mutual understanding between the parties as a step towards the Free and Prior Informed Consent (FPIC) to improve or maintain the carbon stored.
    Remote sensing approaches are an effective way to monitor landscape changes over time. By integrating the changes in vegetation cover with carbon stocks measurements at plot level, changes in carbon stocks at a landscape level can be estimated. Two methods used for such studies: (i) approaches that relate quantitative pixel-level information to carbon stocks as a basis for spatial extrapolation, and (ii) approaches that first classify the land cover according to land use units and then convert to carbon stocks on the basis of properties of the land use units.

    The role of GIS and Remote sensing in RacSA is in step of making Plot-level C data in representative land cover units and; integrating from plot to time-averaged C stock of land use types; an updated version of the ASB Cstock protocol provides the tree and soil level data. This step objective is to assess the performance of existing land use systems as carbon sinks and/or preserving carbon stocks.
    At the next step, we combining remote sensing imagery and ground-truthing data within a sufficiently sensitive ‘legend’ to provide spatial analysis of land cover change. This step obejctive is to estimate carbon stocks of the main land use practices at plot level as well as their integration at landscape level.
    In short term, GIS is the important system to manage and analys spacial data for RHA and RaCSA in agroforestry landscape analysis. With GIS, the reasearcher can do satellite-image acquisition, processing, and classification to produce ‘updated’ land use mapping after ground thruting. Remote sensing act as the information source of spacial data which we can analys with GIS.

    Source:
    Arifin HS, Wulandari C, Pramukanto Q, Kaswanto RL. 2009. Analisis Lanskap Agroforestry. Bogor: IPB Press.
    World Agroforestry Centre. _______. Rapid Carbon Stocks Appraisal. Bogor: World Agroforestry Centre.

    Environmental/ Landscape services
    Environmental service as a positive benefit that people obtain from the environment or ecosystems. These include provisioning services such as food and water; regulating services such as regulation of floods, drought, land degradation, and disease; supporting services such as soil formation and,nutrient cycling; and cultural services such as recreational, spiritual, religious and other nonmaterial benefit”.
    The environmental services of good forest management, for example, are usually categorized into watershed protection, biodiversity conservation, atmospheric regulation (including greenhouse gas mitigation), and landscape beauty.

    According to World Agroforestry Centre, environmental services is the provision , settings, advocates a natural process, and the preservation of cultural values
    by a succession of natural and human-beneficial for the sustainability of life. Four types of environment is services recognized by the global community:
    water system of environmental services, environmental services diversity biodiversity, carbon sequestration environmental services, and services the beauty of the landscape.
    Environmental services provider is (a) individual, (b) community groups;
    (c) ssociation, (d) loss business, (e) government, (f) the central government, who manage the land that produces environmental services and have permits on the land title from the authorities.
    Beneficiaries of environmental services is (a) an individual; (b) the community,
    (c) association, (d) loss business, (e) government, (f) the central government,
    who have any kind of business that utilizes the potential of environmental services with no damage to the environment and do not reduce the principal function. beneficiary servicese outside the legal jurisdiction of Indonesia subject to laws and regulations.

    Pekarangan
    Pekarangan is one type of agroforestry in Indonesia, pekarangan is also a mixed farms but most were around the house on the position of the front, rear, right side or left side depending on the availability of acreage and usually accompanied by clearly yag guardrail. This condition clearly distinguishes between mixed garden and pekarangan, besides the function of the mixed garden and pekarangan is little difference, mixed farms generally functioned for the purpose of productivity while the pekarangan besides having productivity function also has the function to the beauty and comfort of living. Extensive grounds are very diverse, according to Arifin et al. (2006) extensive grounds can be classified into four classes, namely: narrow yard 1,000 m2.
    The “pekarangans” are designed for increasing healthy food production on householder scale in order to gain food security, food safety, and additional income. It’s noted the pekarangan average size c.a. 400 square meter. As agroforestry practical system some commodities are cultivated in these pekarangans are fruit plants, starchy crops, medicinal plants, spicy crops, industrial plants, vegetable crops, ornamental plants, and miscellaneous e.g. trees for fuel wood, hedging, shading, Nitrogen fixation, forages, etc. Almost in each pekarangan, the householder also has been practicing agrosilvofishery with provide fishpond, and agrosilvopasture with nursing some poultry and cattle.

  16. Arkham HS, A451110111, S2 ARL Says:

    1. Apa yang disebut dengan jasa lingkungan?
    Dari lingkungan alam, kita dapat memperoleh dua bentuk komoditas, yaitu:
    1. Berbentuk barang (goods) yang merupakan ekstraksi dari alam, seperti kayu, rotan, berbagai jenis ikan dan biota air lainnya serta barang tambang.
    2. Berbentuk jasa (services), yang disebut dengan jasa lingkungan, yaitu sesuatu yang bukan berbentuk material, merupakan keuntungan yang diperoleh dari alam non ekstraksi, seperti tata air, konservasi tanah, keindahan, kesejukan, dan lain-lain.
    Jadi, Jasa Lingkungan (Landscape Services) merupakan produk sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya yang berupa manfaat langsung (tangible) dan/atau manfaat tidak langsung (intangible), yang meliputi antara lain: Konservasi keragaman jenis biologi (biodiversity conservation), Penurunan karbon (Carbon Sequestration), pengelolaan sumberdaya air (Water Resources management), dan Keindahan lanskap (Landscape Beauty) (Arifin, 2009).

    Pemanfaatan sumberdaya alam dengan cara-cara yang melampaui potensi pemulihan alami akan menimbulkan masalah lingkungan hidup. Pada akhirnya akan hilang berbagai potensi-potensi alam (barang dan jasa), yang berarti mempengaruhi ketersediaan jasa lingkungan di masa mendatang. Jika terus berlanjut, aset lingkungan akan menurun tajam dan jasa lingkungan yang saat ini diperoleh cuma-cuma akan hilang atau menjadi mahal dalam jangka waktu dekat. Pada akhirnya, hal tersebut akan membahayakan kesejahteraan manusia.
    Sebagai contoh, siklus hidrologi di daerah aliran sungai (DAS). Air hujan yang jatuh di daerah hulu sungai akan mengalir ke arah hilir, khususnya air yang masuk ke aliran sungai. Air hujan yang jatuh di tanah akan tertahan oleh perakaran pepohonan dan meresap ke dalam tanah dan kelak menjadi air tanah, sedangkan air yang tidak tertahan akan menjadi air larian (run off) yang kelak akan masuk ke aliran sungai. Dengan demikian, perakaran pepohonan mempunyai fungsi sebagai penahan (resapan) air hujan temporer (sementara) yang kemudian menjadi air tanah. Pepohonan di hutan mempunyai nilai ekonomi langsung atau kasat mata (tangible) yaitu kayunya atau buah-buahannya (goods). Disamping itu, pepohonan tersebut memiliki nilai ekonomi tidak langsung (intangible) yang berupa jasa lingkungan (services) yaitu peresap air dan juga penguat tanah agar tidak terjadi erosi dan longsor, jadi hutan yang memiliki tegakan pohon memiliki fungsi konservasi air dan konservasi tanah. Apabila hutan ditebang habis, maka fungsi konservasi air dan tanah yang merupakan jasa lingkungan inipun hilang.

    2. Apa yang dimaksud dengan pekarangan?
    Pekarangan merupakan lahan yang potensial untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian produktif karena lokasinya dekat dengan tempat tinggal sehingga mudah dalam pengelolaannya (Mardiyanto, 2009).
    Dalam konteks Lanskap Pertanian dan Perdesaan, Pekarangan merupakan salah satu ruang terbuka di daerah perdesaan berupa lahan terbatas di sekeliling rumah. Sebagai salah satu penerapan sistem agroforestri pekarangan yang merupakan integrasi manusia, ternak dan tumbuhan dalam satu sistem daur ulang selain mempertahankan stabilitas lingkungan secara berkelanjutan juga memberikan kontribusi ekonomi hanya dengan sedikit input.
    Abdullah dalam Oktavia (2000) menyatakan bahwa pekarangan memiliki beberapa fungsi antara lain:
    • Produksi, berbagai tanaman dipekarangna terutama tanaman nursery, buah, industry, sayuran, rmpah, dan ternak dapat dipanen. Selain memberikan kontribusi bagi tambahan diet protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral dapat pula memberikan tambahan pendapatan (Arifin, 2009).
    • Sosial Budaya, dalam usaha memenuhi kebutuhannya, pemilik terkadang memilih elemen penyusun pekarangan yang disesuaikan dengan kebutuhan bersosial ataupun kebutuhan lainnya yang disesuaikan dengan kebiasaan setempat.
    • Estetika, pekarangan dan pemilihan tanamannya dapat memberikan nilai estetika bagi pemiliknya sebagai wujud dari kreatifitas, imajinasi, kewirausahaan dan estetika.
    • Ekologi, yaitu sebagai konservasi (jenis tumbuhan yang beragam pada pekarangan menghasilkan keanekaragaman yang tinggi (strata horizontal) dan bermacam ketinggian tanaman (strata vertikal). Selain berguna dalam penggunaan sinar matahari secara optimal, juga berfungsi menhaan air hujan yang dapat mengikis tanah.
    Sebagai sumber kekayaan genetic, kekayaaan genetic atau keanekaragaman hayati dideskripsikan sebagai jumlah, variasi dari organism pada semua tingkatan organisasi, dari genetic, populasi dan tingkatan spesies pada suatu ekosistem. Abdullah dalam oktavia (2000) mengemukakan bahwa pekarangan merupakan sumber plasma nutfah utama yang dinamis dan sangat penting.

    Pemanfaatan pekarangan dan perkembangarmya dinyatakan dalam bentuk susunan floristik yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti fisik, estetika pemilik, pendidikan, nilai sosial-budaya dan ekonomi. Nugroho (2000) menyatakan bahwa pemilihan jenis tanaman pertanian maupun pohon sebagian besar dilatarbelakangi olth pertimbangan ekonomi, sehingga jenis yang ditanam biasanya adalah yang bemilai ekonomi tinggi dan eocok dengan kondisi tanah. Pekarangan memiliki fungsi yang spesifik sebagai agroforestri. Produksi, daur ulang materi dan fungsi sosial dapat dipenuhi pekarangan. Sistem daur ulang dan fimgsi sosial bergantung pada komposisi elemen dalam pekarangan (Arifin, 2009). Menurut Nugroho (2000) faktor fisik dan lingkungan seperti jenis tanah, topografi serta kondisi iklim setempat merupakan faktor yang signifikan dalam membentuk struktur pekarangan.
    Pekarangan, dengan strata horizontal dan vertikal, merupakan suatu praktek dari sistem agroforestri yang intensif yang dapat disamakan dengan hutan alami. Pekarangan dapat mempertahankan stabilitas yang tinggi, basil yang baik serta berkelanjutan dan merupakan suatu agroekosistem dengan produksi primer alami terbaik. Agroekosistem dideftnisikan sebagai pembukaan dan pengelolaan sebuah sistem pertanian yang dikelola sehingga mampu mempertahankan

    Bahan Bacaan:
    Arifin HS, Wulandari C, Pramukanto Q, Kaswanto RL. 2009. Analisis Lanskap Agroforestry. Bogor: IPB Press.

    http://sri-murni.blogspot.com/2012/09/jasa-lingkungan.html

    Nugroho, P. 2000. Kontribusi Pepohonan Terhadap Rumah Tangga Pada Sistem Pekarangan. Skripsi. Jurusan Manajemen Hutan. Fakultas Kehutanan. IPB

    Oktavia, MH. 2000. Ekologi Lanskap Pekarangan Khas Perdesaan Di DAS CIANJUR JAWA BARAT. Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. IPB

  17. Rebbecca Yanes Says:

    I haven’t checked in here for a while as I thought it was getting boring, but the last handful of posts are really good quality so I guess I will add you back to my daily bloglist. You deserve it my friend. :)

  18. Fausto Pennison Says:

    Wonderful site you have here but I was curious if you knew of any community forums that cover the same topics talked about in this article? I’d really like to be a part of community where I can get advice from other experienced people that share the same interest. If you have any recommendations, please let me know. Thank you!

  19. Leslie Adamek Says:

    you’ve gotten an amazing blog here! would you prefer to make some invite posts on my blog?

  20. directory Says:

    Aw, this was a really nice post. In idea I would like to put in writing like this additionally – taking time and actual effort to make a very good article… but what can I say… I procrastinate alot and by no means seem to get something done.

  21. Procitec Says:

    An impressive share, I just given this onto a colleague who was doing a little analysis on this. And he in fact bought me breakfast because I found it for him.. smile. So let me reword that: Thnx for the treat! But yeah Thnkx for spending the time to discuss this, I feel strongly about it and love reading more on this topic. If possible, as you become expertise, would you mind updating your blog with more details? It is highly helpful for me. Big thumb up for this blog post!

  22. USA Proxies Says:

    Hey! I know this is somewhat off topic but I was wondering which blog platform are you using for this website? I’m getting tired of WordPress because I’ve had issues with hackers and I’m looking at alternatives for another platform. I would be great if you could point me in the direction of a good platform.

  23. USA Private Proxies Says:

    Whats up this is somewhat of off topic but I was wanting to know if blogs use WYSIWYG editors or if you have to manually code with HTML. I’m starting a blog soon but have no coding expertise so I wanted to get advice from someone with experience. Any help would be greatly appreciated!

  24. Jacinto Illiano Says:

    Hello, I think your blog might be having browser compatibility issues. When I look at your blog site in Ie, it looks fine but when opening in Internet Explorer, it has some overlapping. I just wanted to give you a quick heads up! Other then that, very good blog!

Leave a Reply