Search Results for 'orasi hadi susilo arifin'


Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin

Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin

SPECIAL VIDEO COURTESY OF GREEN TV IPB:

“PEKARANGAN FOR FOOD SECURITY” Click here, Please.

Professor Hadi Susilo Arifin delivered his oration in IPB on December 14, 2013. The title of his oration is “Pekarangan Kampung untuk Konservasi Agro-Biodiversitas dalam Mendukung Penganekargaman dan Ketahanan Pangan di Indonesia”.

All documents of Prof. Hadi Susilo Arifin’s oration could be downloaded through the links, as follows:

1. Oration Book: Arifin HS. 2013. Pekarangan Kampung untuk Konservasi Agro-Biodiversitas dalam Mendukung Penganekargaman dan Ketahanan Pangan di Indonesia. IPB Press, Bogor. 81 hal.

2. Brief Biography of Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, M.S. (Text was read by Dean of Faculty of Agriculture, IPB)

3. Brief Biography of Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, M.S. (Slide Show was exposed during Dean of Faculty of Agriculture, IPB is reading brief biography)

4. Oration Presentation of Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, M.S.(Power Point Presentation)

5. Pictures Album of Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, M.S.’s Oration

6. Videos of Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, M.S.’s Oration:

Video of Prof. Hadi Susilo Arifin’s Oration – Opening Speech by IPB Rector and Orator Biography by Dean of Agriculture Faculty

Video of Prof. Hadi Susilo Arifin’s Oration (Part 1) –  “Pekarangan Kampung untuk Konservasi Agro-Biodiversitas dalam Mendukung Penganekaragaman dan Ketahanan Pangan di Indonesia”.

Video of Prof. Hadi Susilo Arifin’s Oration (Part 2) –  “Pekarangan Kampung untuk Konservasi Agro-Biodiversitas dalam Mendukung Penganekaragaman dan Ketahanan Pangan di Indonesia”.

Video of Prof. Hadi Susilo Arifin’s Oration (Part 3) –  “Pekarangan Kampung untuk Konservasi Agro-Biodiversitas dalam Mendukung Penganekaragaman dan Ketahanan Pangan di Indonesia”.

Video of Prof. Hadi Susilo Arifin’s Oration – Greetings & Silaturahim

PEKARANGAN KAMPUNG UNTUK KONSERVASI AGRO-BIODIVERSITAS DALAM MENDUKUNG PENGANEKA-RAGAMAN DAN KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA

 Orasi Guru Besar Tetap di Fakultas Pertanian – IPB, 14 Desember 2013

Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, M.S.

Kepala Bagian Manajemen Lanskap – Departemen Arsitektur Lanskap

Fakultas Pertanian – IPB

Permasalahan Pangan dan Potensi Pekarangan

Permasalahan pangan di Indonesia merupakan tantangan yang masih perlu dicari solusinya. Jumlah penduduk Indonesia saat ini telah mencapai 242 juta. Berdasarkan hasil sensus 2010, rata-rata laju pertumbuhan penduduk Indonesia adalah 1,49%, sehingga diperkirakan pada genap 100 tahun Indonesia merdeka, di tahun 2045 akan mencapai 450 juta jiwa (Republika.co.id, 16 Januari 2013). Bukanlah hal yang mudah untuk mencapai kecukupan bagi ketahanan pangan (food security), keamanan pangan (food safety) dan kedaulatan pangan (food sovereignty) dengan hanya mengandalkan pengelolaan sumber daya alam secara konvensional.

Pembangunan kota baru serta infrastrukturnya seringkali mengorbankan lahan pertanian. Di lain pihak pada setiap pembangunan perumahan dengan pengembangan sistem horizontal, maka pada setiap unit rumah selalu dirancang agar memiliki ruang terbuka hijau yang dimanfaatkan sebagai pekarangan. Oleh karena itu, sekecil apa pun, jumlah pekarangan akan selalu bertambah sehingga total luasannya pun bertambah. Terdapat 5,132,000 ha pekarangan di Indonesia (BPS, 2000), 1,736,000 ha luasan ada di Pulau Jawa. Pada 2010 total luas pekarangan di Indonesia telah bertambah menjadi 10.3 juta ha.

Kajian pekarangan telah dilakukan sejak 1990-an. Pada 1998-2008 penelitian kerja sama JSPS dan DIKTI melalui Core-University Program of Research Unit for Biological Resources Development (RUBRD). Penelitian pekarangan lebih intensif dengan Rural Development Institute (RDI) Seattle, pada 2006-2007. Sejak tahun 2006 sampai 2013 dukungan riset dari DIKTI melalui Hibah Penelitian Tim Pascasarjana, Hibah Kompetensi, serta Hibah Kompetisi Penelitian, dukungan berbagai skim riset dari ICRAF-SEANAFE-INAFE mulai 2005 telah memacu penelitian agroforestri di pekarangan lebih mendalam baik secara ekologis, ekonomis, dan sosial budaya. Selanjutnya bersama ETH Zurich, Research Institute for Humanity and Nature (RIHN) Kyoto dan State University of Zanzibar (SUZA)-Zanzibar Tanzania, Afrika, dan BOPTN-IPB. Sistem agroforestri tradisional di pekarangan, kebun campuran, talun, sawah dan tegalan pada lanskap kampung telah saya petakan di lima propinsi melalui dana riset FAO (2013) untuk diusulkan menjadi Globally Important Agriculture Heritage System (GIAHS).  Hadi Susilo Arifin telah menyusun peta perjalanan riset pekarangan untuk dua puluh lima tahun, mulai 1993 sampai dengan 2018.

Jasa Lanskap dari Pekarangan

Sebagai lahan yang berada di sekitar rumah dengan batas dan pemilikan yang jelas, pekarangan merupakan lanskap yang berpotensi sebagai salah satu lahan untuk praktik agroforestri. Selain untuk produksi pertanian, juga mengkonservasi keanekaragaman hayati pertanian. Beragam strata tanaman dalam pekarangan dapat memanen energi matahari serta menyerap karbon secara efektif, melindungi tata-tanah dan tata-air, serta memberikan keindahan dan kenyamanan lingkungan setempat. Pemberdayaan pekarangan yang didasari oleh kearifan lokal, budaya lokal, serta pengetahuan ekologis setempat diperkirakan dapat diandalkan sebagai lahan fungsional, yaitu produktif baik untuk pemenuhan kebutuhan pangan secara subsisten, maupun berskala ekonomis. Pemanfaatan pekarangan merupakan hal yang sangat strategis dalam konteks mengkonservasi keanekaragaman hayati pertanian untuk beragam jenis tanaman, hewan, dan ikan.

Jika praktik agroforestri di pekarangan diberdayakan kembali sebagai usaha tani tambahan, maka hal ini berpeluang meningkatkan ketahanan pangan keluarga. Praktik agroforestri di pekarangan tidak hanya untuk subsisten, tetapi memiliki potensi skala ekonomis apabila ada usaha penyuluhan dalam penentuan komoditi unggulan sebagai produk utama pekarangan sesuai dengan kesesuaian lahan dan agroklimatnya. Produk pekarangan yang dikelola pada unit wilayah “kampong” akan bernilai ekonomis jika memiliki sistem manajemen perdagangan dalam bentuk koperasi.

Pekarangan Berkelanjutan

Pekarangan yang berkelanjutan diperlihatkan berdasarkan hubungan antara ranah wilayah bio-fisik/agro-ekologis dan sosial-ekonomi-budaya. Dengan memperhatikan kesamaan kedua ranah tersebut, secara ideal pekarangan yang berkelanjutan dalam bio-region dapat mencerminkan suatu sistem lahan yang dapat memberi kemandirian masyarakat dalam perbanyakannya; pemenuhan bahan pangan/pakan, sandang dan papan; dan pengelolaannya. Untuk optimalisasi pemanfaatan pekarangan kita bisa tekankan pada fungsi pekarangan yang berimbang secara produktif, baik ekonomis maupun ekologis. Sementara secara kultural pola pekarangan juga tidak lepas dari kondisi sosial budaya masyarakatnya, yaitu asal suku-bangsa, agama, tingkat pendidikan, kebiasaan-kebiasaan, etika, kepercayaan (believe), gugon-tuhon (pamali), hingga muncul nilai-nilai (values) dan pengetahuan lokal serta kearifan lokal.

Empat fungsi dasar pekarangan. Yaitu: Pertama, produksi secara subsisten, seperti sumbangan tanaman pangan yang menghasilkan produk karbohidrat, buah, sayur, bumbu, obat dan produk non-pangan lainnya, dan ternak. Kedua, pekarangan dapat menghasilkan produksi untuk komersial dan memberi tambahan pendapatan keluarga, khususnya di wilayah yang memiliki akses pasar yang baik. Ketiga, pekarangan mempunyai fungsi sosial-budaya. Fungsi ini termasuk jasa seperti untuk saling bertuka hasil tanaman dan bahan tanaman antar tetangga. Keempat, pekarangan memiliki fungsi ekologis, bio-fisik lingkungan. Struktur tanaman dengan multi-strata merupakan miniatur dari hutan alam tropis yang berfungsi sebagai habitat bagi beragaman tumbuhan dan satwa liar. Sistem produksi terintegrasi dari tanaman, ternak, dan ikan menghasilkan penggunaan yang efisien dalam penggunaan pupuk organik serta daur ulang bahan dan menurunkan runoff.

Keberlanjutan pekarangan bisa dilihat dari struktur elemen maupun fungsi serta filosofinya. Keberlanjutan ini dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu ukuran/luas, tata-ruang, keragaman struktur horizontal, dan keragaman struktur vertikal tanaman dalam pekarangan.

Ukuran pekarangan dikelompokkan menjadi empat. Pekarangan  sempit jika ia memiliki luas RTH-nya kurang dari 120 m2. Pekarangan sedang memiliki luas 120 m2 hingga 400 m2. Pekarangan besar 400 m2 sampai dengan 1000 m2. Lebih besar dari 1000 m2 disebut pekarangan extra luas. Prof. Hadi dalam deisertasi Doktornya yang ditempuh di Okayama University Jepang, untuk terjaminnya proses produksi secara bio-fisik/ekologis, ia telah menemukan the critical minimum size (CMS) pekarangan yaitu 100 m2. Hal tersebut didasarkan pada ukuran minimal yang dapat menyediakan tempat untuk ke lima strata tanaman yang disebut dengan keragaman vertikal, serta tempat bagi 8 jenis kegunaan atau fungsi tanaman yang disebut sebagai keragaman horizontal.

Selanjutnya, tata ruang pekarangan penting dalam menentukan peruntukan fungsinya, khusus bagi tanaman. Tanaman tertentu ditanam pada bagian pekarangan sesuai dengan efisiensi waktu dan tenaga. Misal, pada pekarangan Sunda, setiap ruang memiliki nama dengan peruntukan yang khas, yaitu: halaman depan disebut buruan, halaman samping disebut  pipir,dan halaman belakang disebut kebon. Di Bali, zona pekarangan ditata sesuai dengan kearifan lokalnya, tri-hita-karana diterapkan sebagai tempat suci (parahyangan), tempat aktivitas manusia (pawongan) dan tempat produksi (palemahan). Keberadaan zona ruang terbuka hijau di sekitar bangunan memiliki frekuensi yang relatif bergantung pada tingkat urbanisasi. Hampir semua pekarangan  desa dan kota memiliki halaman depan. Halaman depan menjadi penting karena memiliki fungsi yang khusus bagi kegiatan sosial, ritual agama, upacara budaya, tempat berkumpul bersama tetangga, dan tempat bermain anak. Praktik agroforestri; tumpang-sari pohon dan tanaman pangan semusim banyak di pekarangan bagian belakang dan samping baik di perdesaan maupun perkotaan.

Keragaman vertikal di pekarangan ditunjukkan oleh sistem tumpangsari dalam praktik agroforestri, di mana pekarangan memiliki struktur tanaman dari pohon yang sangat tinggi hingga rerumputan yang menjadi penutup tanah. Struktur ini dikelompokkan menjadi 5 strata. Keistimewaan struktur tanaman pekarangan dalam multi-strata ini adalah: (1) pemanenan matahari yang efisien; (2) penyaringan penetrasi sinar matahari; (3) penyerapan karbon yang lebih baik, dan (4) pengendalian erosi tanah lebih baik. Struktur demikian menyerupai hutan alam. Hubungan keragaman stratifikasi tanaman dan jumlah cadangan Karbon telah diteliti pada pekarangan daerah atas, tengah dan bawah di hulu DAS Kalibekasi. Diketahui semakin ke bawah, pekarangan memiliki keragaman strata tanaman lebih baik, dan mempunyai jumlah cadangan Karbon yang lebih tinggi.

Keragaman horizontal dalam pekarangan adalah keragaman elemen penyusun pekarangan yaitu keragaman jenis tanaman, hewan ternak dan satwa liar, serta jenis ikan. Keragaman ini dipengaruhi oleh beragam faktor seperti ekologi, ekonomi, dan budaya. Struktur tanaman pekarangan dikelompokkan dalam kegunaan atau fungsinya bagi rumah tangga pemilik pekarangan itu sendiri. Berdasarkan hasil penelitian telah dikelompokkan menjadi 8 fungsi tanaman pekarangan, yaitu (1) tanaman hias; (2) tanaman buah; (3) tanaman sayuran; (4) tanaman bumbu; (5) tanaman obat; (6) tanaman penghasil pati; (7) tanaman bahan baku industri; dan (8) tanaman lainnya, seperti penghasil pakan, kayu bakar, bahan kerajinan tangan, dan peneduh. Keanekaragaman tanaman secara horizontal juga dipandang sebagai agro-biodiversity dalam pekarangan.

Dengan sumber daya lahan yang lebih sempit, pengembangan pekarangan perkotaan bisa didekati dengan model praktik pertanian organik untuk buah maupun sayuran. Pola vertical garden, atau green roof garden serta tabulampot dapat diterapkan di pekarangan perkotaan.

Pemberdayaan pekarangan yang didasari oleh kearifan lokal dapat diandalkan sebagai lahan produktif untuk subsisten/komersial jika dilakukan secara agregat dalam satu kampung. Maka pekarangan berperan dalam ketahanan pangan masyarakat desa selain untuk konservasi keragaman jenis biologi pertanian. Keanekaragaman hayati pertanian di pekarangan berfungsi untuk mendukung ketahanan pangan dan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan. Juga penting untuk membangkitkan pendapatan tambahan keluarga. Diketahui ayam kampung, kambing, dan domba, serta sapi merupakan ternak yang paling lazim dipelihara di lahan pekarangan masing-masing oleh 38%, 23%, dan 7% serta oleh 19% dan 6% keluarga dari hasil penelitian di P. Jawa. Hasil analisis konsumsi gizi keluarga menunjukkan produksi pekarangan berkontribusi 137.8 k.kal energi (1.97%), 4.0 g protein (2.0%), 158.0 IU (12.5%) and 40.2 mg Vitamin C (23.70%) per keluarga (Tabel 4). Juga diketahui kontribusi zat gizi dari pekarangan terhadap recommended dietary allowance (RDA) adalah 1.89% energi, 1.92% protein, 12.39% Vitamin A, dan 23.63% Vitamin C.

Diketahui 69.2% dari produksi tanaman pekarangan dikonsumsi oleh keluarga. Yang dijual keluarga sekitar 16,8%. Keluarga memberikan produksi tanaman pekarangannya kepada tetangga dalam jumlah yang paling sedikit. Sedangkan penelitian fungsi pekarangan melalui program P2KP, hasil evaluasi di Kabupaten Bogor menunjukkan pemanfaatan produk pekarangan rata-rata 73% untuk konsumsi keluarga, 14% dijual, dan 13% dibagi ke tetangga.

Implementasi dalam Program dan Kebijakan Pemerintah

Konsumsi beras per kapita di Indonesia berdasarkan BPS 2012 adalah 113 kg per orang per tahun. Total konsumsi masih sebesar 27 juta ton beras/tahun. Konsumsi beras bisa dikurangi dengan menggerakkan masyarakat untuk mengkonsumsi pangan lokal agar Indonesia terbebas dari impor beras. Untuk hal tersebut diperlukan kebijakan pemerintah yang konsisten. Empat kebijakan di tingkat pusat telah diikuti telah ditindaklanjutkan pada level di bawahnya, yaitu diketahui ada 26 Pergub, dan 53 Perbup/Walikota. Badan Ketahanan Pangan melalui program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) telah mencanangkan berbagai kegiatan dan aksi dengan membentuk Tim Pemberdayaan P2KP, yang bertugas, antara lain, memantapkan pelaksanaan program percepatan penganekaragaman konsumsi pangan. Pekarangan sangat potensial untuk menghasilkan sumber pangan yang beragam. Logikanya, jika setiap keluarga memiliki ketahanan pangan yang baik, maka dalam RT atau RW tersebut diharapkan memiliki ketahanan pangan yang baik pula. Analoginya, demikian pula untuk tingkat desa/ kelurahan, kecamatan, kabupaten/ kota, hingga ketahanan pangan pada tingkat provinsi, dan akhirnya akan mendukung ketahanan pangan pada tingkat nasional.

Prinsip optimalisasi pemanfaatan pekarangan baik di perdesaan maupun di perkotaan adalah bagaimana mengelola pekarangan dengan baik agar dapat dijadikan tempat budi daya ragam tanaman, ternak, dan ikan. Ini adalah salah satu usaha untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas memperoleh pangan yang beragam, bergizi dan berimbang (3B) serta aman. Kita ketahui untuk mencapai PPH ideal pada tahun 2012-2013-2014 masih perlu ditingkatkan konsumsi masyarakat pada umbi-umbian, kacang-kacangan, sayuran, buah dan pangan hewani. Pekarangan sangat potensial untuk diusahakan dan didorong untuk menghasilkan produk pangan terutama buah dan sayuran.

Model Desa Mandiri Pangan memanfaatkan pekarangan dan memanfaatkan produk-produk pangan berbasis sumber daya lokal. P2KP berbasis sumberdaya lokal. Langkah operasional untuk upaya kebijakan di atas adalah selain melakukan kampanye, sosialisasi, advokasi dan promosi percepatan penganekaragaman konsumsi pangan yang beragam, bergizi, berimbang dan aman berbasis sumber daya lokal; juga pentingnya pendidikan konsumsi pangan; penyuluhan kepada ibu-ibu rumah tangga dan Kelompok Wanita Tani (KWT).

eberlanjutan pekarangan perlu didukung oleh ketersediaan bibit dan benih melalui pengembangan kebun bibit desa dan dukungan koperasi serta penyuluhan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, pekarangan perlu dikembangkan secara agregat dalam satuan kawasan pada skala kampung secara terintegrasi dengan tataguna lahan lainnya.

  1. Pengembangan pekarangan secara ekologis disarankan tetap memperhatikan the critical minimum size of pekarangan seluas 100 m2.
  2. Struktur agroforestri pekarangan perlu dirancang spesifik sesuai dengan ekosistem dan sumberdaya bio-fisik setempat.
  3. Zona bagian belakang baik di pekarangan perdesaan maupun perkotaan harus dipertahankan keberadaannya untuk mencapai keseimbangan fungsi produksi dan fungsi ekologis melalui praktik sistem agroforestri.
  4. Konservasi keanekaragaman hayati pertanian pekarangan harus tetap dijaga dengan cara mempertahankan jenis tanaman penghasil pangan lokal.

Bogor, 13 Desember 2013

Subject:   [IPBSTAF] Orasi Tiga Guru Besar Semarakkan Dies Emas IPB
From:   humas_ipb@yahoo.co.id
Date:   Mon, December 16, 2013 2:52 pm
To:   ipbstaf@yahoogroups.com
Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin with a gold medal of "Satya Lancana Sujana Utama"

Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin with a gold medal of “Satya Lancana Sujana Utama”

ALBUM of Professor Oration CLICK HERE, Please….

Orasi Tiga Guru Besar Semarakkan Dies Emas IPB

Sebagai salah satu penutup rangkaian kegiatan Peringatan Dies Natalis Ke-50, tiga guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) menyampaikan orasi ilmiahnya di Auditorium Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga, Sabtu (14/12). Mereka adalah Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, MS dari Fakultas Pertanian, Prof. Dr. Ir. Iman Rahayu,  M.Si dari Fakultas Peternakan dan Prof. Dr. Muhammad Firdaus, S.P, M.Si dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Orasi ilmiah ini bukan acara pengukuhan ketiganya sebagai guru besar. Sebab, ketiganya sudah mendapat surat keputusan penetapan sebagai guru besar yang ditandatangani Presiden RI. Dalam orasi ini, Prof. Hadi mempresentasikan ‘Pekarangan Kampung untuk Konservasi Agro-Biodiversitas dalam Mendukung Penganekaragaman dan Ketahanan Pangan di Indonesia’. Menurutnya, pekarangan sangat potensial untuk menghasilkan sumber pangan yang beragam. “Jika setiap keluarga memiliki ketahanan pangan yang baik, maka dalam Rukun Tetangga (RT) atau Rukun Warga (RW) tersebut diharapkan memiliki ketahanan pangan yang baik pula. Analogi sampai tingkat kota/kabupaten, provinsi sampai tingkat nasional,” tandasnya. Sementara itu, dalam orasi berjudul: ‘Perunggasan di Indonesia : Refleksi, Inovasi dan Riset Prospektif’, Prof. Dr. Ir. Iman Rahayu, M.Si  mengatakan, unggas tidak boleh dikandangkan berdesak-desakan.  Sudah saatnya sistem unggas menganut 5 F yaitu bebas dari rasa haus dan lapar atau freedom from thirsty and hunger,  bebas dari ketidaknyamanan atau freedom from discomfort, bebas dari rasa sakit, penyakit dan luka atau freedom from pain, injury and disease, bebas dari ketakutan dan stres atau freedom from pear and stress dan bebas mengekspresikan perilaku normal pada hewan atau freedom to express normal behavior.  Di orasi ketiga, Prof. Dr. Muhammad Firdaus menyampaikan orasi yang berjudul: ‘Ketimpangan Pembangunan antar Wilayah di Indonesia: Fakta dan Strategi’. Menurutnya, permasalahan ketimpangan pembangunan antar wilayah yang dihadapi Indonesia semakin serius. Saat ini, Indonesia menempati posisi terparah dibandingkan dengan negara maju dan sesama negara sedang berkembang. (zul)

Orasi Ilmiah 3 Guru Besar IPB - 14 Desember 2013

Orasi Ilmiah 3 Guru Besar IPB – 14 Desember 2013

DSC07892

DSC07884

Direktorat Riset dan Kajian Strategis dan Komisi B Dewan Guru Besar lnstitut Pertanian Bogor (Bogor Agricultural University) bekerjasama dengan

Burung lndonesia menyelenggarakan Seri Diskusi dengan tema “Konsep, Kebijakan dan lmplementasi Rertorasi Ekosistem (RE): Lessons Learned, Prospek dan Tantangan”

Acara diskusi diselenggarakan pada:

Hari, Tanggal : Selasa, 7 Mei 2013

Waktu: 08.30 – 13.00 WIB

Tempat: Ruang Sidang Senat, Lantai 6, Gd. Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Dramaga Bogor.

Pembicara Kunci: Prof. Dr. Ani Mardiastuti (Ketua Dewan Burung Indonesia)

Pembicara:
1. Agus Budi Utomo (Dir Eksekutif Burung Indonesia);
2. Drs Effendi A. Sumardja M.Sc.; dan
3. Prof Dr. Dudung Darusman, IPB.

Moderator Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin.

Kantor Direktorat Riset dan Kajian Strategis IPB

Fax 0251-8624512, email: ditrks_ipb @yahoo.com

Press Release: PDF File, Silakan Klik di Sini

EXPOSE KARYA MAHASISWA S1 dan S2 DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP-FAKULTAS PERTANIAN-IPB

CIBINONG WATER FRONT CITY & SENTUL CITY MENUJU KOTA RAMAH AIR

Air, sebagai sumber kehidupan selalu menarik untuk dibahas. Air yang selayaknya sebagai sahabat karena memberikan jasa bagi seluruh mahluk hidup terutama manusia, sering kali menjadi ancaman baik di musim kemarau karena kekeringan, dan di musim hujan yang menyebabkan kebanjiran. Sehingga ke depan diperlukan manajemen yang bijak dalam memperlakukan air. Kabupaten Bogor sebagai wilayah yang dikarunai air hujan yang berlimpah, sudah sepatutnya bisa memanen air hujan ini selain untuk kebutuhan air baku, tetapi juga untuk keseimbangan lingkungan, ameliorasi iklim, konservasi keragaman sumberdaya hayati, serta keindahan lingkungan.

Seperti semester-semester sebelumnya, mahasiswa S1 mata kuliah Pengelolaan Lanskap dan S2 mata kuliah Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan selalu menyajikan hasil kerja praktiknya melalui program EXPOSE. Kali ini expose disampaikan di hadapan berbagai stakeholders dalam strategi pentahelix ABGCM, yaitu forum akademisi (A), pengusaha/swasta (B), pemerintah (G), masyarakat (C) dan wartawan (M) di Ruang Serba Guna 1 Setda Kabupaten Bogor di Cibinong, Senin 10 Juli 2017, pukul 9-11. Kedua mata kuliah yang diampu oleh Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin dan Tim kali ini mengusung “Manajemen Lanskap Cibinong Situ Water Front City” yang disampaikan oleh mahasiswa S1 Semester 6, dan “Sentul City Menuju Kota Ramah Air” dipaparkan oleh mahasiswa S2 Semester 3 PS Arsitektur Lanskap, Sekolah Pascasarjana, IPB.

EXPOSE dihadiri oleh Bupati Kabupaten Bogor, Hj. Nurhayanti dan jajaran pimpinan Bappeda dan SKPD terkait di Kabupaten Bogor. Para akademisi hadir dari IPB, Dekan Fakultas Pertanian Dr. Agus Purwito,  Ketua Departemen Arsitektur Lanskap Dr Bambang Sulistyantara, dan para dosen, peneliti “urban water cluster” Australia-Indonesia Centre (AIC). Juga dihadiri oleh beragam pengusaha swasta dari PT Sentul City Tbk (diwakili oleh Vice President Sentul City, Bapak Ricky Kinanto Teh), PT Olympic Sentul, PT Asabi – AGRICON. Komunitas yang hadir pada acara ini ada Bogor Sahabats, Komunitas Peduli Ciliwung dan beberapa LSM Lainnya. Para stakeholders ini diharapkan bisa saling bersinergi untuk merepson saran dan rekomendasi yang disampaikan mahasiswa. Cibinong Situ Front City yang sudah dicanangkan oleh Bupati Bogor sejak akhir 2015 ditindak lanjuti dengan alternatif manajemen lanskapnya dengan penerapan konsep pemanenan air hujan melalui usulan pembangunan“rain gardens”, dan pengembangan pintu air untuk memproteksi tanah dan air. Dari segi penyedia jasa lanskap diusulkan adanya jembatan penyebrangan satwa, taman konservasi bambu, taman filtrasi air, dan menara observasi ekologi. Juga diusulkan agar ada komunitas sensitif air. Mahasiswa merespon apa yang diinginkan oleh Pemda Kabupaten Bogor dalam mewujudkan Cibinong Situ Front City melalui Situ Sehat, yaitu mengelola dan menjaga keberlajutan situ dengan mengadakan festival situ, dan kegiatan lomba terkait misalnya triathlon (bersepeda, berenan dan marathon). Juga pengembangan konsep Green Controller dengan memberdayakan partisipasi masyarakat untuk mengontrol kondisi lingkungan situ dan sekitarnya.

Rekomendasi bagi “Sentul City menuju Kota Ramah Air”, para mahasiswa S2 Arsitektur Lanskap menyampaikan tahapan pengembangan kota mulai dari water supply city, sewered city, drained city, waterways city, water cycle city hingga water sensitive city. Beberapa usulan dilakukan pada masing-masing fase tersebut, sampai dengan konsep kelembagaannya. Pada dasarnya beragam potensi yang ada di Sentul City, yaitu jumlah air dari curah hujan yang tinggi dapat dimanfaatkan melalui berbagai rekayasa teknik seperti memanen air hujan melalui “rain gardens” dengan cara merevitalisasi V-Drain yang sudah diterapkan di sepanjang jalan Silinwangi di Sentul City. Juga pembuatan embung atau water retention pond, atau situ di tapak-tapak yang berada di lembah yang “not saleable”. Diharapkan dengan munculnya ruang terbuka biru (RTB) sebagai bagian lanskap kota, justru akan menambah daya tarik kota di masa yang akan datang. Kota Sentul maupung Cibinong Raya dapat menjadi iconic bukan hanya di Jawa Barat tetapi di Indonesia sebagai kota yang peduli air, kota yang ramah air, kota yang memiliki resilient terhadap air. Sekali lagi air sebagai sumber kehidupan, mari kita bersahabat dengan air, jaga air selalu bersama kita. Kita ramah terhadap air dan air pun akan selalu baik terhadap kita dan segala mahluk hidup lainnya.

Bogor, 10 Juli 2017

Kordinator Mata Kuliah,

Prof. Dr. Hadi Susilo ARIFIN

No. Kontak WA/LINE: 0811-11-7720

Email: hadisusiloarifin@gmail.com & www.hsarifin.staff.ipb.ac.id

 

BAHAN PRESENTASI MAHASISWA:

  1. Pengelolaan Lanskap Cibinong Situ Front City – PDF MAKALAH S1 File Silakan Klik di Sini
  2. Sentul City Menuju Kota Ramah Air – PDF MAKALAH S2 File Silakan Klik di Sini
  3. Pengelolaan Lanskap Cibinong Situ Front City – PDF PPT S1 File Silakan Klik di Sini
  4. Sentul City Menuju Kota Ramah Air – PDF PPT S2 File Silakan Klik di Sini

 

Poster small

KEBAYA, KOPI, dan BUKU
Ruang Bebagi dan Peduli – FX Sudirman 19 May 2017 at 6-9PM

URBAN’S small PEKARANGANPDF File klik di sini

By: “Deddy” HADI SUSILO ARIFIN

Ruang Juragan – Eat & Eat, FX Sudirman – Jakarta, 19 Mei 2017

Milestone: Jumlah penduduk Indonesia 257,9 juta (2016) dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1.49% (2015). Diprediksi tahun 2045 jumlah penduduk Indonesia sekitar 450 juta jiwa.

 Tantangan: Kita dihadapkan pada permasalahan pangan: Ketahanan Pangan, Kedaulatan Pangan dan Keamanan Pangan. Di satu sisi pembangunan dan pengembangan kota baru dan infrastrukturnya mengakibatkan  alih fungsi lahan pertanian perdesaan. Di lain pihak hal itu meningkatkan jumlah unit rumah ‘landed housing’  dan pekarangannya. Diketahui total luas perangan seluruh Indonesia sekitar 5,132,000 ha (2000), di antaranya 1,736,000 ha berada di P. Jawa. Sepuluh tahun kemudian jumlah total luas pekarangan di Inonesia meningkat dua kali lipat, menjadi 10.3 juta ha (2010).

Info Pekarangan Dapat Diakses melalui Link, sebagai berikut:

  1. Presentasi Power Point: http://www.hsarifin.staff.ipb.ac.id
  2. Video Bincang Bintang Pekarangan untuk Ketahanan Pangan: http://www.youtube.com/watch?v=HeBocD4M1v4
  3. Video Kuliah Pekarangan di NUS Singapore: http://hsarifin.staff.ipb.ac.id/2013/04/26/video-of-pekarangan-lecture-in-national-university-of-singapore/
  4. Video Riset Pekarangan: http://hsarifin.staff.ipb.ac.id/photo-albums/
  5. Buku Saku Pekarangan: http://hsarifin.staff.ipb.ac.id/publications/books/
  6. Buku Orasi Pekarangan: http://hsarifin.staff.ipb.ac.id/?s=orasi+hadi+susilo+arifin
  7. Leaflet Pekarangan: http://hsarifin.staff.ipb.ac.id/2013/05/01/pekarangan-introduction-for-ipb-kkp-students-2013/
  8. Publikasi Majalah Burung Indonesia: Profesor Pekarangan Sejati https://facebook.com/photo.php?fbid=10200929563616412&l=2bfaa5f10c
  9. Publikasi Mongabay Indonesia http://www.mongabay.co.id/2015/04/24/dari-pekarangan-hadi-susilo-arifin-tebar-jurus-cinta-lingkungan/

 Tujuan Pemanfaatan Pekarangan Perkotaan

  1. Meningkatkan pemanfaatan pekarangan sebagai lanskap produktif bagi praktek urban farming.
  2. Memasok pangan & gizi keluarga yang aman, serta pemenuhan gaya hidup sehat.
  3. Mengkonservasi keanekaragaman hayati pekarangan perkotaan (urban biodiversity).
  4. Mengembangkan kegiatan ekonomi produktif keluarga.
  5. Menjaga keindahan lanskap perkotaan.

 Filosofi, Struktur dan Fungsi  Pekarangan

Tata ruang pekarangan : Halaman depan (buruan): lumbung, tanaman hias, pohon buah, tempat bermain anak, bangku taman, tempat menjemur hasil pertanian. Halaman samping (pipir): tempat jemur pakaian, pohon penghasil kayu bakar, bedeng tanaman pangan, tanaman obat, kolam ikan, sumur dan kamar mandi. Halaman belakang (kebon): bedeng tanaman sayuran, tanaman bumbu, kandang ternak, tanaman industri. Bagi masyarakat Hindu Bali, dalam pola tata ruang Pulau sebagai macro-cosmos hingga pekarangan dan struktur badan manusia sebagi micro-cosmos terbagi dalam tiga hal dalam filosofi Tri Mandala dan Tri Hita Karana. Pola ruang Utama sebagai Parahyangan, wialyah pekarangan yang mengahadap ke G. Agung akan diletakkan Mrajan dengan tanaman hias bunga-bungaan sebagai ekspresi hubungan man-God. Ruang Madya sebagai Pawongan adalah bagian tengah di mana kehidupan manusia berada, bagian pekarangan ini terdiri dari tanaman buah-buahan dan obat-obatan serta tanaman pangan lainnya merupakan ekspresi man-man. Bagian pekarangan belakang disebut teba, merupakan bagian yang dianggap Nista, atau Palemahan merupakan bagian kandang ternak, pengolahan sampah dan tanaman umbi-umbian sebagi cerminan hubungan man-environment.

Ukuran pekarangan: Cukup beragam dari satu tempat ke tempat lainnya. Tetapi klasifikasi dilakukan dengan ukuran sebagai berikut: 1. Pekarangan Sempit < 120 m2, Pekarangan Sedang 120-400 m2, Pekarangan Luas 400–1000 m2, Pekarangan Sangat Luas  > 1000 m2.

Keragaman vertical: Keragaman elemen pekarangan dapat dilihat dari stuktur tinggi tanamannya. Strata V > 10 m (pohon); Strata IV 5-10 m (pohon kecil); Strata III: 2-5 m (perdu), Strata II 1-2 m (semak); Strata I <1m (herba dan rumput)

Keragaman horizontal : merupakan keragaman elemen yang terdiri dari tanaman – ternak – ikan. Ketiga mahluk hidup tersebut secara harmoni ada dalam pekarangan. Dapat menjadi sumber bahan pangan keluarga. Tanaman dalam pekarngan dapat dikelopmokkan dalam: tanaman hias, tanaman buah, tanaman sayuran, tanaman bumbu, tanaman obat, tanaman penghasil pati, tanaman industry, tanaman lain: penghasil pakan, kayu bakar, bahan kerajinan tangan, peneduh Penyediaan Pangan Beragam, Bergizi, Berimbang dan  AMAN

Potensi Pengembang Agribisnis Pekarangan

  1. Tanaman pangan & hortikultura: umbi-umbian, kacang-kacangan, sayuran, buah, bumbu, obat
  2. Tanaman yang bernilai ekonomi tinggi: buah, sayuran, hias (bunga potong, tanaman pot, tanaman taman)
  3. Ternak: unggas hias, petelor, daging
  4. Ikan: hias, produksi daging, dll.

Fasilitas Pekarangan: Luas dn sempitnya pekarangan, posisi pekarangan dekat atau jauh dari perkotaam, dan lain-lain mempengaruhi jumlah dan ragama fasilitas dalam pekarngan. Umumnya fasilitas dalam pekarangan terdiri dari Lahan pertanaman, Kandang ternak, Kolam ikan, Lumbung atau gudang, Tempat menjemur hasil pertanian, tempat menjemur pakaian, halaman tempat  bermain anak-anak, bangku, sumur, kamar mandi, tiang bendera, tiang lampu, garasi,lubang sampah, jalan setapak, pagar,pintu gerbang, dan lain-lain.

Pentingnya Pendampingan dan Penyuluhan Pekarangan:  Pendampingan yang berkompeten melalui penyuluhan mampu mengembangkan usaha pertanian yang lebih baik (better farming). Berusaha tani lebih menguntungkan (better bussines), hidup lebih sejahtera  dan lingkungan lebih sehat(better living).

Penutup 

Pekarangan dapat melakukan pengelolaan PRODUKSI sepanjang tahun: tanaman tahunan & semusim. Perlunya pendampingan yang cukup memadai (kuantitas dan kualitas) agar masyarakat paham pentingnya hidup sehat dengan pekarangan yang baik. Ketika setiap unit keluarga tahan terhadap pangan, maka 1 RT akan tahan. Setiap RT tahan pangan maka 1 RW akan tahan. Jika setiap RW tahan maka 1 kelurahan akan tahan. Manakala tiap kelurahan tahan maka 1 kecamatan akan tahan, selanjutnya 1 kota/kabupaten, 1 provinsi dan 1 negara akan tahan pangan.  FEED the NATION…. FEED the WORLD …..

Bogor, 18 Mei 2017

Hadi Susilo Arifin,

Mobile: +62-811117720; email: hadisusiloarifin@gmail.com ; BLOG www.hsarifin.staff.ipb.ac.id

IMG-20170520-WA0013

IMG-20170520-WA0010

IMG-20170520-WA0002

IMG-20170520-WA0008

IMG-20170520-WA0006

DSC_0715small DSC_0726small DSC_0736small

The 1st FGD – Urban Water Research Cluster IPB/UI/Monash University-AIC

Links Berita Terkait:

1. Berita KOMPAS

2. Berita ANTARA

3. Berita BogorOnline

4. Berita Kota Bogor

Focus Group Discussion (FGD) Pengelolaan Sumberdaya Air di Kota Bogor

Tema:Transformasi Kota Bogor dari Kota Hujan Menuju Bogor Kota Ramah Air (Bogor Water Sensitive City)

Topik Utama: Penyebab dan Solusi  Banjir SMAN 2 dan Longsor di Kota Bogor

  1. Latar Belakang

Kota Bogor yang dianugerahi curah hujan yang banyak rata-rata 3000-3500 mm /tahun, merupakan kota dengan sebutan “Kota Hujan.” Baru baru ini pada tanggal 27 Februari 2017 telah terjadi longsor di Paledang dan banjir di SMAN 2. Hal ini menyadarkan semua pihak, bahwa potensi dan ancaman banjir dan longsor telah terjadi di sekitar kita. Bahaya tersebut telah menimbulkan kerugian harta dan jiwa, secara materiil dan imateriil bagi warga kota Bogor.

Dinamika sosial ekonomi kota Bogor telah berkembang dari ibukota Pajajaran sejak abad ke 13, dengan memanfaatkan hulu Sungai Ciliwung, Cisadane dan Cipakancilan. Pada jaman Belanda di bangun beberapa infrastruktur bangunan air dan pengatur sumberdaya air di antaranya Bendung Empang untuk mengairi 4000 ha dan Bendung Katulampa, untuk irigasi di daerah Bogor, Cibinong, Depok dan Jakarta. Dari kota Bogor juga pertama kali dilakukan pipanisasi mata air dari Ciburial Ciomas ke Jakarta untuk air minum, pada tahun 1924.

Perkembangan penduduk dan perubahan penggunaan lahan di sekitar Bogor telah menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan dari lahan pertanian ke lahan terbangun berupa perumahan, jalan, dan infrtruktur lainnya. Perubahan ini tanpa disadari juga telah mengubah bangunan dan sarana pengairan yang ada dari sarana irigasi dan penyediaan air baku pengairan menjadi peruntukan sarana sumberdaya air, perubahan pola pikir masyarakat, kelembagaan dan sistem pengelolaan sumberdaya air di kota Bogor.  Perubahan dari hanya sekedar sebutan kota hujan yang bersifat pasif menjadi kota yang ramah terhadap sumberdaya air (Bogor water sensitive city). Pemangku kepentingan kota Bogor perlu berbenah menuju kota yang ramah air, Tanpa disadari perubahan penggunaan lahan, perubahan iklim di kota Bogor dan sekitarnya akan berdampak terhadap kehidupan sosial ekonomi dan potensi bencana yang akan mengancam keselamatan jiwa masyarakat kota Bogor.

Untuk lebih memahami apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi serta untuk mengantisipasi dinamika yang ada maka perlu diselenggarakan Focus Group Discussion (FGD). FGD ini bertujuan untuk mencapai sinergi antara para peneliti/akademisi, Pemerintah Kota Bogor, pelaku ekonomi (perusahaan), dan masyarakat serta insan media dalam melihat permasalahan yang dihadapi. FGD ini juga diharapkan dapat memberi masukan bagi Bappeda dan Pemerintah Kota Bogor dalam menyelenggrakan pembagunan yang berkelanjutan berbasis sumberdaya air. Mampu mendayagunakan semua potensi yang dimilikinya, baik potensinya sebagai kota dengan curah hujan yang tinggi, banyak air, dikelilingi banyak sungai dan diapit

Gunung Salak dan Gunung Pangrango. Terlebih posisi Kota Bogor yang sangat strategis sebagai daerah penyangga Ibukota Jakarta dalam penyediaan air bersih, dan juga mencegah dari bahaya banjir. Kota Bogor juga berpotensi dalam menyediakan air bersih untuk Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok dan DKI Jakarta.

Focus Group Discussion (FGD) ini merupakan kolaborasi dari para peneliti yang tergabung dalam Urban Water Research Cluster (UWRC), Australia Indonesia Centre (AIC), dan bekerja sama dengan pemerintah kota Bogor. AIC sendiri didirikan oleh Pemerintah Australia dan Indonesia sebagai bentuk kerjasama Government to Government (G to G) dengan fokus pada pengembangan multi-stakeholders network antara Australia dan Indonesia dengan melakukan berbagai kegiatan yang komprehensif. Salah satu kerjasama University to University (U to U) yang diselenggarakan dibawah AIC adalah kerjasama antara Monash University, Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Indonesia (UI) dalam Urban Water Research Cluster (UWRC) untuk melakukan penelitian berkualitas tinggi, aplikatif, dan memiliki dampak besar bagi Kota Bogor pada khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Dalam fokus penelitian Urban Water Research Cluster – AIC, Kota Bogor terpilih sebagai pusat lokasi studi air wilayah perkotaan yang terbagi dalam 6 sub tema: 1) Benchmarking tools, 2) Socio-institutional pathways, 3) Infrastructure adaptation pathways, 4) Green Technology pathways, 5) Urban Design and Demonstration, dan 6) Learning Alliances. Kolaborasi penelitian ini akan berlangsung sampai dengan Agustus 2019 dengan kemungkinan perpanjangan.

  1. Tujuan:

Tujuan penyelenggraan FGD ini: 1) Untuk mengetahui perkembangan sistem pengelolaan sumberdaya air; menghimpun dan mendokumentasikan pengetahun, data dan informasi yang terkait di kota Bogor; 2) Untuk mengetahui mitigasi, adaptasi, sistem peringatan dini dan cara mengantisapasi problem banjir dan tanah longsor yang mungkin akan terjadi di masa yang akan dating; 3) Untuk menghimpun semua aspek tekonologi, kelembagaan, sistem pengelolaan, kapasitas pendanaan dan kewenangan dalam pengelolaan sumberdaya air di Kota Bogor.

  1. Waktu dan Tempat

FGD ini akan diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal: Jumat, 17 Maret 2017

Tempat:  Paseban Sri Bima Balai Kota Bogor, Jl. Ir. H. Djuanda No. 10, Bogor Tengah 16121

Jam: 08.00 – 11.00 WIB

Peserta: 50 Orang (daftar undangan di bagian D)

Topik: Penyebab dan Solusi Banjir SMAN 2 dan Longsor di Kota Bogor

IMG_4037a IMG_4029a

Susunan Acara

Topik:  Penyebab dan Solusi  Banjir SMAN2 dan Longsor di  Kota  Bogor

No Waktu Topik PIC
1. 08.00 – 08.15 Registrasi Sekertariat
2. 08.15 – 08.30 Pembukaan

1.      Kordinator: Prof. Hadi Susilo Arifin

INTRODUCTION – Urban Water Research – PDF File CLICK Di Sini

2.      Kepala Bappeda Kota Bogor

 

LO AIC

2. 08.30 – 09.00 Dr Nana M Arifjaya: Pemaparan Fakta Banjir SMAN 2 dan Longsor di Kota Bogor- PDF File CLICK Di Sini Prof. Hadi Susilo Arifin
3. 09.00 – 09.20 Insights dari Tim Peneliti Urban Water Research Cluster, AIC:

1.      Prof. Hidayat Pawitan – Macro Approach – PDF File CLICK Di Sini

2.      Dr. Yuli Suharnoto – TRRM Data Analysis – PDF File CLICK Di Sini

Prof. Hadi Susilo Arifin
4. 09.20 – 10.30 Tanggapan dan diskusi dari stakeholders:

1.      Walikota Bogor

2.      Ka.Dinas PUPR

3.      Ka. BPBD Bogor

4.      Diskusi Terarah

Prof. Hadi Susilo Arifin
5. 10.30 – 10.55 Perumusan hasil oleh tim perumus:

–          Prof. Yusman Syaukat

–          Prof. Handoko

–          Dr. Nurmala Katrina

–          Dr. Nora Panjaitan (Ketua)

–          Dr. Surya Tarigan

–          Dr. Yanuar

–          Dr. Kaswanto (Sekretaris)

Tanggapan terhadap Rumusan

Prof. Hadi Susilo Arifin
6. 10.55 – 11.00 Penutupan Prof. Hadi Susilo Arifin

 

 Daftar Undangan dan Peserta

  1. Walikota Bogor (AIC Advisory Board Member)
  2. President Sentul City Tbk. (AIC Advisory Board Member)
  3. Senior Vice President PT. Asabi, Agricon (AIC Advisory Board Member)
  4. Ketua DPRD c.q. Komisi C Kota Bogor
  5. Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerjasama (WRRK) IPB
  6. Kepala Bappeda Kota Bogor
  7. Kepala Dinas PUPR Kota Bogor
  8. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor
  9. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor
  10. Direktur Utama PDAM Tirta Pakuan, Kota Bogor
  11. Ketua Tim Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan (TP4) Kota Bogor
  12. Kepala Kantor SDA Cisadane
  13. Kepala Balai BPDAS Ciliwung Cisadane
  14. Kepala BKP2 Wilayah I Jawa Barat
  15. Camat Tanah Sareal
  16. Camat Bogor Tengah
  17. Lurah Sukadamai
  18. IUWASH Kota Bogor
  19. Ketua Komunitas Peduli Ciliwung (KPC)
  20. Perwakilan Komunitas Bogor Sahabats (Bobats)
  21. Direktur Riset dan Inovasi (DRI) IPB
  22. Peneliti UWRC Monash University Australia (Prof. Richard Price, Dr Christian Urich, Mr. Keven Stevens)
  23. Peneliti UWRC Universitas Indonesia (Dr Komara)
  24. Peneliti UWRC Institut Pertanian Bogor (12 Orang)
  25. Mahasiswa S3/GRIP UWRC Monash University, Australia (Behzad & Adam)
  26. Mahasiswa S3/S2 UWRC IPB (11 orang)
  27. Media massa (Radar Bogor, Kompas, Media Indonesia, Tempo, Republika, Jakarta Post, Pariwara IPB, RRI, dll)

17359441_10209065142240793_2431721692940333939_o

IPB Dukung Wujudkan Bogor Water Sensitive City

Kota Bogor dianugerahi curah hujan yang banyak, dengan rata-rata 3000-3500 mm/tahun, sehingga Bogor dikenal sebagai Kota Hujan. Curah hujan yang tinggi ini membuat para pemangku kepentingan Kota Bogor perlu berbenah menuju kota yang ramah air. Tanpa disadari, adanya perubahan penggunaan lahan dan perubahan iklim di Kota Bogor dan sekitarnya, akan berdampak terhadap kehidupan sosial ekonomi dan potensi bencana yang akan mengancam keselamatan jiwa masyarakat kota Bogor. Demikian disampaikan Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin dalam acara Focus Group Discussion (FGD) di Balaikota Bogor, belum lama ini.

Prof. Hadi menambahkan, perubahan Bogor dari hanya sekadar sebutan Kota Hujan yang bersifat pasif harus bisa menjadi kota yang ramah terhadap sumberdaya air (Bogor water sensitive city).  ”Baru-baru ini terjadi longsor di Paledang dan banjir di SMAN 2 Bogor. Hal ini menyadarkan semua pihak, bahwa potensi serta ancaman banjir dan longsor telah terjadi di sekitar kita. Bahaya tersebut telah menimbulkan kerugian harta dan jiwa, secara materil dan imateril bagi warga Kota Bogor,” ujarnya.

Wali Kota Bogor, Dr. Bima Arya menyampaikan terimakasih kepada IPB, seraya mengatakan  bahwa kata kunci  dalam FGD saat itu adalah science  yang  akan membawa solusi. “Strategi  mikro yang  harus dicoba terkait masalah sumberdaya air adalah meningkatkan kapasitas air. Kapasitas saluran air ditingkatkan kembali. Mencoba strategi normalisasi drainase,” terangnya.

Diakui Wali Kota, persoalan bencana banjir baru-baru ini merupakan persoalan yang sistemik. Untuk itu, Pemerintah Kota Bogor sedang melakukan proses penyusunan ulang tata kota.

FGD ini merupakan kolaborasi dari para peneliti yang tergabung dalam Urban Water Research Cluster (UWRC), Australia Indonesia Centre (AIC) bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bogor. AIC didirikan oleh pemerintah Australia dan Indonesia sebagai bentuk kerjasama Government to Government (G to G) dengan fokus pada pengembangan multi-stakeholders network antara Australia dan Indonesia dengan melakukan berbagai kegiatan yang komprehensif. Salah satu kerjasama University to University (U to U) yang diselenggarakan di bawah AIC adalah kerjasama antara Monash University, IPB dan Universitas Indonesia (UI) dalam Urban Water Research Cluster (UWRC) untuk melakukan penelitian berkualitas tinggi, aplikatif dan memiliki dampak besar bagi Kota Bogor pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

FGD ini bertujuan untuk mencapai sinergi antara para peneliti/akademisi, Pemerintah Kota Bogor, pelaku ekonomi (perusahaan) dan masyarakat serta insan media dalam melihat permasalahan yang dihadapi. FGD ini juga diharapkan dapat memberi masukan bagi Bappeda dan Pemerintah Kota Bogor dalam menyelenggarakan pembangunan yang berkelanjutan berbasis sumberdaya air; mampu mendayagunakan semua potensi yang dimilikinya, baik potensinya sebagai kota dengan curah hujan yang tinggi, banyak air, dikelilingi banyak sungai dan diapit Gunung Salak dan Gunung Pangrango. Terlebih posisi Kota Bogor yang sangat strategis sebagai daerah penyangga Ibu Kota Jakarta dalam penyediaan air bersih, dan juga mencegah dari bahaya banjir. Kota Bogor juga berpotensi dalam menyediakan air bersih untuk Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok dan DKI Jakarta.(dh)

20161117_091718 20161117_121833

CIMG9089a CIMG9091

CIMG9135a IMG-20161117-WA0037

Kongres I – Alumni JSPS-Indonesia di LIPI Cibinong, 17 November 2016

Alumni JSPS Mendukung Program Pemerintah di Bidang Pangan, Energi, Lingkungna dan Isu-isu Sosial

RINGKASAN: PERTANIAN DAN PANGAN Slide PPT Click di Sini

Hadi Susilo ARIFIN, Ph.D. Personal Data Click di Sini

Professor di Bidang Manajemen dan Ekologi Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertnian Bogor;                                Anggota POKJA Ahli-Pusat “Dewan Ketahanan Pangan” Indonesia (2010-sekarang);                                                         National Consultant of FAO for Globally Important Agriculture Heritage Systems – GIAHS (2015);                         Wakil Kordinator Kerjasama pada Core University Program – Research Unit for Bio-Resources Development (RUBRD), The University of Tokyo & IPB/JSPS & DIKTI (1998-2003 & 2004-2008)

Pertanian adalah suatu budaya manusia dalam kegiatan memanen energi yang ditangkap oleh tumbuhan dan tanaman serta dimasak oleh chlorophyll menjadi karbohidrat. Produk tersebut yang menjadi kebutuhan manusia dalam pemenuhan hajat hidupnya dalam pangan, sandang dan papan. Ledakan populasi penduduk di dunia termasuk di Indonesia, mengakibatkan kebutuhan pangan meningkat dengan pesat. Di lain pihak ketersediaan lahan subur semakin berkurang akibat transformasi sistem perdesaan menuju ke sistem perkotaan (urbanisasi). Sehingga telah terjadi perubahan tata guna lahan dan perubahan penutupan lahan secara sangat cepat. Akhir abad 22 penduduk dunia akan mencapai 10 milyar. Dari mana saja persediaan makanan penduduk dunia ini? Thomas Malthus (1798), jumlah manusia meningkat secara eksponensial, usaha pertambahan persediaan makanan meningkat secara aritmetika. Kekurangan pangan dengan kondisi kelaparan berkepanjangan bisa mengakibatkan  kurang gizi. Lester R Brown (AS): “Dunia yang terlambat berkembang itu kehilangan kemampuannya untuk menyediakan makanan bagi dirinya sendiri”. Ia tidak memiliki ketahanan pangan.

Sektor pertanian menghasilkan dan menyediakan bahan pangan baik dari tumbuhan/tanaman, hewan/ternak, dan ikan. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman (UU N0. 18 Tahun 2012 tentang Pangan). Oleh karena “Pertanian adalah Hidup Mati Bangsa” (Soekarno, 1952).  Untuk membangun bangsa dan Negara yang kuat, maka ketahanan pangan, kemandirian pangan dan kedaulatan pangan harus diwujudkan, terutama di Indonesia. Permasalahannya pernyataan Soekarno sudah lewat 64 tahun yang lalu, tapi ketersediaan pangan dalam negeri sebagian masih banyak mengimpor. Beberapa jenis pangan utama pada periode Kabinet Indonesia Bersatu baik jilid I (data 2005- 2009) dan KIB jilid II (data 2010-2013) telah terjadi peningkat jumpalh impor pangan yang sangat signifikan. Anggaran Sektor Pertanian  Rp 10,1 Trilyun (2004); Rp 12,6 Trilyun (2005), Rp 49,8 Trilyun (2009); 71,9 Trilyun (2013). Atau terjadi peningkatan 611 % dalam tempo 9 tahun (BKF, 2014).

Terkait dengan kesehatan dan kebugaran, pangan bisa memiliki dampak positif atau negatif. Hal yang positif, yaitu sumber energy; senyawa penting untuk mempertahankan kesehatan dan kebugaran; senyawa gizi, komponen bioactive/nutraceutical/fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan dan kebugaran; sumber kenikmatan. Sedang yang negatif, misal konsumsi yang salah, tidak berimbang, sehingga bisa membahayakan untuk kesehatan; dan adanya cemaran dan residu. Penggolongan pangan berdasarkan fungsi zat gizi, yaitu: (1) zat gizi penghasil energi, yaitu karbohidrat, lemak dan protein (sebagai bahan makanan pokok); (2) zat gizi pembangun sel, yaitu terutama protein (bahan pangan lauk-pauk); (3) zat gizi pengatur, yaitu  terutama vitamin dan mineral (sayur dan buah). Namun pangan bisa juga berfungsi sebagai obat dan menjaga kesehatan dan kebugaran (nutraceutical). Kampanye di Korea   “good food is good medicine”; Let your food be your medicine and your medicine be your food (Hipocrates).

Tidak ada makanan yang mengandung secara lengkap zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh, karena itu manusia harus mengkonsumsi aneka bahan pangan. Namun pada manusia modern keanekaragaman berkurang. Hal itu disebabkan manusia yang menetap memilih jenis tanaman dan hewan untuk dipelihara. Pilihan berdasarkan: mudah dipelihara, mudah diolah, mudah disimpan/diawetkan, manfaat yang paling banyak; pilihan pada tumbuhan bebijian: serealia dan kekacangan. Pernyataan empat sehat lima sempurna, sudah diganti dengan makanan yang Beragam, Berimbang, Bergizi, Sehat dan Aman (B3SA). Gerakan dengan mengusung pangan lokal dari unit keluarga berbasis pekarangan melalui Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) dan juga program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementrian Pertania-RI sejak tahun 2009 dan 2010-an.

Kelompok masyarakat dengan budidaya pemanfaatan lahan kering dengan tumbuhan andalan penghasil karbohidrat, maka memiliki sumber pangan yang lebih beragam yaitu padi, jagung, umbian, sagu. Di daerah dengan budidaya persawahan tumbuhan andalah menjadi terbatas: padi dan palawija. Nasi menjadi makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Alasannya karena enak, pengolahan mudah, tahan lama, protein tinggi, bentuk padat mudah dikemas/angkut dan disimpan. Dampaknya tingkat konsumsi beras di Indonesia sekitar 139 kg/kap/tahun, menjadi 125 kg/kap/tahun (sebelum 2007), lalu  turun menjadi 114 kg/kap/tahun (2015). Tetapi jumlah tersebut masih sangat tinggi jika dibanding dengan Negara tetangga sekalipun.

Bioteknologi pertanian dikembangkan tidak hanya untuk pemenuhan pangan, tetapi juga  memproduksi dan mengembangkan untuk farmasi, enzim dan bahan-bahan biomolekul, Biopestisida, dan untuk peningkatan pertumbuhan, perkembangan, reproduksi dan nutrisi ikan dan hewan. Bioteknologi juga diupayakan untuk mengatasi masalah lingkungan. Restorasi ekosistem. Misalnya: diagnosis dan monitoring penyakit menular; kontrol hama,penyakit dan gulma pada pertanian; deteksi, monitor dan remediasi polutan; skreening toksisitas; dan konversi limbah ke energi

Perencanaan pembangunan pertanian, pangan dan kesehatan perlu dilakukan dengan cara: (1) Membuat peta detail pertanian tanaman pangan: lokasi dan luas lahan berdasar tingkat kesesuaian lahan; serta peta produksi pangan berdasar waktu, lokasi dan komoditas; (2) Berdasarkan hal tersebut merencanakan pasokan pangan; (3) Mempelajari pola pangan masyarakat; (4) Riset untuk mendapatkan pangan local bernilai (gizi, gengsi, citarasa, kemudahan penyediaan, kemudahan pengolahan, kemudahan penyimpanan) seperti beras; (5) Membangun industry pangan berbasis sumberdaya; (6) Penyediaan pangan utama alternatif berbasis sumberdaya lokal; dan (7) Kampanye diversifikasi pangan. Lebih jauh diperkirakan pertanian masa depan adalah soiless base agriculture, dan akan mngarah ke high rise buiding farming system antar lain green roof gardens, green top gardens, hanging gardens, green wall gardens dan lain sebagainya. Keilmuan pertanian akan berkembang terus sehingga menuju ke precision farming system.***

PROGRAM: DECLARATION AND CONGRESS OF JSPS ALUMNI ASSOCIATION OF INDONESIA

INNOVATION CENTER LIPI, 17 NOVEMBER 2016

 TIME AGENDA NOTES
08.30 – 09.00 Registration, morning coffee OC
09.00- 09.10 Welcome Speech of JAAI Chairman Prof. Subyakto
09.10 – 09.20 Speech of Director JSPS Bangkok Office OR Japanese Embassy Prof. Kuniaki Yamashita
09.20 – 09.30 Speech and Opening by Chairman of LIPI Prof. Iskandar Zulkarnaen
09.30 – 10.00 Declaration and Congress

Photo Session

OC
10.00 – 10.30 Invite Speeches

1. Prof. Dr. Lukman Hakim

2. Prof. Kuniaki Yamashita

Dr. Andika W. Pramono (Moderator)
10.30 – 11.30 Keynote Speeches

1. Prof. Hadi Susilo Arifin (Food & Agriculture)

2. Dr. Neni Sintawardani (Renewable Energy)

3. Dr. Haris Gunawan (Environment)

4. Dr. Hery Yogaswara (Social Issues)

Dr. Wahyu Dwianto (Moderator)
11.30 – 12.00 Panel Discussion & Wraping Prof. Subyakto (Moderator)
12.00 – 12.15 Closing Prof. Bambang Subiyanto
12.15 – 13.15 Lunch OC

 

 

KONSEP HIJAU DI KAMPUS IPB DARMAGA

Dalam Rangka Merespon “HOT ISSUE – IPB GREEN TRANSPORTATION”

Oleh: Hadi Susilo Arifin

Ketua Komisi B – Dewan Guru Besar IPB & Anggota Komisi A – Senat Akademik IPB

PENDAHULUAN

Gerakan Hijau “green movement”, adalah kegiatan pembudayaan penerapan prinsip-prinsip hijau/ekologis/keberlanjutan mulai dari proses perencanaan, perancangan, pelaksanaan dan pengoperasian hingga manajemen suatu obyek (bisa mulai dari bangunan, fasilitas, infrastruktur, moda transportasi, wilayah kapus, wilayah desa, wilayah kota dan lain sebagainya) serta lingkungannya. Pada gilirannya, gerakan “green” dengan mengusung konsep “green” ini akan mewujudkan “green building”, “green facilities”, “green infrastructure”, “green transportasi”, “green campus”, “green village”, “green city” dan lain sebagainya.

Penerapan konsep green dalam wujud obyek atau wilayah memerlukan designation dari suatu lembaga independen. Misalnya untuk “green building”, di Indonesia ada Lembaga Konsil Bangunan Hijau Indonesia atau “Green Building Council Indonesia” yang didirikan pada tahun 2009 dan diselenggarakan oleh sinergi di antara para pemangku kepentingannya, meliputi: Profesional bidang jasa konstruksi; Kalangan Industri Sektor Bangunan dan Properti; Pemerintah; Institusi Pendidikan & Penelitian; dan Asosiasi profesi dan masyarakat perduli lingkungan. Green Building Council Indonesia adalah anggota dari World Green Building Council (WGBC) yang berpusat di Toronto, Kanada. WGBC saat ini sudah mempunyai 64 negara anggota, dan hanya mengakui satu GBC di setiap negara. Green Building Council Indonesia melakukan kegiatan pendidikan masyarakat secara luas serta menyelenggarakan Sertifikasi Bangunan Hijau di Indonesia berdasarkan perangkat penilaian khas Indonesia yang diberi nama GREENSHIP.

Dalam penerapan konsep green city misalnya, kelembagaannya ada di bawah Kementrian Pekerjaan Umum melalui Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH). Program ini memang datang dari atas, secara Top-Down ditawarkan P2KH kepada kota dan kabupaten. Meskipun demikian, usulannya memang datang dari tingkat Kota/Kabupaten ke Kementrian terkait. Gerakan kota hijau juga merupakan respon terhadap perubahan iklim global. Dan dalam agenda nasional juga bagaimana menerapkan peraturan yang tertuang pada Undang-Undang No 27 tahun 2006 tentang penataan ruang (mulai nasional, wilayah, kota/kabupaten) tentang kewajiban penyediaan minimal 30% ruang terbuka hijau (RTH) pada suatu wilayah. Meskipun kita tahu konsep hijau di mana pun tidak semata diindaikasikan oleh ketersediaan RTH saja. Begitu juga dalam konsep “green campus”.  Hal ini akan terwujud dengan sempurna bilamana elemen-elemen pendukungnya juga melakukan gerakan-gerakan dengan “green concept”nya, mulai dari green building, green infrastructure, green transportation, dan lain sebagainya.

KONSEP HIJAU

Konsep hijau sendiri memberi perhatian penuh pada konsep penghematan, yaitu penghematan lahan, penghematan bahan, dan penghematan energi (saving land, saving material, and saving energy). Hal ini tentu didasarkan pada konsep ekosistem. Artinya, pembangunan apa pun sebaiknya mengacu pada kondisi ekosistemnya baik dari kondisi biologisnya (biotik – tumbuhan, tanaman, hewan, satwa liar, manusia termasuk semua mahluk hidup yang ada di dalamnya), maupun kondisi fisiknya (abiotic) seperti tanah, air dan udara.

Pada tataran wilayah maka muncullah istilah eco-campus, eco-village, eco-city, dan lain-lain. Ketika respon suatu ekosistem memiliki kelentingan (resilient) pada perubahan lingkungan maka wilayah tersebut bisa memiliki jaminan keberlanjutan, baik keberlanjutan ekologis (lingkungan bio-fisik), keberlanjutan ekonomis, maupun keberlanjutan kultural (sosial budaya). Pada tingkat ini akan muncul sustainable campus, sustainable city dan lain sebagainya.

UNEP DAN ISO14001 TINGKAT KOTA

Dalam mengimplemantasi green concept, konsep ekologis, maupun konsep keberlanjutan maka ada baiknya kita melihat dari United Nation for Environmental Program (UNEP) yang telah mengeluarkan ISO14001 pada tingkat kota. Dalam hal penerapan di kampus, kita juga bisa menganalogikan pada variable ini. Beberapa tindakan indikator untuk menuju ke implementasi green, ekologis, dan keberlanjutan maka hendaknya meliputi, kegiatan sebagai berikut:

  1. Promotion of Eco-office (7 gerakan): penghematan energi; penghematan air; pengurangan limbah padat; pendaur-ulangan bahan; Green procurement; konservasi air-udara bersih; pengendalian bahan kimia
  2. Promotion of Eco-Project (6 gerakan): penggunaan-penggunaan bahan ramah lingkungan; peralatan yang ramah lingkungan; hasil daur ulang; rekayasa hijau pada pekerjaan ke-PU-an; pengembangan teknologi hijau; promosi penghijauan.
  3. Green City Planning (5 gerakan): menyusun panduan hijau bagi ke PU-an; bagi perumahan; meningkatkan penggunaan transportasi umum; membangun kapasitas; mengajukan sitem manajemen lingkungan bagi kota keseluruhan.

TINDAKAN MENUJU KEBERLANJUTAN

Implementasi konsep hijau maupun konsep ekologis, semuanya akan bermuara pada konsep yang berkelanjutan. Oleh karena itu apakah pada level desa, kota, wilayah atau pun sekecil area kampus, proses dan upaya ini bertujuan untuk mewujudkan suatu lingkungan yang berkelanjutan. Terdapat 3 hal yang diperhatikan dalam keberlanjutan, yaitu keberlanjutan lingkungan (ekologis, bio-fisik), keberlanjutan ekonimis, dan keberlanjutan sosio-kultural (Gambar xx).

Gambar xx tiga aspek yang saling berhubungan dan memiliki overlapping satu sama lain dalam keberlanjutan lingkungan

Tiga hal hang menyangkut keberlajutan adalah sebagai berikut:

  1. Komponen desain ekologis pada lingkungan: manajemen sumberdaya air; lanskap kota; manajemen limbah; transportasi; teknologi yang berkelanjutan
  2. Komponen ekonomi: strategi kekuatan ekonomi dari pembangunan yang berkelanjutan – perubahan Tata Guna Lahan rural-suburban-urban; kebijakan permukiman-pekerjaan, infrastruktur-biaya pemeliharaannya; hilangnya Ruang Terbuka Hijau RTH – Ruang Terbuka Biru RTB ; polusi; kemacetan lalu lintas.
  3. Komponen sosial-budaya: meningkatkan partisipasi masyarakat; pengembangan berbasis pengetahuan lokal dan kearifan lokal; menilai tingkat keberlanjutan masyarakat.

KAMPUS HIJAU-KAMPUS EKOLOGIS-KAMPUS BERKELANJUTAN

Dengan analogi pada pengembangan kota hijau, kota yang sehat secara ekologis (the Green City Vision, 2008), maka dalam mewujudkan kampus hijau kita perlu juga melakukan:

  1. Mengkampanyakan kegiatan dengan berjalan kaki, bersepeda, menggunakan moda tranportasi umum, dan angkatan massal bagi pengembangan green transporation.
  2. Mengembangkan teknologi energi terbaharukan bagi green building dan green businesse, misal menerapkan penggunaan solar energy untuk sumber penarangan jalan, penerangan taman-tama, dan lain-lain.
  3. Merestorasi lingkungan dan lanskap kampus, memberdayakan keberadaan RTH dan RTB, misalnya mempraktekkan pembangunan taman-taman/kebun-kebun/pertanian organic yang ramah lingkungan, menggunakan jenis-jenis tanaman lokal, mengusung RTH dan RTB sebagai media dalam jasa lanskap, atau jasa ekosistem, atau jasa lingkungan.
  4. Melakukan gerakan-gerakan yang berwawasan lingkungan antara lain mempraktekkan pemilihan sampah dan melakukan pengolahannya di dalam kampus. Dalam hal ini tidak kalah penting bukan hanya penyediaan infrastruktur dan fasilitasnya saja tetapi dilakukan building capacity nya.

Dengan demikian, target dari green campus di IPB yaitu dapat menyadarkan semua civitas academica serta dengan segala tenaga kependidikan dan semua masyarakat yang ada di sekitar kampus untuk berperilaku ramah terhadap lingkungan. Sehingga hal tersebut akan memberikan dampak nyata, sebagai berikut:

  1. Security/safety: masyarakat kampus, yaitu civitas academica dan staf kependidikan dapat menjalankan kegiatannya tanpa takut terhadap gangguan baik gangguan buatan manusia /alami.
  2. Comfortability: menyediakan kesempatan setiap elemen masyarakat kampus mengartikulasikan nilai sosial budaya dalam keadaan damai.
  3. Productivity: Menyediakan infrstruktur yang efektif – efisien, memfasilitasi proses ekonomi produksi & distribusi dalam meningkatkan nilai tambah, untuk mencapai kesejahteraan masyarakat kampus, serta meningkatkan daya saing.
  4. Sustainability: Menyediakan kualitas lingkungan yang lebih baik bagi generasi saat ini tetapi untuk generasi yang akan datang.

GERAKAN GREEN TRANSPORTATION

Green transportation, transportasi hijau adalah suatu terobosan yang sangat baik di kampus IPB dalam mengusung implementasi konsep hijau. Green transportation tidak semata-mata menyediakan mobil listrik, bus keliling kampus, ojek distop beroperasi dalam kampus, kemudian civitas academica memarkir kendaraan di titik tertentu, atau civitas academica dimohon berjalan dari tempat satu ke tempat lainnya, dan beberapa program lainnya hanya berupa gerakan-gerakan yang dilakukan secara fisik. Kelihatannya sederhana, tetapi seharusnya didasari oleh konsep filosofis yang dalam, perencanaan yang matang, implementasi yang secara holistik, dan komitmen manajemen serta pengawasan yang konsisten.

Pemahaman konsep dan filosofi hijau selayaknya dikenalkan sebelum gerakan dimulai. Tidak sebentar, kadang-kadang memerlukan waktu yang cukup lama meski pun civitas academica berada di lingkungan intelek, berpendidikan dan berbudaya. Tetapi perubahan perilaku, kebiasaan, tata-cara tetap membutuhkan pemahaman dan persepsi yang sama, preferensi yang sama, dan tindakan yang sama. Sehingga etika dan norma yang ditegakkan akan memiliki nilai-nilai yang bermakna dalam mengusung konsep hijau, khususnya menterjemahkan konsep hubungan manusia dengan alam/lingkungannya. Sosialisasi melalui peraturan, selebaran, spanduk, video papan-papan pengumuman yang bersifat persuasive secara sederhana. Praktik demikian perlu dilakukan secara bertahap dan memakan waktu. Hal tersebut bisa dilakukan secara simultan dengan inisiasi implementasi program.

Perencanaan transportasi hijau selayaknya didahului oleh prasarana baru kemudian sarananya (bukan “sar-pras” tetapi “pras-sar”). Hal yang paling sederhana sambil sosialiasi mulailah IPB dengan melakukan pembenahan prasarana, sebagai berikut:

  1. Penambahan panjang pedestrian track dan cycling line dari satu titik ruang ke titik lainnya. Jika perlu jalur tersebut berkanopi, sehingga pejalan kaki dan pesepeda tidak kepanasan saat terik matahari dan tidak basah kuyup saat hujan.
  2. Perancangan kanopi bisa dibuat per segmen jalan sehingga tidak monoton dan menjadi daya tarik serta “tetenger” atau “landmark”. Kanopi diharuskan berlampu dan berperangan listrik pada setiap jarak yang memadai untuk keamanan malam hari.
  3. Penyediaan parkir sepeda di setiap unit atau kantor dan ditempatkan pada posisi yang paling strategis. Misalnya sama dengan posisi parkir mobil pejabat saat ini. Sehingga memudahkan akseibilitas pengguna sepeda ke ruang kantornya.
  4. Pemasangan Cermin cembung pada setiap pertigaan dan perempatan dalam kampus, akan meningkatkan keamanan pesepeda dan pejalan kaki.
  5. Penempatan halte bus yang strategis, dibuat secara berhadapan di sisi kanan dan sisi kiri jalan dan tidak langsung di tepi jalan. Di setiap halte bus diberikan coakan lahan sekitar panjang 5-6 meter dan lebar 2-3 meter untuk tempat bus parker sementara saat menaikkan/menurunkan penumpang.
  6. Pengecatan aspal untuk sebra cross, penyebrangan di tempat-tempat strategis. Hal ini penting dalam mendidik civitas acedemica berperilaku dalam lalu-lintas yang benar.  Dan hanya di tempat itulah civitas academica dididik untuk menyebrang jalan. Oleh karena itu jumlah dan jarak harus didasarkan dari kondisi fisik lanskap jalan serta perilaku pengguna jalan.
  7. Perbanyakan dan penempatan rambu-rambu lalu lintas di tempat strategis. Hal ini pun dilaukakan berdasarkan kelayakan dan kesesuaian jalan atau lokasi tersebut. Hal ini memberikan pendidikan bagi civitas academica/pengguna jalan. Tentu saja dibarengi dengan tindakan hokum jika adanya pelanggaran-pelanggaran.
  8. Penyediaan tempat parkir yang terkonsentrasi pada titik-titik strategis, baik yang dikhususkan untuk staff (menggunakan portal otomatis berkartu elektronik dan ber CCTV) maupun parker untuk mahasiswa dan tamu umum. Semua pelanggaran perlu diberikan sanksi hokum yang telah disosialisasikan sebelumnya.
  9. Jika semua prasarana di dalam kampus maupun di luar kampus sudah memadai karena konsep hijau ini perlu dibangun secara holistic oleh semua para-pihak maka bisa diusulkan tentang OPSI penggunaan kendaraan bermotor berdasarkan jarak tempat tinggal. Mengadopsi pengalaman di beberapa kampus di Jepang, misal di Okayama University diberlakukan bahwa Dosen boleh membawa kendaraan bermotor jika memiliki jarak tempuh dari rumah ke kampus lebih dari 3 km. Staff kependidikan dijinkan membawa kendaraan bermotor jika jarak tempat tinggal ke kampus lebih dari 5 km. Sedangkan mahasiswa dijinkan membawa kendaraan bermotor jika jarak tempat tinggal ke kampus lebih dari 7 km. Kembali ide ini sangat kondisional, hendaknya disesuaikan dengan ketersediaan prasarana dan saranaa keamannan serta kenyamanan berkendaraan umum di luar kampus.

Akhirnya komitmen manajemen dan pengawasan adalah tangan terakhir yang menentukan keberhasilan implementasi transportasi hijau. Penyediaan alat transporatsi ramah lingkungan bagi civitas academica  serupa mobil listrik, bus umum yang memuat banyak penumpang, pinjaman sepeda, penempelan stiker parker dan lain-lain merupakan insentif bagi civitas academica yang mendukung program hijau. Jadi selayaknya mereka dibebaskan dari pembiyaan angkutan. Di lain pihak, pelarangan operasi ojek, pengurangan penggunaan kendaraan bermotor dalam kampus merupakan peraturan yang harus ditegakkan dengan sanksi yang berat jika ada pelanggaran. Penegakkan hukum ini harus dilakukan secara sistemeik, terus-menerus tanpa perkecualian sehingga semua civitas academica dan staff kependidikan maupun tamu pengunjung IPB memperoleh persepsi positif yang sama.

PENUTUP

Gaya hidup modern berkembang seiring dengan permasalahan lingkungan akibat pemborosan penggunaan sumber daya alam. Karena adanya degradasi lingkungan serta adanya perilaku manusia yang tidak ramah pada lingkungan salah satunya telah berdampak pada pemanasan global. Karena itu insan yang hidup di era modern tidak hanya memerlukan pendidikan yang tinggi saja, tetapi seharusnya mampu berpikir dan berperilaku secara cerdas (smart).  Saat ini “konsep hijau” sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Tetapi yang tidak kalah penting adalah “implementasi gerakan hijau” sudah harus menjadi bagian dari kebutuhan hidup. Implementasi gerakan hijau ini dapat memberdayakan lanskap yang ada mampu menyediakan jasa ekosistem yang memadai mulai dari memproteksi sumberdaya tanah, air dan udara, juga mampu mengkonservasi keanekaragaman hayati, meningkatkan produktivitas lahan, serta meningkatkan keindahan lanskap. Oleh karena itu marilah kita mulai dari lingkungan kita sendiri, lingkungan rumah dan lingkungan kampus IPB sebagai green campus, dan akhirnya mendukung mimpi-mimpi kita mewujudkan ke green city dan green country.

Bogor, 4 November 2016

Hadi Susilo Arifin

Guru Besar di Bidang Ekologi dan Manajemen Lanskap

Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, IPB

 

 

 

20160510_100739CIMG4243CIMG4235

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN 

BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI

SEKRETARIAT BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI

Gedung Manggala Wanabakti Blok IV lantai 7, Jl. Gatot Subroto Jakarta 10270

Telp. 021 – 57903068 ex 373, Faximile 021 – 57903068

Jl. Gunung Batu No. 5, Bogor 16610 Telepon 0251 – 8631238, Faksimile 0251 – 7520005

Mei 2016

Lampiran   :  2 (dua) lembar

Hal           :  Permohonan Pembahas

Kepada Yth.:

Prof. Hadi Susilo Arifin

di Tempat

Dalam rangka diseminasi hasil riset Badan Litbang dan Inovasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan Litbang dan Inovasi  akan menyelenggarakaan Gelar IPTEK Hasil Litbang dan Inovasi Tahun 2016 pada Hari Rabu – Kamis, 11 – 12 Mei 2016, bertempat di Auditorium Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta. Berkenaan dengan hal tersebut, dengan hormat kami sampaikan beberapa hal berikut:

  1. Gelar IPTEK dikemas dalam rangkaian kegiatan bedah buku, gelar teknologi, dan pameran. Kegiatan Bedah Buku bertujuan mempromosikan dan menyebarluaskan hasil-hasil litbang bidang lingkungan hidup dan kehutanan yang disusun dalam bentuk buku kepada parapihak yang berkepentingan.
  1. Sehubungan dengan hal tersebut, kami mohon kesediaan Bapak Hadi Susilo Arifin untuk menjadi salah satu Pengulas/Pembahas Buku berjudul “Peran Pohon di Perkotaan dalam Menyerap dan Menjerap Polutan  karya Dr. Ismayadi peneliti pada  Pusat Litbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim yang akan di bedah pada:

Hari/Tanggal   : Rabu, 11 Mei 2016

Waktu               : 10.30 – 12.30 WIB

Tempat             : Auditorium Gedung Manggala Wanabakti

  1. Pembahasan/Ulasan buku meliputi kesan umum terhadap buku dan kegunaan hasil IPTEK bagi pengguna, keunggulan dan kelemahan IPTEK hasil litbang yang diuraikan dalam buku tersebut serta aspek-aspek terkait lainnya.
  1. Terlampir agenda acara bedah buku pada Gelar IPTEK Hasil Litbang dan Inovasi Tahun 2016 dan lembar konfirmasi kesediaan untuk dilengkapi serta “Peran Pohon di Perkotaan dalam Menyerap dan Menjerap Polutan” sebagai bahan acuan dalam pembahasan.

Demikian kami sampaikan, atas kesediannya diucapkan terima kasih.

Sekretaris Badan,

Ir. Tri Joko Mulyono, MM.

NIP. 19580713 198503 1 003

Tembusan Yth.
Kepala Badan Litbang dan Inovasi (sebagai laporan)

 

Lampiran 1.  Surat Sekretaris Badan  Litbang  dan Inovasi

AGENDA ACARA

SESI I – BEDAH  BUKU

Auditorium Manggala Wanabakti

Rabu, 11 Mei 2016

Pukul: 10.3012.30 WIB

WAKTU KEGIATAN PERANGKAT SIDANG
Buku I: Restorasi DAS Ciliwung (2016) Moderator: Prita Laura
10.30 – 10.40 Presentasi Buku Restorasi DAS Ciliwung Irfan Budi Pramono, dkk (Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS Solo)
10.40 – 10.50 Pembahas 1 Prof. Hidayat Pawitan
10.50 – 11.00 Pembahas 2 Ir. Djoko Suryanto, M.Sc.
11.00 – 11.10 Diskusi
  Buku II: Pembangkit Listrik Tenaga Microhydro (2015) Moderator: Prita Laura
11.10 – 11.20 Presentasi Buku Pembangkit Listrik Tenaga Microhydro Hunggul Yudono SHN, M. Kudeng Sallata (Balai Litbang LHK Makassar)
11.20 – 11.30 Pembahas 1 Ir. Rida Mulyana, M.Sc (Dirjen EBT KESDM)
11.30 – 11.40 Pembahas 2 Ir. Ismugiono, MM (Direktur PJLHK)
11.40 – 11.50 Diskusi
  Buku III: Peran Pohon di Perkotaan dalam Menyerap dan Menjerap Polutan (2015) Moderator: Prita Laura
11.50 – 12.00 Presentasi Buku Peran Pohon di Perkotaan dalam Menyerap dan Menjerap Polutan Dr. Ismayadi, P3SEKPI

 

12.00 – 12.10 Pembahas 1 Prof. Hadi Susilo Arifin
12.10 – 12.20 Pembahas 2 Prof. Tarsoen Waryono
12.20 – 12.30 Diskusi
  MAKAN SIANG