*DAAI TV – Full version tentang Miris! di Kota Susah Air Bersih.*

Di kota …. dalam arti bagi masyarakat marginal, terutama di kawasan pesisir semisal di teluk Jakarta. Untuk keperluan sehari-hari (dengan jumlah air terbatas, kebutuhan minimal) mereka harus membeli air ketengan per dirijen atau per gerobak yang berisi beberapa dirijen.
Bila dihitung rata-rata per per gerobak IDR 9K mereka memerlukan 3 gerobak/KK berarti mereka merogoh kocek IDR 27K per hari. Maka 1 bulan mereka mengeluarkan dana IDR 810K. Betapa mahalnya… apalagi bagi masyarakat pra-sejahtera.

Sayangnya, sebagian wilayah marjinal tersebut belum tersentuh PDAM. Mereka belum bisa mengakses terhadap air bersih langsung dari PDAM yang seharusnya bisa dijangkau lebih murah. Padahal tahapan dalam “toward water sensitive city” yang paling awal (paling dasar adalah) “water supply city”.

Ini tanggung jawab Negara. Negara harus bisa memenuhi semua kebutuhan yang paling mendasar, salah satunya “air bersih”. Pemerintah setempat melalui PDAM kota dan kabupaten selayaknya supply air bersih tidak hanya memenuhi kebutuhan perumahan mewah, perhotelan, restoran dan industri tapi perlu mengutamakan jaringan infrastruktur perpipaan masuk ke kampung2 kumuh. Air PDAM tetap jauh lebih murah dari pada masyarakat harus membeli eceran per dirijen atau per gerobak dari Air PDAM yang didistribusikan oleh pengecer air. Silakan masing keluarga yang sdh dijangkau oleh PDAM. Berapa biaya yang Saudara keluarkan per bulan? ukuran Keluarga kecil dengan 5 anggota keluarga sudah meliputi kebutuhan air minum (direbus), masak, mck, siram tanaman bahkan cuci mobil. Adakah Kolega yang mau sharing berapa expense untuk air PDAM per bulan? Silakan tulis di sini berapa M3 air yang dibutuhkan dan berapa rata-rata pengeluaran per bulan untuk PDAM.

Pembelajarannya: Bahwa individu, kelompok masyarakat, kalangan swasta, pemerintah semuanya perlu memiliki awareness terhadap perlindungan tata air, pemanfaatannya serta pengelolaannya secara berkelanjutan. Air hujan yang berlimpah jangan dibiarkan dibuang begitu saja masuk ke selokan, ke sungai bahkan sering mengakibatkan banjir dan akhirnya lepas ke laut. Mari kita panen air hujan dengan mebuat bak penampungan, membuat sumur resapan, membuat balong, kolam, situ, embung beragam skala sesuai kemampuan individu, masyarakat, perusahaam swasta dan pemerintah setempat bahkan pada skala pekarangan sempit pun bisa kita lakukan, misalnya dengan membuat lubang biopori. Taman-taman, berm jalan, taman median jalan selayaknya bisa didesain oleh Dijas Pertamanan sebagai “Rain gardens”. Dengan menggunakan tanaman yang memiliki fungsi sebagai fitoremediator maka taman air hujan dapat difungsikan untuk memanen air dari “storm water” atau air limpasan. #Airsumberkehidupan

Sekedar info Tahapan kota yang ramah air dimulai: Water Supply City — Sewered City — Drained City — Waterways City — Water Cycle City — Water Sensitive City.

Pada Video ini selain liputan wawancara dengan Deddy Hadi Susilo Arifin juga ada liputan tentang kegiatan riset mahasiswa yang meneliti tanaman fitoremediasi.

#SebarkanKebaikan #kebaikanitukeren #DAAITV

All the best,
Deddy Hadi Susilo Arifin II