TRANSFER KEILMUAN ANTAR INSTITUSI MELALUI PENGEMBANGAN TRANSDISCIPLINARY SCIENCES
Hadi Susilo Arifin
Ketua Komis B – Dewan Guru Besar Institut Pertanian Bogor
Alamat Kontak: hsarifin@apps.ipb.ac.id & www.hsarifin.staff.ipb.ac.id

Latar Belakang Keilmuan
Keilmuan di perguruan tinggi senantiasa berkembang. Akan tetapi kita tahu tentang pohon ilmu, di mana setiap ilmu memiliki dasar perakarannya yang kuat dan berkembang sebagai batang keilmuan, percabangan hingga ranting-ranting keilmuan sampai ke elemen-elemen yang lebih spesifik sebagai bagian dari pohon besarnya. Kita ketahui bahwa ilmu dasar dan ilmu murni, tetapi ada pula ilmu terapan. Di perguruan tinggi pada prakteknya, keilmuan ini dikembangkan melalui pendidikan dan penelitian. Dalam pengembangan program studi atau jurusan, atau departemen pada umumnya berbasis pada bidang keilmuan dan kepakarannya berada dalam satu Laboratory, atau sering juga disebut Bagian, Divisi atau Kelompok Bidang Keahlian.
Pendidikan tinggi di Indonesia secara umum memiliki orientasi pada program studi sebagai media untuk mentransfer keilmuan. Hingga saat ini orientasi program studi lebih ke arah mono-disiplin. Keilmuan dalam pendidikan di perguruan tinggi ditransfer melalui perkuliahan dan hanya di ujung tahun, mahasiswa dikenalkan pada program riset yang hanya mengambil porsi 6 sks. Hal ini sangat berbeda dengan perguruan tinggi di negara lain yang lebih maju, terutama pada program pasca sarjana baik tingkat Master, apalagi tingkat Doktor. Dalam hal ini basis keilmuannya dikembangkan melalui riset sehingga dikenal research students. Apabila riset ini merupakan bagian utama dari civitas akademika sebagai dasar pengembangan keilmuan, maka hasil-hasil riset ini bisa diterapkan dalam menajalankan tugas pendidikan dan pengembangannya. Penting kita menerapkan kebijakan program pendidikan tinggi berbasis riset dengan berorientasi pada program riset lintas disiplin. Beberapa hal perlu diketahui, keilmuan multi-disiplin mengandung pengertian suatu persoalan ditinjau/ditelaah dari beberapa disiplin tanpa diintegrasikan. Inter-disiplin merupakan integrasi dari beberapa disiplin untuk memecahkan persoalan, sedangkan trans-disiplin merupakan penyelesaian persoalan melalui integrasi beberapa disiplin yang dapat menciptakan pemahaman baru (sintesis). Ilmu trans-disiplin (disciplinary science) adalah penggabungan dua atau lebih disiplin akademik/keilmuan ke dalam satu aktivitas, misalnya suatu penelitian. Pendekatan trans-disiplin muncul saat suatu permasalahan memerlukan metode atau pengetahuan dari beberapa bidang ilmu dan tidak dapat diselesaikan hanya dari satu bidang saja. Ilmu terapan umumnya menggunakan pendekatan antardisiplin (Gambar 1).

(Sumber: Sulasdi WN, 2015)
Gambar 1. Perbedaan multidisplin, interdisiplin dan transdisiplin

Pentingnya Ilmu Trans-disiplin di Masa Kini dan Mendatang
Pada posisi di depertemen/jurusan sampai dengan fakultas pengembangan keilmuan umum dilakukan pada ilmu-ilmu yang bersifat monodisiplin dan oligodisiplin. Akan tetapi pada tataran pendidikan yang bersifat lintas disiplin diampu oleh Sekolah Pascasarjana. Sementar itu percepatan pengembangan keilmuan transdisiplin bisa dilakukan secara sinergis di pusat studi atau puat penelitian di dalam perguruan tinggi. Di sini berkumpul para ahli dari berbagai disiplin ilmu secara terintegrasi untuk mengusung satu pusat studi dalam mencari solusi untuk mendukung pembangunan pada tingkat nasional dan internasional. Para guru besar diharapkan dapat terlibat aktif di pusat-pusat riset atau pusat studi. Indeks kesulitan masalah dari yang paling sederhana sampai dengan paling sulit dapat dilakukan pendekatan penelitian yang terbaik mulai monodisiplin sampai dengan transdisiplin (Gambar 2).

Diagram credit: Modified from nature.com by Emily Nastase (Zamani NP, 2019)
Gambar 2. Riset transdisiplin: Riset transdisiplin memerlukan investasi besar dari waktu (kiri); Indeks kesulitan masalah cocok dengan pendekatan penelitian terbaik (kanan).

Permasalahan yang sangat rumit dan kompleks tidak bisa diselesaikan dengan penelitian sederhana dengan menggunakan disiplin ilmu tunggal. Ia akan memerlukan solusi secara terintegrasi dan sinergis, terutama di saat pengambilan keputusan yang sangat kritis dan strategis. Di waktu mendatang pengembangan ilmu transdisiplin ini dapat digunakan sebagai media transfer keilmuan antar institusi. Satu institusi yang memerlukan solusi masalah yang sangat kompleks tidak harus mengembangkan sendiri keilmuan yang diperlukan, tetapi belum ada di institusi yang bersangkutan. Transfer keilmuan dapat diberikan oleh institusi yang paling berkompeten, dengan cara bekerja-sama melakukan riset secara transdisiplin.
Implementasi Riset Transdisiplin
Guru besar dengan kepakaran yang mumpuni dapat menginisiasi kerjasama-kerjamasa riset antar universitas baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pengalaman terlibat dalam kerjasama international dengan ilmu transdisiplin, seperti pada Core University Program JSPS/DIKTI, the University of Tokyo/Institut Pertanian Bogor pada Research Unit for Biological Resources Development di bawah manajemen pendanaan JSPS selama dua periode (1998/2002, 2003/2008). Dalam rangka besar tersebut di dalamnya terdapat empat Grup Riset, yang meliputi: Watershed Management (G1), Food & Agriculture (G2), Social-Economy & Cultural Aspect (G3), dan Landscape Ecological Study on Sustainable Rural Indonesia (G4). Pada periode 10 tahun terlibat sekitar 35 peneliti Indonesia dari berbagai universitas dengan core university di IPB, dan 32 peneliti Jepang dari berbagai universitas dengan core university di the University of Tokyo.
Saat ini sebagai gambaran transdiciplinary research yang sedang dikerjakan sejak 2016 sampai 2019 adalah consortium research collaboration dengan Monash Sustainable Development Institute, Monash University/ University of Melbourne dengan IPB dan UI pada Urban Water Cluster. Research clusters sendiri ada 5, yang meliputi Infrastructure Cluster (Leads ITS), Energy Cluster (Leads ITB), Food & Agriculture Cluster (Leads IPB), Health Cluster (Leads UI), dan Urban Water Cluster (Leads IPB) di bawah manajemen the Australia Indfonesia Centre (AIC).
Dalam kasus Urban Water Cluster, sinergi kerjasama riset dilakukan dengan mengkordinasikan deliverable eco-technical engineering (Benchmarking), socio-institutional pathways, infrastructure adaptation pathway, green technology pathways, urban design & demonstration, serta learning alliance. Struktur bidang riset tersebut mencerminkan keberagaman ilmu dalam riset transdisplin (Gambar 3). Pada pelakasanaan risetnya sendiri melihat dari permasalaahan tentang perubahan manajemen air perkotaan, maka ditinjau dari faktor-faktor pendorongnya serta tingkatan pada respon manajemennya. Sebagai riset transdisiplin, maka strategi dalam setiap pengambilan keputusannya selalu ditindak lanjuti dengan hubungan bersama stakeholders, melalui pendekatan sinergi pentahelix. Learning alliance bergerak untuk bisa disosialisasikan, diseminasi pada A-B-G-C-M, yaitu Academy, Business, Government, Community, dan Media.
Sumber: Arifin HS, 2019
Gambar 3. Struktur keilmuan dalam riset transdisplin untuk kajian “Urban Water” di Bogor Raya oleh IPB, UI dan Monash University, the Australia Indonesia Centre (2016-2019).

Penutup

Hasil-hasil riset transdisiplin ini menjadi basis dalam pengembangan keilmuan yang dapat diterapkan di kelas. Dalam praktek pendidikan di IPB sendiri sejak 2005 telah diterapkan kurikulum pendidikan Mayor-minor. Di mana mahasiswa dari satu Departemen dengan Mayor tertentu boleh memilih mata kuliah – mata kuliah lainnya dari departemen lain sebagai mata kuliah minor. Atau bahkan bisa ambil mata kuliah dari berbagai depertemen lainnya sebagai “supporting courses”. Kurikulum ini bisa diterapkan di S1, S2 maupun S3. Sedangkan pada Sekolah Pascasarjana saat ini telah mengembangkan program studi yg bersifat mono disiplin (di bawah manajemen departemen), oligo disiplin (di bawah manajemen fakultas) dan multi disiplin langsung di bawah manajemen Sekolah Pascasarjana. Ke depan direncanakan akan dbentuk School of Environment and Sustainable Sciences yang bersifat transdiplin.

Praktek serupa seharusnya bisa diterapkan antar universitas (11 PTN BH) sebagai pengembangan keilmuan untuk menghadapi tantangan dunia yang sangat kompleks. Hal ini bisa dipelopori oleh 11 PTN BH yang ada saat ini, yaitu: IPB, UI, ITB, UGM, ITS, UNAIR, USU, UNPAD, UPI, UNDIP, dan UNHAS.

SUMBER BACAAN
Arifin HS. 2019. Sustainable Design, Planning and Management for Landscape Architecture (invited speech). The 4th International Symposium of Sustainable Landscape Development, IPB International Conference Center, Bogor, Indonesia, 10 October 2019.
Sulasdi WN. 2015. Multidisiplin, Interdisiplin dan Transdisplin. SistemPembangunan Wilayah Pesisir dan Laut Secara Terpadu. Sumber:http://www.uruqulnadhif.com/2015/05/multidisiplin-interdisiplin-dan.html
Zamani NP. 2019. How human and nature interaction in complex system? Case study human and wildlife in mangrove ecosystem Sembilang National Park, Indonesia. International Conference on Complex System (CCS) Coupled Human and Nature Systems (CHANS) Nanyang Technology University, Singapore, 02 October 2019.