2017-06-05 Radar Bogor small 2017-06-06 HSA Radar Bogor small

BERHUBUNGAN DENGAN ALAM “Connecting People to Nature“                

MULAILAH DARI PEKARANGAN – PDF File, Silakan Klik di Sini

Temu Media dalam Rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2017 – Kerjasama Dewan Guru Besar IPB dan HUMAS IPB. Venue: Executive Lounge IPB, Kampus Baranangsiang pada 4 Juni 2017, pk.16.00-18.00

Oleh: Hadi Susilo ARIFIN

Guru Besar di Bidang Ekologi dan Manajemen Lanskap, Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, IPB

Ketua Komisi B “Pengembangan Keilmuan & Pemikiran Strategis” – Dewan Guru Besar IPB

Alamat Kontak:

Email: hadisusiloarifin@gmail.com; www.hsarifin.staff.ipb.ac.id; Mobile phone: +62-811117720 (WA & LINE)

Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2017

Situs United Nations Environment Programme (UNEP) http://www.worldenvironmentday.global, sebagai badan PBB telah menetapkan tema “Connecting People to Nature” sebagai tema peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2017. Saya kira ini sangat baik, karena kita diingatkan untuk “berhubungan dengan alam”. Dalam konteks agama Islam, kita mengetahui adanya hablum minallah, hablum minannas, hablum minal ‘alam. Begitu juga masyarakat Hindu Bali dengan filosofi “Tri Hita Karana”, meliputi parahyangan, pawongan, palemahan. Pada hablum minal ‘alam, juga palemahan, merupakan hal yang menyatakan manusia memiliki hubungan dengan alam. Hubungan dalam hal memperhatikan, melindungi, menjaga dan mengelola serta memanfaatkannya secara bijak. Harmonisasi hubungan manusia dengan alam dapat menciptakan keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup pada ekosistem tanah, air dan udara.Tema ‘Berhubungan dengan Alam’ benar-benar mengingatkan kita semua, karena dengan kelalaian manusia dalam mengekploitasi alam secara berlebihan, telah mengakibatkan bencana dan kerusakan lingkungan di muka bumi.

Alam di Sekitar Kita

Keseimbangan hubungan manusia dengan alam sekitarnya bisa dilakukan mulai dari lingkungan terdekat kita, yaitu pekarangan. Pada skala ruang perdesaan ada kebun campuran, talun, sawah, tegalan, lanskap perkebunan, hutan tanaman. Begitu pula pada skala perkotaan ada taman lingkungan, taman kota, hutan kota, bantaran sungai, sempadan pantai; sedang pada skala wilayah ada daerah aliran sungai, badan air sungai, situ, danau, juga ada hutan, kawasan lindung, kawasan konservasi, suaka margasatwa hingga taman nasional. Manusia baik secara individu maupu berkelompok bisa berperan dalam menjaga, melindungi, mengelola dan memanfaatkannya sebagai jasa lanskap (jasa lingkungan, atau jasa ekosistem). Sebagai lanskap produktif, alam bisa memberikan jasa sebagai sumber daya air yang merupakan sumber kehidupan bagi semua mahluk hidup, terutama manusia; penyerap karbon yang dapat menyetimbangkan kenyamanan lingkungan udara juga memberi jasa produksi pangan-sandang-papan; mengkonservasi keaneragaman hayati; serta memberi keindahan lingkungan yang bermanfaat bagi kenyamanan (amenity) sehingga bisa diberdayakan sebagai lanskap wisata.

Kenapa Pekarangan?

Jasa lanskap yang disebutkan di atas dapat diwujudkan di lingkungan/lanskap terkecil dan terdekat dengan dengan kita, yaitu pekarangan. Sesempit apa pun, pekarangan kita bisa bermanfaat dalam mendekatkan hubungan manusia dengan alam. Dalam pekarangan sempit di perkotaan, kita bisa menata dengan tanaman dalam pot (tabulampot, container gardens, planter box garden), mendesain dengan taman gantung (hanging garden), taman dinding (wall garden), taman balkon (balcony garden), taman depan atau belakang jendela (window garden), taman atap (roof garden) yang dilakukan secara vertikal ke atas yang disebut dengan desai vertical gardens baik dengan media tanah, atau media air (hydroponic) atau media udara (aeroponic).

Pada lahan pekarangan yang lebih besar baik di perkotaan maupun di perdesaan, kreasi untuk menciptakan hubungan dengan alam memiliki peluang yang lebih besar. Karena strata tanaman bisa lebih beragam mulai rerumputan yng berfungsi sebgai penutup tanah (grasses), tanaman herba tidak berkayu (herbaceous), tanaman semak (bushes), tanaman perdu (shrubs), sampai pohon tinggi (trees). Secara horizontal di pekarangan bisa dihadirkan tumbuhan dan tanaman, hewan ternak dan piaraan, serta kolam ikan jika jumlah air berlimpah di lingkungan kita. Tanaman pun bisa beragam mulai dari tanaman hias, tanaman buah, sayuran, obat-obatan, bumbu, penghasil karbohidrat, tanaman bahan baku industri dan tanaman lainnya semisal penghasil kayu bakar, bahan baku kerajinan tangan, penghasil bahan bangunan dan furnitur.

Dengan keragaman hayati yang ada di pekarangan tersebut, bukan hanya bisa menghasilkan pangan bagi pemilik pekarangan, tetapi bisa mengundang datangnya satwa liar (wild life) seperti burung, aneka serangga, kupu-kupu, kadal, bunglon, tupai, musang, dan lain-lain. Lanskap pekarangan bisa menjadi tempat bersarang, kawin, mencari makan dan minum, tempat bermain, atau bahkan hanya sekedar tempat singgah bagi satwa liar tersebut. Kehidupan alam pekarangan bisa memberikan manfaat fungsional yang berguna, dan manfaat esetika yang indah bagi manusia dan segala mahluk hidup penghuni pekarangan lainnya. Di sinilah kita memulai dari diri kita sendiri untuk mencapai keseimbangan dengan alam. Hal tersebut akan menjadi lebih baik, apabila kita juga melakukan kegiatan, sebagai berikut: tidak membuang sampah sembarangan, tidak membakarnya, tetapi mencoba mengolahnya di dalam pekarangan; menanam pohon dan tanaman di pekarangan; menggunakan air secara bijak, dan sebisa mungkin mendaur ulangnya semisal digunakan untuk penyiraman, membuat sumur resapan atau lubang biopori, mengusahakan zero run-off; membuat rain-garden; tidak memburu satwa liar, tetapi malah harus bisa menghadirkannya di pekarangan dan membiarkan mereka hidup bebas, berkicau memberi keramaian alami dan memberi warna-warni alami.

Etika Lingkungan sebagi Penutup

Manusia, kita… diberi banyak pilihan. Dalam mengelola dan memanfaatkan lingkungan, alam semesta, kita memiliki etika lingkungan. Etika lingkungan yang dikembangkan oleh manusia adalah pendekatan-pendekatan, yaitu antroposentrisme (kepentingan manusia sebagai hal utama), biosentrisme (manusia melihat hubungannya dengan mahluk hidup lainnya di alam), dan ekosentrisme (manusia melihat hubungannya dengan habitatnya, dengan lingkungannya). Setiap konsep dan teori tersebut memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam menilai kebergantungan antara manusia dengan lingkungannya. Antroposentrisme, konsep ini sering dianggap menyebabkan kerusakan pada lingkungan. Sedangkan, dalam konsep biosentrisme dan ekosentrisme, manusia menyadari bahwa kita berhubungan dengan mahluk hidup lainnya secara bersama-sama di bentang lanskap yang sama. Sehingga di mana pun kita perlu menjaga tata air-tanah-udara dengan baik. MULAILAH DARI PEKARANGAN.

Bogor, 4 Juni 2017

20170604_163455small 20170604_163903small 20170604_170746small 20170604_170916small 20170604_174039small 20170604_174233small