13 Januari 2017

LINGKUNGAN

Proyek Lancar, Pohon Pun Selamat


 

Dalam membangun jalan baru, khususnya tol, harus tetap peduli terhadap lingkungan hidup. Dengan demikian, proyek pembangunan itu tidak membuat malu pemerintah, rugi investor, dan resah masyarakat.

Demikian dapat disimpulkan dalam pertemuan para pemangku kepentingan pembangunan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) seksi II dengan jurnalis berbagai media di Balai Kota Bogor, Rabu (11/1). Di lokasi proyek pembangunan tol itu di Kedung Badak, Tanah Sareal, sekitar 20 orang dari lembaga peduli lingkungan Budiasi dan Koramil Tanah Sareal mulai melaksanakan penyelamatan pohon yang terkena proyek tersebut.

“Peristiwa beberapa pohon keras yang telanjur ditebang sebelumnya menjadi pelajaran berharga bagi kita. Peraturan yang ada belum merinci mekanisme pelaksanaan penggantian pohon yang ditebang. Baru ada kepastian PT MSJ akan mengganti satu pohon dengan 10 bibit pohon,” kata Wali Kota Bogor Bima Arya.

PT Marga Sarana Jabar (MSJ), pemilik dan pengelola Tol BORR, mengizinkan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, kontraktor pembangun Tol BORR seksi II, untuk menebang sekitar 580 pohon keras di jalur hijau di Jalan Soleh Iskandar yang melintasi Kecamatan Tanah Sareal. Jalur hijau itu akan menjadi tempat tiang-tiang konstruksi jalan tol layang dari Kedung Badak sampai Salabenda.

Ratusan pohon ditanam di jalur hijau itu oleh Dinas Kebersihan dan Pertanaman serta Kodim 0606/Kota Bogor pada 2011. Kini rata-rata batang utama pohon berdiameter di atas 30 sentimeter.

Penebangan pohon membuat resah dan menimbulkan protes masyarakat, khususnya komunitas pegiat pelestarian lingkungan hidup dan pemerhati Kota Bogor, seperti Bogor Bersahabat dan Budiasi. Pihak kepolisian juga protes karena pengerjaan dimulai tanpa kesiapan prasarana di lokasi proyek dan berpotensi mengancam keselamatan pengguna jalan.

Direktur Utama PT MSJ Hendro Atmodjo mengatakan, begitu ada protes, sejak Kamis pekan lalu pihaknya memerintahkan Wika menghentikan penebangan pohon. “Mengganti satu pohon yang ditebang dengan 10 bibit pohon minimal tinggi 2 m, sepenuhnya inisiatif dan komitmen kami. Sebab, aturannya memang tidak ada,” kata Hendro.

Namun, hendaknya pemerintah daerah segera membuat aturan rinci dan rasional. “Dengan keharusan menyelamatkan pohon, skedul pengerjaan konstruksi mundur lagi. Kalau harus mengganti pohon dengan besar sama, selama bisa dilakukan akan kami kerjakan,” katanya.

Project Manager PT Wika Ali Afandi menuturkan, untuk membangun konstruksi tiang tol, di sejumlah titik lahan memang harus bersih dari pohon. Ali mengaku mendapat rekomendasi dari Kodim untuk mengganti satu pohon yang ditebang dengan lima pohon pengganti. Dinas Pertanaman menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakannya. “Jadi, kami tidak serta-merta menebang pohon,” katanya.

Kepala Bidang Pertanaman Kota Bogor Yadi Cahyadi memastikan kantor dinasnya dan Wali Kota Bogor tidak pernah memberikan atau mengeluarkan surat persetujuan penebangan pohon kepada kontraktor BORR. “Tapi, sekarang sudah clear, MSJ akan mengganti satu pohon yang ditebang dengan 10 pohon, yang belum ditebang diselamatkan,” katanya.

Mengenai penebangan pohon, Pemkot Bogor mengaturnya dalam Perda Nomor 8 Tahun 2006 tentang Ketertiban Umum. Pasal 6 Huruf g menyebutkan, setiap orang dan atau badan dilarang menebang, memotong, mencabut pohon, tanaman, dan tumbuhan di sepanjang jalur hijau, taman rekreasi umum, kecuali seizin wali kota. Pasal 30 menyebutkan, pelanggar diancam pidana maksimal 3 bulan kurungan atau denda maksimal Rp 50 juta. Tidak dijelaskan perbedaan sanksi penebangan satu atau lebih pohon.

Menurut Kepala Dinas Pengawasan Permukiman Kota Bogor Boris Derurasman, Pemkot dan DPRD segera membahas raperda pengawasan permukiman dan bangunan.

Teknik bowling (maksudnya “balling”/HSA)

Hadi Susilo Arifin dari Bogor Bersahabat yang juga guru besar di IPB mengingatkan, kebijakan mengganti satu pohon yang ditebang dengan lima atau 10 bibit pohon tidak tepat. Juga mengganti pohon dengan umur, diameter, dan jenis yang sama.

Lebih adil, menurut Hadi, dengan mempertimbangkan aspek fungsi ekologi, ekonomi, dan sejarah pohon, atau menghitung dengan sistem ISTEM (maksudnya Internasional Shading Trees Evaluation Method/HSA). Dengan demikian, nilai pohon dapat dikonversikan ke dalam rupiah. “Dengan nilai rupiah itu, kita dapat membelanjakan pohon atau bibit pohon sejenis atau lainnya sesuai lokasi baru tempat bibit atau pohon itu akan ditanam. Juga biaya pemeliharaannya,” katanya.

I Wayan Budi Sutomo dari Budiasi membenarkan, yang paling penting dan sulit adalah memelihara pohon. Ketika pohon sudah besar dan berumur lama dapat diselamatkan dan dipindahkan dengan teknik bowling.

“Peralatan yang digunakan cuma golok, pacul, dan linggis, serta karung untuk membungkus bagian akarnya setelah di-bowling. Bowling 1 pohon berdiameter 30 cm dan setinggi 7 m-10 m hanya butuh sekitar satu jam. Pohon langsung bisa dipindahkan. Jadi tidak akan menghambat pembangunan,” kata Wayan Budi.

(RATIH P SUDARSONO)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Januari 2017, di halaman 27 dengan judul “Proyek Lancar, Pohon Pun Selamat”.