20161117_091718 20161117_121833

CIMG9089a CIMG9091

CIMG9135a IMG-20161117-WA0037

Kongres I – Alumni JSPS-Indonesia di LIPI Cibinong, 17 November 2016

Alumni JSPS Mendukung Program Pemerintah di Bidang Pangan, Energi, Lingkungna dan Isu-isu Sosial

RINGKASAN: PERTANIAN DAN PANGAN Slide PPT Click di Sini

Hadi Susilo ARIFIN, Ph.D. Personal Data Click di Sini

Professor di Bidang Manajemen dan Ekologi Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertnian Bogor;                                Anggota POKJA Ahli-Pusat “Dewan Ketahanan Pangan” Indonesia (2010-sekarang);                                                         National Consultant of FAO for Globally Important Agriculture Heritage Systems – GIAHS (2015);                         Wakil Kordinator Kerjasama pada Core University Program – Research Unit for Bio-Resources Development (RUBRD), The University of Tokyo & IPB/JSPS & DIKTI (1998-2003 & 2004-2008)

Pertanian adalah suatu budaya manusia dalam kegiatan memanen energi yang ditangkap oleh tumbuhan dan tanaman serta dimasak oleh chlorophyll menjadi karbohidrat. Produk tersebut yang menjadi kebutuhan manusia dalam pemenuhan hajat hidupnya dalam pangan, sandang dan papan. Ledakan populasi penduduk di dunia termasuk di Indonesia, mengakibatkan kebutuhan pangan meningkat dengan pesat. Di lain pihak ketersediaan lahan subur semakin berkurang akibat transformasi sistem perdesaan menuju ke sistem perkotaan (urbanisasi). Sehingga telah terjadi perubahan tata guna lahan dan perubahan penutupan lahan secara sangat cepat. Akhir abad 22 penduduk dunia akan mencapai 10 milyar. Dari mana saja persediaan makanan penduduk dunia ini? Thomas Malthus (1798), jumlah manusia meningkat secara eksponensial, usaha pertambahan persediaan makanan meningkat secara aritmetika. Kekurangan pangan dengan kondisi kelaparan berkepanjangan bisa mengakibatkan  kurang gizi. Lester R Brown (AS): “Dunia yang terlambat berkembang itu kehilangan kemampuannya untuk menyediakan makanan bagi dirinya sendiri”. Ia tidak memiliki ketahanan pangan.

Sektor pertanian menghasilkan dan menyediakan bahan pangan baik dari tumbuhan/tanaman, hewan/ternak, dan ikan. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman (UU N0. 18 Tahun 2012 tentang Pangan). Oleh karena “Pertanian adalah Hidup Mati Bangsa” (Soekarno, 1952).  Untuk membangun bangsa dan Negara yang kuat, maka ketahanan pangan, kemandirian pangan dan kedaulatan pangan harus diwujudkan, terutama di Indonesia. Permasalahannya pernyataan Soekarno sudah lewat 64 tahun yang lalu, tapi ketersediaan pangan dalam negeri sebagian masih banyak mengimpor. Beberapa jenis pangan utama pada periode Kabinet Indonesia Bersatu baik jilid I (data 2005- 2009) dan KIB jilid II (data 2010-2013) telah terjadi peningkat jumpalh impor pangan yang sangat signifikan. Anggaran Sektor Pertanian  Rp 10,1 Trilyun (2004); Rp 12,6 Trilyun (2005), Rp 49,8 Trilyun (2009); 71,9 Trilyun (2013). Atau terjadi peningkatan 611 % dalam tempo 9 tahun (BKF, 2014).

Terkait dengan kesehatan dan kebugaran, pangan bisa memiliki dampak positif atau negatif. Hal yang positif, yaitu sumber energy; senyawa penting untuk mempertahankan kesehatan dan kebugaran; senyawa gizi, komponen bioactive/nutraceutical/fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan dan kebugaran; sumber kenikmatan. Sedang yang negatif, misal konsumsi yang salah, tidak berimbang, sehingga bisa membahayakan untuk kesehatan; dan adanya cemaran dan residu. Penggolongan pangan berdasarkan fungsi zat gizi, yaitu: (1) zat gizi penghasil energi, yaitu karbohidrat, lemak dan protein (sebagai bahan makanan pokok); (2) zat gizi pembangun sel, yaitu terutama protein (bahan pangan lauk-pauk); (3) zat gizi pengatur, yaitu  terutama vitamin dan mineral (sayur dan buah). Namun pangan bisa juga berfungsi sebagai obat dan menjaga kesehatan dan kebugaran (nutraceutical). Kampanye di Korea   “good food is good medicine”; Let your food be your medicine and your medicine be your food (Hipocrates).

Tidak ada makanan yang mengandung secara lengkap zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh, karena itu manusia harus mengkonsumsi aneka bahan pangan. Namun pada manusia modern keanekaragaman berkurang. Hal itu disebabkan manusia yang menetap memilih jenis tanaman dan hewan untuk dipelihara. Pilihan berdasarkan: mudah dipelihara, mudah diolah, mudah disimpan/diawetkan, manfaat yang paling banyak; pilihan pada tumbuhan bebijian: serealia dan kekacangan. Pernyataan empat sehat lima sempurna, sudah diganti dengan makanan yang Beragam, Berimbang, Bergizi, Sehat dan Aman (B3SA). Gerakan dengan mengusung pangan lokal dari unit keluarga berbasis pekarangan melalui Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) dan juga program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementrian Pertania-RI sejak tahun 2009 dan 2010-an.

Kelompok masyarakat dengan budidaya pemanfaatan lahan kering dengan tumbuhan andalan penghasil karbohidrat, maka memiliki sumber pangan yang lebih beragam yaitu padi, jagung, umbian, sagu. Di daerah dengan budidaya persawahan tumbuhan andalah menjadi terbatas: padi dan palawija. Nasi menjadi makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Alasannya karena enak, pengolahan mudah, tahan lama, protein tinggi, bentuk padat mudah dikemas/angkut dan disimpan. Dampaknya tingkat konsumsi beras di Indonesia sekitar 139 kg/kap/tahun, menjadi 125 kg/kap/tahun (sebelum 2007), lalu  turun menjadi 114 kg/kap/tahun (2015). Tetapi jumlah tersebut masih sangat tinggi jika dibanding dengan Negara tetangga sekalipun.

Bioteknologi pertanian dikembangkan tidak hanya untuk pemenuhan pangan, tetapi juga  memproduksi dan mengembangkan untuk farmasi, enzim dan bahan-bahan biomolekul, Biopestisida, dan untuk peningkatan pertumbuhan, perkembangan, reproduksi dan nutrisi ikan dan hewan. Bioteknologi juga diupayakan untuk mengatasi masalah lingkungan. Restorasi ekosistem. Misalnya: diagnosis dan monitoring penyakit menular; kontrol hama,penyakit dan gulma pada pertanian; deteksi, monitor dan remediasi polutan; skreening toksisitas; dan konversi limbah ke energi

Perencanaan pembangunan pertanian, pangan dan kesehatan perlu dilakukan dengan cara: (1) Membuat peta detail pertanian tanaman pangan: lokasi dan luas lahan berdasar tingkat kesesuaian lahan; serta peta produksi pangan berdasar waktu, lokasi dan komoditas; (2) Berdasarkan hal tersebut merencanakan pasokan pangan; (3) Mempelajari pola pangan masyarakat; (4) Riset untuk mendapatkan pangan local bernilai (gizi, gengsi, citarasa, kemudahan penyediaan, kemudahan pengolahan, kemudahan penyimpanan) seperti beras; (5) Membangun industry pangan berbasis sumberdaya; (6) Penyediaan pangan utama alternatif berbasis sumberdaya lokal; dan (7) Kampanye diversifikasi pangan. Lebih jauh diperkirakan pertanian masa depan adalah soiless base agriculture, dan akan mngarah ke high rise buiding farming system antar lain green roof gardens, green top gardens, hanging gardens, green wall gardens dan lain sebagainya. Keilmuan pertanian akan berkembang terus sehingga menuju ke precision farming system.***

PROGRAM: DECLARATION AND CONGRESS OF JSPS ALUMNI ASSOCIATION OF INDONESIA

INNOVATION CENTER LIPI, 17 NOVEMBER 2016

 TIME AGENDA NOTES
08.30 – 09.00 Registration, morning coffee OC
09.00- 09.10 Welcome Speech of JAAI Chairman Prof. Subyakto
09.10 – 09.20 Speech of Director JSPS Bangkok Office OR Japanese Embassy Prof. Kuniaki Yamashita
09.20 – 09.30 Speech and Opening by Chairman of LIPI Prof. Iskandar Zulkarnaen
09.30 – 10.00 Declaration and Congress

Photo Session

OC
10.00 – 10.30 Invite Speeches

1. Prof. Dr. Lukman Hakim

2. Prof. Kuniaki Yamashita

Dr. Andika W. Pramono (Moderator)
10.30 – 11.30 Keynote Speeches

1. Prof. Hadi Susilo Arifin (Food & Agriculture)

2. Dr. Neni Sintawardani (Renewable Energy)

3. Dr. Haris Gunawan (Environment)

4. Dr. Hery Yogaswara (Social Issues)

Dr. Wahyu Dwianto (Moderator)
11.30 – 12.00 Panel Discussion & Wraping Prof. Subyakto (Moderator)
12.00 – 12.15 Closing Prof. Bambang Subiyanto
12.15 – 13.15 Lunch OC