Kerangka Acuan – Diskusi Pilkada DKI Jakarta
“Memahami Jakarta, Menata Jakarta”
Harian Kompas, 9 Desember 2016


Jakarta kini adalah kota yang tengah berbenah. Di satu sisi ada kemajuan yang tak bisa dibantah. Ada sudut-sudut kota yang kini terasa semakin menyenangkan bagi warganya, ruang-ruang publik bertambah dan terjangkau bagi siapa pun, transportasi publik membaik ditandai dengan jaringan transjakarta yang nyaris menjangkau seluruh Ibu Kota, juga penataan sungai yang mulai terealisasi. Penataan birokrasi terjadi di semua lini, pelayanan publik membaik, termasuk di bidang kesehatan dan pendidikan.
Namun, ada sebagian warga Jakarta yang harus kehilangan kehangatan kampungnya, kedekatan dengan para tetangga, juga menjauh bahkan kehilangan mata pencaharian serta tiba-tiba harus beradaptasi tinggal di tempat yang sama sekali asing. Semua atas nama pembangunan Jakarta.
Melihat secara lebih luas, Jakarta kini tetap mengidap penyakit yang belum bisa disembuhkan. Pertumbuhan kawasan sekitarnya tak terkendali dan justru makin membebani induknya, yaitu Jakarta sendiri. Hal ini akibat kota-kota satelit tak independen dan lebih berfungsi sebagai kawasan perumahan bagi para pekerja di Jakarta. Belum terealisasi ide penyebaran merata sentra-sentra industri yang diikuti dengan pembangunan pemukiman dan fasilitas transportasi publik sehingga pertumbuhan masing-masing kota tak seimbang.
Setiap hari Jakarta dipadati oleh 10 juta jiwa penduduknya ditambah lebih dari 3 juta warga lain dari kota sekitarnya. Masalah air bersih, sampah, udara kotor, kemacetan, banjir, dan lainnya makin berkembang. Sementara pertumbuhan ekonomi di Jakarta dan sekitarnya tetap tertinggi dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia menyebabkan arus migrasi daerah lain menuju Jabodetabek tetap tinggi.
Berbagai program kini digenjot pelaksanaannya oleh Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat untuk mengatasi berbagai masalah tersebut. Beberapa program tersebut adalah membangun MRT, LRT, dan terus membenahi jaringan BRT transjakarta. Juga poyek revitalisasi sungai yang disebut normalisasi pun terus dilakukan. Demi mengurangi beban pemerintah, dana pihak swasta dirangkul untuk membiayai sebagian program seperti rusunawa, tanggul laut di pesisir utara Jakarta, RPTRA, dan beberapa proyek lainnya.
Namun, apakah proyek mega besar berdana triliunan rupiah itu mampu mengatasi semua masalah di Ibu Kota dalam jangka panjang? Sudahkah penataan Jakarta berpihak pada warganya? Apakah pembangunan saat ini sudah berada di jalur yang benar?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, Harian Kompas mengadakan diskusi panel terbatas tentang tata ruang bertema “Memahami Jakarta, Menata Jakarta”. Para nara sumber diskusi diharapkan berbagi pemikiran, data, dan solusi dalam melihat Jakarta secara utuh, ada segudang masalah tetapi juga terdapat timbunan potensi yang bisa digali dan ditata ulang. Warga kota membutuhkan ide-ide kreatif menata Jakarta dengan melihat potensi diri kota ini.
Diskusi ini juga dimaksudkan memberi masukan bagi kepala daerah yang akan memimpin Jakarta pada tahun 2017, seiring dengan berakhirnya masa kerja Gubernur DKI Jakarta saat ini. Hasil diskusi akan menjadi masukan dalam penulisan laporan akhir tahun mengenai bagaimana menjadikan Jakarta sebagai kota yang nyaman dan memanusiakan warganya tanpa kehilangan daya untuk terus membereskan berbagai persoalan pembangunan kota.


Waktu penyelenggaraan diskusi:
Hari/tanggal : Jumat, 9 Desember 2016
Waktu : 12.00 – 17.00 WIB
Tempat : Ruang Rapat Depan, Redaksi Kompas
Gd. Kompas Gramedia, Unit 2 Lantai 3
Jl. Palmerah Selatan 26-28, Jakarta 10270
(depan Bentara Budaya Jakarta)


Narasumber :
1. Prof Dr Ir Hadi Susilo Arifin, pengajar manajemen lanskap Institut Pertanian Bogor
Tema: Pengendalian Banjir di Jakarta.
 Membahas tata ruang Jakarta salah urus dari awal memicu masalah lingkungan akut, termasuk banjir, air bersih, kekeringan dan lainnya; penelitian/pemikiran/data terkini masalah mendasar tata ruang di Jakarta
 Apakah masih memungkinkan menata Jakarta sehingga menjadi kota yang lebih aman dan nyaman bagi warganya? Bagaimana caranya dan harus dimulai dari mana, melihat kompleksitas masalah yang ada?
 Dari sisi perencana kota, potensi-potensi apakah yang dimiliki Jakarta yang pantas dipertahankan dan dikembangkan? Pembangunan seperti apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan terhadap Jakarta? Perencana kota dan ahli lansekap kota dengan kualifikasi apa yang dapat menjawab persoalan Jakarta? Sekarang ini perencana kota banyak ‘disetir’ oleh politisi dan bisnis atau sekedar meniru produk daerah/negara lain.
 Bagaimana bentuk dan realisasi perencanaan kota yang melibatkan masyarakat itu?

2. Haryono, Antropolog Universitas Indonesia
Tema: Memahami masyarakat kota
 Membahas karakteristik warga Jakarta (sikap, sifat, perilaku), terdiri dari manusia-manusia seperti apakah kota ini. Benarkah terjadi fenomena kota tanpa warga, dalam arti pembangunan kota tak memperhitungkan kebutuhan warga dan di sisi lain warga pun tidak lagi peduli atas kotanya karena sibuk dengan pekerjaannya, merasa di Jakarta hanya merantau, atau alasan lainnya? Nara sumber diharapkan menyajikan hasil penelitian/data terkini soal masyarakat perkotaan.
 Agar warga mau aktif berpartisipasi, paling tidak menyalurkan aspirasi/pikiran/uneg-uneg soal masalah kota dan mungkin solusinya, pemerintah harus bagaimana? Apakah cukup dengan Qlue? Atau justru fasilitas Qlue makin memanjakan warga Jakarta, tinggal foto and lapor, dan orang lain yang menyelesaikan masalah. Bagaiman peran komunitas dalam dinamika kota
 Bagaimana mempersiapkan masyarakat Jakarta menjadi manusia yang berkarakter dan tidak sekedar ikut-ikutan. Seperti fenomena sekarang yang sedikit-sedikit ramai di medsos, ribut dengan yang tidak pasti, tapi sebagian masih enggan berkontribusi riil untuk pembangunan kotanya
 Perumahan rakyat yang seperti apa yang tepat bagi warga miskin-menengah, terutama bagi mereka penghuni lahan yang bukan miliknya?

3. Prof. Ir. Johan Silas, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITS 10 November Surabaya
Tema: Penataan kampung dan perumahan bagi kelas menengah ke bawah
 Masihkah kampung menjadi ciri khas Jakarta?
 Mungkin berbeda dengan di Surabaya, saat ini sebagian kampung di Jakarta sudah ditinggalkan penduduk asli/lama dan berganti dengan orang-orang baru yang mungkin tidak tahu sejarah kampung itu. Kampung akhirnya identik menjadi bagian dari kekumuhan yang dianggap sebagai penyakit kota. Bagaimana memilah persoalan ini dan mengembalikan fungsi kampung sebagai hunian yang nyaman bagi semua kelas masyarakat?
 Kebijakan-kebijakan pemerintah seperti apa yang dibutuhkan untuk melestarikan kampung
 Bagaimana kampung-kampung di Surabaya tetap bertahan dan kini justru disebut kampung berstandar internasional?
 Bagaimana menjadikan keberadaan kampung sebagai salah satu indikator keberhasilan menata Jakarta?

4. Dr. Sawidji Widoatmodjo – Dekan FE Untar
Tema: Ekonomi kota
 Seberapa besar potensi ekonomi Jakarta ke depan, terutama dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya dengan jumlah penduduk dan potensi ekonomi yang sama?
 Bagaimana meratakan pertumbuhan ekonomi Jakarta ke kawasan di sekitarnya sehingga beban jakarta juga dapat dibagi ke Jabodetabek. Dalam kondisi saat ini, apakah pemerataan itu mungkin dilakukan?
 Dapatkah pembangunan Jakarta diupayakan sendiri melalui pendapatan asli daerah serta APBN? Mungkinkah pengalokasian pendapatan dari pajak disesuaikan dengan bidangnya? Misalnya, pajak kendaraan bermotor hanya untuk membangun transportasi publik .
 Apakah pembiayaan proyek berskala besar, seperti tanggul laut tipe A harus tergantung swasta?
 Apa solusi pendanaan terbaik bagi Jakarta yang membutuhkan banyak infrastruktur tetapi terbatas APBD/APBN-nya?
 Dalam membangun Jakarta, muncul kesan yang berperan paling besar adalah bisnis berskala besar mengingat proyek pembangunan di Jakarta berskala besar pula. Bagaimana dengan pekerja kerah biru di sektor formal dan mereka dari sektor informal, bagaimana sumbangan mereka untuk pertumbuhan Jakarta? Bila mereka memang dibutuhkan untuk bergeraknya roda kota, mengapa mereka selalu menjadi yang pertama-tama digusur dari tempat tinggal dan tempat mencari nafkah?
 Apakah Jakarta ke depan hanya akan terbuka bagi mereka yang berpendidikan menengah dan atas atau mereka yang memiliki kompetensi tinggi? Apakah sektor informal suatu saat hilang dari Jakarta? Bagaimana mengelola ekonomi kota yang adil merata dan beradab?

5. Ir Ellen SW Tangkudung, MSc, Kepala Dewan Transportasi Kota Jakarta
Tema: TRANSPORTASI & KEMACETAN
 Catatan rencana pembangunan dan realisasi pembangunan transportasi publik dan massal di Jakarta setelah kemerdekaan hingga sekarang
 Apa penyebab selalu bermasalah pembangunan transportasi massal di Jakarta? MRT masih menyisakan PR mulai dari pembebasan lahan, titik-titik stasiun masih berubah-ubah sampai sekarang (dirasa belum secara jelas menerapkan TOD), jalur layang BRT apakah efektif, integrasi antarmoda juga belum jelas benar
 Saat ini, jaringan bus transjakarta sudah cukup bagus dan luas cakupan layanannya hampir ke seluruh Jakarta. Namun, belum mampu secara signifikan menarik pengguna kendaraan pribadi beralih ke angkutan publik. Bagaimana tanggapannya atas hal ini dan bagaimana strategi menarik lebih banyak pengguna transjakarta?
 Untuk di DKI dan sekitarnya yang sudah kacau balau, apakah perlu strategi baru penataan dan pembangunan angkutan massal atau cukup meneruskan yang saat ini?

6. Dr YAYAT SUPRIYATNA, MSP, Ketua Bidang Kajian dan Perencanaan IAP Indonesia, pengajar teknik planologi Fakultas Teknik Universitas Trisakti
Tema: Reformasi Birokrasi
 Saat ini pembenahan birokrasi tengah berjalan dengan tujuan mengukur sistem layanan publik, pemegang jabatan, hingga kinerja PNS. Namun, apakah ini sudah tepat? Masih adakah celah kebobrokan yang dapat berkembang menjadi penyakit birokrasi baru di DKI? Sistem lelang jabatan dan tunjangan tinggi bagi PNS apakah paling mujarab menghentikan KKN? Perlu waktu/proses berapa lama agar kinerja baik ini terus bertahan dan menjadi standar?
Catatan bagi setiap narasumber :
Pembahasan dapat kiranya tetap dengan memperhatikan pertanyaan, gubernur seperti apa yang cocok untuk Jakarta dengan segala persoalannya? Adakah latar belakang pendidikan/pengetahuan yang harus dimiliki Gubernur Jakarta? Gubernur terpilih harus bersikap dan menentukan kebijakan seperti apa agar pembangunan dapat membentuk Jakarta sebagai kota yang melayani berbagai lapisan warganya dan menjadikan Jakarta kota yang manusiawi?
*/NEL/DHF/NMP