ACARA “EXPOSE” DI BALAI KOTA BOGOR
Tema: Manajemen Jasa Ekosistem melalui Penguatan Identitas Kota Pusaka dan Revitalisas Lanskap Ruang Terbuka Biru/Ruang Terbuka Hijau Kota Bogor
Hari/Tanggal/Waktu: Rabu/14 Januari 2015/09:00-11:00
Venue: Ruang Rapat I – Balai Kota Bogor, Jl. Ir. H. Juanda, Bogor

STUDENT’S VIDEO PRESENTATIONS

Cultural & Historical Landscape Preservation for Expose 2015 under supervised by Nurhayati HS Arifin

Landscape Management Part1 for Expose 2015 under supervised by Hadi Susilo Arifin

Landscape Management Part2 for EXPOSE 2015 under supervised by Hadi Susilo Arifin

Rural & Agricultural Landscape for Expose 2015 under supervised by Hadi Susilo Arifin

PRESS RELEASE

Expose mahasiswa dengan tema “Manajemen Jasa Ekosistem melalui Penguatan Identitas Kota Pusaka dan Revitalisasi Lanskap Ruang Terbuka Biru/Ruang Terbuka Hijau Kota Bogor” dibuka oleh Walikota Bogor Dr. Bima Arya Sugiarto di Ruang Rapat I Balaikota Bogor. Expose ini merupakan salah satu bentuk kegiatan kepedulian akademik dari civitas academica IPB dalam merespon pembangunan dan pengembangan serta manajemen kota Bogor di bidang lingkungan dan tata-kota. Dua mata kuliah program sarjana, yaitu “Pelestarian Lansakap Sejarah dan Budaya” mahasiswa semester 5, dan “Pengelolaan Lanskap” semester 7, serta satu mata kuliah pascasarjana “Lanskap Perdesaan dan Pertanian” dalam satu semester telah melakasanakan praktikumnya dengan mengambil obyek-obyek strategis di dalam kota Bogor. Kegiatan ini dikordinasi oleh Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin bersama dosen-dosen lainnya, yaitu Dr. Nurhayati HS Arifin, Prof. Dr. Wahju Qamara Mugnisjah, Dr Kaswanto dan Dr. Syartinilia. Kegiatan ini diikuti sekitar 150 mahasiswa S1 semester 5 dan semester 7 PS Arsitektur Lanskap, dan 10 mahasiswa S2 dan 2 mahasiswa S3 dari PS Arsitektur Lanskap, PS Agronomi, dan PS Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Kegiatan expose ini selalu mendapat dukungan penuh dari Dr. Ernan Rustiadi, Dekan Fakultas Pertanian IPB. Dengan dipaparkannya hasil ini di depan Wali Kota Bogor serta pimpinan SKPD terkait diharapkan keberadaan kampus dan kegiatannya tidak seperti menara gading. Tapi bisa menjadi referensi untuk diterapkan di lapang.

Bogor telah ditetapkan sebagai salah satu kota pusaka di Indonesia. Oleh karena itu diperlukan perhatian pemerintah, masyarakat serta para pihak dalam melestarikan sumberdaya baik yang tangible maupun yang intangible yang telah menjadikan Bogor berpredikat “the heritage city”. Tentu saja bukan hanya dari segi fisik ekologis saja, tetapi dalam budaya, kesadaran masyarakat dalam memahami kota pusaka, merasa memiliki serta mampu memelihara untuk keberlanjutannya. Oleh karena itu praktikum mata kuliah “Pelestarian Lanskap Sejarah dan Budaya” berkonsentrasi pada upaya penguatan karakter lanskap pada 6 zona yang potensi diusung sebagai wilayah bagian kota pusaka di kota Bogor. Keenam zona tersebut adalah kawasan yang dibangun masa Kolonial Eropah di Jl. Ahmad Yani hingga Air Mancur, kawasan yang dijadikan zona penyangga merupakan wilayah di sekeliling Kebun Raya Bogor, kawasan Kebun Raya Bogor, kawasan Karsten Plan yaitu Taman Kencana dan wilayah sekitarnya, Kawasan Pecinan Jl Surya Kencana dan sekitarnya, dan Kawasan Empang wilayah permukiman Arab.

Kota Bogor juga berkenginan untuk mewujudkan kota dengan konsep kota dalam taman, kota sejuta taman. Idiom tersebut tentunya tidak hanya diikuti dengan kegiatan pembangunan fisik taman-taman ketetanggaan, taman lingkungan, traffic island, jalur hijau jalan, sungai dan rel kereta api, hingga taman kota. Tetapi, juga pembangunan persepsi masyarakat, serta perubahan mind-set dalam berperilaku ramah terhadap lingkungan. Lebih jauh masyarakat juga harus mempunyai rasa memiliki. Bukan saja mereka dapat memanfaatkan taman-taman, ruang terbuka hijau dan ruang terbuka biru secara maksimal, tetapi mereka juga harus sadar perlu mengelolanya, memeliharanya secara partisipatif. Sehingga, berperilaku untuk tidak membuang sampah sembarangan saja perlu dilakukan pendekatan sosial budaya yang tepat. Maka Kuliah “Pengelolaan Lanskap” memberi perhatian pada 8 spot lanskap dari sekian banyak taman, RTH dan RTB yang sedang ditata atau didesain ulang di dalam kota Bogor. Ke delapan taman tersebut adalah Taman Situ Anggalena, Taman Cidepit, Taman Cipakancilan, Jalur Hijau Jl Riau, Taman Sempur, Jalur Hijau Jl Sempur, Pulau Gelis, danau Situ Gede. Sebagian besar permasalahan yang dijumpai adalah kebersihan dan perilaku pengguna yang sering membuang sampah sembarangan. Oleh karena itu rekomendasi ditujukan pada manajemen sampah yang ada di ruang terbuka biru dan ruang terbuka hijau. Perlu dilakukan sosialisasi bagaimana seharusnya kita memberlakukan sampah hingga pemanfaatan sampahnya sendiri. Di lain pihak, kesiapan perundang-undangan sampai dengan peraturan-peraturan perlu terus didisemininasikan melalui rekayasa sosial. Penyuluhan, pendampingan serta penyebaran informasi tersebut melalui poster, leaflet, booklet, serta tayangan yang menarik dan efektif. Pada akhirnya penegakan hokum perlu dilakukan pada setiap pelanggaran sebagai bentuk disinsentif, atau diberi pengharagaan bagi warga yang menjalankan peraturan sebagai bentuk insentif.

Pada expose bagian ketiga, mahasiswa pascasarjana melalui praktikum mata kuliah “Lanskap Perdesaan & Pertanian” mencermati Kelurahan Situ Gede sebagai saalah satu wilayah yang berada di Kota Bogor Barat. Sebagai “urban fringe”, Situ Gede memliki karakter lanskap perdesaan yang sangat kuat. Hal ini dicirikan dengan struktur lanskap pertanian yang dominan seperti sawah, tegalan, kebun campuran, pekarangan, situ, sungai, empang, serta hutan. Dengan jarak yang tidak jauh dari pusat kota, perdagangan dan jasa. Situ Gede sangat potensial sebagai wilayah yang bisa dikembangkan menjadi kawasan pertanian perkotaan, “urban agriculture”. Wilayah ini menghasilkan produk pertanian padi, palawija, talas, sayuran dataran rendah, ternak ungags, dan ternak besar, serta beragam pengusahaan ikan air tawar. Dengan segala aktivitas pertanian yang ada serta adanya danau Situ Gede, serta acara tahun regular seprti “ngobok lauk” bisa menjadi atraksi wisata pertanian. Pemberdaayaan ekonomi masyarakat di sini sangat berpotensi untuk diarahkan dalam peningkatan hospitality sebagai tuan rumah dalam kegiatan usaha “agrotourism”. Pemerintah Kota bersama IPB diharpkan bisa bersama-sama melakukan pembinaan, pendampingan serta pembangunan sarana-prasarana, infrastruktur yang lebih baik. Sama dengan wilayah kota Bogor lainnya. Pembinaan masyarakat untuk membiasakan hidup bersih, tertib, mengelola sampah rumah tangga dengan baik, tidak membuangnya secara sembarangan tetap harus digalakkan dengan penyuluhan-penyuluhan, serta penegakan hukum secara tegas. Dampak kotornya lingkungan tidak selalu terjadi secara internal, tapi bisa jadi factor external dari perilaku pengunjung atau aliran air dari parit-parit, sungai kecil, saluran irigasi yang dari arah hulu. Aliran air tersebut sudah membawa sampah-sampah plastik maupun sampah organik.

Selain presentasi secara oral dari 3 kelompok di atas, juga disajikan presentasi 20 poster. Diskusi expose bisa dilanjutkan pada sesi presentasi poster antara peserta expose dengan mahasiswa.

Bogor, 14 Januari 2015
Kordinator EXPOSE
Prof. Dr. Hadi Susilo ARIFIN

10553931_10203827503863107_4759987637811320962_o 10682407_10203827503903108_8691780655767434883_o 10830568_10203827518703478_6171690047352951093_o 10854179_10203827508063212_5677808067415379555_o 10896294_10203827522623576_5823254649019752613_o 10904485_10203827509183240_8135431592975318687_o 10914990_10203827526183665_8979759437480315024_o 10915701_10203827526943684_5471191789757184646_o 10929025_10203827526143664_5140538986996912005_o 10922356_10203827917633451_6200277141603967083_o