Hal : Undangan Penyelenggaraan FGD Ruang Terbuka Biru                    Bogor, 19 November 2014

Kepada Yth.
Bapak/Ibu/Saudra (DAFTAR UNDANGAN TERLAMPIR)
Di Tempat

Sehubungan dengan pelaksanaan penelitian kami yang berjudul: “Analisis Ketersediaan Green Water dan Blue Water dalam Manajemen Lanskap yang Berkelanjutan di Daerah Aliran Sungai Ciliwung”, kami bermaksud memohon ijin dan kerjasama untuk menyelenggarakan diskusi kelompok (Focus Group Discussion-FGD) dengan para pihak terkait pengelolaan dan ketersediaan ruang terbuka biru. Tujuan FGD tersebut adalah untuk menyampaikan dan mendiskusikan hasil sementara penelitian kami, serta menjaring masukan dari para pihak di lokasi penelitian.

FGD di direncanakan akan dilaksanakan pada,
Hari/Tanggal : Senin/24 November 2014
Waktu : 09.00 – 11.00 WIB
Tempat : Aula Baihaqi, Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W), Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Baranang Siang

Demikian undangan ini kami sampaikan. Kehadiran Bapak/Ibu sangat kami harapkan demi kelancaran acara tersebut. Atas perhatian dan bantuannya, kami ucapkan banyak terima kasih.
Mengetahui,                                                                            Ketua Peneliti,
Ketua Departemen Arsitektur Lanskap
FAPERTA, Institut Pertanian Bogor

(Dr. Ir. Bambang Sulistyantara, M.Agr.)                         (Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, MS.)
NIP. 19601022 198601 1 001                                              NIP. 19591106 198501 1 001

—-

Press Release:

ANALISIS KETERSEDIAAN GREEN WATER DAN BLUE WATER DALAM MANAJEMEN LANSKAP YANG BERKELANJUTAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG – Materi Slide  Nara Sumber CLICK DI SINI

PENELITI: Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin, Dr. Kaswanto, dan Dr. Nurhayati HS Arifin

Manajemen Daerah Aliran Sungai (DAS) tidak lepas dari pengelolaan terhadap keberadaan sungai-sungai serta pengelolaan wilayah yang berada di dalamnya, yaitu termasuk ruang terbuka hijau – RTH (hutan alami, hutan tanaman, areal pertanian, taman-taman, kebun, talun, jalur hijau jalan sampai dengan pekarangan) dan ruang terbuka biru – RTB (danau, dam, waduk, setu, embung, kolam, sungai, kanal, irigasi dan drainase). Permasalahan saat ini yang kita jumpai di Indonesia adalah eksploitasi badan air yang berlebihan mulai sebagai pemasok air untuk kebutuhan industri dan rumah tangga, sebagai area untuk mandi-cuci-kakus (MCK), hingga sebagai kubangan tempat sampah yang seolah-olah dapat menampung segala macam aneka limbah padat dan cair, kapan pun, di mana pun, secara bebas dan gratis. Lebih jauh, kawasan terestrial mulai dari bantaran dan sempadan badan air ke daratan telah terjadi perubahan penggunaan lahan sedemikian cepat, perubahan dari ruang-ruang terbuka hijau menjadi daerah terbangun. Bahkan mulai era 80-an ketika industri properti merebak maka banyak pengurugan dan penimbunan tanah pada badan air untuk mendapatkan area lahan yang saleable, yang bisa dibangun rumah dan dijual. Kondisi tersebut dengan tanpa penegakan hukum yang tegas, maka banyak RTH/RTB) yang terdegradasi. Kondisi lingkungan DAS semakin memburuk dan memprihatinkan (Arifin 2013). Ciliwung merupakan DAS yang dianggap sebagai penyumbang terbesar terhadap terjadinya banjir di Jakara. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan pihak terkait, tetapi permasalahan banjir di DAS Ciliwung belum terselesaikan. Menurut Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC 2012), banyak kawasan-kawasan rendah (rawa, danau, waduk, situ, dan sebagainya) yang semula berfungsi sebagai tempat penampungan air dan bantaran sungai telah berubah menjadi area permukiman. Badan air yang disebut juga sebagai RTB bersumber dari blue water seperti situ, waduk, embung, dan badan air lainnya memainkan peran penting dalam pengendalian banjir dengan menahan aliran air masuk dan mengurangi debit puncak aliran air keluar sehingga dapat mengurangi kapasitas saluran yang diperlukan di bagian hilir. Badan air ini berguna sebagai tampungan retensi dan harus dipelihara serta dikembangkan keberadaannya dalam rangka mengurangi debit air. Sementara air yang bersumber dari RTH disebut juga green water yang menunjukkan air yang tersimpan dalam zona tak jenuh yang berperan sebagai sumberdaya air. Langkah-langkah konservasi tanah dan air di daerah resapan air dapat memiliki dampak positif baik pada kawasan hulu sampai hilir. Permasalahan sumber daya alam (SDA) di DAS Ciliwung tidak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi, tetapi juga faktor sosial yang memicu banyak konflik di tingkat masyarakat maupun pemerintah yang tidak berkesudahan. Banyak penelitian yang telah dilakukan di DAS Ciliwung untuk mengatasi masalah banjir, tetapi hingga saat ini belum bisa dituntaskan. Perbedaan cara pandang terhadap upaya pengelolaan sumberdaya alam di DAS Ciliwung hanya akan memperparah situasi tanpa solusi. Oleh karena itu, permasalahan perbedaan cara pandang tentang seberapa penting keberadaan RTB dan RTH membutuhkan upaya pemahaman bersama semua elemen masyarakat (stakeholders) yang terkait. Semua stakeholders perlu diajak berdiskusi bersama melalui Focus Group Discussion (FGD) ini agar dapat mencermati bersama permasalahan yang saat ini terjadi guna mendapatkan solusi bersama sehingga dapat segera direalisasikan.

DSC_0013[1]

DSC_0049a DSC_0064a DSC_0018a