Promotor Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin memimpin sidang terbuka program Doktor, Promovendus Budi Susetyo dari PS Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan, SPs IPB

JUDUL DISERTASI: Model Perumusan Kebijakan Pemanfaatan Lahan Berbasis Ekologi Lanskap di Sempadan Sungai Ciliwung Kota Bogor
PROMOVENDUS: Budi Susetyo
PROMOTOR: Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin, Prof. Dr. Machfud, Dr. Widiatmaka, dan Dr. Nurhayati HS. Arifin
PENGUJI DI LUAR KOMISI: Dr. Bima Arya Sugiarto (Wali Kota Bogor) dan Dr. Endes N. Dahlan (Dosen Fakultas Kehutanan IPB).

Promovendus Budi Susetyo dari Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Ia juga seorang dosen di Universitas Ibnu Khaldun, telah memaparkan disertasi dalam sidang terbuka pada Selasa, 19 Agustus 2014 di Ruang Sidang Silva Fahutan IPB. Promovendus telah mengusung disertasi yang berjudul “Model Perumusan Kebijakan Pemanfaatan Lahan Berbasis Ekologi Lanskap di Sempadan Sungai Ciliwung Kota Bogor”. Yang bertindak sebagai promotor adalah ahli manajemen dan ekologi lanskap, ahli pemodelan, ahli kesuburan tanah dan tata guna lahan, serta ahli lanskap budaya, yaitu Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin, Prof. Dr. Machfud, Dr. Widiatmaka, dan Dr. Nurhayati HS. Arifin. Adapun pengujinya adalah Walikota Bogor, yang juga berprofesi sebagai dosen, yaitu Dr. Bima Arya Sugiarto, dan ahli hutan kota Dr Endes N. Dahlan. Adalah suatu keistimewaan bahwa Walikota Bogor berkenan menjadi penguji pada sidang Doktor. Hal tersebut bukan semata karena obyek penelitiannya yang berada di kota Bogor, akan tetapi merupakan kepedulian yang tinggi dari seorang birokrat dalam pencermatan kajian akademik, yang langsung diujinya apakah layak atau tidak dalam penerapannya di lapang.
Promovendus Budi Susetyo sendiri menyusun satu model pemanfaatan lahan bantaran Sungai Ciliwung yang berfungsi sebagai koridor hijau (Green Corridor) yang terintegrasi dengan Kebun Raya Bogor serta ruang terbuka hijau lainnya. Pendekatan yang dilakukan dengan International Shading Trees Evaluation Method (ISTEM) merupakan metode untuk menduga besarnya nilai pohon di perkotaan, dalam hal ini yang berada di kawasan sempadan Sungai Ciliwung. Nilai pohon yang didasarkan pada diameter batang setinggi dada, kualitas pohon, kelas pohon peneduh dan konstanta dalam bentuk mata uang dapat dipertimbangkan sebagai nilai asset yang dimiliki suatu kota. Nilai tersebut dapat digunakan untuk memberi insentif atau disinsentif bagi masyarakat yang melindungi pohon atau perusak pohon. Angka yang dihasilkan tersebut meliputi nilai tangible serta intangible dari pohon itu sendiri baik dari segi penyerapan CO2 serta ameliorasi iklim mikro, perlindungan tata tanah dan air, konservasi keanekaragaman hayati serta memberi keindahan lanskap sekitar, selain menghasilkan produksi buah dan bunga serta daun. Pohon dapat diperhitungkan sebagai nilai asset suatu kota, karena itu di beberapa Negara seperti Amerika dan Kanada, formulasi ISTEM ini telah diterapkan khususnya untuk menghitung besarnya premi asuransi pohon. Kerusakan pada pohon kota baik karena gangguan alami atau manusia maka pemerintah kota atau individu penduduk kota yang terkena dampak langsung akan diberi kompensasi akibat adanya kerusakan pohon itu sendiri. Model perumusan kebijakan ini didasari oleh pemilihan jenis pohon (terutama pohon spesies lokal), kesesuain lahannya, serta persepsi dan preferensi masyarakat yang berada di sekitar bantara sungai Ciliwung. Dalam penerapannya selain diperlukan penguatan program penghijauan dari pemerintah setempat, juga harus bisa melibatkan masyarakat, instansi serta perusahaan dan para pihak lainnya. Stakeholders tersebut yang akan berfungsi sebagai pengontrol social dalam keberlanjutan pohon.
Bantaran S. Ciliwung selebar 10-15 meter ini seyogyanya merupakan kawasan hijau yang bebas dari bangunan, sesuai Peraturan Pemerintah No. 47/1997. Sayangnya saat ini 62% telah terokupasi oleh permukiman baik resmi (memiliki IMB) maupun tidak (tampa IMB). Untuk mempertahankan kawasan yang masih berupa lahan terbuka sebesar 38%, diperlukan upaya penegakan hukum (law enforcement), serta penguatan program penghijauan secara intensif di kawasan ini. Diperlukan juga perangkat kebijakan berupa insentif pemeliharan pohon, atau disinsentif/denda terhadap perusak/penebang pohon yang besarannya dapat didasarkan pada perhitungan nilai pohon yang ada di kawasan sempadan.
Upaya ke depan, dengan model perumusan kebijakan yang dihasilkan dapat direncanakan program penghijauan yang tepat (kesesuaian jenis pohon dengan kesuburan tanahnya; sesuai dengan preferensi mayarakatnya), pemeliharaan yang berkesinambungan, peningkatan kesadaran masyarakat, timbulnya political will dan good will dari pemerintah setempat, sehingga lingkungannya berkelanjutan. Bantaran dan sempadan sungai Ciliwung yang rimbun sebagai ruang terbuka hijau (RTH) akan tumbuh secara harmonis dengan badan air sungai yang merupakan sebagai ruang terbuka biru (RTB). Dengan komitmen para pihak, bukan hal yang mustahil di waktu yang akan datang terwujud badan air sungai yang stabil, serta bantaran sungai dengan pepohonan yang asri. Keduanya menjadi lanskap muka air “water front landscape” yang berkelanjutan. Insya Allah…..

LINKS TERKAIT:

BERITA BOGOR-Bima Arya Uji Dosen Ibnu Khaldun

ANTARA BOGOR-Wali Kota jadi penguji disertasi mahasiswa IPB

Walikota Bogor, Dr Bima Arya Sugiarto memebrikan komentar postif atas disertasi Promovendus Budi Susetyo yang telah diujinya beberapa waktu sebelumnya

Beberapa klarifikasi disampaikan oleh Promotor Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin