PANDUAN FIELD TRIP MK EKOLOGI LANSKAP DAN MK PENGELOLAAN LANSKAP BERKELANJUTAN PS ARSITEKTUR LANSKAP – SEKOLAH PASCASARJANA IPB SEMESTER GENAP TAHUN 2013/2014

PDF File CLICK HERE, PLEASE

Dosen Pembimbing:
Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin & Dr. RL Kaswanto
Asisten: Azka Lathifa Zahratu Azra

Jumlah Peserta:
22 Mahasiswa S2 PS Arsitektur Lanskap (22 Mahasiswa MK PLB dan 3 Mahasiswa MK Ekolan)
10 Mahasiswa S2 PS Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (10 Mahasiswa MK PLB)
5 Mahasiswa S2 PS Konservasi Sumberdaya Hutan (5 mahasiswa MK Ekolan)
Nama Mahasiswa : Terlampir
Lokasi Berangkat : Kampus Dramaga dan Kampus Baranangsiang Bogor
Hari/Tanggal/Waktu : Berangkat Kamis/19 Juni 2014/20.00 (Kampus Dramaga)
Tujuan Ekskursi : Pangandaran, Cukang Taneuh dan Kampung Naga
Lama Perjalanan : Dua hari – dua malam (19 – 21 Juni 2014)
Hari/Tanggal/Waktu : Tiba Sabtu/21 Juni 2014/22.00 (Kampus Dramaga)
Alat dan Bahan : Megaphone (siapkan peminjaman ke Dep. ARL oleh asisten), GPS/kompas & altimeter, DBH meter, Peta Lokasi (silakan masing- masing mahasiswa unduh dari Google Earth), Kamera Digital, personal equipments (payung/jas hujan, sepatu lapang/sandal gunung).
Kendaraan : Bus Kapasitas 44 seat (Travel Agent: NavigaTour)

METODA FIELDTRIP
1. Window Survey: observasi dari dalam bus sesuai petunjuk pembimbing sebelum berangkat.
2. Observasi Lapang: pengamatan di lapang, diskusi dengan pembimbing, wawancara dengan masyarakat/pengguna/pengelola, dan pengukuran langsung, dokumentasi gambar.
3. Studi Pustaka: menghimpun data terkait dari laporan penelitian, data buku statistik, dan sumber referensi lainnya termasuk dari link internet (sebelum dan sesudah pelaksanaan).
METODE PADA SETIAP OBYEK PENGAMATAN – Jadwal Waktu Lihat Lampiran NavigaTour
1. Dini hari Kamis-Jumat 19-20 Juni: Observasi Lapang di km 57 REST AREA Tol Cikampek – Pengamatan sekilas lanskap rest area, termasuk pengelolaan lanskap jalan tol, pengelolaan fasilitas rest area dan pengelolaan sebagai SPBU terbaik se-Indonesia, mohon diulas dari aspek keberlanjutan.
2. Pagi Jumat 20 Juni: Window survey: perjalanan dari tempat istirahat pagi menuju ke Pantai Pangandaran – lanskap kiri-kanan jalan buat catatan diskusi langsung dari dalam bus, kajian model Von Thunen.
3. Pagi Jumat 20 Juni: Observasi Lapang: Pantai Pangandaran (outdoor recreation) dan Suaka Alam Pangandaran (nature reserve/conservation area) – PLB/Ekolan sesuai interest kajiannya: lanskap dengan ekosistem terrestrial dan ekosistem aquatic, serta peralihannya (ekoton), kajian mitigasi dan adaptasi bencana tsunami (manajemen evakuasi bencana alam), upaya mitigasi (pengurangan emisi) dan adaptasi (upaya pengurangan dampak) terhadap perubahan iklim
4. Siang Jumat 20 Juni: Window survey tempat penginapan menuju Cukang Taneuh (Catatan kiri-kanan sepanjang perjalanan dipandu langsung on the site)
5. Siang Jumat 20 Juni: Observasi lapang di Cukang Taneuh/Green Canyon  Nature outdoor recreation (PLB: Supply-demand rekreasi, pengelolaan sumberdaya alam dan rencana manajemen lanskap; Ekolan: struktur-fungsi-dinamika lanskap dan budaya masyarakat setempat/pengunjung)
6. Sore/Petang Jumat 20 Juni: Observasi lapang urbanisasi di Parigi sebagai ibukota Kabupaten Pangandaran dan/atau kota berbasis wisata Pangandaran (PLB: Pembangunan lanskap dan infrastruktur kota kabupaten, fasilitas, sarana dan prasarana, manajemen, pemberdayaan masyarakat, kelembagaan; supply-demand rekreasi, daya dukung; Ekolan: struktur-fungsi-dinamika lanskap kota Pangandaran, sosio-kultur masyarakat)
7. Pagi Sabtu 21 Juni: Window survey perjalanan antara penginapan dan Kampung Naga (PLB/Ekolan: lanskap perkampungan, lanskap pertanian, proses urbanisasi, permasalahan lingkungan, potensi alam dan budaya)
8. Pagi-Tengah Hari Sabtu 21 Juni: Observasi lapang di Kampung Naga (PLB/Ekolan sesuai dengan kompetensinya: sejarah, struktur lanskap kampung, pola kampung dan tata ruangnya dan aksesibilitas, fungsi ruang, artefak (tangible dan intangible); strata sosial-budaya, pendidikan, ekonomi, kelembagaan masyarakat; konservasi alam/bio-fisik, sosial-budaya; daya dukung bio-fisik dan daya dukung sosial-budaya; pengetahuan lokal dan kearifan lokal; perkembangan wisata budaya, faktor pendorong dan faktor penghambatnya).
9. Siang – sore sebelum matahari tenggelam Sabtu 21 Juni 2014 Window Survey: PLB/Ekolan sesuai kompetensinya: lanskap kiri-kanan jalan mulai wilayah Kota Tasik Malaya – Wilayah Kabupaten Garut – Perbatasan Kabupaten Bandung: Dinamika urbanisasi dari wilayah perdesaan menuju ke wilayah perkotaan, struktur wilayah/lanskap dilihat dari perubahan bio-fisik/budaya dan perubahan segi fungsi; Perhatikan permasalahan lanskap misal perusakan alam/ekspoitasi tambang pada lanskap perbukitan, deforestasi, hubungan wilayah hulu dan hilir; perhatikan dan catat setiap ada perubahan formasi tanaman pertanian, formasi hutan pada titik wilayah yang signifikan.

TARGET OBYEK 1: REST AREA KM57
Rest Area km. 57 pada coordinates 6°22’4″ Lintang Selatan 107°21’39″Bujur Timur, terletak pada jalan Toll dari Jakarta ke Cikampek menyediakan fasilitas pom bensin (SPBU), cafetaria, restaurants, ATM center, masjid, toilet, lapangan parkir, dll. Sebagai tempat istirahat sementara dalam perjalanan, perlu diinterpretasi tentang jarak antar rest area satu dengan lainnya, daya dukung dan kapasitas kendaraan, jenis kendaraan, fasilitas dan infrastruktur, durasi kendaraan/ lamanya beristirahat, tata-ruang, serta keseimbangan rest area pada dua sisi jalan toll.

TARGET OBYEK 2: PANGANDARAN
OBYEK: Pantai Pangandaran, Cagar Alam Pananjung Pangandaran dan Lanskap Kota – Kabupaten Pangandaran
Pantai Pangandaran terletak di Desa Pananjung/Kecamatan Pangandaran/Kabupaten Pangandaran/Jawa Barat. Pantai Panganadaran adalah objek wisata andalan Kabupaten Pangandaran, pemekaran dari Kabupaten Ciamis. Pantai ini dinobatkan sebagai pantai terbaik di P. Jawa.
Keistimewaan Pantai Pangandaran:
• Dapat melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari Pantai Timur dan Pantai Barat pada hari yang sama.
• Pantainya landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama, sehingga memungkinkan kita untuk berenang dengan relatif aman.
• Terdapat pantai dengan hamparan pasir putih.
• Terdapat taman laut dengan ikan-ikan dan kehidupan laut.
• Gua Jepang peninggalan PD II.
Taman Wisata Alam/Cagar Alam Pananjung Pangandaran terletak di Desa Pananjung/ Kabupaten Pangandaran /Jawa Barat.
Pananjung dulu merupakan sebuah pulau kecil, akibat proses sedimentasi dari daratan P. Jawa maka kemudian terhubung sehingga berbentung tanjung. Pananjung sekarang berstatus sebagai cagar alam. Sebelum di tetapkan sebagai Cagar Alam (CA) kawasan hutan Pangandaran terlebih dahulu ditetapkan sebagai kawasan Suaka Margasatwa pada 7-12-1934 Nomor 19 Stbl. 669, dengan luas 497 ha dan taman laut luasnya 470 ha. Dalam perkembangannya setelah diketemukan bunga Raflesia padma, status Suaka Margasatwa dirubah menjadi Cagar Alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 34/KMP/1961. Di dalam hutan cagar alam Pananjung Pangandaran terdapat landak, kijang, burung elang, kalajengking dan kera ekor panjang, lutung, rusa dan banteng. Formasi pantainya terdiri dari tumbuhan bakau.
Urbanisasi di Ibu Kota Kabupaten Pangandaran
Kabupaten Pangandaran merupakan pemekaran dari Kabupaten Ciamis secara resmi pada 25 Oktober 2012. Kabupaten yang terdiri dari 10 kecamatan beribukota di Kecamatan Parigi. Kabupaten ini selain berbatasan dengan Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Tasikmalaya. Di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia. Semula Pananjung Pangandaran dibuka dan ditempati oleh para nelayan suku Sunda. Kemudian banyak pendatang menjadikannya Pangandaran sebagai tempat tinggal karena gelombang laut yang kecil yang membuat mudah untuk mencari ikan. Tanjung inilah sebagai pemecah gelombang yang menghambat atau menghalangi gelombang besar untuk sampai ke pantai. Di sinilah para nelayan menjadikan tempat tersebut untuk menyimpan perahu yang disebut “andar” dalam bahasa Sunda. Karena itu perkampungannya disebut Pangandaran. Pangandaran juga berasal dari dua buah kata “Pangan” dan “Daran” yang artinya adalah “makanan” dan “pendatang”. Jadi Pangandaran artinya “Sumber Makanan Para Pendatang”.

TARGET OBYEK 3: CUKANG TANEUH/GREEN CANYON
RUTE. Bogor-Jakarta-Bandung-Garut-Tasikmalaya- (melalui jalur timur melewati Kota Tasik- Ciamis-Kota Banjar-Pangandaran-Parigi-Cijulang berjarak170 km).
Cukang Taneuh (Jembatan Tanah) dikenal dengan Green Canyon (Ngarai Hijau) pelesetan dari Grand Canyon di Colorado, USA. Green Canyon dipopulerkan oleh seorang berkebangsaan Perancis pada 1993, adalah obyek wisata alam yang terletak di Desa Kertayasa/Kecamatan Cijulang/Kabupaten Pengandaran/Jawa Barat. Green Canyon berjarak ± 31 km dari Pangandaran. Ngarai ini terbentuk dari erosi tanah akibat aliran S. Cijulang selama jutaan tahun yang menembus gua dengan stalaktit dan stalaknit serta diapit oleh dua bukit dengan bebatuan dan rimbunnya pepohonan. Green Canyon menyajikan atraksi alam yang khas dan menantang.
DERMAGA CISEUREUH – Green Canyon ditempuh 30-45 menit dengan jarak sekitar 3 km. Sepanjang perjalanan, mata kita akan dimanjakan oleh hijau teduhnya warna air sungai. Di mulut gua terdapat air terjun PALATARAN. Kegiatan yang dapat dilakukan diantaranya panjat tebing, berenang, bersampan sambil memancing. Objek wisata terdekat lainnya adalah BATUKARAS serta BANDAR UDARA NUSAWIRU.

TARGET OBYEK 4: KAMPUNG NAGA
Kampung Naga terletak di Desa Neglasari/Kecamatan Salawu/Kabupaten Tasikmalaya/Jawa Barat. Lokasinya tidak jauh dari jalan raya antara kota Garut dan kota Tasikmalaya. Kampung Naga berada di lembah subur, berada pinggiran hutan yang dianggap keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Sebagai kampung adat Sunda, Kampung Naga yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya. Masyarakat di Kampung Naga masih terkait dengan masyarakat di kampung Badui. Sebagai masyarakat desa adat, Kampung Naga sangat menarik menjadi objek kajian ekologi lanskap dan majamen lanskap terutama dari struktur lanskap (bio, fisik, social, budaya) yang terkait dengan fungsi dan perubahan lanskap yang terjadi baik di dalam (secara internal) maupun pengaruh dari luar (eksternal). Kehidupan masyarakat perdesaan di kampong adat Sunda ini masih mencerminkan masa peralihan dari pengaruh Hindu menuju pengaruh Islam di Jawa Barat. Sungai Ciwulan merupakan sumber air bagi kehidupan masyarakat Kampung Naga ini. Topografi Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah yang subur. Kampung Naga memiliki area seluas satu setengah hektare, terdiri dari tata-guna lahan perumahan dan pekarangan, kolam dan pertanian sawah yang ditanami padi dua kali per tahun.

Sumber Informasi: diambil dari beragam sumber di internet

 

Ekskursi Mahasiswa S2 MK Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan dan MK Ekologi Lanskap di Alun-alun kampung Naga Tasikmalaya.

Ekskursi Mahasiswa S2 MK Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan dan MK Ekologi Lanskap di Alun-alun kampung Naga Tasikmalaya.

 

Group picture peserta ekskursi Ekologi Lanskap dan Pengelolaan lanskap berkelanjutan: Pantai timur Cagar Alam Pananjung Pangandaran.

Group picture peserta ekskursi Ekologi Lanskap dan Pengelolaan lanskap berkelanjutan: Pantai timur Cagar Alam Pananjung Pangandaran.