Gagasan dan Pemikiran Strategis Dewan Guru Besar (DGB) IPB
Dalam Menyongsong Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2014

 

Dalam rangka menghadapi Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 mei 2014, Komisi B Dewan Guru Besar (DGB) IPB yang membidangi Gagasan dan pemikiran Strategis Guru Besar telah menyelenggarakan dinner bersama jurnalis media massa baik cetak maupun elektronik. Seperti biasa acara penyampaian pemikiran dan gagasan Guru Besar ini diselenggarakan bekerjasama dengan Dierktorat Kajian Startegis dan Kebijakan Pertanian-IPB dan didukung oleh Kantor Hukum, Promosi dan Humas IPB.

Acara diselenggarakan pada Rabu malam, 30 April 2014 di Resto Taman Koleksi, Kampus IPB Baranangsiang, Bogor dimulai pk 18.30. Acara dipandu oleh Ketua Komisi B DGB IPB, Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin dengan mengundang nara-sumber para guru besar IPB, yaitu Prof. Dr. Herry Suhardiyanto (Rektor IPB), Prof. Dr.  MA Chozin (Ketua Majelis Wali Amanah IPB), dan Prof. Dr. Roedhy Poerwanto (Ketua Dewan Guru Besar IPB). Sedangkan Prof. Dr. Tridoyo Kusumastanto (Ketua Senat Akademik IPB) berhalangan hadir, tetapi menyampaikan pemikiran tertulisnya untuk dibagikan kepada para jurnalis yang meliput acara ini. Sekitar lebih dari 15 wartawan Ibu Kota, baik media cetak maupun elektronik (TV dan radio) hadir pada liputan ini. Setelah disampaikan pemikiran oleh tiga nara sumber tentang konsep pendidikan tinggi ke depan dan tanya jawab dengan para wartawan, maka tepat pada pk 20.00 acara ditutup oleh Ketua Komisi B DGB IPB.

—–

PENDIDIKAN TINGGI DALAM PENINGKATAN MARTABAT BANGSA

Gagasan dan Pemikiran Strategis Dewan Guru Besar (DGB) IPB
Dalam Menyongsong Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2014

Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin (Ketua Komisi B – Dewan Guru Besar IPB)

PENTINGNYA KARAKTER, JATI DIRI DAN BUDAYA UNGGUL

Karakter, jatidiri dan budaya unggul bangsa Indonesia pada masa-masa terakhir ini kurang kuat diyakini dan tidak tercermin dalam pola pikir, sikap dan perilaku bangsa kita. Karena itu pendidikan karakter bangsa perlu dilakukan sebagai upaya untuk merevitalisasi kembali karakter dan budaya unggul bangsa Indonesia. Dalam menyongsong Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei, kita perlu mengenang kembali Ki Hajar Dewantoro, bapak pendidikan Indonesia. Beliau telah menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak bangsa. Pendidikan karakter merupakan pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, dan pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati untuk membentuk bangsa yang berkarakter. Bangsa yang berkarakter unggul adalah bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan-teknologi-seni (IPTEKS) yang semuanya dijiwai oleh iman dan taqwa (IMTAQ) kepada Tuhan yang Maha Esa.
Pendidikan karakter dilakukan di sekolah sejak dimulai masa TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi, lingkungan keluarga dan masyarakat melalui olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, dan oleh raga agar terbentuk karakter jujur, bertanggung jawab, peduli, saling menghargai dan tangguh sebagai pilar kebangkitan bangsa, meraih prestasi tinggi, dan menjunjung tinggi budi pekerti. Prinsip pengembangan karakter adalah: ketersediaan role model, dilakukan secara terus menerus (continuous dan istiqomah), ditanamkan bukan diajarkan, memerlukan latihan, memerlukan proses refleksi.

PENDIDIKAN TINGGI DAN MARTABAT BANGSA

Pendidikan tinggi merupakan pendidikan pada tingkat adiluhung, tetapi tidak pada posisi menara gading, ia harus membumi karena itu lembaga pengampunya harus memiliki jati diri. Jati diri adalah semacam moral publik yang menjadi pegangan kehidupan orang perorang dalam suatu bangsa, ditentukan oleh keragaman sejarah dan tradisi dan konsekuensinya. Pendidikan tinggi yang pas di Indonesia adalah pendidikan yang berasaskan Pancasila, menjunjung tinggi etika akademik, kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik dan otonomi keilmuan, dan selalu berupaya memajukan, memelihara dan mengamalkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta berapresasi budaya melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pendidikan tinggi berfungsi sebagai tempat mencari kebenaran ilmiah, menemukan, memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan, serta pusat penguasaan dan pengembangan teknologi dan seni di bidang keilmuan yang diampu oleh masing-masing universitas, serta berusaha memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni tersebut bagi kesejahteraan manusia.
Pendidikan tinggi bertanggung jawab dalam membangun jatidiri anak bangsa, perlu memperhatikan akar masalah yang melandasi beragam ketidakadilan dan salah urus pengelolaan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sumberdaya ekonomi, sumberdaya budaya, sumberdaya sosial-politik, dan sumberdaya lainnya yang menyebabkan keterpurukan bangsa dan negara. Pendidikan tinggi harus mampu membalik keterpurukan mental anak bangsa dalam beragam tindakan amoral, seperti korupsi dan tindakan kejahatan lainnya. Sebaliknya pendidikan tinggi bisa mewujudkan jati diri semacam moral publik yang menjadi pegangan kehidupan orang perorang dalam suatu bangsa, ditentukan oleh keragaman sejarah dan tradisi dan konsekuensinya. Sebagai contoh, IPB sebagai institusi pendidikan tinggi di bidang pertanian harus mampu menghasilkan calon-calon pemimpin bangsa, pemimpin Negara yang berdedikasi pada pembangunan pertanian dalam arti luas, termasuk di dalamnya pengembangan potensi biodiversitas, yang dapat memperjuangkan peran penting dan keunggulan sektor pertanian dan petaninya, baik di tingkat nasional, regional, maupun internasional. Alumni IPB juga wajib memahami politik pertanian, sehingga di mana pun mereka berada akan selalu member advokasi di bidang pertanian, mengambil kebijakan-kebijakan yang tepat dan benar bagi pembangunan dan pengembangan sektor pertanian yang dapat mengangkat derajat bangsa dan Negara agraris maritim. Alumni diharapkan mampu berkembang dan memperbaiki lingkungan, memiliki keberpihakan pada pembangunan pertanian dalam arti luas dan kehidupan petani, menghargai kearifan lokal dan mampu berkomunikasi dan memiliki kekuatan untuk mewujudkan pertanian sebagai sokoguru pembangunan nasional. Dengan bekerjanya alumni IPB diberbagai bidang merupakan potensi besar dan diharapkan menjadi kekuatan dalam membangun keberpihakan terhadap pembangunan pertanian dan petani. Hal ini menjadi perhatian utama IPB ke depan untuk memperbaiki sistem pendidikan yang berkarakter (HSA).

Bogor, 30 April 2014
Disiapkan oleh Komisi B (Pengembangan Keilmuan dan Pemikiran Strategis) DGB IPB bekerjasama dengan Direktorat Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian (KSKP) IPB, dan Kantor Hukum, Promosi dan H IPB

 

PENDIDIKAN IPB DAN PEMBANGUNAN NASIONAL
Prof. Dr. Tridoyo Kusumastanto (Ketua Senat Akademik IPB)

IPB telah dan terus memberikan kontribusi iptek dan sumberdaya manusia handal pada bangsa dan negara serta rakyat Indonesia. Proses pendidikan diarahkan utk menjadi insan Indonesia yg unggul, kompetitif dan produktif dan profesional utk kemajuan Indonesia. Pengembangan bidang pertanian, kelautan dan biosains tropika yg menjadi pola ilmiah pokok IPB merupakan fokus utama pengamalan iptek civitas academica dan alumni. Pembangunan Nasional telah menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan dalam satu dekade terakhir tumbuh antara 4,63 – 6,49% memberikan ilustrasi secara global, angka yg bagus dari sisi agregat tersebut perlu dikoreksi krn dari sisi kesenjangan pendapatan meningkat dari 0,329 th 2002 menjadi 0,413 pd th 2013. Dng demikian maka pembanunan tdk hanya pertumbuhan ekonomi semata ttp perlu diperhatikan banyak aspek kesejahteraan rakyat dan keberlanjutan pembangunan. Peran SDM dan iptek yg disumbangkan oleh Perguruan Tinggi di Indonesia dalam pembangunan sangat signifikan. Keberhasilan setiap sektor dalam pembangunan tdk sepenuhnya ditentukan oleh pendidikan tinggi namun kebijakan negara dari kementerian dan lembaga negara maupun swasta sangat menentukan bg keberhasilan pembangunan nasional. Dengan demikian konvergensi antara pendidikan tinggi (PT). dan kebijakan pembangunan akan sangat menentukan keberlanjutan pembangunan yg menyejahterakan dan kemakmuran negara. Sebagai ilustrasi ketidak berpihakan negara pada sektor pertanian, industri mobil, elektronik dan beberapa sektor yg komponen impornya tingi tdk sepenuhnya menjadi tanggung jawab PT tetapi peran kebijakan pembangunan yg ditetapkan oleh negara lebih menentukan. Dengan demikian kalau suatu sektor impornya tinggi bukan berarti PT tdk berperan namun hasil kerja keras PT dari iptek dan SDM belum didukung oleh keberpihakan kebijakan pembangunan. Sinergi Kebijakan Pendidikan Tinggi dan Kebijakan Pembangunan nasional harus segera menjadi prioritas Presiden Terpilih 2014 agar kepentingan nasional adalah keharusan dlm setiap kebijakan nasional dan daerah. IPB telah mulai mempersiapkan visi menjawab tantangan pembangunan pada 100 thn Indonesia Merdeka dengan menyusun Arsitektur Akademik IPB 2045, Dalam rangka menyusun dokumen penting tersebut IPB mengharapkan masukan dari segenap lapisan masyarakat. Komitmen IPB pada bangsa dan negara serta kemakmuran rakyat Indonesia selalu menjadi prioritas pengabdian IPB.

 

Pengantar Temu Media oleh Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin

Pengantar Temu Media oleh Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin

Prof. Dr. Herry Suhardiyanto sedang menyampaikan pemikirannya tentang pendidikan tinggi

Prof. Dr. Herry Suhardiyanto sedang menyampaikan pemikirannya tentang pendidikan tinggi

Penyampaian pemikiran Guru Besar IPB, Prof. Dr. MA Chozin

Penyampaian pemikiran Guru Besar IPB, Prof. Dr. MA Chozin

Prof. Dr. Roedhy Poerwanto dan gagasan-gagasannya

Prof. Dr. Roedhy Poerwanto dan gagasan-gagasannya

Sessi pertanyaan-pertanyaan dari para jurnalis

Sessi pertanyaan-pertanyaan dari para jurnalis

Interaksi dalam sessi tanya jawab antara jurnalis dan para narasumber

Interaksi dalam sessi tanya jawab antara jurnalis dan para narasumber

Link ke berita:

http://www.antaranews.com/berita/432153/ipb-pendidikan-tinggi-harus-perhatikan-beragam-ketidakadilan