PEKARANGAN KAMPUNG UNTUK KONSERVASI AGRO-BIODIVERSITAS DALAM MENDUKUNG PENGANEKA-RAGAMAN DAN KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA

 Orasi Guru Besar Tetap di Fakultas Pertanian – IPB, 14 Desember 2013

Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, M.S.

Kepala Bagian Manajemen Lanskap – Departemen Arsitektur Lanskap

Fakultas Pertanian – IPB

Permasalahan Pangan dan Potensi Pekarangan

Permasalahan pangan di Indonesia merupakan tantangan yang masih perlu dicari solusinya. Jumlah penduduk Indonesia saat ini telah mencapai 242 juta. Berdasarkan hasil sensus 2010, rata-rata laju pertumbuhan penduduk Indonesia adalah 1,49%, sehingga diperkirakan pada genap 100 tahun Indonesia merdeka, di tahun 2045 akan mencapai 450 juta jiwa (Republika.co.id, 16 Januari 2013). Bukanlah hal yang mudah untuk mencapai kecukupan bagi ketahanan pangan (food security), keamanan pangan (food safety) dan kedaulatan pangan (food sovereignty) dengan hanya mengandalkan pengelolaan sumber daya alam secara konvensional.

Pembangunan kota baru serta infrastrukturnya seringkali mengorbankan lahan pertanian. Di lain pihak pada setiap pembangunan perumahan dengan pengembangan sistem horizontal, maka pada setiap unit rumah selalu dirancang agar memiliki ruang terbuka hijau yang dimanfaatkan sebagai pekarangan. Oleh karena itu, sekecil apa pun, jumlah pekarangan akan selalu bertambah sehingga total luasannya pun bertambah. Terdapat 5,132,000 ha pekarangan di Indonesia (BPS, 2000), 1,736,000 ha luasan ada di Pulau Jawa. Pada 2010 total luas pekarangan di Indonesia telah bertambah menjadi 10.3 juta ha.

Kajian pekarangan telah dilakukan sejak 1990-an. Pada 1998-2008 penelitian kerja sama JSPS dan DIKTI melalui Core-University Program of Research Unit for Biological Resources Development (RUBRD). Penelitian pekarangan lebih intensif dengan Rural Development Institute (RDI) Seattle, pada 2006-2007. Sejak tahun 2006 sampai 2013 dukungan riset dari DIKTI melalui Hibah Penelitian Tim Pascasarjana, Hibah Kompetensi, serta Hibah Kompetisi Penelitian, dukungan berbagai skim riset dari ICRAF-SEANAFE-INAFE mulai 2005 telah memacu penelitian agroforestri di pekarangan lebih mendalam baik secara ekologis, ekonomis, dan sosial budaya. Selanjutnya bersama ETH Zurich, Research Institute for Humanity and Nature (RIHN) Kyoto dan State University of Zanzibar (SUZA)-Zanzibar Tanzania, Afrika, dan BOPTN-IPB. Sistem agroforestri tradisional di pekarangan, kebun campuran, talun, sawah dan tegalan pada lanskap kampung telah saya petakan di lima propinsi melalui dana riset FAO (2013) untuk diusulkan menjadi Globally Important Agriculture Heritage System (GIAHS).  Hadi Susilo Arifin telah menyusun peta perjalanan riset pekarangan untuk dua puluh lima tahun, mulai 1993 sampai dengan 2018.

Jasa Lanskap dari Pekarangan

Sebagai lahan yang berada di sekitar rumah dengan batas dan pemilikan yang jelas, pekarangan merupakan lanskap yang berpotensi sebagai salah satu lahan untuk praktik agroforestri. Selain untuk produksi pertanian, juga mengkonservasi keanekaragaman hayati pertanian. Beragam strata tanaman dalam pekarangan dapat memanen energi matahari serta menyerap karbon secara efektif, melindungi tata-tanah dan tata-air, serta memberikan keindahan dan kenyamanan lingkungan setempat. Pemberdayaan pekarangan yang didasari oleh kearifan lokal, budaya lokal, serta pengetahuan ekologis setempat diperkirakan dapat diandalkan sebagai lahan fungsional, yaitu produktif baik untuk pemenuhan kebutuhan pangan secara subsisten, maupun berskala ekonomis. Pemanfaatan pekarangan merupakan hal yang sangat strategis dalam konteks mengkonservasi keanekaragaman hayati pertanian untuk beragam jenis tanaman, hewan, dan ikan.

Jika praktik agroforestri di pekarangan diberdayakan kembali sebagai usaha tani tambahan, maka hal ini berpeluang meningkatkan ketahanan pangan keluarga. Praktik agroforestri di pekarangan tidak hanya untuk subsisten, tetapi memiliki potensi skala ekonomis apabila ada usaha penyuluhan dalam penentuan komoditi unggulan sebagai produk utama pekarangan sesuai dengan kesesuaian lahan dan agroklimatnya. Produk pekarangan yang dikelola pada unit wilayah “kampong” akan bernilai ekonomis jika memiliki sistem manajemen perdagangan dalam bentuk koperasi.

Pekarangan Berkelanjutan

Pekarangan yang berkelanjutan diperlihatkan berdasarkan hubungan antara ranah wilayah bio-fisik/agro-ekologis dan sosial-ekonomi-budaya. Dengan memperhatikan kesamaan kedua ranah tersebut, secara ideal pekarangan yang berkelanjutan dalam bio-region dapat mencerminkan suatu sistem lahan yang dapat memberi kemandirian masyarakat dalam perbanyakannya; pemenuhan bahan pangan/pakan, sandang dan papan; dan pengelolaannya. Untuk optimalisasi pemanfaatan pekarangan kita bisa tekankan pada fungsi pekarangan yang berimbang secara produktif, baik ekonomis maupun ekologis. Sementara secara kultural pola pekarangan juga tidak lepas dari kondisi sosial budaya masyarakatnya, yaitu asal suku-bangsa, agama, tingkat pendidikan, kebiasaan-kebiasaan, etika, kepercayaan (believe), gugon-tuhon (pamali), hingga muncul nilai-nilai (values) dan pengetahuan lokal serta kearifan lokal.

Empat fungsi dasar pekarangan. Yaitu: Pertama, produksi secara subsisten, seperti sumbangan tanaman pangan yang menghasilkan produk karbohidrat, buah, sayur, bumbu, obat dan produk non-pangan lainnya, dan ternak. Kedua, pekarangan dapat menghasilkan produksi untuk komersial dan memberi tambahan pendapatan keluarga, khususnya di wilayah yang memiliki akses pasar yang baik. Ketiga, pekarangan mempunyai fungsi sosial-budaya. Fungsi ini termasuk jasa seperti untuk saling bertuka hasil tanaman dan bahan tanaman antar tetangga. Keempat, pekarangan memiliki fungsi ekologis, bio-fisik lingkungan. Struktur tanaman dengan multi-strata merupakan miniatur dari hutan alam tropis yang berfungsi sebagai habitat bagi beragaman tumbuhan dan satwa liar. Sistem produksi terintegrasi dari tanaman, ternak, dan ikan menghasilkan penggunaan yang efisien dalam penggunaan pupuk organik serta daur ulang bahan dan menurunkan runoff.

Keberlanjutan pekarangan bisa dilihat dari struktur elemen maupun fungsi serta filosofinya. Keberlanjutan ini dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu ukuran/luas, tata-ruang, keragaman struktur horizontal, dan keragaman struktur vertikal tanaman dalam pekarangan.

Ukuran pekarangan dikelompokkan menjadi empat. Pekarangan  sempit jika ia memiliki luas RTH-nya kurang dari 120 m2. Pekarangan sedang memiliki luas 120 m2 hingga 400 m2. Pekarangan besar 400 m2 sampai dengan 1000 m2. Lebih besar dari 1000 m2 disebut pekarangan extra luas. Prof. Hadi dalam deisertasi Doktornya yang ditempuh di Okayama University Jepang, untuk terjaminnya proses produksi secara bio-fisik/ekologis, ia telah menemukan the critical minimum size (CMS) pekarangan yaitu 100 m2. Hal tersebut didasarkan pada ukuran minimal yang dapat menyediakan tempat untuk ke lima strata tanaman yang disebut dengan keragaman vertikal, serta tempat bagi 8 jenis kegunaan atau fungsi tanaman yang disebut sebagai keragaman horizontal.

Selanjutnya, tata ruang pekarangan penting dalam menentukan peruntukan fungsinya, khusus bagi tanaman. Tanaman tertentu ditanam pada bagian pekarangan sesuai dengan efisiensi waktu dan tenaga. Misal, pada pekarangan Sunda, setiap ruang memiliki nama dengan peruntukan yang khas, yaitu: halaman depan disebut buruan, halaman samping disebut  pipir,dan halaman belakang disebut kebon. Di Bali, zona pekarangan ditata sesuai dengan kearifan lokalnya, tri-hita-karana diterapkan sebagai tempat suci (parahyangan), tempat aktivitas manusia (pawongan) dan tempat produksi (palemahan). Keberadaan zona ruang terbuka hijau di sekitar bangunan memiliki frekuensi yang relatif bergantung pada tingkat urbanisasi. Hampir semua pekarangan  desa dan kota memiliki halaman depan. Halaman depan menjadi penting karena memiliki fungsi yang khusus bagi kegiatan sosial, ritual agama, upacara budaya, tempat berkumpul bersama tetangga, dan tempat bermain anak. Praktik agroforestri; tumpang-sari pohon dan tanaman pangan semusim banyak di pekarangan bagian belakang dan samping baik di perdesaan maupun perkotaan.

Keragaman vertikal di pekarangan ditunjukkan oleh sistem tumpangsari dalam praktik agroforestri, di mana pekarangan memiliki struktur tanaman dari pohon yang sangat tinggi hingga rerumputan yang menjadi penutup tanah. Struktur ini dikelompokkan menjadi 5 strata. Keistimewaan struktur tanaman pekarangan dalam multi-strata ini adalah: (1) pemanenan matahari yang efisien; (2) penyaringan penetrasi sinar matahari; (3) penyerapan karbon yang lebih baik, dan (4) pengendalian erosi tanah lebih baik. Struktur demikian menyerupai hutan alam. Hubungan keragaman stratifikasi tanaman dan jumlah cadangan Karbon telah diteliti pada pekarangan daerah atas, tengah dan bawah di hulu DAS Kalibekasi. Diketahui semakin ke bawah, pekarangan memiliki keragaman strata tanaman lebih baik, dan mempunyai jumlah cadangan Karbon yang lebih tinggi.

Keragaman horizontal dalam pekarangan adalah keragaman elemen penyusun pekarangan yaitu keragaman jenis tanaman, hewan ternak dan satwa liar, serta jenis ikan. Keragaman ini dipengaruhi oleh beragam faktor seperti ekologi, ekonomi, dan budaya. Struktur tanaman pekarangan dikelompokkan dalam kegunaan atau fungsinya bagi rumah tangga pemilik pekarangan itu sendiri. Berdasarkan hasil penelitian telah dikelompokkan menjadi 8 fungsi tanaman pekarangan, yaitu (1) tanaman hias; (2) tanaman buah; (3) tanaman sayuran; (4) tanaman bumbu; (5) tanaman obat; (6) tanaman penghasil pati; (7) tanaman bahan baku industri; dan (8) tanaman lainnya, seperti penghasil pakan, kayu bakar, bahan kerajinan tangan, dan peneduh. Keanekaragaman tanaman secara horizontal juga dipandang sebagai agro-biodiversity dalam pekarangan.

Dengan sumber daya lahan yang lebih sempit, pengembangan pekarangan perkotaan bisa didekati dengan model praktik pertanian organik untuk buah maupun sayuran. Pola vertical garden, atau green roof garden serta tabulampot dapat diterapkan di pekarangan perkotaan.

Pemberdayaan pekarangan yang didasari oleh kearifan lokal dapat diandalkan sebagai lahan produktif untuk subsisten/komersial jika dilakukan secara agregat dalam satu kampung. Maka pekarangan berperan dalam ketahanan pangan masyarakat desa selain untuk konservasi keragaman jenis biologi pertanian. Keanekaragaman hayati pertanian di pekarangan berfungsi untuk mendukung ketahanan pangan dan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan. Juga penting untuk membangkitkan pendapatan tambahan keluarga. Diketahui ayam kampung, kambing, dan domba, serta sapi merupakan ternak yang paling lazim dipelihara di lahan pekarangan masing-masing oleh 38%, 23%, dan 7% serta oleh 19% dan 6% keluarga dari hasil penelitian di P. Jawa. Hasil analisis konsumsi gizi keluarga menunjukkan produksi pekarangan berkontribusi 137.8 k.kal energi (1.97%), 4.0 g protein (2.0%), 158.0 IU (12.5%) and 40.2 mg Vitamin C (23.70%) per keluarga (Tabel 4). Juga diketahui kontribusi zat gizi dari pekarangan terhadap recommended dietary allowance (RDA) adalah 1.89% energi, 1.92% protein, 12.39% Vitamin A, dan 23.63% Vitamin C.

Diketahui 69.2% dari produksi tanaman pekarangan dikonsumsi oleh keluarga. Yang dijual keluarga sekitar 16,8%. Keluarga memberikan produksi tanaman pekarangannya kepada tetangga dalam jumlah yang paling sedikit. Sedangkan penelitian fungsi pekarangan melalui program P2KP, hasil evaluasi di Kabupaten Bogor menunjukkan pemanfaatan produk pekarangan rata-rata 73% untuk konsumsi keluarga, 14% dijual, dan 13% dibagi ke tetangga.

Implementasi dalam Program dan Kebijakan Pemerintah

Konsumsi beras per kapita di Indonesia berdasarkan BPS 2012 adalah 113 kg per orang per tahun. Total konsumsi masih sebesar 27 juta ton beras/tahun. Konsumsi beras bisa dikurangi dengan menggerakkan masyarakat untuk mengkonsumsi pangan lokal agar Indonesia terbebas dari impor beras. Untuk hal tersebut diperlukan kebijakan pemerintah yang konsisten. Empat kebijakan di tingkat pusat telah diikuti telah ditindaklanjutkan pada level di bawahnya, yaitu diketahui ada 26 Pergub, dan 53 Perbup/Walikota. Badan Ketahanan Pangan melalui program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) telah mencanangkan berbagai kegiatan dan aksi dengan membentuk Tim Pemberdayaan P2KP, yang bertugas, antara lain, memantapkan pelaksanaan program percepatan penganekaragaman konsumsi pangan. Pekarangan sangat potensial untuk menghasilkan sumber pangan yang beragam. Logikanya, jika setiap keluarga memiliki ketahanan pangan yang baik, maka dalam RT atau RW tersebut diharapkan memiliki ketahanan pangan yang baik pula. Analoginya, demikian pula untuk tingkat desa/ kelurahan, kecamatan, kabupaten/ kota, hingga ketahanan pangan pada tingkat provinsi, dan akhirnya akan mendukung ketahanan pangan pada tingkat nasional.

Prinsip optimalisasi pemanfaatan pekarangan baik di perdesaan maupun di perkotaan adalah bagaimana mengelola pekarangan dengan baik agar dapat dijadikan tempat budi daya ragam tanaman, ternak, dan ikan. Ini adalah salah satu usaha untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas memperoleh pangan yang beragam, bergizi dan berimbang (3B) serta aman. Kita ketahui untuk mencapai PPH ideal pada tahun 2012-2013-2014 masih perlu ditingkatkan konsumsi masyarakat pada umbi-umbian, kacang-kacangan, sayuran, buah dan pangan hewani. Pekarangan sangat potensial untuk diusahakan dan didorong untuk menghasilkan produk pangan terutama buah dan sayuran.

Model Desa Mandiri Pangan memanfaatkan pekarangan dan memanfaatkan produk-produk pangan berbasis sumber daya lokal. P2KP berbasis sumberdaya lokal. Langkah operasional untuk upaya kebijakan di atas adalah selain melakukan kampanye, sosialisasi, advokasi dan promosi percepatan penganekaragaman konsumsi pangan yang beragam, bergizi, berimbang dan aman berbasis sumber daya lokal; juga pentingnya pendidikan konsumsi pangan; penyuluhan kepada ibu-ibu rumah tangga dan Kelompok Wanita Tani (KWT).

eberlanjutan pekarangan perlu didukung oleh ketersediaan bibit dan benih melalui pengembangan kebun bibit desa dan dukungan koperasi serta penyuluhan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, pekarangan perlu dikembangkan secara agregat dalam satuan kawasan pada skala kampung secara terintegrasi dengan tataguna lahan lainnya.

  1. Pengembangan pekarangan secara ekologis disarankan tetap memperhatikan the critical minimum size of pekarangan seluas 100 m2.
  2. Struktur agroforestri pekarangan perlu dirancang spesifik sesuai dengan ekosistem dan sumberdaya bio-fisik setempat.
  3. Zona bagian belakang baik di pekarangan perdesaan maupun perkotaan harus dipertahankan keberadaannya untuk mencapai keseimbangan fungsi produksi dan fungsi ekologis melalui praktik sistem agroforestri.
  4. Konservasi keanekaragaman hayati pertanian pekarangan harus tetap dijaga dengan cara mempertahankan jenis tanaman penghasil pangan lokal.

Bogor, 13 Desember 2013