Undang Burung ke Pekarangan, Kenapa Tidak?

BOGOR, BURUNG INDONESIA-Mengundang burung ke pekarangan bukanlah pekara sulit. Asalkan segala kebutuhannya seperti makan dan minum tersedia, dengan sukarela sang burung akan datang.

Yang harus digarisbawahi disini adalah menyediakan makan dan minum bukan berarti kita harus membeli pakan dan meletakkannya di kandang. Namun, lebih difokuskan pada menyediakan makanan di pekarangan melalui tanaman. Sementara, untuk minumnya dapat bersumber dari tempayan tanaman air, kolam ikan, atau cekungan daun yang menampung sisa air hujan.

Simak penuturan Hadi Susilo Arifin, Guru Besar Manajemen Lanskap Institut Pertanian Bogor (IPB). Menurut Hadi, dari tanaman burung dapat mengambil madu, bunga, buah, hingga serangga atau ulat. Hal penting lain adalah pekarangan tidak semata dijadikan tempat mencari makan, tetapi juga untuk bermain, kawin, dan bersarang.

Reviewer jurnal ilmiah International Journal of Landscape and Urban Planning-Elsevier ini pun tak sungkan berbagi pengalaman. Kala pohon salam di pekarangan rumahnya berbunga, beberapa ekor tekukur rajin mengunjungi pohon tersebut. Begitu juga dengan burung-madu sriganti (Nectarinia jugularis) yang suka menyedot madu tanaman heliconia sembari terbang di pagi hari.

Hal menarik lain papar Hadi adalah perpaduan antara tanaman harendong (Melastoma malabatrichum) dengan mangkokan. Biasanya, setelah memakan bunga melastoma yang ungu, burung akan menuju ke daun mangkokan yang menyimpan air karena berpermukaan cekung. “Pemandangan ini sangat indah,” terangnya.

Desain pekarangan

Apa yang dijelaskan Hadi tentu saja berdasarkan pengalaman dan hasil penelitiannya. Di area pekarangan rumahnya seluas 800 meter persegi, aneka tanaman tampak segar berseri. Tanaman hias, obat, buah, bumbu, sayur, bahan baku industri, hingga penghasil pati seperti sukun dan ganyong saling berbagi sinar mentari.

Bersama Nurhayati Arifin, sang istri, Hadi mendesain ruang terbuka hijau di rumahnya itu sejak 1998. Menurutnya, sebanyak 170 jenis tanaman yang ada telah disesuaikan peruntukkannya. Secara detil, Hadi memperhatikan tata ruang pekarangan (depan, samping, belakang) terlebih dahulu sebelum menanam jenis tumbuhan yang sesuai.

Begitu pula dengan pencahayaan mentari. Untuk jenis bunga yang tidak tahan panas, ditanam di tempat teduh. Sehingga, penataan pekarangan yang dibangun tidak hanya mengutamakan estetika, tetapi juga sisi fungsional.

Berdasarkan penelitiannya, penulis buku “Pemeliharaan Taman” ini membagi konsep pekarangan menjadi tiga bagian yaitu struktur pekarangan (vertikal dan horisontal), ukuran pekarangan, serta zonasi.

Sebagai gambaran, pekarangan dengan struktur vertikal berisi tanaman dengan strata berlapis: dari yang rendah (rumput, herba, dan semak), sedang (perdu dan pohon kecil), hingga yang tinggi (pohon sedang-pohon tinggi seperti rambutan, kelapa, dan petai). Sementara, dari sisi horisontal, keragaman jenis tanaman dilihat dari fungsinya seperti tanaman hias, sayuran, obat, buah, penghasil bumbu, umbi-umbian dan penghasil pati, bahan baku industri, maupun tanaman lainnya seperti tanaman peneduh dan penghasil kayu bakar.

Bagi Hadi, desain pekarangan rumah yang dibuatnya, tidak sekadar untuk keindahan dan kebutuhan manusia tetapi juga untuk kehidupan semua makhluk di dalamnya. Sebut saja burung, kadal, katak, tupai, musang, hingga ular. “Semua makhluk hidup itu akan harmonis selama keseimbangan tercipta,” lanjutnya.

Jadi, jangan heran, bila pekarangan rumah Hadi akan ramai kicauan burung kala pagi. Ada merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier), cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), cinenen jawa (Orthotomus sepium), cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps), cinenen pisang (Orthotomus sutorius), burung-gereja erasia (Passer montanus), kacamata biasa (Zosterops palpebrosus), perenjak jawa (Prinia familiaris), juga bondol peking (Lonchura punctulata). Berminat?*

(Rahmadi/Burung Indonesia)

Hadi Susilo Arifin di Pekarangan Belakang Rumahnya (BI/Aip Abas)

Hadi Susilo Arifin di Pekarangan Belakang Rumahnya (BI/Aip Abas)

Pekarangan Belakang Rumah Hadi Susilo Arifin (BI/Aip Abbas)

Pekarangan Belakang Rumah Hadi Susilo Arifin (BI/Aip Abbas)