DSC07857

On the HARDIKNAS – the national education day, May 02, 2013 coffee morning program had changed to “discussion luncheon”, due to it’s held at lunch time, 12:00-13:00.  Some national and local mass media were invited to have sharing information and professor thinking of  “academic culture”

Organizer of the program: Prof. Hadi Susilo Arifin (Chair of B Commission of IPB Professors Board) and Prof. Iskandar Zulkarnaen Siregar (Director of Research and Strategic Studies – IPB)

Venue: VIP Room – Zea mays Cafe, Dramaga Campus IPB

Speakers: Prof. Asep Saefuddin and Prof. Sjamsoe’oed Sadjad

KEUNGGULAN BUDAYA AKADEMIK

Oleh: Asep Saefuddin/Guru Besar Statistika Terapan, Dept. Statistika, FMIPA-IPB/Ketua Komisi A-Dewan Guru Besar IPB

Dewasa ini semakin banyak persoalan-persoalan di masyarakat yang muncul yang cukup kompleks dan sulit dikendalikan. Setelah sekitar 32 tahun Indonesia berada di dalam rezim pemerintahan otoriter yang akhirnya mendesak turunnya Presiden Soeharto pada tanggal 23 Mei 1998, kini Indonesia berada di era reformasi. Harapan masyarakat di era reformasi ini adalah adanya perubahan ke arah yang lebih baik ditinjau dari berbagai aspek, yakni sosial, ekonomi, politik, keamanan, kenyamanan, dan ketenangan. Setelah lebih dari satu dasawarsa, apakah harapan itu mulai terwujud? Walaupun menurut pandangan ekonomi makro, terlihat adanya perbaikan ekonomi. Namun demikian, apakah perbaikan ekonomi secara makro itu sudah menyentuh kepada hal-hal yang mendasar dalam kehidupan manusia? Faktor kesejahteraan yang lebih hakiki sepertinya belum tersentuh.

Kalau kita perhatikan masyarakat saat ini yang cepat sekali marah dan bahkan berani melakukan pembakaran fasilitas negara karena ketidakpuasan. Begitu juga warga pelajar SMA/SMK dan mahasiswa beberapa perguruan tinggi yang sering terlibat tawuran dan merusak fasilitas kampus. Salah satu sebab dari berbagai persoalan sosial di NKRI ini adalah kurang dibenahinya suatu budaya yang kondusif untuk kemajuan individu dan masyarakat secara holistik. Salah satunya adalah disebabkan karena aspek pendidikan tidak mendapat perhatian yang cukup serius. Hanya diributkan sudah mendapatkan 20 % dari total APBN. Salah satu yang kurang mendapat perhatian di negara ini adalah budaya akademik.

Budaya akademik sebenarnya bukanlah sebuah budaya monopoli institusi pendidikan, walaupun tentunya lembaga itu harus mempunyai ciri dominan dalam budaya akademik. Budaya akademik sebaiknya dimiliki oleh suatu masyarakat secara luas yang saling menghormati perbedaan kultural karena berebagai alasan perbedaan baik bersifat sosial ataupun alam. Di dalam budaya akademik, perbedaan-perbedaan itu sifatnya alamiah yang harus dijadikan landasan toleransi dan kebersamaan, bukan berarti harus seragam. Konsep budaya akademik tidak mengenal dominasi berdasarkan kekuatan masa atau senioritas, tetapi tetap menghormati unsur-unsur itu sebagai sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. Para senior, di dalam budaya akademik akan tetap menghormati mereka yang lebih muda dalam hal pendapat dengan argumen-argumen yang bisa diterima secara rasional (masuk akal). Pemaksaan kehendak tanpa kekuatan argumentasi sama sekali tidak berlaku di dalam sebuah masyarakat yang berbasis pada budaya akademik.

Masyarakat dengan kekuatan budaya akademik akan tetap dinamis, progresif, dan harmonis. Hal ini disebabkan beberapa karakteristik budaya akademik, antara lain.

          Selalu mengedepankan obyektifitas, rasionalitas (kekuatan nalar), dan tidak emosional

          Adanya unsur kritis-analitis terhadap berbagai permasalahan

          Bersifat dialogis dengan keterbukaan diskusi tanpa ada unsur hierarki (egaliter)

          Adanya kebiasaan untuk selalu membuka diri dengan selalu belajar (learning habit) dalam masyarakat belajar (learning society)

          Kebiasaan selalu meneliti (menelaah) untuk menemukan pendekatan baru yang lebih baik

          Kebebesan berpikir dengan saling menghormati dalam tatanan norma dan etika yang berlaku

          Menerapkan kebiasaan siklus keilmuan dalam kehidupan seperti PDCA (Plan, Do, Check, Action)

          Membiasakan untuk selalu memiliki pandangan (visi) jauh ke depan, tidak bersipikiran jangka pendek

          Menghormati perbedaan pendapat  

Banyak lagi kaedah-kaedah budaya akademik yang hampir berhimpitan dengan budaya keilmuan. Perkembangan keilmuan dan teknologi juga tentunya sangat memerlukan budaya akademik. Seperti dapat kita lihat dari sejarah bahwa penemuan-penemuan atau inovasi tumbuh dan berkembang pada suatu komunitas yang mempunyai ciri-ciri akademik, seperti universitas dan lembaga-lembaga riset. Di luar negeri kedua institusi itu selalu saling mengisi. Di Prancis, misalnya, lembaga-lembaga riset milik kementrian teknis biasanya dipimpin oleh seorang guru besar universitas. Lembaga yang dipimpinannya wajib menerima mahasiswa-mahasiswa S2/S3 yang melakukan riset (disebut stagier). Di USA-Kanada, industri-industri bekerjasama dengan universitas dengan mengalokasikan dananya ke universitas sekalian memberikan dana khusus kepada beberapa profesor yang mendapat mandat melakukan riset sesuai dengan keperluan industri. Model USA-Kanada ini diadopsi juga oleh Australia, Taiwan, dan Singapur dengan membangun aliansi strategis Universitas-Industri-Pemerintah dalam sebuah science park.  Lokasi science park ini umumnya berada di komunitas yang berdekatan dengan lokasi unversitas. Dari contoh ini terlihat bahwa budaya akademik sangat diperlukan untuk mengembangkan sebuah masyarakat berbasis ilmu pengetahuan.

Selain upaya penguatan budaya akademik di instansi pendidikan dan riset, pada umumnya kebiasaan akademik ini juga ditularkan ke masyarakat umumnya melalui program-program pemerintah. Misalnya di semua Kabupaten/Kota negara-negara maju selalu ada perpustakaan, musium, dan tempat bermain anak-anak berbasis ipteks bagi warga di kabupaten/kota tersebut yang dibiayai oleh pemerintah. Dengan adanya lokus-lokus akademik di sebuah wilayah maka diharapkan adanya penularan kebiasaan baik yang ada di dalam lembaga pendidikan ke masyarakat luas. Selain itu tidak ada kesan ekslusifisme kampus atau menara gading, artinya tidak ada jarak pembatas antara lembaga pendidikan dengan masyarakatnya.

Saat ini tanpa disadari budaya akademik di Indonesia juga mulai terkikis, yakni dengan birokratisasi yang berlebihan dan seolah-olah lembaga pendidikan sebuah entitas tersendiri, terpisah dari masyarakat pada umumnya. Situasi ini tidak baik untuk perkembangan kedua-duanya. Universitas bagaimanapun harus menjadi bagian dari masyarakat, masyarakat menerima universitas sebagai tempat belajarnya dan mencari solusi persoalan masyarakat. Begitu juga, universitas harus belajar dari masyarakat. Keadaan semakin diperparah dengan semakin menguatnya budaya politik di hampir semua sektor kehidupan, termasuk di perguruan tinggi. Bila keadaan ini terus dibiarkan, tidak mustahil keadaan Indonesia akan semakin semrawut.

Dalam usianya yang ke 50 tahun saat ini, IPB kembali harus menegaskan betapa pentingnya budaya akademik menjadi dominan di masyarakat. Sebagai perguruan tinggi pemula dalam pelaksanaan konsep tri dharma (pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat) yang basisnya pertanian (agriculture) maka ke depan IPB harus menjadi pelopor dalam kehidupan masyarakat yang maju dan berkembang dan mempunyai etika, norma, dan nilai-nilai. Peradaban ke depan harus diilhami oleh pemaknaan agri (land, tanah) dan culture (budaya) dalam menumbuhkembangkan tanaman. Dan untuk itu semua diperlukan kebijakan dan kecintaan terhadap tanah dan alam sehingga tanaman bisa berkembang dengan baik, selain tentunya ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian IPB harus kembali menjadi model penggerak penyatuan antara lembaga pendidikan dan masyarakat. Jangan ada dichotomi dan tembok terlalu tebal diantara kedua komunitas itu, keduanya harus merupakan bagian tidak terpisahkan dalam masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society).  Di dalam masyarakat itulah berkembang peradaban baru yang lebih dinamis, progresif, tetap harmonis penuh toleransi, serta saling menghormati perbedaan. Dengan modal inilah Indonesia akan lebih maju dan bermartabat.

Bogor, Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2013

 

MERESAPI HARDIKNAS DENGAN IPB

Oleh: Sjamsoe’oed Sadjad/Professor Emeritus – Anggota Dewan Guru Besar IPB

Tahun 2013 ini Institut Pertanian Bogor (IPB) berusia 50 tahun. Bagi kehidupan suatu universitas, 50 tahun belum terhitung tua. Namun, bila dibandingkan terhadap usia negara R.I, 50 tahun berarti selisih hanya sekitar 18 tahun. Dibandingkan terhadap negara yang sudah berusia ratusan tahun universitas yang berusia mendekati usia negara, tentu sudah sangat tua. Dengan cara berfikir demikian, IPB dalam usianya yang setengah abad ini sudah selayaknya terhitung memadai ketuannya. Sebagai universitas, makin tua usia, tentunya makin besar pula jumlah buah yang bisa dihasilkan dari berbagai pohon ilmu yang ditumbuhkan di IPB. Meskipun belum seberapanya dihitung bila NKRI mencapai usia tiga abad nanti. Semoga IPB masih tetap berada. Amien.

Meski memakai istilah Bogor  dalam namanya, IPB tetap sebagai institusi nasional. Dalam pertumbuhannya IPB tetap memegang Garuda Pancasila sebagai wahana berkiprahnya kebinekaan dalam pengembangan ilmu, meski masing-masing individu pengembannya mempunyai sifat ego sentris, tetapi dengan karakter berdisiplin keilmuannya serta sikap kejujurannya, kebinekaan itu membudayakan keharmonisan yang membahagiakan. Masyarakat bineka dalam Kampus IPB dengan target masing-masing mengabdikan diri mewujudkan Tridharma Perguruan Tinggi semaksimal mungkin, membuahkan ketenteraman lahir dan batin.

Kebinekaan membudaya sehingga tidak menakutkan. IPB lahir dalam negara yang berkebinekaan yang kebinekaan itu harus bisa di-”tunggal ika”-kan. Jiwa ini dijadikan bentuk kebinekaan ilmu yang dalam kebebasan akademik harus bisa dididikkan kepada segenap Civitas Akademika di IPB mewujudkan manusia-manusia yang berbudi luhur menjadi manusia mahardika yang tangguh. Budaya bineka merupakan keindahan yang menjadi kekayaan seluruh bangsa. Apalagi nama IPB menyandang istilah Pertanian yang di negeri ini menyandang kebinekaan unsur-unsurnya berwujud flora maupun faunanya, baik yang didaratan maupun dilautan. Serba bineka demikian harus bisa kita jaga keharmonisannya dalam perkembangan IPB.

Program Pemerintah, dalam produksi pangan lebih menunjukkan konsentrasi pada suatu komoditas untuk diswasembadakan. Hal ini memang memperhitungkan kebutuhan terhadap komoditas itu sebagai bahan pangan pokok untuk seluruh bangsa sehingga petani didesak untuk membudidayakan komoditas itu terus-menerus sepanjang tahun di lahan yang sama. Kondisi demikian bisa mengurangi kesuburan lahan dan kebinekaan bertani dalam budaya tani bisa berubah menjadi monokultural. Bagaimana pola hidup kebinekaan yang menyejahterakan dan menenteramkan sedikit banyak harus dirubah oleh petani, tentu memerlukan pemikiran di IPB. Bagaimana pangan bisa tercukupi, dan keharmonisan kebinekaan budaya bertani tetap dapat dipertahankan untuk mampu menyejahterakan petani serta masyarakat desa pada umumnya, merupakan masalah yang diharapkan paling tidak IPB dapat membuat “road map”-nya penyelesaian.

Mewujudkan kebinekaan budaya menjadi keindahan yang menenteramkan memang bukan persoalan sederhana. Dianalogkan dengan sebuah lukisan yang merangkai warna atau bentuk sehingga mewujudkan keindahan dari kebinekaan memang seperti sederhana. Kebinekaan sosial-budaya tentu lebih kompleks yang lebih “complicated”. Namun, dengan bertolak dari Pancasila sebagai karakter bangsa, dan lambang Bhinneka Tunggal Ika sebagai pegangan, Insya Allah, kebinekaan itu bisa mewujud sebagai harmonisasi yang membahagiakan.

Semangat Hardiknas yang membersatukan kebinekaan, bermusyawarah secara demokratis, dengan Rahmat Illahi, Insya Allah, dapat dengan gemilang mencapai kesejahteraan seluruh rakyat yang adil dan beradab. IPB sebagai universitas yang berbineka keilmuannya dicerminkan oleh sembilan fakultas dan ratusan program studi serta ribuan mahasiswanya, diharapkan dapat mengkonsepsikan program pembangunan nasional dan merealisasikannya melalui pendidikan karakter bangsa yang baik dan benar yang senantiasa akan diemban oleh segenap alumninya melalui berbagai bidang pengabdiannya diseluruh kawasan negeri ini. Baik berarti bersih dan sehat, benar berarti lahir dan batin “synchronized” tidak beda.

Semoga tulisan gagasan ini dapat turut mengisi Hardiknas 2 Mei 2013 dengan IPB. Kesimpulannya ialah: Dengan kebinekaan keilmuannya, IPB menuju tercapainya harmoni kebinekaan bangsa melalui pendidikan karakter bangsa yang baik dan benar. Amin Ya Robbal Alamin.

Kampus IPB Darmaga, 30 Maret 2013