REVITALISASI POTENSI LINGKUNGAN-EKONOMI-SOSIAL BUDAYA DALAM MEWUJUDKAN “SUSTAINABLE WATER FRONT CITY” DI KOTA CIREBON 1)

HADI SUSILO ARIFIN

1) Makalah untuk Prosiding Workshop dan Aksi Pembangunan Ekonomi Kota Cirebon Berwawasan Lingkungan, 1-2 Februari 2010
2) Guru Besar “Landscape Ecology and Environmental Management” di Bagian Manajemen Lanskap, Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB)

ABSTRAK
Dalam era teknologi informasi yang menembus berbagai batas ruang dan waktu, seolah-olah kita dihadapkan pada permasalahan menghadapi persaingan yang bebas dan bersifat global. Menghadapi persaingan ini, siapa pun harus mengetahui dan bisa mengevaluasi dirinya sendiri, termasuk memahami dengan sadar akan segala kekurangan maupun kelebihannya. Hal ini merupakan modal besar bagi Kota Cirebon, jika kita bisa mengeliminir segala kekurangan yang ada dengan cara memberdayakan kembali (revitalization) apa yang kita miliki sebagai kelebihan Kota Cirebon yang tidak dimiliki kota-kota lainnya, atau paling tidak yang menjadi karakter Kota Cirebon yang sangat “distinct” dibandingkan dengan kota lain di sekitarnya baik dalam secara lokal, nasional, regional, atau bahkan international. Kata kunci “revitalisasi” digunakan dalam makalah ini, semata-mata ingin mengingatkan kita, Kota Cirebon bahwa telah memiliki semuanya, yaitu sumberdaya lingkungan (bio-fisik), ekonomi dan sosial budaya dengan karakter sebuah kota pantai, laju perekonomiannya pesat dan terbuka dengan daya aksesibilitas yang tinggi karena sebagai kota pelabuhan, dan memiliki sejarah yang panjang sebagai komunitas yang berkarakter. Terbukti masih bisa dilihat berbagai artefak serta pusat-pusat kesultanan seperti Kasepuhan, Kanoman, Kacerbonan, Kaprabonan dengan berbagai artefak kehidupan sosial dan budaya yang dimiliki oleh segenap masyarakat Kota Cirebon yang menyebabkan kita bangga telah dilahirkan sebagai “wong Cerbon”. Saya pribadi tidak pernah minder ketika sering mendengar komentar saat memperkenalkan diri sebagai orang Cirebon yang disebut “Jaware/Jawa saware, Sunda bukan, Jawa bukan”. Justru komentar tersebut adalah modal kita bahwa Cirebon memang beda. Ini bisa dibuktikan dengan keragaman jenis kesenian, budaya masyarakat, adat istiadat, logat bahasa, kuliner, arsitektur, hingga karakter lingkungan. Sebagai wong Cerbon, kita tidak akan kehabisan bahan untuk mempromosikan Cirebon mulai dari obyek wisata yang khas yaitu keraton-keraton yang ada,Gua Sunyaragi, Astana Gunung Jati; makanannya (empal gentong, nasi jamblang, nasi lengko, tahu gejrot, krupuk udang, sirup campolai hingga makanan seafood sampai terasi); keseniannya (topeng Cerbon, tarling, sintren, lais, dongbret dan lain sebagainya); batik Trusmi, arsitektur gapura Cerbon (candi bentar dari batu bata merah), mangga gedong. Dan masih banyak yang lainnya. Pertanyaannya, siapa yang berkewajiban mengusung dan mengawal segala potensi tersebut akan tetap berkelanjutan? Tidak hanya semata menanamkan kebanggaan pada diri kita dan generasi mendatang, tapi seharusnya memberdayakannya untuk keberlanjutan lingkungan, ekonomi dan sosial budaya kota Cirebon. Dengan karakteristik lingkungan yang ada, Cirebon sangat potensial untuk mengklaim sebagai kota , “water front city”. Untuk itu beberapa konsep serta kajian komparatif dengan kota lainnya yang lebih dulu berkembang, akan disampaikan pada makalah ini.

Kata Kunci: pembangunan berkelanjutan, kearifan lokal, kota muka air, nilai sosial budaya, revitalisasi