INFO-SA No. 01, Vol. 08, February 2011 – ISBN 1858-3962

KINERJA SDM DAN VISI IPB MENJADI UNIVERSITAS BERKELAS DUNIA

Hadi Susilo Arifin*)

*) Ketua Komisi A (Pengkajian Karakter, Jati Diri dan Budaya Bangsa) – Dewan Guru Besar IPB; dan Anggota Komisi D (Norma dan Kajian Strategis) – Senat Akademik IPB; Kepala Bagian Manajemen Lanskap – Dep. ARL/Faperta – IPB

Pendahuluan

Ada yang menarik dari pidato Rektor IPB pada acara Rabuan Bersama pada 16 Februari 2011 yang lalu, yaitu bahwa 2011 adalah Tahun Prima Akreditasi, dan IPB tetap mengusung target menuju World Class University (WCU). Mengapa keduanya menjadi yang paling menarik perhatian penulis, dibanding butir-butir pernyataan menarik lainnya. Kedua hal, akreditasi dan WCU saling terkait satu sama lainnya, terutama dalam hal tata kelola sumberdaya manusia (staf pendidik dan staf kependidikan), tata kelola akademik, serta tata kelola riset. Sebagaimana diketahui yang sering dibicarakan bahwa persayaratan untuk menjadi WCU adalah: 40 persen tenaga pendidik bergelar Doctor; publikasi internasional sebanyak 2 paper/staf/tahun; jumlah mahasiswa pascasarjana 40% dari total populasi mahasiswa; Anggaran riset minimal USD 1.300/staf/tahun; Jumlah mahasiswa asing > 20%; dan Information Communication Technology (ICT) 10 KB/mahasiswa. Pertanyaannya, apakah IPB akan semata mengejar tercapainya persyaratan tersebut sebagai output? Penulis yakin, bahwa IPB akan melihat kegiatan akreditasi dan pemenuhan persyaratan WCU adalah suatu jembatan agar IPB terekognisi di kancah nasional, regional dan international. Selayaknya hal tersebut adalah keinginan bersama, kebutuhan bersama, sehingga semua kegiatan didukung bersama oleh semua civitas academica dan staf kependidikan. Karena itu setiap tingkat “masukan – proses – luaran – dampak” akan memperlihatkan pencapaian IPB. Dampak atau outcome inilah sebenarnya yang harus memberi kepuasan lahir dan batin bagi civitas academica dan staf kependidikan. Penulis tahu, tentu hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Norma Kinerja Dosen dan Peran Bagian

Tridarma Perguruan Tinggi, adalah amanah dalam bentuk penelitian, pendidikan dan pengabdian pada masyarakat yang selayaknya dilakukan secara berimbang oleh setiap insan pendidik di universitas. Siapa pun, seseorang yang menjadi dosen sepantasnya mengembangkan ilmunya melalui riset-riset yang dilakukannya. Setiap peneliti punya tanggung jawab untuk mempublikasikan hasil risetnya melalui seminar, penerbitan di jurnal nasional/international, maupun dituangkan dalam bentuk modul pengajaran, buku ajar, monograf, panduan desiminasi teknologi tepat guna yang tentu berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan dan pengabdian pada masyarakat. Hasil kegiatan tersebut tidak hanya semata bermanfaat bagi dosen/peneliti yang bersangkutan, tetapi juga pengkayaan ini sangat berguna bagi mahasiswa yang mengikuti kuliahnya, juga bagi IPB dalam meningkatkan jumlah publikasi dosennya. Lebih jauh, bagi penelitian yang berpotensi untuk memperoleh paten, yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang memerlukannya seperti industri terkait. Beragam hasil di atas adalah suatu bentuk kegiatan dosen yang terukur.
Selama ini, perguruan tinggi kurang memperhatikan tata kelola pada sarana dan prasarana, laboratorium, dan juga sumber daya manusia. Secara khusus penulis ingin menyoroti laboratorium tidak semata lab fisik, tetapi laboratorium di mana sebagai wadah SDM yang memiliki kepakaran ilmu yang sama. Sebagai wadah bagi para ahli sesuai dengan kepakarannya telah dibentuk “Bagian” pada departemen di lingkungan IPB berdasarkan Surat keputusan Rektor IPB Nomor: 126/13/OT/2008. Nama Bagian, dengan mandatnya serta ranah/ruang lingkupnya selayaknya memberi ruang gerak, ekspresi dan aktifitas bagi seluruh anggotanya secara leluasa. Kinerja individu anggota serta tim dalam melaksanakan tridarma, akan tercermin pada tingkat kemajuan Bagiannya. Hal tersebut mencakup tanggung jawab regenerasi dan keberlanjutan ilmu. Ke depan bagaimana IPB menyikapi langkah-langkah Bagian supaya bisa maju bersama-sama. Revitalisasi Bagian, perlu dilakukan IPB dengan encouraging terutama bagi Bagian yang relatif jalan di tempat, semisal pengalokasian dana riset block grant diberikan melalui Bagian. Dana riset tersebut bisa memayungi kegiatan semua anggota Bagian, sehingga arah pengembangan Bagian juga bisa sesuai dengan mandat Bagiannya serta ranah yang telah ditetapkan. Bagian bersama anggotanya yang telah menerima anggaran riset dituntut sejumlah publikasi yang harus bisa dihasilkan, temuan-temuan yang signifikan serta peningkatan jejaring kerja yang bisa untuk pengembangan keilmuan dan sumberdaya manusianya.

Kegiatan Akademik, In-bound dan Out-bound

Mengutip dari Panduan Program Pendidikan Sarjana (2010), visi IPB 2013 “Menjadi Perguruan Tinggi berbasis riset kelas dunia dengan kompetensi utama pertanian tropika dan biosains serta karaketer kewirausahaan”, dan visi IPB 2025 “Menjadikan IPB sebagai Perguruan Tinggi bertaraf international dalam pengembangan sumberdaya manusia dan IPTEKS dengan kompetensi utama di bidang pertanian”. Sejalan dengan visi tersebut tentu kita perlu alat untuk mencapainya dengan baik. Selain kita bisa melihat indikator level dengan mencantumkan label “kelas dunia” dan “bertaraf international” berdasarkan beberapa metode perankingan universitas dunia, seperti Academic Ranking of World Universities (ARWU), The Times Higher Education Supplement (THES) maupun ranking universitas dunia secara elektronik melalui Webometric, tetapi yang utama kita harus melihat dampak utama bagi IPB (dengan semua sumberdaya manusianya), juga bangsa dan Negara Indonesia, terutama kemajuan pertanian dan kesejahteraan masyarakat petaninya. Pemeringkatan sendiri berubah dari tahun ke tahun, IPB sebagai universitas yang memiliki bidang keilmuan yang spesialis (pertanian tropika dan biosains) maka baru akan ada fairness bila mengikuti pemeringkatan yang berdasarkan bidang keilmuan.
Peningkatan kualitas pendidikan di IPB bisa dilakukan dengan cara in-bound, yaitu dengan mendatangkan dosen/peneliti tamu untuk menjadi visiting scholar, visiting professor dan post-doctoral program di IPB yang pada akhirnya berdampak mendatangkan mahasiswa asing ke dalam IPB baik mengikuti full degree program atau melakukan “study abroad” secara bersama dengan jejaring universitas di dunia. Sampai saat ini sebagian besar kita mengklaim adanya visiting professor dengan hanya memanfaatkan adanya kuliah umum dari para professor yang datang terkait dalam kunjungan kerjasama dalam waktu singkat. Ke depan harus dipikirkan cara untuk bisa mendatangkan mereka untuk menetap dalam waktu 1 semester atau lebih. Beberapa Lab di IPB yang telah memiliki kegiatan ini, hendaknya bisa membagi pengalamannya. Sementara untuk mendatangkan mahasiswa asing melaksanakan studi di IPB, selain dengan dana dari sponsor dan DIKTI, ke depan IPB juga perlu mengalokasikan dana promosinya untuk memberi beasiswa program Master (2 tahun) dan/atau program Doktor (3 tahun) kepada 1 mahasiswa dari setiap Negara berkembang terpilih. Dampak yang diperkirakan, mulai dari pengumuman yang akan tersebar di beberapa universitas di negara tersebut sudah menjadi promosi awal; mahasiswa terpilih (tentu “terbaik” dari hasil seleksi) setelah mendapatkan pengalaman sekolah di IPB maka yang bersangkutan diharapkan bekerja dan berkiprah di negaranya dengan akan selalu membawa nama IPB.
Dengan tujuan yang sama, IPB juga perlu dan harus melakukan kegiatan out-bound dengan mengirim staf dosen tidak hanya untuk bersekolah mencapai Doctor degree tetapi juga mengirim dosen-dosen potensial untuk mencapai tingkat dunia bisa melaksanakan post-doctoral, scientist exchange, sabbatical program, visiting scholar, dan visiting professor. Kegiatan in-bound dan out-bound ini teregistrasi dan terpublikasi dalam website IPB, sehingga masyarakat di tingkat nasional/regional/internasional mengetahuinya. Perkara “study abroad”, hal ini tidak saja dilakukan oleh universitas-universitas yang penulis kenal di Jepang dan Amerika, tetapi 5-6 tahun terakhir universitas di Malaysia, Singapore dan Thailand juga melakukannya. Lama kegiatan tersebut biasa dilakukan mulai 1 minggu s.d. 6 minggu, mulai dalam bentuk kunjungan/excursion, field-trip, workshop, summer school, internship, dll. Kegiatan ini akan terselenggara dengan baik jika ada dukungan kerjasama antar universitas, jejaring dosen yang luas, kemampuan mahasiswa dalam berbahasa Inggris, serta tersedianya sponsorships. Hingga saat ini beberapa PS di IPB seringkali menjadi tuan rumah, menerima kunjungan dan melaksanakan workshop, atau summer-course. Ini sangat bagus. Tapi akan seimbang jika dosen-dosen yang memilki jejaring international dapat membawa mahasiswanya untuk melakukan study ke luar negeri dengan universitas yang memiliki MoU dengan IPB, termasuk yang saat ini banyak dilakasanakan adalah student exchange program.
Terkait dengan kinerja dosen, ke depan perlu dipikirkan bagaimana kemudahan perijinan bagi dosen yang memiliki kapasitas untuk melaksanakan kegiatan out-bound mulai dari tingkat Bagian, Departemen, Fakultas dan IPB. Yang bersangkutan bisa secara resmi melangkah maju dengan membawa “bendera” IPB. Tentu yang bersangkutan juga mengemban tugas-tugas dari IPB, semisal ada kewajiban bagi dosen tersebut untuk menghasilkan sejumlah buku, artikel yang dipublikasikan pada jurnal international dan tulisan lainnya per satuan waktu tertentu, dengan wajib mencantumkan afiliasinya sebagai dosen “Bogor Agricultural University (IPB)”. Tentu pencapaian ini akan memberi nilai tambah bagi IPB dalam menuju salah satu indikator peringkatan dunia. Tidak hanya di situ, potensi dosen yang melakukan out-bound antara lain, yaitu mengajak mahasiswanya atau staf juniornya untuk bisa menimba ilmu untuk mencapai degree program atau short-term course di Laboratorium y.b.s. berada. Tapi sebaliknya dosen tsb. juga diharapkan mempromosikan IPB di luar sehingga bisa dilakukan inisisasi kerjasama riset, dan juga “study abroad”, di mana dosen dan sekelompok mahasiswanya datang ke IPB. Lebih jauh, jika kegiatan out-bound dilaksanakan pada periode yang relatif panjang, maka IPB bisa memberikan beban tugas untuk kembali ke kampus satu kali dalam semester pada periode tertentu untuk mengajar pada semester pendek dan bimbingan intensif kepada mahasiswa dan dosen junior.

Penutup

Untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan di atas, penulis yakin bukanlah hal yang mudah. Terutama ketika kita berbicara tentang pendanaan. Namun bagaimanapun kita harus mencapai visi yang telah ditetapkan sebagai perguruan tinggi bertaraf internasional atau berkelas dunia, dengan mengusung kegiatan-kegiatan yang “tidak bisa tidak” memiliki konsekuensi pada besarnya anggaran. Penulis mengetahui mengapa China dan India begitu maju pesat khususnya di bidang pendidikan. Ternyata berbagai universitas dan dosen dari Negara tersebut banyak melakukan kegiatan in-bound dan out-bound serupa di atas. Kegiatan tersebut banyak di jumpai di setiap Laboratorium saat penulis mengikuti Program of Academic Recharging (PAR-B) di Michigan State University, the US pada periode Oktober 2010-Januari 2011 yang lalu. Banyak dosen dan mahasiswa China dan India secara umum di jumpai di berabagai universitas di US juga Negara maju lainnya. Penulis percaya jika tata-kelola sumberdaya manusia dilakukan dengan baik, dengan target pencapaian yang jelas maka “langsung tidak langsung” kegiatan in-bound dan out-bound baik bagi dosen dan mahasiswa, khususnya bagi IPB akan mendapat manfaat yang tinggi dalam menuju kelas dunia (Bogor, 25 Februari 2011).