Michigan State University, East Lansing, Michigan-US
January 12, 2011
Di detik2 hari terakhir di MSU ada rasa bermacam-macam, sama seperti gado-gadoatau permen nano-nano  :-)
Di satu hal saya sudah kangen dengan hangatnya kota Bogor (ehm… macetnya nggak ketulungan), rumah yang selalu ijo royo-royo (it’s ever green) di Laladon, dan Kampus IPB yang selalu ramai (mahasiswa bergerombol di koridor kampus… ada yang belajar, ada yang bercanda) di Dramaga… Tapi di lain hal, “I love the white winter right here…, really I am gonna miss it…”
Eh, di tengah jadwal kegiatan hari III terakhir di MSU, saya sempatkan agenda exercise di setiap Rabu, yaitu berenang. Siang tadi sehabis berenang di IM West Gym sekitar 02:00 PM, saya membatalkan naik bus CATA, lalu berjalan kaki menuju ke Natural Resources Bldg. Tanpa sengaja seperti biasa dengan camera di saku…, jadilah saya menyusuri Red Cedar River yang membelah kampus MSU yang saat ini telah membeku, sebagian besar menjadi ICE. Sampailah saya terjebak di MSU Botanical Garden yang semua tertutup salju tebal…..
Wah, rasanya saya belum sempat menginterpretasi satu per satu tumbuhan yang ada di sini. Tiga bulan lalu saat pertama kali datang, saya berniat mengambil gambar koleksi tanaman satu per satu, tapi belum sempat…. Sekitar  1 jam saya hunting foto dengan memasuki area bersalju tebal tanpa jejak kaki, dan pintu-pintu reling Botanical Garden yang terkunci (alias tertutup, dan berarti setelah salju turun tidaka ada orang yang melintas di sini). Saya rasanya enggan meninggalkan kebun raya ini jikalau saja sepatuku dan ujung celanaku tidak memutih karena tertutup tebalnya salju.
Ujung kaki rasanya membeku, tapi camera ku enggan berhenti memotret apa saja yang ada di sini. Saya pikir di tengah-tengah kampus IPB yang seluas 350 ha, juga telah ada berbagai arboretum (arboretum arsitektur lanskap/ARL, arboretum fahutan, arboretum bambu, arboretum tanaman obat yang juga cukup luas dan lengkap), tapi belum ada kebun raya. Salah satu arboretum (ARL) yang berada di sebelah “IPB entrance gate”, depan Gedung Rektorat selayaknya bisa ditingkatkan menjadi Kebun Raya IPB, koleksi tanamannya tidak hanya tegakan pohon, tetapi beragam tumbuhan/tanaman sebagai media “ex-situ conservation”. Semoga…..
Akhirnya, saya tidak tahan karena ujung-ujung jari kaki terasa membeku… Sekitar 03:15PM saya menuju ke bus stop depan “MSU Main Library”.
Tiba-tiba mataku tertuju ke MUSEUM Bldg, yang sejak awal sudah diagendakan, tetapi belum terkunjungi juga. Huh….., kenapa jadi terasa diburu waktu begini????
Meski CATA Bus No 33 datang, saya tidak jadi naik… tapi langsung menuju MUSEUM di seberang. Thanks God…. dari jadwal ternyata mueseum baru akan tutup 05:00 PM. Saya masih cukup waktu untuk melakukan interpretasi di Museum…. Museum MSU bebas dari biaya masuk, hanya bagi orang dewasa disarankan memberi donasi US$ 4.
Waktu saya tersisa sekitar 90 menit, sangat singkat. Besok dan lusa tidak terkejar untuk datang kemari lagi karena 2 hari terakhir pun sudah terjadwalkan penuh, masih ada jadwal diskusi materi artikel pekarangan dan ada jadwal  rencana presentasi bersama kawan2 di PERMIAS.
Seperti biasa saya telusuri dari hall satu ke hall lainnya, diorama satu ke diorama berikutnya, dan lorong satu ke lorong seterusnya. Rasa ingin tahuku terus menuntun di detik2 ditutupnya museum, camera saya terus membidik berbagai ruang pamer dan artefak serta teks interpretasinya, sampai tanda signal merah di LCD camera kelap-kelip, karena sudah “low batt”.
Saya telah mengunjungi berbagai Univ. Museum di beberapa negara, hampir serupa!!!  Di mulai dari sejarah international, sejarah bangsa dan sejarah universitas sendiri tersaji dengan runut. Di MSU tersedia perkembanagan evolusi hewan, koleksi specimen flora dan fauna …, ada “habitat hall”, juga memperlihatkan betapa penelitian di bidang tersebut ditekuni oleh universitas ybs.
Tiba-tiba, ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam dada… terus naik ke ubun2, yaitu RASA dan KARSA…. IPB dan Univ. lainnya di Indonesia, selayaknya segera mewujudkan cita-cita mendirikan museum universitas. Tidak hanya sebatas cita2 yang tidak pernah sampai…. Di waktu mendatang selayaknya harus bisa digapai…. Ada “nawaitu”, donatur bisa digalang…. Betapa pentingnya kita melihat sejarah ke belakang untuk mengukur pencapaian ke masa depan.
Rasa senang saya memuncak ketika di “hall” paling terakhir di lantai bawah yang akan saya kunjungi. Saya masuk ke “Culture Hall”. Tersaji berbagai budaya dari berbagai bangsa… saya lihat ada koleksi berbagai budaya Jepang, koleksi ceramic dari China, beragam kain dari India, juga negara-negara lainnya…. dan batt camera ku sudah bunyi tut tut tut pertanda menjelang padam…
Dengan tanpa disangka…. saya menjumpai diorama BUDAYA INDONESIA ada 4 etalase lagiiiiiiiii……. ohhhhhhh my GOD, batt camere ku padam….
Padahal ada “Religion in Bali”, ada “Theatre in Java”, ada “Batik Indonesia”, ada “Indonesian Island”. Informasinya sangat lengkap, benda2 yang dipamerkan sangat representative!!! Saya ingin sekali mengabadikannya…. Wah, ada kebanggaan di sini, di dalam hati bahwa budaya kita dikenalkan oleh mereka melalui Museum ini. Apresiasi juga tercurah, betapa besar usahanya untuk memperoleh koleksi batik , keris, angklung, berbagai jenis topeng, foto jakarta dari udara, dll artefak selengkap itu… Bisa jadi karena jasa baik dari seorang donator. Waaaaaahhhhhhh, saya harus kembali kemari untuk memotret… tapi apakah masih mungkin besok Kamis, atau Jumat yang sudah terjadwal padat? Sabtu subuh, January 15, 2011 saya harus terbang dari Detroit menuju Jakarta.
Alhamdulillah, saya ingat ada BB di dalam ranselku yang jarang saya pakai selama di MSU. Sebelum Museum ditutup, setiap diorama Indonesia saya shoot 2 jepretan…. dengan BB camera, mungkin hasilnya kurang sempurna, tapi lumayan lah saya telah merekamnya. Finally….. I catched those pictures….  :-)
All the best,
Deddy-Hadi Susilo ARIFIN