http://depoklik.com/menuju-kota-yang-berkelanjutan/

Depok, 27 Oktober 2010

APAKAH Anda  pernah mendengar istilah green city atau eco village? Pada prinsipnya, istilah tersebut merujuk pada sebuah tren kota yang dapat mencukupi kebutuhan masyarakat yang berkelanjutan, kota yang nyaman, ramah lingkungan, dengan kehidupan masyarakatnya yang sehat dan sejahtera. “Kota Depok sangat memungkinkan untuk menuju kota yang berkelanjutan,” tutur Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin, Kepala Bagian Manajemen Lanskap Institut Pertanian Bogor (IPB).

Meski memungkinkan, bukan berarti pemerintah dan warga Depok berdiam diri dan ujug-ujug kawasan kita menjadi green city. Ada syarat yang mesti dipenuhi, yaitu kesamaan visi antara pemerintah dan warganya. Bila ini sudah terpenuhi, maka infrastruktur sudah bisa mulai dilengkapi. Infrastruktur menjadi faktor pendukung yang utama dalam konsep ini, yaitu lingkungan nyaman, minim polusi, lapangan olah raga, trotoar yang nyaman, jalan yang ramah untuk sepeda, dan tempat olahraga. “Bila kota tidak memiliki hal tersebut, bagaimana mau sehat?” kata Prof. Hadi. Walaupun ada fasilitas olahraga, sudah cukup kah dengan perbandingan jumlah masyarakatnya? Bagi Prof. Hadi, idealnya setiap kecamatan punya mainstream ini.

Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin

Infrastruktur juga menuntut kesadaran masyarakat dan penegakan hukum, misalnya masih banyak trotoar digunakan untuk kaki lima, hingga pejalan kaki tidak nyaman. “Saat ini, masih banyak mafia yang mengijinkan kaki lima berjualan, dengan membayar retribusi, dan pungutan lain,” keluh Profesor yang memiliki tempat tinggal di Cimanggis ini. “Kita tidak kekurangan aturan kok, sudah banyak aturan yang ada, namun pelaksanannya kurang serius. Buktinya, banyak kaki lima yang memakai lampu, dialiri arus listrik dan artinya ini difasilitasi. Lalu siapa yang menfasilitasi ini?” lanjutnya.

Prof Hadi juga menambahkan bahwa konsep kota yang berkelanjutan harus memperhatikan tiga sisi penting pembangunannya. Yang pertama adalah, ekologi yaitu pembangunan lingkungan nyaman. “Kota hijau bukan semata-mata penghijauan, melainkan hemat energi, hemat lahan, dan hemat material,” tutur Prof. Hadi.

Yang kedua adalah ekonomi, yaitu kota menyejahterakan warga. Aspek ekonomi ini tidak bisa dikesampingkan, pemerintah harus mensejahterakan rakyatnya. “Bila rakyat lapar atau tidak berkecukupan, kecenderungannya adalah kejahatan, daerah slump, dan merusak,” jelas Prof. Hadi dengan gayanya yang serius namun santai.

Sisi terakhir adalah budaya yang berarti membangun kesadaran dan pemahaman bersama. Bila budaya, norma, etika, adat istiadat, toleransi, dan nilai-nilai masyarakatnya tinggi, sudah dapat dipastikan tingkat kesadaran akan kota yang berkelanjutannya-pun tinggi.

Dalam perjalanan akademisnya, Prof. Hadi sempat menjadi Technical Assistant yang meneliti bersama Kompalindo di Kota Depok mengenai Urban Agriculture. Menurutnya, Kota Depok memiliki potensi yang besar untuk mewujudkan ini. “Tinggal pemerintahnya saja perlu ditingkatkan lagi kesadarannya, dan tentunya pelaku dunia usaha dan masyarakat-pun juga harus ditingkatkan pemahamannya,” tandasnya.

Coki Lubis

Foto: PierreLuc-sxc.hu / AN