The 1st TASK (Tugas Pertama) for P06 Class: After you got the first meeting on PIP Class, write down please your opinion of “Indonesian agriculture, now and the future”  in this comment box not more than 100 words (in Bahasa Indonesia or in English).

Introduction to Agriculture Sciences Course (MK Pengantar Ilmu-ilmu Pertanian)

The odd semester of academic year 2014-2015 for  IPB General Class “Tingkat Persiapan Bersama” have been started since September 2nd, 2014.

Coordinator of PIP:  Prof. Dr. Hadi Susilo ARIFIN – please CLICK HERE

Lecturer, Rooster and Class Room of PIP – please CLICK HERE

Two Lecture Notes: Would be distributed to all the 51st Batch TPB Students -  freely on the 2nd week of September 2014.

Book 1:
Nasoetion AH. 2014. Pengantar ke Ilmu-Ilmu Pertanian.  Litera Antar Nusa, Jakarta. 178p
Book 2:
Tim Pengajar PIP. 2014. Buku Kumpulan Makalah Pengantar Ke Ilmu-ilmu Pertanian. IPB Press, Bogor. 95p

The Lecture Topic in Each Meeting/Week, as follows:

Meeting No Lecture Topic References
1 Lecture Contract, Scientist and Knowledgement                                  PPt Material: Kontrak Perkuliahan Ilmuwan dan Pengetahuan Book 1 Chapter 0,1
2 Sciences; Agriculture and Environment  PPt Material: Sains-Pertanian dan Lingkungan Book 1 Chapter 2,3,4
3 History of Agriculture and Business Agriculture PPt Material: Sejarah Pertanian dan Pertanian Usaha Book 1 Chapter 5,6
4 Weather, Climate and the Elements PPt Material: Cuaca dan Iklim serta Unsur-Unsurnya Book 2 Chapter 2
5 Climate of Indonesia PPt Material: Iklim Indonesia Book 2 Chapter 3
6 Energy and Life Cycles                        PPt Energi dan Daur Hara Kehidupan Book 1 Chapter 7,8, 11,12,13 (Rev. Ed)
7 Food and Nutrition PPt Pangan dan Gizi Book 1 Chapter 9,10 (Rev. Ed)

Mid-Test

8 Post Harvest Technology                PPT Teknologi Pasca Panen Book 1 Chapter 14
9 Non-Food AgriculturePPt Non-Pangan Book 2 Chapter 5
10 Agribusiness and Agroindustry PPt Agribisnis dan Agroindustri Book 2 Chapter 7,8
11 Biotechnology PPt Bioteknologi Book 2 Chapter 6
12 Urban Agriculture and Soilless based Agriculture PPt Pertanian Perkotaan dan Pertanian Berbasis Non-TanahSupporting Reference: PDF Urban Agriculture Book 2 Chapter 4(Rev. Ed)Supporting Reference: Hand out URBAN AGRICULTURE
13 Integrated Farming, Sustainable Agriculture and Renewable Energy PPt Pertanian Terpadu, Berkelanjutan dan Energi Terbarukan New Material
14 The 21 Agriculture Vision: Green Economy PPt Visi Pertanian Abad 21: Ekonomi Hijau Book 2 Chapter 9 (Rev. Ed)

Final-Test

Prof. Gerhardus Schultink (MSU the US) in Studium Generale of Rural & Agricultural Landscape Course, Odd Semester of 2012/2013

Prof. Gerhardus Schultink (MSU the US) in Studium Generale of Rural & Agricultural Landscape Course, Odd Semester of 2012/2013

Odd Semester: September 2014 to January 2015 – Graduate Students Course for Doctor and Master Program

A course subject of “Rural and Agricultural Landscape” (Lanskap Perdesaan dan Pertanian – ARL 611) would be delivered in the Odd Semester September 2014 to January 2015 for graduate students of related study programs in the Graduate School of IPB, i.e. Landscape Architecture (ARL), Agronomy & Horticulture (AGH), Natural Resources and Environmental Management (PSL), Regional Planing (PWL), Rural and Regional Development (PWD), Watershed Management (DAS), Soil Agro-technology (ATT), Tropical Biodiversity Conservation (KVT), Ecotourism & Ecosystem Services Management (MEJ), Tropical Silvi-culture (SVK), Communication of Rural & Agricultural Development (KMP), Rural Sociology (SPD), Development Extension Service (PPN), etc.

Course Subject: Rural and Agricultural Landscape
(JUDUL MATA KULIAH: LANSKAP PERDESAAN DAN PERTANIAN)

Code: ARL 611/ 3 Credit – 3 (2-3)

Lecturer (s):
1. Prof. Dr. HADI SUSILO ARIFIN
2. Prof. Dr. WAHJU QAMARA MUGNISJAH

3. Dr. R.L. Kaswanto

Syllabus:
This subject discusses regarding rural landscape structure in Indonesia, and their relation with land utilization in the agro-politan concept, which is included agricultural and non-agricultural landscape that’s influenced by bio-physical, geographical, social, economical and cultural factors. Agro-forestry/Agro-silvo-pastural/agro-silvo-fishery system in the landscape scale as sustainable agriculture practices on rural landscape structure for raising community welfare and food security to be discussed deeper based on ecological function, productivity, and environmental aesthetic in order to support greenery open spaces availability. This subject learns methods and model approaches for rural and agricultural landscape management, such as Participatory Rural Appraisal (PRA), Low-External- Input and Sustainable Agriculture (LEISA), dan Community Sustainability Assessment (CSA)

Mata kuliah ini membahas struktur lanskap perdesaan di Indonesia serta hubungan penggunaan lahannya dalam konsep agropolitan yang mencakup lanskap pertanian dan non-pertanian yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan biofisik, geografi, sosial, ekonomi, dan budaya. Sistem agro-forestri/agro-silvo-pastural/agro-silvo-fishery pada skala lanskap sebagai praktek pertanian berkelanjutan pada struktur lanskap perdesaan untuk peningkatan kesejahteraan dan ketahanan pangan masyarakat dibahas lebih lanjut berdasarkan azas fungsi ekologis, produktivitas, dan estetika lingkungan dalam menunjang keberadaan ruang terbuka hijau. Juga mempelajari metode dan pendekatan model dalam pengelolaan lanskap perdesaan dan pertanian: Participatory Rural Appraisal (PRA), Low-External- Input and Sustainable Agriculture (LEISA), dan Community Sustainability Assessment (CSA).

Learning Outcome:

After finished this subject, students will able to evaluate, to develop, and to manage potential resources of rural landscape based on community needs for sustainable development.

Setelah menyelesaikan mata kuliah ini, mahasiswa akan mampu mengevaluasi, mengembangkan, dan mengelola potensi sumberdaya lanskap perdesaan yang berbasis pada kepentingan masyarakat untuk pembangunan yang berkelanjutan.

FURTHER INFORMATION regarding schedule, day and time, class room please contact:

DSC05943a

Prof. Dr. Hadi Susilo ARIFIN

E-mail: hsarifin@ipb.ac.id; hadisusiloarifin@gmail.com

FB/YM/Skype: dedhsa@yahoo.com

Twitter: @dedhsa

Mobile/WA/Line: +62811117720

Address:
Room 13-6-2, Wing 13, Level VI
Landscape Management Division
Department of Landscape Architecture
Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University (IPB)
Jl. Meranti, Dramaga Campus, Bogor 16680

Poster of Rural & Agricultural Landscape Course on the expose of practical task results in Bogor District Office

Poster of Rural & Agricultural Landscape Course on the expose of practical task results in Bogor District Office, 7th January 2014

Site visit to case study area of Rural & Agricultural Landscape Practical Courses in Cihideung Udik, Bogor with Graduate Students, Batch 2012/2013

Site visit to case study area of Rural & Agricultural Landscape Practical Courses in Cihideung Udik, Bogor with Graduate Students, Batch 2012/2013

Promotor Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin memimpin sidang terbuka program Doktor, Promovendus Budi Susetyo dari PS Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan, SPs IPB

JUDUL DISERTASI: Model Perumusan Kebijakan Pemanfaatan Lahan Berbasis Ekologi Lanskap di Sempadan Sungai Ciliwung Kota Bogor
PROMOVENDUS: Budi Susetyo
PROMOTOR: Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin, Prof. Dr. Machfud, Dr. Widiatmaka, dan Dr. Nurhayati HS. Arifin
PENGUJI DI LUAR KOMISI: Dr. Bima Arya Sugiarto (Wali Kota Bogor) dan Dr. Endes N. Dahlan (Dosen Fakultas Kehutanan IPB).

Promovendus Budi Susetyo dari Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Ia juga seorang dosen di Universitas Ibnu Khaldun, telah memaparkan disertasi dalam sidang terbuka pada Selasa, 19 Agustus 2014 di Ruang Sidang Silva Fahutan IPB. Promovendus telah mengusung disertasi yang berjudul “Model Perumusan Kebijakan Pemanfaatan Lahan Berbasis Ekologi Lanskap di Sempadan Sungai Ciliwung Kota Bogor”. Yang bertindak sebagai promotor adalah ahli manajemen dan ekologi lanskap, ahli pemodelan, ahli kesuburan tanah dan tata guna lahan, serta ahli lanskap budaya, yaitu Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin, Prof. Dr. Machfud, Dr. Widiatmaka, dan Dr. Nurhayati HS. Arifin. Adapun pengujinya adalah Walikota Bogor, yang juga berprofesi sebagai dosen, yaitu Dr. Bima Arya Sugiarto, dan ahli hutan kota Dr Endes N. Dahlan. Adalah suatu keistimewaan bahwa Walikota Bogor berkenan menjadi penguji pada sidang Doktor. Hal tersebut bukan semata karena obyek penelitiannya yang berada di kota Bogor, akan tetapi merupakan kepedulian yang tinggi dari seorang birokrat dalam pencermatan kajian akademik, yang langsung diujinya apakah layak atau tidak dalam penerapannya di lapang.
Promovendus Budi Susetyo sendiri menyusun satu model pemanfaatan lahan bantaran Sungai Ciliwung yang berfungsi sebagai koridor hijau (Green Corridor) yang terintegrasi dengan Kebun Raya Bogor serta ruang terbuka hijau lainnya. Pendekatan yang dilakukan dengan International Shading Trees Evaluation Method (ISTEM) merupakan metode untuk menduga besarnya nilai pohon di perkotaan, dalam hal ini yang berada di kawasan sempadan Sungai Ciliwung. Nilai pohon yang didasarkan pada diameter batang setinggi dada, kualitas pohon, kelas pohon peneduh dan konstanta dalam bentuk mata uang dapat dipertimbangkan sebagai nilai asset yang dimiliki suatu kota. Nilai tersebut dapat digunakan untuk memberi insentif atau disinsentif bagi masyarakat yang melindungi pohon atau perusak pohon. Angka yang dihasilkan tersebut meliputi nilai tangible serta intangible dari pohon itu sendiri baik dari segi penyerapan CO2 serta ameliorasi iklim mikro, perlindungan tata tanah dan air, konservasi keanekaragaman hayati serta memberi keindahan lanskap sekitar, selain menghasilkan produksi buah dan bunga serta daun. Pohon dapat diperhitungkan sebagai nilai asset suatu kota, karena itu di beberapa Negara seperti Amerika dan Kanada, formulasi ISTEM ini telah diterapkan khususnya untuk menghitung besarnya premi asuransi pohon. Kerusakan pada pohon kota baik karena gangguan alami atau manusia maka pemerintah kota atau individu penduduk kota yang terkena dampak langsung akan diberi kompensasi akibat adanya kerusakan pohon itu sendiri. Model perumusan kebijakan ini didasari oleh pemilihan jenis pohon (terutama pohon spesies lokal), kesesuain lahannya, serta persepsi dan preferensi masyarakat yang berada di sekitar bantara sungai Ciliwung. Dalam penerapannya selain diperlukan penguatan program penghijauan dari pemerintah setempat, juga harus bisa melibatkan masyarakat, instansi serta perusahaan dan para pihak lainnya. Stakeholders tersebut yang akan berfungsi sebagai pengontrol social dalam keberlanjutan pohon.
Bantaran S. Ciliwung selebar 10-15 meter ini seyogyanya merupakan kawasan hijau yang bebas dari bangunan, sesuai Peraturan Pemerintah No. 47/1997. Sayangnya saat ini 62% telah terokupasi oleh permukiman baik resmi (memiliki IMB) maupun tidak (tampa IMB). Untuk mempertahankan kawasan yang masih berupa lahan terbuka sebesar 38%, diperlukan upaya penegakan hukum (law enforcement), serta penguatan program penghijauan secara intensif di kawasan ini. Diperlukan juga perangkat kebijakan berupa insentif pemeliharan pohon, atau disinsentif/denda terhadap perusak/penebang pohon yang besarannya dapat didasarkan pada perhitungan nilai pohon yang ada di kawasan sempadan.
Upaya ke depan, dengan model perumusan kebijakan yang dihasilkan dapat direncanakan program penghijauan yang tepat (kesesuaian jenis pohon dengan kesuburan tanahnya; sesuai dengan preferensi mayarakatnya), pemeliharaan yang berkesinambungan, peningkatan kesadaran masyarakat, timbulnya political will dan good will dari pemerintah setempat, sehingga lingkungannya berkelanjutan. Bantaran dan sempadan sungai Ciliwung yang rimbun sebagai ruang terbuka hijau (RTH) akan tumbuh secara harmonis dengan badan air sungai yang merupakan sebagai ruang terbuka biru (RTB). Dengan komitmen para pihak, bukan hal yang mustahil di waktu yang akan datang terwujud badan air sungai yang stabil, serta bantaran sungai dengan pepohonan yang asri. Keduanya menjadi lanskap muka air “water front landscape” yang berkelanjutan. Insya Allah…..

LINKS TERKAIT:

BERITA BOGOR-Bima Arya Uji Dosen Ibnu Khaldun

ANTARA BOGOR-Wali Kota jadi penguji disertasi mahasiswa IPB

Walikota Bogor, Dr Bima Arya Sugiarto memebrikan komentar postif atas disertasi Promovendus Budi Susetyo yang telah diujinya beberapa waktu sebelumnya

Beberapa klarifikasi disampaikan oleh Promotor Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin

PANDUAN FIELD TRIP MK EKOLOGI LANSKAP DAN MK PENGELOLAAN LANSKAP BERKELANJUTAN PS ARSITEKTUR LANSKAP – SEKOLAH PASCASARJANA IPB SEMESTER GENAP TAHUN 2013/2014

PDF File CLICK HERE, PLEASE

Dosen Pembimbing:
Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin & Dr. RL Kaswanto
Asisten: Azka Lathifa Zahratu Azra

Jumlah Peserta:
22 Mahasiswa S2 PS Arsitektur Lanskap (22 Mahasiswa MK PLB dan 3 Mahasiswa MK Ekolan)
10 Mahasiswa S2 PS Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (10 Mahasiswa MK PLB)
5 Mahasiswa S2 PS Konservasi Sumberdaya Hutan (5 mahasiswa MK Ekolan)
Nama Mahasiswa : Terlampir
Lokasi Berangkat : Kampus Dramaga dan Kampus Baranangsiang Bogor
Hari/Tanggal/Waktu : Berangkat Kamis/19 Juni 2014/20.00 (Kampus Dramaga)
Tujuan Ekskursi : Pangandaran, Cukang Taneuh dan Kampung Naga
Lama Perjalanan : Dua hari – dua malam (19 – 21 Juni 2014)
Hari/Tanggal/Waktu : Tiba Sabtu/21 Juni 2014/22.00 (Kampus Dramaga)
Alat dan Bahan : Megaphone (siapkan peminjaman ke Dep. ARL oleh asisten), GPS/kompas & altimeter, DBH meter, Peta Lokasi (silakan masing- masing mahasiswa unduh dari Google Earth), Kamera Digital, personal equipments (payung/jas hujan, sepatu lapang/sandal gunung).
Kendaraan : Bus Kapasitas 44 seat (Travel Agent: NavigaTour)

METODA FIELDTRIP
1. Window Survey: observasi dari dalam bus sesuai petunjuk pembimbing sebelum berangkat.
2. Observasi Lapang: pengamatan di lapang, diskusi dengan pembimbing, wawancara dengan masyarakat/pengguna/pengelola, dan pengukuran langsung, dokumentasi gambar.
3. Studi Pustaka: menghimpun data terkait dari laporan penelitian, data buku statistik, dan sumber referensi lainnya termasuk dari link internet (sebelum dan sesudah pelaksanaan).
METODE PADA SETIAP OBYEK PENGAMATAN – Jadwal Waktu Lihat Lampiran NavigaTour
1. Dini hari Kamis-Jumat 19-20 Juni: Observasi Lapang di km 57 REST AREA Tol Cikampek – Pengamatan sekilas lanskap rest area, termasuk pengelolaan lanskap jalan tol, pengelolaan fasilitas rest area dan pengelolaan sebagai SPBU terbaik se-Indonesia, mohon diulas dari aspek keberlanjutan.
2. Pagi Jumat 20 Juni: Window survey: perjalanan dari tempat istirahat pagi menuju ke Pantai Pangandaran – lanskap kiri-kanan jalan buat catatan diskusi langsung dari dalam bus, kajian model Von Thunen.
3. Pagi Jumat 20 Juni: Observasi Lapang: Pantai Pangandaran (outdoor recreation) dan Suaka Alam Pangandaran (nature reserve/conservation area) – PLB/Ekolan sesuai interest kajiannya: lanskap dengan ekosistem terrestrial dan ekosistem aquatic, serta peralihannya (ekoton), kajian mitigasi dan adaptasi bencana tsunami (manajemen evakuasi bencana alam), upaya mitigasi (pengurangan emisi) dan adaptasi (upaya pengurangan dampak) terhadap perubahan iklim
4. Siang Jumat 20 Juni: Window survey tempat penginapan menuju Cukang Taneuh (Catatan kiri-kanan sepanjang perjalanan dipandu langsung on the site)
5. Siang Jumat 20 Juni: Observasi lapang di Cukang Taneuh/Green Canyon  Nature outdoor recreation (PLB: Supply-demand rekreasi, pengelolaan sumberdaya alam dan rencana manajemen lanskap; Ekolan: struktur-fungsi-dinamika lanskap dan budaya masyarakat setempat/pengunjung)
6. Sore/Petang Jumat 20 Juni: Observasi lapang urbanisasi di Parigi sebagai ibukota Kabupaten Pangandaran dan/atau kota berbasis wisata Pangandaran (PLB: Pembangunan lanskap dan infrastruktur kota kabupaten, fasilitas, sarana dan prasarana, manajemen, pemberdayaan masyarakat, kelembagaan; supply-demand rekreasi, daya dukung; Ekolan: struktur-fungsi-dinamika lanskap kota Pangandaran, sosio-kultur masyarakat)
7. Pagi Sabtu 21 Juni: Window survey perjalanan antara penginapan dan Kampung Naga (PLB/Ekolan: lanskap perkampungan, lanskap pertanian, proses urbanisasi, permasalahan lingkungan, potensi alam dan budaya)
8. Pagi-Tengah Hari Sabtu 21 Juni: Observasi lapang di Kampung Naga (PLB/Ekolan sesuai dengan kompetensinya: sejarah, struktur lanskap kampung, pola kampung dan tata ruangnya dan aksesibilitas, fungsi ruang, artefak (tangible dan intangible); strata sosial-budaya, pendidikan, ekonomi, kelembagaan masyarakat; konservasi alam/bio-fisik, sosial-budaya; daya dukung bio-fisik dan daya dukung sosial-budaya; pengetahuan lokal dan kearifan lokal; perkembangan wisata budaya, faktor pendorong dan faktor penghambatnya).
9. Siang – sore sebelum matahari tenggelam Sabtu 21 Juni 2014 Window Survey: PLB/Ekolan sesuai kompetensinya: lanskap kiri-kanan jalan mulai wilayah Kota Tasik Malaya – Wilayah Kabupaten Garut – Perbatasan Kabupaten Bandung: Dinamika urbanisasi dari wilayah perdesaan menuju ke wilayah perkotaan, struktur wilayah/lanskap dilihat dari perubahan bio-fisik/budaya dan perubahan segi fungsi; Perhatikan permasalahan lanskap misal perusakan alam/ekspoitasi tambang pada lanskap perbukitan, deforestasi, hubungan wilayah hulu dan hilir; perhatikan dan catat setiap ada perubahan formasi tanaman pertanian, formasi hutan pada titik wilayah yang signifikan.

TARGET OBYEK 1: REST AREA KM57
Rest Area km. 57 pada coordinates 6°22’4″ Lintang Selatan 107°21’39″Bujur Timur, terletak pada jalan Toll dari Jakarta ke Cikampek menyediakan fasilitas pom bensin (SPBU), cafetaria, restaurants, ATM center, masjid, toilet, lapangan parkir, dll. Sebagai tempat istirahat sementara dalam perjalanan, perlu diinterpretasi tentang jarak antar rest area satu dengan lainnya, daya dukung dan kapasitas kendaraan, jenis kendaraan, fasilitas dan infrastruktur, durasi kendaraan/ lamanya beristirahat, tata-ruang, serta keseimbangan rest area pada dua sisi jalan toll.

TARGET OBYEK 2: PANGANDARAN
OBYEK: Pantai Pangandaran, Cagar Alam Pananjung Pangandaran dan Lanskap Kota – Kabupaten Pangandaran
Pantai Pangandaran terletak di Desa Pananjung/Kecamatan Pangandaran/Kabupaten Pangandaran/Jawa Barat. Pantai Panganadaran adalah objek wisata andalan Kabupaten Pangandaran, pemekaran dari Kabupaten Ciamis. Pantai ini dinobatkan sebagai pantai terbaik di P. Jawa.
Keistimewaan Pantai Pangandaran:
• Dapat melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari Pantai Timur dan Pantai Barat pada hari yang sama.
• Pantainya landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama, sehingga memungkinkan kita untuk berenang dengan relatif aman.
• Terdapat pantai dengan hamparan pasir putih.
• Terdapat taman laut dengan ikan-ikan dan kehidupan laut.
• Gua Jepang peninggalan PD II.
Taman Wisata Alam/Cagar Alam Pananjung Pangandaran terletak di Desa Pananjung/ Kabupaten Pangandaran /Jawa Barat.
Pananjung dulu merupakan sebuah pulau kecil, akibat proses sedimentasi dari daratan P. Jawa maka kemudian terhubung sehingga berbentung tanjung. Pananjung sekarang berstatus sebagai cagar alam. Sebelum di tetapkan sebagai Cagar Alam (CA) kawasan hutan Pangandaran terlebih dahulu ditetapkan sebagai kawasan Suaka Margasatwa pada 7-12-1934 Nomor 19 Stbl. 669, dengan luas 497 ha dan taman laut luasnya 470 ha. Dalam perkembangannya setelah diketemukan bunga Raflesia padma, status Suaka Margasatwa dirubah menjadi Cagar Alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 34/KMP/1961. Di dalam hutan cagar alam Pananjung Pangandaran terdapat landak, kijang, burung elang, kalajengking dan kera ekor panjang, lutung, rusa dan banteng. Formasi pantainya terdiri dari tumbuhan bakau.
Urbanisasi di Ibu Kota Kabupaten Pangandaran
Kabupaten Pangandaran merupakan pemekaran dari Kabupaten Ciamis secara resmi pada 25 Oktober 2012. Kabupaten yang terdiri dari 10 kecamatan beribukota di Kecamatan Parigi. Kabupaten ini selain berbatasan dengan Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Tasikmalaya. Di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia. Semula Pananjung Pangandaran dibuka dan ditempati oleh para nelayan suku Sunda. Kemudian banyak pendatang menjadikannya Pangandaran sebagai tempat tinggal karena gelombang laut yang kecil yang membuat mudah untuk mencari ikan. Tanjung inilah sebagai pemecah gelombang yang menghambat atau menghalangi gelombang besar untuk sampai ke pantai. Di sinilah para nelayan menjadikan tempat tersebut untuk menyimpan perahu yang disebut “andar” dalam bahasa Sunda. Karena itu perkampungannya disebut Pangandaran. Pangandaran juga berasal dari dua buah kata “Pangan” dan “Daran” yang artinya adalah “makanan” dan “pendatang”. Jadi Pangandaran artinya “Sumber Makanan Para Pendatang”.

TARGET OBYEK 3: CUKANG TANEUH/GREEN CANYON
RUTE. Bogor-Jakarta-Bandung-Garut-Tasikmalaya- (melalui jalur timur melewati Kota Tasik- Ciamis-Kota Banjar-Pangandaran-Parigi-Cijulang berjarak170 km).
Cukang Taneuh (Jembatan Tanah) dikenal dengan Green Canyon (Ngarai Hijau) pelesetan dari Grand Canyon di Colorado, USA. Green Canyon dipopulerkan oleh seorang berkebangsaan Perancis pada 1993, adalah obyek wisata alam yang terletak di Desa Kertayasa/Kecamatan Cijulang/Kabupaten Pengandaran/Jawa Barat. Green Canyon berjarak ± 31 km dari Pangandaran. Ngarai ini terbentuk dari erosi tanah akibat aliran S. Cijulang selama jutaan tahun yang menembus gua dengan stalaktit dan stalaknit serta diapit oleh dua bukit dengan bebatuan dan rimbunnya pepohonan. Green Canyon menyajikan atraksi alam yang khas dan menantang.
DERMAGA CISEUREUH – Green Canyon ditempuh 30-45 menit dengan jarak sekitar 3 km. Sepanjang perjalanan, mata kita akan dimanjakan oleh hijau teduhnya warna air sungai. Di mulut gua terdapat air terjun PALATARAN. Kegiatan yang dapat dilakukan diantaranya panjat tebing, berenang, bersampan sambil memancing. Objek wisata terdekat lainnya adalah BATUKARAS serta BANDAR UDARA NUSAWIRU.

TARGET OBYEK 4: KAMPUNG NAGA
Kampung Naga terletak di Desa Neglasari/Kecamatan Salawu/Kabupaten Tasikmalaya/Jawa Barat. Lokasinya tidak jauh dari jalan raya antara kota Garut dan kota Tasikmalaya. Kampung Naga berada di lembah subur, berada pinggiran hutan yang dianggap keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Sebagai kampung adat Sunda, Kampung Naga yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya. Masyarakat di Kampung Naga masih terkait dengan masyarakat di kampung Badui. Sebagai masyarakat desa adat, Kampung Naga sangat menarik menjadi objek kajian ekologi lanskap dan majamen lanskap terutama dari struktur lanskap (bio, fisik, social, budaya) yang terkait dengan fungsi dan perubahan lanskap yang terjadi baik di dalam (secara internal) maupun pengaruh dari luar (eksternal). Kehidupan masyarakat perdesaan di kampong adat Sunda ini masih mencerminkan masa peralihan dari pengaruh Hindu menuju pengaruh Islam di Jawa Barat. Sungai Ciwulan merupakan sumber air bagi kehidupan masyarakat Kampung Naga ini. Topografi Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah yang subur. Kampung Naga memiliki area seluas satu setengah hektare, terdiri dari tata-guna lahan perumahan dan pekarangan, kolam dan pertanian sawah yang ditanami padi dua kali per tahun.

Sumber Informasi: diambil dari beragam sumber di internet

 

Ekskursi Mahasiswa S2 MK Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan dan MK Ekologi Lanskap di Alun-alun kampung Naga Tasikmalaya.

Ekskursi Mahasiswa S2 MK Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan dan MK Ekologi Lanskap di Alun-alun kampung Naga Tasikmalaya.

 

Group picture peserta ekskursi Ekologi Lanskap dan Pengelolaan lanskap berkelanjutan: Pantai timur Cagar Alam Pananjung Pangandaran.

Group picture peserta ekskursi Ekologi Lanskap dan Pengelolaan lanskap berkelanjutan: Pantai timur Cagar Alam Pananjung Pangandaran.

Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin (Kordinator MK Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan), Dr Ernan Rustiadi (Dekan Faperta IPB) dan Dr Bima Aria (Walikota Bogor) pada pembukaan ekspose RTH-RTB-PKL Kota Bogor oleh Mahasiswa SPs ARL dan PSL

Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin (Kordinator MK Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan), Dr Ernan Rustiadi (Dekan Faperta IPB) dan Dr Bima Aria (Walikota Bogor) pada pembukaan ekspose RTH-RTB-PKL Kota Bogor oleh Mahasiswa SPs ARL dan PSL

EXPOSE: PENGELOLAAN LANSKAP BERKELANJUTAN DI BALAI KOTA BOGOR

Seminar Setengah Hari sebagai expose mata kuliah Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan akan diselenggarakan di hadapan Wali Kota Bogor, di Ruang Rapat 3 Balai Kota Bogor, pada hari Senin, 9 Juni 2014 mulai pk. 14.30 sampai dengan selesai.

MK Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan (PLB) yang dikordinasikan oleh Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin, setiap tahunnya pada akhir semester selalu memaparkan hasil praktikum mahasiswa sebagai ‘ekspose’ dihadapan pimpinan pemerintah kota Bogor atau poemerintah kabupaten Bogor. Hal ini dikarenakan setiap awal semester MK PLB selalu menangkap isu hangat, isu aktual yang sedang menjadi pembicaraan atau masalah di kota atau kabupaten Bogor untuk dicarikan solusinya. Oleh karena itu pada semester genap tahun 2013/2014 MK PLB yang diikuti oleh 22 Mahasiswa Master PS Arsitektur Lanskap dan 10 Mahasiswa Master PS Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan telah mengusung tiga (3) topik hangat yang dikaji dan diharapkan hasil rumusan ini dapat dipaparkan hari ini dihadapan Walikota Bogor sebagai masukan-masukan yang berharga.

Dalam pelaksanaan inventarisasi lapang, kajian desk study serta penyusunan laporan/pembuatan makalah/poster/video selain dikordinasikan oleh Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin, juga aktif dibimbing oleh Dr. RL Kaswanto serta asisten Sdr. Azka Lathifa Zahratu Azra, SP. M.Si.

SUSUNAN ACARA EXPOSE

14.30-14.40: Pembukaan Master of Ceremony

14.41-14.50 Laporan dan Pengantar Expose of Kordinator MK Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan (Prof. Dr. Hadi Ssuilo Arifin)

14.51-15.00: Sambutan Dekan Fakultas Pertanian IPB Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr.

15.01-15.10: Walikota Bogor Dr. Bima Arya Sugiarto

15.11-15.15: Pembacaan Doa Pihak Balai Kota Bogor

Presentasi Fasilitator Eduwin Eko Franjaya
15.16-15.30: Kelompok Ruang Terbuka Hijau Mahasiswa Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan
15.31-15.45: Kelompok Ruang Terbuka Biru Mahasiswa Arsitektur Lanskap
15.46-16.00: Kelompok Pedagang Kaki Lima Mahasiswa Arsitektur Lanskap
16.00-16.45: Diskusi Fasilitator : Eduwin Eko Franjaya

16.45-17.00: Simpulan & Penutup Kordinator Mata Kuliah Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, M.S

 

MATERI EXPOSE

1. Makalah

TOPIK I    : Manajemen Lanskap Ruang Terbuka Hijau di Kota Bogor (Mahasiswa PS PSL)

TOPIK II  : Manajemen Lanskap Ruang Terbuka Biru di Kota Bogor (Mahasiswa PS ARL 1)

TOPIK III: Manajemen Lanskap Pedagang Kaki Lima di Kota Bogor (Mahasiswa PS ARL 2)

2. Poster

3. Presentasi PPT

 

Team expose RTH-RTB-PKL Kota Bogor, Mahasiswa SPs dan Dosen MK Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan PS Arsitektur Lanskap dan PS Pengelolaan Sumberdaya Alam & Lingkungan

Team expose RTH-RTB-PKL Kota Bogor, Mahasiswa SPs dan Dosen MK Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan PS Arsitektur Lanskap dan PS Pengelolaan Sumberdaya Alam & Lingkungan

 

ATASI BANJIR, IPB TAWARKAN KONSEP RUANG TERBUKA BIRU,  LINK KLIK DI SINI.

Seperti biasa, setiap menhadapi hari-hari penting Komisi B (Komisi Pengembangan Keilmuan dan Pemikiran Strategis) Dewan Guru Besar (DGB) IPB menyelnggarakan acara “Coffee Morning” . Acara temu santai antara Guru Besar IPB dengan para reporter dari berbagai media massa Ibu Kota. Sambil minum coffee para Guru Besar IPB menyampaikan gagasan pemikirannya terkait dengan topik aktual saat ini.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni 2014, disambut oleh DGB IPB dengan mengahdirkan 3 nara sumber yang menyampaikan pemikirannya dalam mengatasi masalah ancaman bencana banjir. Topik ini tetap aktual meskipun saat ini sedang dalam musim kemarau. Karena ancaman banjir bisa datang kapan saja, dan memang sebaiknya kita tetap mengkawal untuk mencari soulsi terbaik. Justru kita membicarakannya di luar waktu kejadian banjur diharapkan gagasannya disampaikan lebih tajam dan bukan suatu usulan yang terburu-buru terlintas dalam waktu singkat.

Acara coffee morning yang dihadiri oleh sekitar 19 wartawan telah diselengarakan pada hai Rabu, 4 Juni 2014 jam 10.00 – 12.00 di Cafe Zea mays Kampus IPB Dramaga, Bogor. Acara yang dipandu oleh Ketua Komisi B DGB IPB, Prof. Hadi Susilo Arifin yang sekaligus menjadi nara sumber, menampilkan pemikiran-pemikiran Guru Besar IPB, sebagai berikut:

1. Prof. Cecep Kusmana (GB tetap di Fakultas Kehutanan IPB): BANJIR, TANAH LONGSOR, DAN KEKERINGAN DI INDONESIA: PERMASALAHAN DAN SOLUSINYA silakan klik di sini

2. Prof. Budi Indra Setiawan (GB tetap di Fakultas TTeknologi Pertanian IPB): ZERO RUNOFF SYSTEM (ZROS) UNTUK MENGATASI BANJIR DI PERKOTAAN, PERUMAHAN DAN PERTANIAN silakan klik di sini

3. Prof. Hadi Susilo Arifin (GB tetap di Fakultas Pertanian IPB): MANAJEMEN RUANG TERBUKA BIRU (RTB) UNTUK PENGENDALI BANJIR silakan klik di sini

Tiga narasumber Prof. Budi Indra Setyawan, Prof. Hadi Susilo Arifin dan Prof Cecep Kusmana dalam pemaparan pemikiran Guru Besar dalam rangka hari Lingkungan Hidup Sedunia

Tiga narasumber Prof. Budi Indra Setyawan, Prof. Hadi Susilo Arifin dan Prof Cecep Kusmana dalam pemaparan pemikiran Guru Besar dalam rangka hari Lingkungan Hidup Sedunia

DSC_2651

INFO TERKAIT:

http://www.antaranews.com/berita/437642/guru-besar-ipb-pemkot-bogor-bahas-ruang-terbuka-biru

Catatan:

Informasi pertemuan Senin, 9 Juni 2014 pada pk 15.00 sd selesai di Ruang Rapat A Balaikota Bogor adalah kegiatan EXPOSE 32 Mahasiswa S2 PS Arsitektur Lanskap dan PS Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB yang telah mengkaji Manajemen Lanskap PKL, RTB dan RTH. Ekspose Mahasiswa sebagai upaya memberi masukan kepada Pemko Bogor diprakasai oleh MK PENGELOLAAN LANSKAP BERKELANJUTAN yang didukung oleh Departemen ARL, juga Fakultas Pertanian, serta Direktorat Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian (KSKP) IPB. Jadi, bukan Dewan Guru Besar (DGB) IPB. Terimakasih.

Spanduk Program Bina Cinta Lingkungan - Mahasiswa TPB IPB & LPPM IPB

Spanduk Program Bina Cinta Lingkungan – Mahasiswa TPB IPB & LPPM IPB

IPB Common Class Room (CCR) venue for "Pembekalan Bina Cinta Lingkungna"

IPB Common Class Room (CCR) venue for “Pembekalan Bina Cinta Lingkungan”

Gerakan Bina Cinta Lingkungan pada Desa-desa Lingkar Kampus IPB akan diselenggarakan oleh LPPM dengan mahasiswa TPB IPB seusai mengikuti Ujian Akhir Semester Genap 2013-2014 ini.

Seluruh mahasiswa TPB IPB sekitar 3,850 akan turun ke desa pada 20 Juni 2014 di hari I Bina Cinta Lingkungan. Selanjutnya hanya tiga ratus mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama akan tinggal di desa-desa selama 3 hari 2 malam pada 20-21-22 Juni 2014 untuk memahami, mendalami, serta mengabdikan ilmu pengetahuannya dalam gerakan kebersihan lingkungan dan penanaman pohon pala bagi masyarakata di perdesaan, khususny yang berada di lingkar kampus IPB.

Materi pembekalan: Kebersihan Lingkungan, silakan klik di sini

Dosen pembekalan: Prof. Dr. Hadi Susilo ARIFIN

Pada jam 10.00-11.00, Minggu, 1 Juni 2014 di CCR TPB, IPB

List of Villages for Bina Cinta Lingkungan Program, as follows:

Desa Cikarawang, Dramaga, Sinarsari, Neglasari, Ciherang, Sukawening, Sukadamai, Purwasari, Cibanteng, Benteng, Cihideung Ilir, Babakan, and Setu Gede.

Prof. Hadi Susilo Arifin as a speaker for village clean management in Bina Cinta Lingkungan

Prof. Hadi Susilo Arifin as a speaker for village clean management in Bina Cinta Lingkungan

 

ALBUM MINI WORKSHOP OF LANDSCAPE ECOLOGY CLICK HERE, PLEASE

Mini Workshop of Landscape Ecology would be held in Sentul City:

Day/Date: Tuesday/ May 27, 2014

Time: 7AM to 12AM

Venue: Eco-Art Park

Instructor: Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin & Dr. Regan Leonardus Kaswanto

Teaching Assistant: Arkham Delonge, Erlinda Faradilla, and Azka Lathifa Zahra

Student Assistant: Morita and Novy

Participant: 89 Bachelor Students of “Introduction to Landscape Ecology” Course, 4th Semester of Landscape Architecture Department, IPB.

STUDENT GROUPS AND INSTRUCTOR, Click Here, Please.

GUIDELINE OF MINI WORKSHOP, Click Here, Please.

ELEVEN OBJECTS OF THE MINI WORKSHOP, Click Here, Please.

Prof. Hadi Susilo Arifin is holding a final discussion on half day workshop of  landscape ecology in Eco-Art Park Sentul City

Prof. Hadi Susilo Arifin is holding a final discussion on half day workshop of landscape ecology in Eco-Art Park Sentul City

Group pic after got a half day workshop of landscape ecology at Eco-Art Park Sentul City

Group pic after got a half day workshop of landscape ecology at Eco-Art Park Sentul City

The 8th National Seminar of Interdisciplinary Studies in University of Brawijaya, Malang

The 8th National Seminar of Interdisciplinary Studies in University of Brawijaya, Malang

Keynote Speaker: Prof. Ir. Hadi Susilo Arifin, Ph.D.

Keynote Speaker: Prof. Ir. Hadi Susilo Arifin, Ph.D.

Day/Date: Thursday – Friday / May 22-23, 2014

Venue: GedungE Lt.3 Program Pascasarjana, Universitas Brawijaya
Jl. M.T. Haryono 169, Malang

Chairman: Dr. Endarwan

Keynote Speaker: Prof. Ir. Hadi Susilo ARIFIN, Ph.D.

Title: “Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan Berbasis Ekologi Lanskap” PPT Material – CLICK HERE, PLEASE

VIDEO ILUSTRATION OF LANDSCAPE ECOLOGY – CLICK HERE, PLEASE

—-
Nomor : 463/UNl0.l4/PI/2014
Hal : Permohonan menjadi keynote speaker

Yth. Prof. Ir. Hadi Susilo Arifin, M.Sc.’ Ph.D
Departemen Arsitektur Lanskap
Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor( IPB)

5 Mei 2014

Sehubungan dengan pelaksanaan Seminar Nasional Interdisciplinary Studies Seminar VIII dengan tema “Modelling dalam Kajian Interdisiplin” di Program Pascasarjana Universitas Brawijaya pada:

Tanggal : Jwnat,23 Mei 2014
Pukul : 09.30- 10.30 WIB
Tempat : Gedung E Lt.3 Program Pascasarjana Universitas Brawijaya
Jl. M.T. Haryono No. 169 Malang

Dengan ini kami mohon kesediaan Saudara untuk menjadi keynote Speaker dengan topik “Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan Berbasis Lanskap Ekologi” padaa carate rsebut’
Kami menunggu konfirmasi Saudara agar kami dapat mengatur jadwal kegiatan tersebut di atas.

Atas perhatian dan kesediaan Saudara kami ucapkan terimakasih

 

Ketua Panitia:

Dr Muhammad Sasmito Djati, MS

 

Contact Person Panitia:
Amin Setyo Leksono,M.Sc.,Ph.D
Email: arnin28@ub.ac.id

IPB research team and PNPM Pusaka Kemenkokesra Team in Baadia Fort in Baubau City

IPB research team and PNPM Pusaka Kemenkokesra Team in Baadia Fort in Baubau City

Baubau is located in Buton Island, South East Sulawesi Province. It’s one of the ten KOTA PUSAKA, which is categorized into Class A. Due to I have a research of Landscape Management aspect for Baubau Heritage City with Master Student, Ray March Syahadat and my colleague, Dr Nurhayati HS Arifin, who is expert in Historical and Cultural Landscape, there fore, we got a site visit from May 15 up to May 18, 2014.
During site visit, we had a meeting with local government of Baubau City, Bappeda, SKPD represebtatives, NGO’s etc. on Friday morning of May 16, 2014 in Balaikota Baubau, whic is lied in the front of Betoambari Beach.
I was lucky, I had got an opportunity to have Friday praying in MASJID Kerato Buton “MASIGI OGENA” (the great mosque), then I visited “Benteng Keraton” or Keraton Wolio Fort, which has 12 “LAWA” or gate. Friday afternoon I visited “Istana Kamali Baadia” or Kamali Baadia Palace, that has been functioned as Wolio Cultural Museum now. I spent time of the remain evening of Friday to visit Quba Mosque, Ray’s Grand Father Palace, and “Benteng Baadia” or Baadia Fort. In the evening we got a chance to eat a KASOAMI, a traditional staple food that’s made from “singkong” or cassava and very fresh grilled fish in the downtown of Baubau City.

In the morning of third day I got interpretation to Kamali Baturo Palace, Colonial and China Town Zones, Malige Palace, The 1st Sorawolio Fort and the 2nd Sorawolio Fort. All of the heritages are very interesting object to become tourist destination in Baubau. Due to there are many Ferry and Pelni Ship get a transit a few hours in Baubau harbor, I guessed it would be great if the local government provide city tour for transit tourists.

In the afternoon I visited some ethnics who are living in Baubau city such as Wabarobo and Labalawa. Even though they are living in the same village, but they own different language. Unbelievable…… It’s linguafranca, between ethnics they communicate one and each other by Wolio language. I got rest for lunch in LAKEBA Restaurant, very big and very nice restaurant which has delicious seafood menu. I really enjoyed eating the sea food while got a relaxation in a gazebo, close to the white sandy beach of Betoambari.

In the afternoon, I reached “Kampung Tenun Buton”, SULAA is Buton waving village. Then to see the Dragon Tail, which is located in PALAGIMATA water front landscape, Balaikota area. “Palagi Mata” area is waterfront landscape in Balaikota Baubau. FYI, the Dragon Head is lied in Kamali Beach.

The next visit were Kaisabu ethnic, and Ciacia ethnic. Ciacia ethnic occupied three villages of Bugi, Gonda and Karyabaru. The interesting one is they are using both Latin letter and Korean character for daily live. I found both of characters in the signboard of schools, offices, street name, etc. This ethnic has similarity pronunciation between Ciacia and Korean languages. Next village was Waliabuku. This area are settled by Bugis ethnic. In the evening we got Engkari-engkari village, which is transmigration area that’s occupied by Balinese people since 1978. We saw a big Pura Desa and large paddy field in this village and it’s vicinity.

When the evening, I reached Wantiro beach. While enjoying the sunset panoramic landscape I got “pisang and ubi goreng with sambal” and “saraba” drink.

The last day, on Sunday morning I visit the green city project, also as a water front city of KOTA MARA in Baubau. On the way to Betoambari Airport I got opportunities to visit traditional gold and silver craft center, only the one remained inside of Keraton Fort area. Also I visited the remained traditional brass metal & bronze craft center, and traditional pottery village. These are the tangible Cultural Heritage in Baubau City….. (HSA)

Pictures Album, please click this link

Another information of Baubau City, please Click this link.

Next Page »

Performance Optimization WordPress Plugins by W3 EDGE