Radar Bogor Minggu, 15 Januari 2017

Halaman 1 dan lanjut ke hal 4.

GAGASAN: LANGKAH BIJAK MENGELOLA POHON KOTA

Oleh: Hadi Susilo Arifin

IMG-20170115-WA0087

IMG-20170115-WA0086

13 Januari 2017

LINGKUNGAN

Proyek Lancar, Pohon Pun Selamat


 

Dalam membangun jalan baru, khususnya tol, harus tetap peduli terhadap lingkungan hidup. Dengan demikian, proyek pembangunan itu tidak membuat malu pemerintah, rugi investor, dan resah masyarakat.

Demikian dapat disimpulkan dalam pertemuan para pemangku kepentingan pembangunan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) seksi II dengan jurnalis berbagai media di Balai Kota Bogor, Rabu (11/1). Di lokasi proyek pembangunan tol itu di Kedung Badak, Tanah Sareal, sekitar 20 orang dari lembaga peduli lingkungan Budiasi dan Koramil Tanah Sareal mulai melaksanakan penyelamatan pohon yang terkena proyek tersebut.

“Peristiwa beberapa pohon keras yang telanjur ditebang sebelumnya menjadi pelajaran berharga bagi kita. Peraturan yang ada belum merinci mekanisme pelaksanaan penggantian pohon yang ditebang. Baru ada kepastian PT MSJ akan mengganti satu pohon dengan 10 bibit pohon,” kata Wali Kota Bogor Bima Arya.

PT Marga Sarana Jabar (MSJ), pemilik dan pengelola Tol BORR, mengizinkan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, kontraktor pembangun Tol BORR seksi II, untuk menebang sekitar 580 pohon keras di jalur hijau di Jalan Soleh Iskandar yang melintasi Kecamatan Tanah Sareal. Jalur hijau itu akan menjadi tempat tiang-tiang konstruksi jalan tol layang dari Kedung Badak sampai Salabenda.

Ratusan pohon ditanam di jalur hijau itu oleh Dinas Kebersihan dan Pertanaman serta Kodim 0606/Kota Bogor pada 2011. Kini rata-rata batang utama pohon berdiameter di atas 30 sentimeter.

Penebangan pohon membuat resah dan menimbulkan protes masyarakat, khususnya komunitas pegiat pelestarian lingkungan hidup dan pemerhati Kota Bogor, seperti Bogor Bersahabat dan Budiasi. Pihak kepolisian juga protes karena pengerjaan dimulai tanpa kesiapan prasarana di lokasi proyek dan berpotensi mengancam keselamatan pengguna jalan.

Direktur Utama PT MSJ Hendro Atmodjo mengatakan, begitu ada protes, sejak Kamis pekan lalu pihaknya memerintahkan Wika menghentikan penebangan pohon. “Mengganti satu pohon yang ditebang dengan 10 bibit pohon minimal tinggi 2 m, sepenuhnya inisiatif dan komitmen kami. Sebab, aturannya memang tidak ada,” kata Hendro.

Namun, hendaknya pemerintah daerah segera membuat aturan rinci dan rasional. “Dengan keharusan menyelamatkan pohon, skedul pengerjaan konstruksi mundur lagi. Kalau harus mengganti pohon dengan besar sama, selama bisa dilakukan akan kami kerjakan,” katanya.

Project Manager PT Wika Ali Afandi menuturkan, untuk membangun konstruksi tiang tol, di sejumlah titik lahan memang harus bersih dari pohon. Ali mengaku mendapat rekomendasi dari Kodim untuk mengganti satu pohon yang ditebang dengan lima pohon pengganti. Dinas Pertanaman menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakannya. “Jadi, kami tidak serta-merta menebang pohon,” katanya.

Kepala Bidang Pertanaman Kota Bogor Yadi Cahyadi memastikan kantor dinasnya dan Wali Kota Bogor tidak pernah memberikan atau mengeluarkan surat persetujuan penebangan pohon kepada kontraktor BORR. “Tapi, sekarang sudah clear, MSJ akan mengganti satu pohon yang ditebang dengan 10 pohon, yang belum ditebang diselamatkan,” katanya.

Mengenai penebangan pohon, Pemkot Bogor mengaturnya dalam Perda Nomor 8 Tahun 2006 tentang Ketertiban Umum. Pasal 6 Huruf g menyebutkan, setiap orang dan atau badan dilarang menebang, memotong, mencabut pohon, tanaman, dan tumbuhan di sepanjang jalur hijau, taman rekreasi umum, kecuali seizin wali kota. Pasal 30 menyebutkan, pelanggar diancam pidana maksimal 3 bulan kurungan atau denda maksimal Rp 50 juta. Tidak dijelaskan perbedaan sanksi penebangan satu atau lebih pohon.

Menurut Kepala Dinas Pengawasan Permukiman Kota Bogor Boris Derurasman, Pemkot dan DPRD segera membahas raperda pengawasan permukiman dan bangunan.

Teknik bowling (maksudnya “balling”/HSA)

Hadi Susilo Arifin dari Bogor Bersahabat yang juga guru besar di IPB mengingatkan, kebijakan mengganti satu pohon yang ditebang dengan lima atau 10 bibit pohon tidak tepat. Juga mengganti pohon dengan umur, diameter, dan jenis yang sama.

Lebih adil, menurut Hadi, dengan mempertimbangkan aspek fungsi ekologi, ekonomi, dan sejarah pohon, atau menghitung dengan sistem ISTEM (maksudnya Internasional Shading Trees Evaluation Method/HSA). Dengan demikian, nilai pohon dapat dikonversikan ke dalam rupiah. “Dengan nilai rupiah itu, kita dapat membelanjakan pohon atau bibit pohon sejenis atau lainnya sesuai lokasi baru tempat bibit atau pohon itu akan ditanam. Juga biaya pemeliharaannya,” katanya.

I Wayan Budi Sutomo dari Budiasi membenarkan, yang paling penting dan sulit adalah memelihara pohon. Ketika pohon sudah besar dan berumur lama dapat diselamatkan dan dipindahkan dengan teknik bowling.

“Peralatan yang digunakan cuma golok, pacul, dan linggis, serta karung untuk membungkus bagian akarnya setelah di-bowling. Bowling 1 pohon berdiameter 30 cm dan setinggi 7 m-10 m hanya butuh sekitar satu jam. Pohon langsung bisa dipindahkan. Jadi tidak akan menghambat pembangunan,” kata Wayan Budi.

(RATIH P SUDARSONO)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Januari 2017, di halaman 27 dengan judul “Proyek Lancar, Pohon Pun Selamat”.

MK MANAJEMEN LANSKAP (ARL412) – SEMESTER GANJIL 2016/2017 PROGRAM SARJANA

Teaching Team Bahan UAS Materi Minggu ke 8 sd Minggu ke 14: Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin (HSA) CV PDF File Click Here, Please; Prof. Dr. Wahju Qamara Mugnisjah (WQM); dan Dr. RL Kaswanto (KAS)

 

MATERI KULIAH

Minggu VIII – WQM – Pengorganisian dan Kontrak Ketenagakerjaan dalam Manajemen Lanskap PPT Click di Sini.
Minggu IX    – WQM – Pengelolaan dan Pemeliharaan Fisik Taman PPT Click di Sini.

 

Minggu X     – KAS    – Kesesuaian Lahan dan Konsep Daya Dukung Lanskap PPT Click di Sini.

 

Minggu XI    – KAS    – Analisis Mengenai Dampak Lingkungan PPT Click di Sini.

 

Minggu XII  – HSA    – Pengelolaan Lanskap Permukiman PPT Click di Sini.

Minggu XIII – HSA   – Pengelolaan Lanskap Kawasan Lindung PPT Click di Sini.
Minggu XIV – HSA   – Studi Kasus Pengembangan Ekowisata PPT Click di Sini
                                     – Studi Kasus Pengendalian Banjir di Jakarta PPT Click di Sini.
Pengkayaan Minggu Minggu XIII – VIDEO LANDSCAPE APPROACH Click di Sini.

DIALOG BUDAYA Strategi Pembangunan Berbasis Budaya di Kota Bogor

Di Nu Kiwari Ngancik Nu Bihari, Seja Ayeuna Sampeureun Jaga

Bogor, 28 Desember 2016

Narasumber: Prof. Dr. Ganjar Kurnia

 

Saresehan Kawasan & Bangunan Cagar Budaya

MANAJEMEN LANSKAP KOTA PUSAKA

Hadi Susilo ARIFIN

 

2016-12-22 Leaflet Saresehan

 

SEMINAR NASIONAL UNIVERSITAS PAKUAN – BOGOR 10-12-2016

“Pengembangan ECOTOURISM dalam Rangka Peningkatan Daya Saing Ekonomi Daerah – PDF File, Click Here, Please.

Hadi Susilo Arifin, CV Click Here, Please.

Kerangka Acuan – Diskusi Pilkada DKI Jakarta
“Memahami Jakarta, Menata Jakarta”
Harian Kompas, 9 Desember 2016


Jakarta kini adalah kota yang tengah berbenah. Di satu sisi ada kemajuan yang tak bisa dibantah. Ada sudut-sudut kota yang kini terasa semakin menyenangkan bagi warganya, ruang-ruang publik bertambah dan terjangkau bagi siapa pun, transportasi publik membaik ditandai dengan jaringan transjakarta yang nyaris menjangkau seluruh Ibu Kota, juga penataan sungai yang mulai terealisasi. Penataan birokrasi terjadi di semua lini, pelayanan publik membaik, termasuk di bidang kesehatan dan pendidikan.
Namun, ada sebagian warga Jakarta yang harus kehilangan kehangatan kampungnya, kedekatan dengan para tetangga, juga menjauh bahkan kehilangan mata pencaharian serta tiba-tiba harus beradaptasi tinggal di tempat yang sama sekali asing. Semua atas nama pembangunan Jakarta.
Melihat secara lebih luas, Jakarta kini tetap mengidap penyakit yang belum bisa disembuhkan. Pertumbuhan kawasan sekitarnya tak terkendali dan justru makin membebani induknya, yaitu Jakarta sendiri. Hal ini akibat kota-kota satelit tak independen dan lebih berfungsi sebagai kawasan perumahan bagi para pekerja di Jakarta. Belum terealisasi ide penyebaran merata sentra-sentra industri yang diikuti dengan pembangunan pemukiman dan fasilitas transportasi publik sehingga pertumbuhan masing-masing kota tak seimbang.
Setiap hari Jakarta dipadati oleh 10 juta jiwa penduduknya ditambah lebih dari 3 juta warga lain dari kota sekitarnya. Masalah air bersih, sampah, udara kotor, kemacetan, banjir, dan lainnya makin berkembang. Sementara pertumbuhan ekonomi di Jakarta dan sekitarnya tetap tertinggi dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia menyebabkan arus migrasi daerah lain menuju Jabodetabek tetap tinggi.
Berbagai program kini digenjot pelaksanaannya oleh Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat untuk mengatasi berbagai masalah tersebut. Beberapa program tersebut adalah membangun MRT, LRT, dan terus membenahi jaringan BRT transjakarta. Juga poyek revitalisasi sungai yang disebut normalisasi pun terus dilakukan. Demi mengurangi beban pemerintah, dana pihak swasta dirangkul untuk membiayai sebagian program seperti rusunawa, tanggul laut di pesisir utara Jakarta, RPTRA, dan beberapa proyek lainnya.
Namun, apakah proyek mega besar berdana triliunan rupiah itu mampu mengatasi semua masalah di Ibu Kota dalam jangka panjang? Sudahkah penataan Jakarta berpihak pada warganya? Apakah pembangunan saat ini sudah berada di jalur yang benar?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, Harian Kompas mengadakan diskusi panel terbatas tentang tata ruang bertema “Memahami Jakarta, Menata Jakarta”. Para nara sumber diskusi diharapkan berbagi pemikiran, data, dan solusi dalam melihat Jakarta secara utuh, ada segudang masalah tetapi juga terdapat timbunan potensi yang bisa digali dan ditata ulang. Warga kota membutuhkan ide-ide kreatif menata Jakarta dengan melihat potensi diri kota ini.
Diskusi ini juga dimaksudkan memberi masukan bagi kepala daerah yang akan memimpin Jakarta pada tahun 2017, seiring dengan berakhirnya masa kerja Gubernur DKI Jakarta saat ini. Hasil diskusi akan menjadi masukan dalam penulisan laporan akhir tahun mengenai bagaimana menjadikan Jakarta sebagai kota yang nyaman dan memanusiakan warganya tanpa kehilangan daya untuk terus membereskan berbagai persoalan pembangunan kota.


Waktu penyelenggaraan diskusi:
Hari/tanggal : Jumat, 9 Desember 2016
Waktu : 12.00 – 17.00 WIB
Tempat : Ruang Rapat Depan, Redaksi Kompas
Gd. Kompas Gramedia, Unit 2 Lantai 3
Jl. Palmerah Selatan 26-28, Jakarta 10270
(depan Bentara Budaya Jakarta)


Narasumber :
1. Prof Dr Ir Hadi Susilo Arifin, pengajar manajemen lanskap Institut Pertanian Bogor
Tema: Pengendalian Banjir di Jakarta.
 Membahas tata ruang Jakarta salah urus dari awal memicu masalah lingkungan akut, termasuk banjir, air bersih, kekeringan dan lainnya; penelitian/pemikiran/data terkini masalah mendasar tata ruang di Jakarta
 Apakah masih memungkinkan menata Jakarta sehingga menjadi kota yang lebih aman dan nyaman bagi warganya? Bagaimana caranya dan harus dimulai dari mana, melihat kompleksitas masalah yang ada?
 Dari sisi perencana kota, potensi-potensi apakah yang dimiliki Jakarta yang pantas dipertahankan dan dikembangkan? Pembangunan seperti apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan terhadap Jakarta? Perencana kota dan ahli lansekap kota dengan kualifikasi apa yang dapat menjawab persoalan Jakarta? Sekarang ini perencana kota banyak ‘disetir’ oleh politisi dan bisnis atau sekedar meniru produk daerah/negara lain.
 Bagaimana bentuk dan realisasi perencanaan kota yang melibatkan masyarakat itu?

2. Haryono, Antropolog Universitas Indonesia
Tema: Memahami masyarakat kota
 Membahas karakteristik warga Jakarta (sikap, sifat, perilaku), terdiri dari manusia-manusia seperti apakah kota ini. Benarkah terjadi fenomena kota tanpa warga, dalam arti pembangunan kota tak memperhitungkan kebutuhan warga dan di sisi lain warga pun tidak lagi peduli atas kotanya karena sibuk dengan pekerjaannya, merasa di Jakarta hanya merantau, atau alasan lainnya? Nara sumber diharapkan menyajikan hasil penelitian/data terkini soal masyarakat perkotaan.
 Agar warga mau aktif berpartisipasi, paling tidak menyalurkan aspirasi/pikiran/uneg-uneg soal masalah kota dan mungkin solusinya, pemerintah harus bagaimana? Apakah cukup dengan Qlue? Atau justru fasilitas Qlue makin memanjakan warga Jakarta, tinggal foto and lapor, dan orang lain yang menyelesaikan masalah. Bagaiman peran komunitas dalam dinamika kota
 Bagaimana mempersiapkan masyarakat Jakarta menjadi manusia yang berkarakter dan tidak sekedar ikut-ikutan. Seperti fenomena sekarang yang sedikit-sedikit ramai di medsos, ribut dengan yang tidak pasti, tapi sebagian masih enggan berkontribusi riil untuk pembangunan kotanya
 Perumahan rakyat yang seperti apa yang tepat bagi warga miskin-menengah, terutama bagi mereka penghuni lahan yang bukan miliknya?

3. Prof. Ir. Johan Silas, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITS 10 November Surabaya
Tema: Penataan kampung dan perumahan bagi kelas menengah ke bawah
 Masihkah kampung menjadi ciri khas Jakarta?
 Mungkin berbeda dengan di Surabaya, saat ini sebagian kampung di Jakarta sudah ditinggalkan penduduk asli/lama dan berganti dengan orang-orang baru yang mungkin tidak tahu sejarah kampung itu. Kampung akhirnya identik menjadi bagian dari kekumuhan yang dianggap sebagai penyakit kota. Bagaimana memilah persoalan ini dan mengembalikan fungsi kampung sebagai hunian yang nyaman bagi semua kelas masyarakat?
 Kebijakan-kebijakan pemerintah seperti apa yang dibutuhkan untuk melestarikan kampung
 Bagaimana kampung-kampung di Surabaya tetap bertahan dan kini justru disebut kampung berstandar internasional?
 Bagaimana menjadikan keberadaan kampung sebagai salah satu indikator keberhasilan menata Jakarta?

4. Dr. Sawidji Widoatmodjo – Dekan FE Untar
Tema: Ekonomi kota
 Seberapa besar potensi ekonomi Jakarta ke depan, terutama dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya dengan jumlah penduduk dan potensi ekonomi yang sama?
 Bagaimana meratakan pertumbuhan ekonomi Jakarta ke kawasan di sekitarnya sehingga beban jakarta juga dapat dibagi ke Jabodetabek. Dalam kondisi saat ini, apakah pemerataan itu mungkin dilakukan?
 Dapatkah pembangunan Jakarta diupayakan sendiri melalui pendapatan asli daerah serta APBN? Mungkinkah pengalokasian pendapatan dari pajak disesuaikan dengan bidangnya? Misalnya, pajak kendaraan bermotor hanya untuk membangun transportasi publik .
 Apakah pembiayaan proyek berskala besar, seperti tanggul laut tipe A harus tergantung swasta?
 Apa solusi pendanaan terbaik bagi Jakarta yang membutuhkan banyak infrastruktur tetapi terbatas APBD/APBN-nya?
 Dalam membangun Jakarta, muncul kesan yang berperan paling besar adalah bisnis berskala besar mengingat proyek pembangunan di Jakarta berskala besar pula. Bagaimana dengan pekerja kerah biru di sektor formal dan mereka dari sektor informal, bagaimana sumbangan mereka untuk pertumbuhan Jakarta? Bila mereka memang dibutuhkan untuk bergeraknya roda kota, mengapa mereka selalu menjadi yang pertama-tama digusur dari tempat tinggal dan tempat mencari nafkah?
 Apakah Jakarta ke depan hanya akan terbuka bagi mereka yang berpendidikan menengah dan atas atau mereka yang memiliki kompetensi tinggi? Apakah sektor informal suatu saat hilang dari Jakarta? Bagaimana mengelola ekonomi kota yang adil merata dan beradab?

5. Ir Ellen SW Tangkudung, MSc, Kepala Dewan Transportasi Kota Jakarta
Tema: TRANSPORTASI & KEMACETAN
 Catatan rencana pembangunan dan realisasi pembangunan transportasi publik dan massal di Jakarta setelah kemerdekaan hingga sekarang
 Apa penyebab selalu bermasalah pembangunan transportasi massal di Jakarta? MRT masih menyisakan PR mulai dari pembebasan lahan, titik-titik stasiun masih berubah-ubah sampai sekarang (dirasa belum secara jelas menerapkan TOD), jalur layang BRT apakah efektif, integrasi antarmoda juga belum jelas benar
 Saat ini, jaringan bus transjakarta sudah cukup bagus dan luas cakupan layanannya hampir ke seluruh Jakarta. Namun, belum mampu secara signifikan menarik pengguna kendaraan pribadi beralih ke angkutan publik. Bagaimana tanggapannya atas hal ini dan bagaimana strategi menarik lebih banyak pengguna transjakarta?
 Untuk di DKI dan sekitarnya yang sudah kacau balau, apakah perlu strategi baru penataan dan pembangunan angkutan massal atau cukup meneruskan yang saat ini?

6. Dr YAYAT SUPRIYATNA, MSP, Ketua Bidang Kajian dan Perencanaan IAP Indonesia, pengajar teknik planologi Fakultas Teknik Universitas Trisakti
Tema: Reformasi Birokrasi
 Saat ini pembenahan birokrasi tengah berjalan dengan tujuan mengukur sistem layanan publik, pemegang jabatan, hingga kinerja PNS. Namun, apakah ini sudah tepat? Masih adakah celah kebobrokan yang dapat berkembang menjadi penyakit birokrasi baru di DKI? Sistem lelang jabatan dan tunjangan tinggi bagi PNS apakah paling mujarab menghentikan KKN? Perlu waktu/proses berapa lama agar kinerja baik ini terus bertahan dan menjadi standar?
Catatan bagi setiap narasumber :
Pembahasan dapat kiranya tetap dengan memperhatikan pertanyaan, gubernur seperti apa yang cocok untuk Jakarta dengan segala persoalannya? Adakah latar belakang pendidikan/pengetahuan yang harus dimiliki Gubernur Jakarta? Gubernur terpilih harus bersikap dan menentukan kebijakan seperti apa agar pembangunan dapat membentuk Jakarta sebagai kota yang melayani berbagai lapisan warganya dan menjadikan Jakarta kota yang manusiawi?
*/NEL/DHF/NMP

AIC Graduate Research Interdisciplinary Network

AIC Graduate Research Interdisciplinary Network

A program to support greater connectivity and build international and collaborative leadership potential for Research Students and Early Career Researchers engaged in the AIC Research Clusters

Pilot Program: 26 November – 2 December 2016

BACKGROUND

The AIC’s research program aims to deliver impact through shared solutions to shared challenges for Australia and Indonesia.

Within the research program, the development of research student and early career researcher contributions is a key component for establishing a sustainable and engaged network of expertise at the regional level which has potential for global reach.

In addition to supporting capacity demands to address long-term challenges through innovation, the national innovation systems in both countries will continue to demand research graduates with capabilities to support future strategic leadership through effective international collaboration and the ability to translate research outputs into economic, environmental and societal benefit.

The Graduate Research Interdisciplinary Network will establish informal connections across the AIC’s Research Program through ECRs, research students, their supervisors and others working across the AIC research group where knowledge sharing on research training and development, options and opportunities for research development and further collaborative linkages can be established.

2016 PILOT PROGRAM

The Australia-Indonesia Centre’s pilot program follows from partner consultations and sessions held at the AIC-RISTEK-DIKTI 3rd Research Summit in Surabaya in August 2016. In association with DFAT’s Knowledge Sector Initiative team and the Joint Academies of Sciences, the AIC pilot program will align with the first Joint Science Symposium of The Indonesian Academy of Science and the Australian Academy of Science to be held in Canberra between 28 November and 1 December 2016. The Program will also align with the Asia-Pacific Solar Research Conference hosted by the ANU.

The purpose of the pilot program is to

  • Introduce the research group – to include students and other participants – to the research training and development initiatives of the Australian partner institutions
  • Enable the research students from Australia and Indonesia to contribute to the Joint Science Symposium forum– in particular to contribute to the discussion session on research career pathways
  • Provide exposure to experts and live project opportunities relevant to skills and knowledge in areas of demand by research students as identified at the Indonesia-Australia Research Summit
  • To offer an opportunity to grow understanding of the Australian research environment in relation to government policy, corporate and community research requirements

 

PIILOT PROGRAM ITINERARY:

DATE LOCATION ACTIVITY LEAD CONTRIBUTOR / Contact
Thursday 24 November arrive Melbourne Arrive Hotel  
Friday 25

 

Monash Big Data & managing complexity (Monash) tbc
Saturday 26

 

Melbourne Cultural / laneways tour Dr Megan Power

Ms Katrina Reid

Sunday 27

 

Melb-Canberra Travel to Canberra by coach Dr Megan Power
Monday 28

 

Shine Dome / ANU University House Science Symposium opening session

ANU Career Pathways and Leadership in Research

A/Prof Inger Mewburn

Dir of Research Training ANU

Evening National Portrait Gallery Canberra Dinner Victoria Firth-Smith
Snr Program & Events Coordinator Research Skills ANU
Tuesday 29 Nov:

am

DFAT Innovation Exchange Innovation in policy: development to implementation Jeff Roach
Assistant Secretary InnovationXChange DFAT
pm ANU University House Developing a research team Dr Sebastian Thomas UoM tbc
A/Prof Ross Coleman UoS tbc

Prof Peter Kanowski

pm Shine Dome Science Symposium Mentors Dinner Nancy Pritchard – Confirmed
Wednesday 30 Nov ANU Asia-Pacific Solar Research Conference ANU (tbc) – Brian Schmidt keynote Dr Igor Skryabin

Professor Ken Baldwin ANU

Evening ANU Solar Oration / Dinner  
Thursday 1 Dec am / lunch Shine Dome, Canberra Science Symposium. Careers in Science Forum Nancy Pritchard Director International Programs and Awards Australian Academy of Sciences
pm Canberra-Melb Return Melbourne
(by air)
Overnight Melbourne
Friday 2 Dec University of Melbourne Research, International Collaboration and Entrepreneurship Dr Sebastian Thomas (to confirm)
Saturday 3 Dec   Depart Melbourne or own program to follow  
Tuesday 6 Dec Hobart Infrastructure Workshop Rebecca Hateley

 

WORKSHOP – AIC Urban Water Research Cluster in Surabaya

23-24 November 2016

Jelantik Room, Architecture Department  ITS

AGENDA Date Time
Urban Water Cluster – Strategic Project Leader Meetings:

Location:  TBD

Wednesday Nov 23rd 0800-1700
Participants
Chair:   Professor Ana Deletic

Secretariat: Jane Holden

Strategic Research Sub-Project Leaders
SP1:
Benchmarking – Dr Briony Rogers, Prof Yuli Suharnoto

SP2: Governance – Dr Megan Farrelly, Dr Reni Suwarso

SP3: Modelling – Dr Christian Urich, Dr Adjie Pamungkas

SP4: Technologies – Dr David McCarthy, Dr Arseto Bagastyo

SP5: Design & Demo – Prof Diego Ramirez, Prof Abimanyu T. Alamsyah

SP6: Learning Alliance  Dr Jane Holden, Prof Dr Budi I Setiawan

Apologies  Dr Maria Anityasari

 

Time Issue Who
0800 SP teams meeting in groups to develop workplans

(SP1 and SP 2 via teleconference)

All SP leaders
12noon Lunch  
1300 Presentations of workplans, including research activities, budget, timeframes, resources

(30 minutes has been allocated to each SP)

1300: SP 1

1330: SP 2

1400: SP 3

1430: SP 4

1500: SP 5

1530: SP 6

 
1600 Meeting to discuss budget Prof Hadi Susilo Arifin, Dr Anisa, Prof Ana Deletic, Dr Arseto, Prof Happy
1700 Close  

SITE VISIT – AIC Urban Water Research Cluster in Bogor

Day/Date: Monday/21 November 2016

Study Sites: Katulampa Water Gate, Griya Katulampa, Garbage Bank-Rangga Mekar, Pulo Geulis, and Sentul City

Site Visit Guidance Book, PDF File Click Here, Please

 

ITINERARY OF BOGOR SITE VISIT     

DAY/DATE: Monday/ 21th November 2016

 

Time              Activity Remarks
07:30 -08.00 Check out from Santika Hotel 1.       Prof. Hadi, Prof. Ana and Dr JaneCluster/SP Leads meeting

2.       Dr Christian, Dr Diego join with

with IPB and UI researchers  leave hotel for  site visit Griya Katulampa

NOTE: Luggage to be kept in the hotel front desk

08:00-08.30 To Katulampa Water Gate and Griya Katulampa (Settlement) Window survey urban transport system in Bogor City

NOTE:  Write Number of Cars

08:30-09.30 Site visit Katulampa Water Gate and Griya Katulampa Griya Katulampa is a local urban settlement which has unique water resource management.
09:30-10.00 To Rangga Mekar (Settlement) Window survey the urban transport system and the urban development in Bogor city
10:00-11.00 Site Visit Rangga Mekar Rangga Mekar is a sample of urban settlement in Bogor City which has a good community action for managing the waste problem.
11:00-11.30 To Pulo Geulis Window survey the urban transport system in Bogor city
11:30-12.00 Site visit Pulo Geulis High density settlement area in Bogor city with a multiethnic and cultural water landscape
12:00-13:30 Lunch in D’leuit Restaurant
13:30-14:00 To Sentul City Window survey the urban transport system in Bogor city (Jagorawi Highway)
14:00-14:30 Window survey by the car Sentul city is a new developed satellite city that concern to manage water in a better way
14:30-16:30 Leaving Bogor for International Jakarta Airport

Next Page »