Normalisasi dan Naturalisasi Dalam Manajemen Sungai, Bukan Suatu Dikotomi

Hadi Susilo ARIFIN, Ph.D./Professor in Landscape Ecology & Enviromental Management

Q/A Metro TV: Rory Asyari & Professor Hadi Susilo Arifin “Banjir Bukan Tanpa Solusi” Video Click Here, Please.

 

Q/A Metro TV 04 January 2020 - Rory Asyari & Professor Hadi Susilo ARIFIN "Banjir Bukan Tanpa Solusi"

Q/A Metro TV 04 January 2020 – Rory Asyari & Professor Hadi Susilo ARIFIN “Banjir Bukan Tanpa Solusi”

IMG-20200104-WA0034

Manejemen sungai merupakan bagian dari pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), watershed, water catchment area, river basin, terkadang disebut juga water drainage area. Pengelolaan yang dilakukan dengan rencana yang baik, rencana jangka pendek (1-2 tahun), jangkan menengah (2-5 tahun) dan rencana jangka panjang (20-25 tahun). Bahkan keterlibatan semua pihak secara terintegrasi mulai dari skala mikro, skala individu/rumah tangga, masayarakat dan penduduk mulai mengelola sumberdaya air di sekitar rumah dan lingkungannya. Pada skala meso, dapat dilakukan oleh masyarakat secara kelompok termasuk di dalamnya peran para LSM/NGO, para pelaku usaha dan industri dalam kepeduliannya mengelola lingkungan terutama pengelolaan air dan hidrologi dalam ruang terestrial/daratan dan akuatik/perairan, terutama dalam merespon ruang-ruang berbadan air, bukan hanya sungai, tetapi juga kolam-kolam retensi, situ, embung, rawa-rawa, dan wet-land landscape lainnya. Sedangkan skala makro adalah tanggung jawab pemerintah daerah – kabupten/kota/provinsi dampai dengan pemerintah pusat, dengan dukungan semua pihak, stake holders, secara sinergis.

Normalisasi dan Naturalisasi

Normalisasi dan Naturalisasi bukan suatu dikotomi yang dipertentangkan. Keduanya adalah bagian metoda teknis dari pengelolaan DAS dan sungai. Justru, keduanya sangat perlu diintegrasikan sesuai dengan kondisi segmen lanskap reparian. Karena pada bagian sungai atau lanskap riparian tertentu, dengan berbagai pertimbangan teknis maka diperlukan perlakuan normalisasi. Tetapi untuk jangka panjang manakala, kita memiliki sumberdaya lahan pada lanskap riparian yang lebih leluasa, dimungkinka  pembebasan lahan secara bijak, maka naturalisasi adalah metoda pengelolaan sungai yang jauh lebih ramah lingkungan, lebih bijak dalam pengelolaan air secara berkelanjutan, dengan desain tidak kekeringan di musim kemarau dan tidak kebanjiran di musim penghujan, serta konservasi keanekaragaman hayati sebagai aset yang immaterial, serta mendekatkan budaya manusia dengan air secara bijak.

Pada konsep NORMALISASI, dilakukan pengerukan endapan sungai, pelebaran, meningkatkan volume, membuat sodetan dan penurapan dan pembuatan tanggul, mendrainage, mengalirkan segera ke laut. Tentunya pada wilayah sungai yg sudah diapit bangunan beton dan diapit jalan di kiri-kanan sungai, tidak memungkin pembebasan lahan maka di segmen sungai ini alternatif normalisasi. Meskipun ada kekurangannya, yaitu resepan dan rembesan dari sungai ke darat maupun dari darat ke sungai hampir tidak ada pada rentang waktu kondisi umum, karena umumnya di lanskap buatan manusia seperti penturapan, betonisasi mendominasi pada praktek ini. Normalisasi memiliki aspek legal melalui PERDA NO 1 2014; PERATURAN ZONASI PERDA NO 1 2012. Wilayah DKI Jakarta dengan Sungai Ciliwungnya, melakukan sodetan Ciliwung dengan Banjir Kanal Barat dan Kanal Timur.

Pada NATURALISASI, konsepnya adalah mengembalikan bentuk dan lebar sungai seperti asalnya, alami, dengan bentuk meandering agar bisa menampung debet/volume air yang jauh lebih banyak,  ramah dengan manusia yang hidup di sekitar wilayah, dengan prinsip air sebagai sumber kehidupan. Air sungai dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku. Tergantung pada posisi di hulu, di tengah atau di hilir daerah aliran sungai. Sumber daya air diharapkan dengan naturalisasai ini memiliki amplitudo pasang-surutnya permukaan air tidak ekstrem anatara musim kemarau dan musim penghujan. Secara alami (natural), sungai memiliki bentuk berkelok-kelok (meander), sesunggunhnya pada setiap wilayah yang dilewatinya diharapkan dapat memanfaatkan sumberdaya air ini dengan baik apakah sebagai lanskap produktif, yaitu sumber air irigasi pertanian, perikanan, air baku yang diolah sebagai sumber air minum, ekosistem dan habitat sebagai media konservasi keanekaragaman hayati,  mengelola sumberdaya air sebagai sumberdaya energi listrik jika memiliki jeram bagi micro-hidro-power,  bahkan mendekatkan budaya manusia dengan air, seperti pemanfaatan untuk jalur transportasi bahkan wisata dan rekreasi. Meander sungai, diharapkan dapat memperlambat laju air menuju muara dalam keadaan kapanpun, tapi bukan dalam bentuk ekstrem banjir. Secara legal, kasus di DKI ada PERGUB DKI JAKARTA NO 31 2019.  Secara histori, naturalisasi sungai berhasil dilakukan di beberapa negara, yaitu di Eropah, Jepang, Australia, dan Singapore.

Solusi Tepat untuk Mengatasi Banjir

“Watershed management” sebagai kata kunci, di mana pengelolaan yang baik akan memperkecil amplitudo, naik turunya, pasang-surutnya air sungai. Sekali lagi di musim kemarau tidak kekeringam dan musim hujan tidak kebanjiran. Hal ini tentu saja di luar fenomena alam akibat perubahan iklim global. Meskipun selayaknya juga sudah bisa diperkirakan dengan perencanaan infrastruktur DAS dan infrastruktur wilayah untuk mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi di waktu mendatang.

  1. Wilayah hilir, seperti Jakarta, tidak sendirian, karena posisi jakarta di bawah (hilir) maka harus bisa memanfaatkan jasa lanskap/Jasa ekosistem/jasa lingkunganb dari hulu dan tengah. Kordinasi dengan pemerintah daerah (sebagai Mega Cities, JaBoDeTaBekPunJur) yang ada di hulu, tengah dan hilir. Dilakukan dengan perencanaan yang sempurna melalui transdislinary dan sinergi pentahelix. Dibuat ROAD MAP jangka pendek, menengah dan panjang.
  2. Konsekuensinya ada payment for ecosistem services. Lalu seberapa Jakarta sebagai wilayah hilir memiliki willingness to pay. contoh pembangunan waduk Ciawi dan Sukamahi, reboisasi dihulu, revitalisasi dan rehabilitasi situ-situ di hulu dan tengah.  Ini Dalam jangka paendek dan panjang harus berkomitmen dilakukan. Bahkan seharusnya infrastruktur bendungan tidak hanya di hulu saja seperti Bendung Ciawi dan Bendung Sukamahi, tapi juga perlu dihitung dengan seksama untuk dibangun bendungan di wilayah tengah DAS dan wilayah hilir yang memadai. Atau solusi cepatnya melakukan revitalisasi lanskap wet-land, seperti situ dan danau buatan. Seluruh Jabodetabek ada 198 situ, dan di dalmnya di Kabupaten Bogor saja ada 95 situ. Sumberdaya situ ini harus segera diperhatikan pengelolaannya untuk bisa direvitalisasi sebagai water retention.
  3. Termasuk prioritaskan revitalisasi dan proteksi wetland di Jakarta. Situ atau danau-danau buatan, embung dan cekungan-cekungan agar difungsikan sebagai water catchment, dan hentikan pengurugan wetland, terutama daerah rawa sebagai tempat parkir air sebelum masuk ke laut lepas.
  4. Membuat desain taman dengan konsep rain garden, memanen air dalam skala mikro, meso dan makro. Beragam keberhasil rain gardens, atau wetland parks, sebagai contoh yaitu Centenary Park di Chulalongkorn University-Bangkok; rain gardens di Monash University dan praktek di tempat lainnya sebagai perlakuan pemanenan air hujan. Mengelola storm water, air limpasan banjir yang dipanen dengan kuantitas dan kualitas yang lebih baik. Sulosi ini bisa dilakukan dalam jangkap panjang, menengah maupun pendek dalam scalling up praktek-praktek sumur resapan dan biopori.
  5. Pada skala mikro: median jalan, berm jalan bisa berfungsi sebagai sumur resapan, menyimpan air dengan green technology and green engineering dengan menggunakan tanaman lanskap sebagai fitoremediator, biofilter, dan untuk bioswale bagi pemanenan storm water atau aliran air permukaan.
  6. Mendekatkan manusia dengan budaya air. Tirta Budaya Situ dan mengusung kota yang tahan air, water resilience cities, dan kota sensitif air, dan kota ramah air.

Manajemen Pengaliran Air dari Hulu ke Hilir

Dari beberapa hasil kegiatan riset maka konsep Retarding Basin, yaitu desain membuat coakan kolam-kolam penampungan di kiri dan kanan sungai merupakan alternatif manajemen untuk mencegah banjir. Coakan ini sebagai kolam retensi atau “retaining pond”. Ini bukan satu-satunya cara, tetapi merupakan salah satu cara yang juga perl;u diintegrasikan dengan metoda lainnya.

Aspek legal, ada peraturan tentangan pengelolaan bantaran sungai dan sempadan sungai. Konsep coakan kolam retensi di kiri-kanan sungai ini adalah memanfaatkan ruang publik bagi pengelolaan air sungai lebih baik. Misalnya, Sungai Ciliwung dengan panjang 117 km, katakan area yang berpotensi bagi perlakuan retarding basin ini sekitar 80 %, maka ada sekitar 90 km yang bisa diebri perlakuan. Di mana setiap satu km di kiri- kana dibuat coakan dengan dimensi lebar 25m x panjang 50m x dalam 2m, maka 2500m3 x 2 = 5000m3 x 90 km= 450.000 m3

 

Peran Masyarakat dalam Solusi Banjir

Bersama stakehokders lainnya, masyarakat baik individu maupun kelompok berperan dalam mitigasi bencana. Yaitu dalam serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Hal yang paling mungkin dilakukan masyarakat adalah mulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat yaitu keluarga, serta lingkungan komunitas RT, RW sampai Kelurahan/Desa. Setiap individu bertanggung jawab terhadap pengelolaan limbah/Sampah. Tiap keluarga bisa muali dari pekarangan mengelola sampahnya dengam baik, memanen air hujan baik dengan membuat raingardin, sumur resapan, biopori dan lain-lainnya. Oleh karena itu, diperlukan penyuluhan kesadaran lingkungan, praktek teknis yang dirasakan manfaatnya oleh penduduk setempat. Insentif dan disinsentif perlu dilaksanakan agar mansyarakat dapat memberi perhatian apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan apabila memimpokan lingkungan yang  erkelanjutan.

Penutup

Secara fisik, beberapa prioritas yang harus dilakukan dalam solusi banjir, adalah:

  1. Normalisasi dan Naturalisasi adalah 2 metoda yang perlu disinergikan.
  2. Relokasi bangunan yg ada di bantaran sungai tidak bisa tidak harus dilakulan sesuai peraturan yang berlaku.
  3. Mengembalikan lebar sempadan sungai sesuai peraturan. Sebisa mungkin “meandering” sungai diperbaiki agar volume air tertampung meningkat dan air akan lebih lama dapat dimanfaatkan manusia.
  4. Memanen air hujan dengan membuat rain garden – taman resapan air hujan. Prinsipnya sama dengan memperbanyak sumur2 resapan.
  5. Zero Runoff dipraktekkan pada skala makro, meso dan mikro.

Hal tersebut di atas dilakukan melalui penyuluhan, info pemberitaan di media massa elektronik, cetak atau sosmed.

Sedangkan dlam pembangunan kapasitas manusia, bisa didekati dengan:

  1. sinergy pentahelix (A-B-G-C-M)
  2. community awerness – budaya air, budaya sungai, budaya situ dengan festival, river waterfront landscape bukan river behind the landscape
  3. Law Enforcement pada semua lini. Menindak semua pihak yg melanggar hukum.

Jakarta 4 Jan 2020

The 14th Week – Agriculture Landscape Course – GIAHS Discussion

Bachelor – Supporting Course Class – Non Landscape Architecture

Day/Date: Wednesday/27 November 2019

Time: 07:00 – 08:40

Venue: Amphitheatre – Academic Event Plaza – IPB Darmaga Campus

 

Additional Material of the 13th Week: GIAHS Indonesian Mapping, Click Here Please

Supporting Videos:

1. GIAHS – Video English / French/Spanish

2. INTERVIEW Food security for millions of family farmers

3. JAPAN: NOTO’S SATOYAMA AND SATOUMI An introduction

4. GAFSA OASES Human Eden

5. China: Rice-fish culture, generating ecological, economic and social benefits

6China: Rice-Fish Culture Implementation – GIAHS

Related China’s GIAHS videos Click Here, Please

7GIAHS Peru – Andean Agriculture

8. Bangladesh: Floating Gardens

 

TASK FOR DISCUSSION FORUM:

  1. One class is divided to 5 groups.
  2. One group consists of c.a. 10 members
  3. Each Group choose only one topic of GIAHS: China Rice=Fish-Culture/Japan Satoyama-Satoumi/Gafsa Oases Human Eden Tunisia/Andean Agriculture Peru?

 

MATA KULIAH PENGANTAR ILMU-ILMU PERTANIAN – PIP IPB-107 SANGAT RELEVAN DI MASA KINI DAN MENDATANG

Hadi Susilo ARIFIN*

Rationale

Mata Kuliah Pengantar Ilmu-ilmu Pertanian (PIP) merupakan MK penciri Institut Pertanian Bogor, yang saat ini juga memiliki nama IPB University. MK ini diberikan kepada mahasiswa yang baru masuk IPB pada semester pertama pada Program Pendidikan Kompetensi Umum (PPKU). Seringkali PPKU disebut sebagai kelas IV SMA, atau Kelas ke 13. Karena MK nya sama dengan pelajaran SMA, kecuali MK PIP yang merupakan satu MK yang sangat berbeda dengan MK lainnya yang ada di PPKU. PIP membuka wawasan dan mangantar mahasiswa untuk memahami pertanian (agri-CULTURE) secara luas. Di lain pihak dalam proses pembelajarannya PIP diberikan dosen-dosen bergelar Doktor yang mempunyai pengalaman pendidikan, penelitian serta praktek di bidang pertanian dalam arti luas. Diharapkan dengan penyajian dosen secara verbal, dilengkapi tayangan PPT serta ilustrasi video dan video ringkasan yang diupload di NewLMS dan YouTube dapat memberi insipirasi kepada mahasiswa, menjadikan m,ahasiswa lebih kreatif dalam berkarya di bidang pertanian, dan memiliki integrasi yang tinggi.

PIP tetap Aktual dalam Era Revolusi Industri 4.0

Mahasiswa IPB perlu mengetahui hakekat ilmu dan praktek pertanian, yang tidak bisa tidak terkait dengan budaya manusianya, yang jelas-jelas sekali lagi dalam bahasa Inggris kata “pertanian” disebut “Agri-CULTURE”. Ketika kita bicara kultur, maka berbicara budaya manusia, perilaku, kebiasaan, adat-istiadat, cara, alat yang dipengaruhi oleh ruang dan waktu (spatio-temporal). Oleh karena dalam MK PIP diawali dengan perjalanan sejarah pertanian dimulai jaman batu, manusia sebagai pemburu, pengumpul, peladang berpindah, sampai settle dalam satu perkampungan dengan pertanian menetap, bahkan di saat ini bagaimana penerapan berbasis Information Technology dengan smart farming (pertanian cerdas) dan precission farming (praktek pertanian dengan presisi yang sangat tinggi) untuk mencapai efisiensi dalam produktifitasnya. Teknologi akan terus berkembang. Di waktu yang akan datang bisa saja bertani menembus batasan-batasan ruang dan waktu. Misal, pertanian di tengah samudra, atau di laut dalam, bahkan di luar angkasa.

Pengantar Ilmu-ilmu Pertanian sebagai MK yang mendasari pengetahuan pertanian secara luas diberikan di PPKU dalam pembekalan masuk ke fakultas dan departemen masing-masing. Oleh karena kontennya  akan luwes mengikuti pencapaian learning outcome dari mata kuliah ini. Dalam perjalanannya, PIP telah mengalami banyak perubahan sesuai dengan perkembangan jaman. Tetapi muatan-muatannya disasar untuk mendapat pencapaian LO. Karena itu kita mulai dari karakteristik ilmuwan, penting bagi mahasiswa IPB yang perlu memiliki analitichal thinking yang tajam. Kemudian sejarah pertanian memberi pemahaman pejalanan agri-CULTURE dari yang paling primitif, tradisional sampai dengan pertanian modern. Pengetahuan agroklimat sangat penting, mahasiswa wajib memahami aspek ekosistem serta perubahan iklim global dan mengetahui strategi mitigasi pada gangguan-gangguan alam. Mahasiswa ditantang untuk berfikir dan menciptakan jenis tanaman, hewan ternak yang mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Daur ulang hara serta pengetahuan akan energi yang terbaharukan, dan pengetahuan pertanian pangan dan non-pangan akan memberi wawasan kepada mahasiswa lebih luas, bahwa pemanenan energi matahari dalam pertanian sangat erat terkait bukan hanya produksi pangan, tetapi sandang dan papan sebagai kebutuhan primer manusia.  Proses pengelolaan pasca-panen, manajemen agribisnis dan agroindustri memberi gambaran hilirisasi pertanian. Kemajuan bioteknologi pertanian dalam bentuk rekayasa genetik serta beragam cara dalam pemulian-pemuliaan tanaman dan hewan diharapkan dipahami oleh mahasiswa dalam mengikuti kemajuan ilmu teknologi pertanian. Dilanjutkan dengan pengetahuan praktik smart farming dan precission farming diberikan dalam PIP untuk wawasan pertanian modern dengan soiless base culture seperti hidroponik, aeroponik, green roof garden, sekaligus bagaimana menuju sustainable dan integrated/mixed farming system dengan pemanfaatan green technology. Pada akhirnya mahasiswa harus mempunyai wawasan kemajuan pertanian di masa depan, khususnya mampu menyusun strategi perencanaan pembangunan pertanian menuju Indonesia Emas di tahun 2045.

Tindak Lanjut Pasca MK PIP

Saat mahasiswa masuk ke Fakultas, pada umumnya akan dibekali mata kuliah yang mendasari dan menjadi penciri fakultas. Semisal di Fakultas Pertanian, semua mahasiswa akan mendapat MK Dasar-dasar Agronomi; di Fakultas Peternakan, terdapat MK Pengantar Ilmu Peternakan; di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan ada MK Pengantar Ilmu-ilmu Perikanan, dll. Sehingga tepat sekali apabila ada MK “Smart Agriculture” yang dikembangkan oleh Departemen Ilmu Komputer untuk menjadi pengetahuan dasar mahasiswa Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam agar dapat terkait dalam praktek-praktek pertanian modern dan mendapatkan identitas sebagai bagian dari IPB.

Sebagai ilustrasi, misal di Fakultas Pertanian IPB, mahasiswa pada semester 7 sejak 3 tahun lalu (mulai tahun akademik 2017/2018) sudah diberikan MK Politik Pertanian. Ini pas sekali. Di semester awal mahasiswa diberi wawasan umum, pertanian dalam arti luas melalui MK PIP. Dan di semester akhir, mahasiswa dapat memahami kelembagaan, kebijakan dan politik di bidang pertanian, dan diharapkan kelak mereka mampu berkiprah dalam menyusun, menerapkan dan mengelola kebijakan dan praktek praktis di bidang pertanian secara arif dan berintegritas.

 

Bogor, 5 November 2019.

*Hadi Susilo ARIFIN

Kordinator MK Pengantar Ilmu-Ilmu Pertanian PIP IPB-107

TRANSFER KEILMUAN ANTAR INSTITUSI MELALUI PENGEMBANGAN TRANSDISCIPLINARY SCIENCES
Hadi Susilo Arifin
Ketua Komis B – Dewan Guru Besar Institut Pertanian Bogor
Alamat Kontak: hsarifin@apps.ipb.ac.id & www.hsarifin.staff.ipb.ac.id

Latar Belakang Keilmuan
Keilmuan di perguruan tinggi senantiasa berkembang. Akan tetapi kita tahu tentang pohon ilmu, di mana setiap ilmu memiliki dasar perakarannya yang kuat dan berkembang sebagai batang keilmuan, percabangan hingga ranting-ranting keilmuan sampai ke elemen-elemen yang lebih spesifik sebagai bagian dari pohon besarnya. Kita ketahui bahwa ilmu dasar dan ilmu murni, tetapi ada pula ilmu terapan. Di perguruan tinggi pada prakteknya, keilmuan ini dikembangkan melalui pendidikan dan penelitian. Dalam pengembangan program studi atau jurusan, atau departemen pada umumnya berbasis pada bidang keilmuan dan kepakarannya berada dalam satu Laboratory, atau sering juga disebut Bagian, Divisi atau Kelompok Bidang Keahlian.
Pendidikan tinggi di Indonesia secara umum memiliki orientasi pada program studi sebagai media untuk mentransfer keilmuan. Hingga saat ini orientasi program studi lebih ke arah mono-disiplin. Keilmuan dalam pendidikan di perguruan tinggi ditransfer melalui perkuliahan dan hanya di ujung tahun, mahasiswa dikenalkan pada program riset yang hanya mengambil porsi 6 sks. Hal ini sangat berbeda dengan perguruan tinggi di negara lain yang lebih maju, terutama pada program pasca sarjana baik tingkat Master, apalagi tingkat Doktor. Dalam hal ini basis keilmuannya dikembangkan melalui riset sehingga dikenal research students. Apabila riset ini merupakan bagian utama dari civitas akademika sebagai dasar pengembangan keilmuan, maka hasil-hasil riset ini bisa diterapkan dalam menajalankan tugas pendidikan dan pengembangannya. Penting kita menerapkan kebijakan program pendidikan tinggi berbasis riset dengan berorientasi pada program riset lintas disiplin. Beberapa hal perlu diketahui, keilmuan multi-disiplin mengandung pengertian suatu persoalan ditinjau/ditelaah dari beberapa disiplin tanpa diintegrasikan. Inter-disiplin merupakan integrasi dari beberapa disiplin untuk memecahkan persoalan, sedangkan trans-disiplin merupakan penyelesaian persoalan melalui integrasi beberapa disiplin yang dapat menciptakan pemahaman baru (sintesis). Ilmu trans-disiplin (disciplinary science) adalah penggabungan dua atau lebih disiplin akademik/keilmuan ke dalam satu aktivitas, misalnya suatu penelitian. Pendekatan trans-disiplin muncul saat suatu permasalahan memerlukan metode atau pengetahuan dari beberapa bidang ilmu dan tidak dapat diselesaikan hanya dari satu bidang saja. Ilmu terapan umumnya menggunakan pendekatan antardisiplin (Gambar 1).

(Sumber: Sulasdi WN, 2015)
Gambar 1. Perbedaan multidisplin, interdisiplin dan transdisiplin

Pentingnya Ilmu Trans-disiplin di Masa Kini dan Mendatang
Pada posisi di depertemen/jurusan sampai dengan fakultas pengembangan keilmuan umum dilakukan pada ilmu-ilmu yang bersifat monodisiplin dan oligodisiplin. Akan tetapi pada tataran pendidikan yang bersifat lintas disiplin diampu oleh Sekolah Pascasarjana. Sementar itu percepatan pengembangan keilmuan transdisiplin bisa dilakukan secara sinergis di pusat studi atau puat penelitian di dalam perguruan tinggi. Di sini berkumpul para ahli dari berbagai disiplin ilmu secara terintegrasi untuk mengusung satu pusat studi dalam mencari solusi untuk mendukung pembangunan pada tingkat nasional dan internasional. Para guru besar diharapkan dapat terlibat aktif di pusat-pusat riset atau pusat studi. Indeks kesulitan masalah dari yang paling sederhana sampai dengan paling sulit dapat dilakukan pendekatan penelitian yang terbaik mulai monodisiplin sampai dengan transdisiplin (Gambar 2).

Diagram credit: Modified from nature.com by Emily Nastase (Zamani NP, 2019)
Gambar 2. Riset transdisiplin: Riset transdisiplin memerlukan investasi besar dari waktu (kiri); Indeks kesulitan masalah cocok dengan pendekatan penelitian terbaik (kanan).

Permasalahan yang sangat rumit dan kompleks tidak bisa diselesaikan dengan penelitian sederhana dengan menggunakan disiplin ilmu tunggal. Ia akan memerlukan solusi secara terintegrasi dan sinergis, terutama di saat pengambilan keputusan yang sangat kritis dan strategis. Di waktu mendatang pengembangan ilmu transdisiplin ini dapat digunakan sebagai media transfer keilmuan antar institusi. Satu institusi yang memerlukan solusi masalah yang sangat kompleks tidak harus mengembangkan sendiri keilmuan yang diperlukan, tetapi belum ada di institusi yang bersangkutan. Transfer keilmuan dapat diberikan oleh institusi yang paling berkompeten, dengan cara bekerja-sama melakukan riset secara transdisiplin.
Implementasi Riset Transdisiplin
Guru besar dengan kepakaran yang mumpuni dapat menginisiasi kerjasama-kerjamasa riset antar universitas baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pengalaman terlibat dalam kerjasama international dengan ilmu transdisiplin, seperti pada Core University Program JSPS/DIKTI, the University of Tokyo/Institut Pertanian Bogor pada Research Unit for Biological Resources Development di bawah manajemen pendanaan JSPS selama dua periode (1998/2002, 2003/2008). Dalam rangka besar tersebut di dalamnya terdapat empat Grup Riset, yang meliputi: Watershed Management (G1), Food & Agriculture (G2), Social-Economy & Cultural Aspect (G3), dan Landscape Ecological Study on Sustainable Rural Indonesia (G4). Pada periode 10 tahun terlibat sekitar 35 peneliti Indonesia dari berbagai universitas dengan core university di IPB, dan 32 peneliti Jepang dari berbagai universitas dengan core university di the University of Tokyo.
Saat ini sebagai gambaran transdiciplinary research yang sedang dikerjakan sejak 2016 sampai 2019 adalah consortium research collaboration dengan Monash Sustainable Development Institute, Monash University/ University of Melbourne dengan IPB dan UI pada Urban Water Cluster. Research clusters sendiri ada 5, yang meliputi Infrastructure Cluster (Leads ITS), Energy Cluster (Leads ITB), Food & Agriculture Cluster (Leads IPB), Health Cluster (Leads UI), dan Urban Water Cluster (Leads IPB) di bawah manajemen the Australia Indfonesia Centre (AIC).
Dalam kasus Urban Water Cluster, sinergi kerjasama riset dilakukan dengan mengkordinasikan deliverable eco-technical engineering (Benchmarking), socio-institutional pathways, infrastructure adaptation pathway, green technology pathways, urban design & demonstration, serta learning alliance. Struktur bidang riset tersebut mencerminkan keberagaman ilmu dalam riset transdisplin (Gambar 3). Pada pelakasanaan risetnya sendiri melihat dari permasalaahan tentang perubahan manajemen air perkotaan, maka ditinjau dari faktor-faktor pendorongnya serta tingkatan pada respon manajemennya. Sebagai riset transdisiplin, maka strategi dalam setiap pengambilan keputusannya selalu ditindak lanjuti dengan hubungan bersama stakeholders, melalui pendekatan sinergi pentahelix. Learning alliance bergerak untuk bisa disosialisasikan, diseminasi pada A-B-G-C-M, yaitu Academy, Business, Government, Community, dan Media.
Sumber: Arifin HS, 2019
Gambar 3. Struktur keilmuan dalam riset transdisplin untuk kajian “Urban Water” di Bogor Raya oleh IPB, UI dan Monash University, the Australia Indonesia Centre (2016-2019).

Penutup

Hasil-hasil riset transdisiplin ini menjadi basis dalam pengembangan keilmuan yang dapat diterapkan di kelas. Dalam praktek pendidikan di IPB sendiri sejak 2005 telah diterapkan kurikulum pendidikan Mayor-minor. Di mana mahasiswa dari satu Departemen dengan Mayor tertentu boleh memilih mata kuliah – mata kuliah lainnya dari departemen lain sebagai mata kuliah minor. Atau bahkan bisa ambil mata kuliah dari berbagai depertemen lainnya sebagai “supporting courses”. Kurikulum ini bisa diterapkan di S1, S2 maupun S3. Sedangkan pada Sekolah Pascasarjana saat ini telah mengembangkan program studi yg bersifat mono disiplin (di bawah manajemen departemen), oligo disiplin (di bawah manajemen fakultas) dan multi disiplin langsung di bawah manajemen Sekolah Pascasarjana. Ke depan direncanakan akan dbentuk School of Environment and Sustainable Sciences yang bersifat transdiplin.

Praktek serupa seharusnya bisa diterapkan antar universitas (11 PTN BH) sebagai pengembangan keilmuan untuk menghadapi tantangan dunia yang sangat kompleks. Hal ini bisa dipelopori oleh 11 PTN BH yang ada saat ini, yaitu: IPB, UI, ITB, UGM, ITS, UNAIR, USU, UNPAD, UPI, UNDIP, dan UNHAS.

SUMBER BACAAN
Arifin HS. 2019. Sustainable Design, Planning and Management for Landscape Architecture (invited speech). The 4th International Symposium of Sustainable Landscape Development, IPB International Conference Center, Bogor, Indonesia, 10 October 2019.
Sulasdi WN. 2015. Multidisiplin, Interdisiplin dan Transdisplin. SistemPembangunan Wilayah Pesisir dan Laut Secara Terpadu. Sumber:http://www.uruqulnadhif.com/2015/05/multidisiplin-interdisiplin-dan.html
Zamani NP. 2019. How human and nature interaction in complex system? Case study human and wildlife in mangrove ecosystem Sembilang National Park, Indonesia. International Conference on Complex System (CCS) Coupled Human and Nature Systems (CHANS) Nanyang Technology University, Singapore, 02 October 2019.

FPA500/TSL506 2019-2020

Introduction to Indonesian Tropical Agriculture (International Class Program for Master Degree)

Academic Year: 2019-2020

Course Name (Code): Introduction To Indonesian Tropical Agriculture (FPA 500/TSL506)

Credit (SKS): 2 (2-0)

Offered in: Semester 1 (odd semester) – International Program

Prequisities: –

Teaching Team:

1. Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, M.S. (Course Coordinator) – CV Click Here, Please

2. Prof. Dr. Ir. Budi Mulyanto, M.Sc.

3. Dr. Ir. Darda Efendi, M.Si.

4. Dr. Mashuri Waite

Language          : English

Schedule of Class Meeting (Lecture)

Weeks Topic Name of Lecture
I Indonesia Archipelago, History of Indonesian Agriculture, Future Agriculture – PDF File click here, please
First QUIZ (21 August 2019):1.What do you think about tropical agriculture?2.What is your expectation when you are studying Introduction to Indonesian Tropical Agriculture course?TASK1: Write down your answer in the comment box of this page by Thursday, 05 September 2019 at 8AM, please.
Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin
II Important Tropical Agricultural Heritage: GIAHS (Globally Important Agricultural Heritage Systems) and NIAHS (National Important Agricultural Heritage System) Approach: food security, agro-biodiversity conservation, culture and organization, global climate change responses, and remarkable landscape. PDF File click here, please.

Additional Material: GIAHS Indonesian Mapping, Click Here Please

Supporting Videos:

1. GIAHS – Video English / French/Spanish

2. INTERVIEW Food security for millions of family farmers

3. JAPAN: NOTO’S SATOYAMA AND SATOUMI An introduction

4. GAFSA OASES Human Eden

5. China: Rice-fish culture, generating ecological, economic and social benefits

6China: Rice-Fish Culture Implementation – GIAHS

Related China’s GIAHS videos Click Here, Please

7GIAHS Peru – Andean Agriculture

Students TASK II: Drop your comments and discussion the GIAHS videos (Choose 1 topic only, please) around  400 words by September 12, 2019 @ 08:00.

Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin
III Agroforestry Landscape Analysis: AgroForestry-AgroSilvoPastural-AgroSilvoFisheries Practices. PDF File Click here, please.

Video AF vs Mono-culture: Video Click here, please.

Supporting Video: Landscape Approach – What, where and how? Please, CLICK here.

Students TASK III: Drop your comments and discussion The AFLA lesson learned around  400 words by September 19, 2019 @ 08:00.

Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin
IV Agriculture-Landscape-Climate: Agroclimatical Zone, Agroecological Zone base on Bioregional Approach Prof. Dr. Budi Mulyanto
V Tropical Lands, Soils and Plants Interrelation Prof. Dr. Budi Mulyanto
VI Tropical Lands, Soils and Plants Prof. Dr. Budi Mulyanto
VII Agriculture Bio-Diversity in Tropical Indonesia (from coastal beach to high mountainous landscape; from the east to the west) Prof. Dr. Budi Mulyanto
VIII MID TERM EXAM
Weeks Topic Name of Lecture
IX Hot Issues Discussion, Click here, please.
1.Prof. Dr. Hadi Susilo Arifin2.Prof. Dr. Budi Mulyanto

3.Dr. Darda Efendi

4. Dr. Mashuri Waite

X Indonesia Agriculture Production System and Commodities: Foods, Fibers, Shelters (Agronomy approach) – PDF File click here, please. Dr. Darda Efendi
XI Indonesia Agriculture Production System and Commodities: Foods, Fibers, Shelters (Horticulture  approach) – PDF File click here, please. Dr. Darda Efendi
XII Indonesia Agriculture Production System and Commodities: Foods, Fibers, Shelters (Estate/plantation  approach) – PDF File click here, please. Dr. Darda Efendi
XIII Tropical Agriculture Challenges (Land-reform, Government Policies, Global warming issues/Outbreak of pest and disease, etc.) Dr. Mashuri Waite
XIV Tropical Agriculture Challenges (Land-reform, Government Policies, Global warming issues/Outbreak of pest and disease, etc.) Dr. Msshuri Waite
XV Field excursion Prof. Dr.  Hadi Susilo ArifinProf. Dr. Budi Mulyanto

Dr. Darda Efendi

Dr. Mashuri Waite

XVI FINAL EXAM

20190821_103259 small

20190821_104645 small

20190821_120549

 

KULIAH LAPANG 2019 – ARL 400

Peserta: Mahasiswa Arsitektur Lanskap Angkatan 53 (72 Mahasiswa S1)

20190824_091253 small 20190824_091516 small

 

Learning out come: mata kuliah ini adalah mengenalkan dan membahas berbagai contoh karya arsitektur lanskap, ragam elemen pembentuk lanskap baik yang alami maupun buatan manusia (man made), berbagai aspek yang mempengaruhi terbentuknya karya arsitektur lanskap, potensi dan kendala pengembangan suatu karya arsitektur lanskap dalam kunjungan lapangan. Dipelajari juga uraian tentang “local site specific landscape” baik yang berbasis fisisk, ekologis, maupun sosial budaya serta cerminannya dalam karya arsitektur lanskap. Dijelaskan aplikasi teori dasar arsitektur lanskap yang mencakup perencanaan, desain dan manajemen lanskap pada setiap obyek di lapang.

Kordinator: Prof. Dr. Hadi Susilo ARIFIN/Divisi Manajemen Lanskap/Departemen Arsitektur Lanskap/2019

Jadwal Pembekalan Kulap: Sabtu, 09:00-10:40

Venue: Ruang Studio Perencanaan Wing 14, Level 3 Dep. ARL, FAPERTA, IPB

DOSEN PEMBIMBING KULAP & JADWAL PEMBEKALAN

1. Prof Hadi Susilo Arifin (Ketua) CV Klik Di sini – Materi Pembekalan, Klik Di sini!

Sabtu, 24 August 2019 & 21 September 2019

2. Dr. Kaswanto (Anggota) – Div. Manajemen Lanskap/Sabtu, 31 Agustus 2019

3. Dr. Nizar Nasrullah (Anggota) – Div. Tanaman & Tata Hijau/Sabtu 7 September 2019

4. Pingkan Nuryanti, ST, MT (Anggota) – Div. Perencanaan & Desain/Sabtu 14 Septemebr 2019

 

CONTOH Foto-foto Kegiatan Kuliah Lapang 2018 – ARL 52 di Malaysia dan Singapore, Silakan Click di sini.

CONTOH Buku Panduan Kuliah Lapang 2018 – ARL 52 (sebagai Bench Marking), Silakan Clik di sini.

WELCOME TO FUNDAMENTALS OF LANDSCAPE ARCHITECTURE COURSE

Odd Semester 2019 in IPB University

Fundamental of Landscape Architecture (Dasar-dasar Arsitektur Lanskap) for AGH students of Group 6 (K-6 and P-6/Agronomy Class) ; and
“Fundamentals of Landscape Architecture” (Dasar-dasar Arsitektur Lanskap/ARL-200) for Group 6 (AGH Students).

Day and Time: has been started on Tuesday 10.30-12.10 (Lecture Class), August 13, 2019; and Friday 08.00-11.00 (Practicum Class) August 16, 2019.

Instructor: Prof. Dr. Hadi Susilo ARIFIN Click here, Please

Media: Bahasa Indonesia

Participants: Students of Agronomy & Horticulture Department

Lecure Venua: RK.OFAC 4 B12

Practicum Venue: Studio of Landscape Architecture – Wing 14 – Level IV, IPB Dramaga Campus

ROSTER OF FUNDAMENTALS OF LANDSCAPE ARCHITECTURE

The 1st Week: PENDAHULUAN – INTRODUCTION Cleak here, Please

PRACTICUM 1st Week – Click here, Please

In order to reduce paper utilization, please the first week TASK, i.e. slide show sinopsis writing should be uploaded to this page comment box.

EXTRA material: VIDEO LANDSCAPE APPROACH, Click here, Please.

The 2nd Week: SEJARAH DAN PERKEMBANGAN – HISTORY AND DEVELOPMENT

PRACTICUM 2nd Week – Click here, Please

The 3rd Week: LINGKUP DAN SKALA – SCOPE AND SCALE

The 4th Week: KUALITAS LANSKAP DAN PEMANDANGAN – LANDSCAPE QUALITY AND VIEW

The 5th Week: KARAKTER LANSKAP – LANDSCAPE CHARACTERISTICS

The 6th Week: LANSKAP TROPIS – TROPICAL LANDSCAPE

The 7th Week: TANAMAN DAN DESAIN PENANAMAN – PLANTS AND PLANTING DESIGN

MID-TEST EVALUATION (UTS)

The 8th Week: TEKNOLOGI DALAM ARSITEKTUR LANSKAP – TECHNOLOGY IN LANDSCAPE ARCHITECTURE

The 9th Week: ANALISIS TAPAK – SITE ANALYSIS

The 10th Week: PERENCANAAN LANSKAP – LANDSCAPE PLANNING

The 11th Week: DESAIN LANSKAP – LANDSCAPE DESIGN

The 12th Week: PENGELOLAAN DAN PEMELIHARAAN TAMAN – PARKS MANAGEMENT AND MAINTENANCE

The 13th Week: PRINSIP EKOLOGI DALAM LANSKAP – ECOLOGICAL PRINCIPE IN THE LANDSCAPE

The 14th Week: ETIKA DAN KEBIJAKAN LINGKUNGAN – ETHICS AND ENVIRONMENTAL POLICIES

 

Photos document – the first class meeting of AGH K-6 Class on Tuesday 10:30-12:10

20190813_104553 small 20190813_104640 small 20190813_110235 small 20190813_111419 small

ARSITEKTUR LANSKAP DALAM AGRI 4.0

Hadi Susilo ARIFIN

Kepala Divisi Manajemen Lanskap – Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam (Program Master), Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor

Ketua Komisi B, Bidang Pengembangan Keilmuan dan Pemikiran Strategis, Dewan Guru Besar, Institut Pertanian Bogor

Alamat Kontak: hsarifin@apps.ipb.ac.id; www.hsarifin.ipb.ac.id

Departemen Arsitektur Lanskap merupakan salah satu jurusan yang berada di Fakultas Pertanian, IPB. Arsitektur Lanskap merupakan bidang ilmu terapan yang bersifat interdisiplin. Bidang ilmu ini berkembang dengan dukungan ilmu-ilmu geografi, geologi, ilmu tanah, biologi, ekologi, ilmu-ilmu pertanian, kehutanan, ilmu sosial-budaya, ilmu ekonomi, juga arsitektur serta teknik sipil dan lain-lain. Dengan bidang kajiannya mulai dari perencanaan lanskap, desain lanskap, material lanskap yaitu tanaman/tumbuhan dan elemen keras, serta manajemen lanskap. Lanskap sebagai bentang alam dipelajari secara holistik mulai dari skala mikro contohnya pada lanskap pekarangan/taman rumah, taman lingkungan (community parks); skala meso pada lanskap perdesaan dan lanskap perkotaan, hingga skala makro pada kawasan regional atau wilayah baik dalam batas-batas administrative boundary, ecological boundary/eco-region yaitu daerah aliran sungai dari hulu-tengah-hilir, maupun cultural boundary di mana manusia terlibat di dalamnya. Arsitektur lanskap merencanakan, merancang dan mengelola lingkungan secara berkelanjutan dengan basis keilmuan ekologi lanskap yang memperhatikan struktur lanskap, fungsi lanskap, dinamika lanskap dan budaya. Sebagai salah satu bidang ilmu yang bersifat interdisiplin maka arsitektur lanskap dikaji dan diterapkan pada beragam aspek pembangunan fisik tidak hanya di kawasan perkotaan (urban landscape) saja seperti lanskap Central Business District (CBD), taman-taman di perkotaan yang meliputi ruang terbuka hijau (greenery open spaces) dan ruang terbuka biru, badan-badan air (blue open spaces); tetapi juga di pinggir perkotaan (sub-urban landscape) semisal lanskap daerah industri, lanskap permukiman dan perumahan;  bahkan di perdesaan (rural landscape) termasuk pada pembangunan lanskap-lanskap pertanian, perkebunan, pertambangan, hutan wisata, suaka margasatwa, kawasan lindung bagi proteksi tata tanah-tata air-tata udara, kawasan konservasi bagi keanekaragaman hayati, hingga  taman nasional. Pada dasarnya bidang-bidang ilmu dalam arsitektur lanskap baik landscape planning, landscape design dan landscape management melakukan perencanaan, perancangan dan pengelolaan lanskap yang “secara estetika harus memiliki nilai-nilai keindahan, dan secara fungsional harus berguna”.

Dalam beberapa dekade terakhir bidang ilmu dan praktek arsitektur lanskap begitu pesat seiring dengan perkembangan dan kemajuan ekonomi, teknologi dan perhatian manusia yang lebih baik terhadap lingkungan.  Tidak hanya pada linglkungan binaan (artificial landscape, human made landscape) saja, tetapi juga diperlukan teknik desain (design engineering) dan perencanaan dan pengelolaan yang berkelanjutan (ecological/sustainable planning & management) pada lingkungan alami (nature landscape) terutama bagi peruntukan pertanian dan agrotourism, kehutanan dan wisata alam, serta ecotourism dan lain sebagainya. The Fourth Industrial Revolution (4IR) atau Industry 4.0 telah dilakukan dalam bidang arsitektur lanskap, terutama untuk pendekatan/metoda survey terintegrasi melalui penginderaan jarak jauh, pemetaan dengan drone dan analisis dengan sistem informasi geospasial (SIG) serta pemanfaat BIG Data secara virtual. Pada desk study dan pekerjaan studio pada skala rancangan lanskap detil, aplikasi-aplikasi desain berbasis komputer dipadukan dengan keterampilan fisik dan seni untuk mengekplor rasa seperti kemampuan free hand drawing. Sementara itu pada praktek di lapangan sebagai contoh dalam pengelolaan padang rumput, lawn dan turf grasses pada lanskap golf sudah dalam waktu lama telah diterapkan penggunaan satelite tools and equipment yang dikendalikan dalam jarak jauh (remote control) untuk sistem irigasinya. Sprinkler akan bekerja secara otomatis baik di tee box, par way, dan green sesuai dengan kondisi tempertur dan kelembaban tanah. Hal ini akan menghasilkan kualitas lanskap padang rumput yang prima. Sebagai contoh, praktek tersebut sudah dilakukan sejak awal berdiri padang golf di Danau Bogor Raya “Bogor Lake Side”. Pada skala perkotaan pada gedung-gedung pencakar langit yang menerapkan green roof gardens, green top gardens, vertical gardens, hanging gardens yang budidayanya tidak berbasis tanah (soiless base culture) pada umumnya menggunakan teknologi smart agriculture dan precission farming system. Pada lanskap pekarangan khususnya masyarakat perkotaan menerapkan sistem serupa pada praktek hidroponik bagi pengembangan vegetable gardens. Beberapa transisi praktek konvensional dan smart agriculture dilakukan juga dalam skala pekarangan maupun skala orchards untuk herbs gardens dan edible gardens, dan perkebunan buah komersial. Bagaimanapun kita akui bahwa perkembangan Industry 4.0 dalam segala aspek dan lini, tetapi khususnya untuk bidang landscape ARCHitecture dan pada umumnya di bidang pertanian (agriCULTURE) sentuhan rasa/seni dan budaya tidak bisa dilepas. Dalam penerapannya, diperlukan suatu integrasi teknologi Agri4.0 dengan wawasan budaya manusia secara bijak.

Dengan segala keterbatasan pengetahuan dan ilmu, tulisan ini diharapkan dapat memberi gambaran pemikiran dan wawasan ke depan bagi bidang arsitektur lanskap dalam merespon pertanian 4.0. Semoga bermanfaat.

Hotel Harris Sentul City, 1 Agustus 2019.

 

20190313_134036small 20190313_135625small 20190313_135635small

Revised PPT Materials of Landscape Management Course for Bachelor Program

Materi PPT yang telah direvisi bagi Perkuliahan pada  Minggu ke 8, Minggu ke 9 dan Minggu ke 10 dapat diakses dari LINKS yang disediakan di bawah ini.

Minggu VIII: Peraturan dan Kebijakan Pengelolaan Lingkungan – SILAKAN CLICK DI SINI

Minggu IX: Kebijakan & AMDAL – SILAKAN CLICK DI SINI

Minggu X: Pengelolaan Lanskap Permukiman –  SILAKAN CLICK DI SINI

JADWAL UJIAN AKHIR SEMESTER MK PENGELOLAAN LANSKAP

Senin, 20 Mei 2019, 13.30-15.30: Ruang A164401E (RK.16FAC401E) dan A164401D (RK.16FAC401D)

Good Luck….

https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2019/05/14/kawasan-warung-jambu-direkomendasikan-jadi-etalase-kota-bogor

Kawasan Warung Jambu Direkomendasikan Jadi Etalase Kota Bogor

Windiyati Retno Sumardiyani Selasa, 14 Mei 2019, 17:17
ANAK-anak bermain di aliran Sungai Ciliwung, Kelurahan Sempur, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu, 13 Maret 2019. Pemerintah Kota Bogor berencana membuat Waterfront City Sungai Ciliwung dengan konsep pengembangan daerah tepian air yang terintegrasi menjadi kawasan wisata air dan menjadi bagian dari wajah kota yang memberikan keindahan lanskap di area sekitarnya.*/ANTARA

ANAK-anak bermain di aliran Sungai Ciliwung, Kelurahan Sempur, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu, 13 Maret 2019. Pemerintah Kota Bogor berencana membuat Waterfront City Sungai Ciliwung dengan konsep pengembangan daerah tepian air yang terintegrasi menjadi kawasan wisata air dan menjadi bagian dari wajah kota yang memberikan keindahan lanskap di area sekitarnya.*/ANTARA

BOGOR, (PR).- Kawasan Sungai Ciliwung, Warung Jambu, direkomendasikan menjadi  etalase Kota Bogor. Ahli Lanskap IPB Hadi Susilo Arifin menuturkan, Sungai Ciliwung di kawasan Warung Jambu  harus dijaga karena sebagaian sungai tersebut terletak di salah satu pusat perekonomian di Kota Bogor.

Dari hasil penelitian mahasiswa Arsitektur Lanskap Institut Pertanian Bogor, dua pusat perbelanjaan yakni Pasar Jambu Dua dan pusat elektronik yang berdekatan dengan Sungai Ciliwung cukup berpengaruh pada tingkat pencemaran yang dihasilkan.

Itu sebabnya, perlu ada penataan lanskap di kawasan tersebut untuk mengubah pola pikir masyarakat agar mau  merawat sungai.

“Banyaknya kondisi sngai yang kurang terawatt ini disebabkan  karena kebiasaan dan pola pikir masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa sungai adalah bagian belakang yang jarang terlihat oleh kebanyakan orang. Pola pikir seperti ini yang seharusnya diubah,” ujar Hadi Susilo di Gedung Paseban Sri Bima, Balai Kota Bogor, Selasa, 14 Mei 2019.

Berdasarkan analisis yang dilakukan mahasiswa Arsitektur Lanskap IPB, Hadi mengatakan, IPB memberikan rekomendasi beberapa upaya yang dapat dilakukan Pemerintah Kota Bogor untuk menjadikan kawasan Warung Jambu sebagai kawasan etalase Kota Bogor.

Rekomendasi pertama yakni menerapkan  lanskap etalase  dengan mengarahkan semua bangunan di kawasan Warung Jambu menghadap ke Sungai Ciliwung.

Selain itu, Pasar tradisional Jambu Dua diharapkan dapat dibangun ulang dengan jarak minimum 15 meter dari Sungai Ciliwung sesuai  Peraturan  Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 28/PRT/M tahun 2015 tentang Penetapan Garis Sempadan Sungai dan Garis Sempadan Danau.

“Area sempadan sungai  harus bebas bangunan, dan bisa ditanami pohon produktif. Konsep water front landscape ini pernah ditera[kan di Amerika dan mampu memulihkan Amerika dari resesi ekonomi yang mereka hadapi,” kata Hadi.

Selain itu,  Pemerintah Kota Bogor juga bisa menerapkan konsep naturalisasi modern yang dapat mengundang dan menarik perhatian generasi muda.  Sarana dan prasarana yang diperlukan untuk membangun konsep naturalisasi Ciliwung secara modern yakni amphiteater, panggung, tempat parkir, dan utilitas pendukung seperti sirkulasi pejalan kaki, penyebrangan, dan penerangan jalan.

“Konsep ini kami namakan Ciliwung millennial Society, yakni kawasan sempadan Sungai Ciliwung  dengan konsep naturalisasi modern.  Jadi  di kawasan itu kita bangun  tempat-tempat berkumpul  bagi generasi muda,  sehingga ada perhatian dan rasa memiliki dari generasi muda terhadap Sungai Ciliwung,” ucap Hadi.***

Next Page »